JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 60 Jangan menghina ibuku


__ADS_3

Hardian menyusul sang istri masuk ke dalam kamar. Namun, ia tidak melihat sang istri di kamar itu. Ia keluar kembali lalu menatap pintu kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya. Setelah menarik napas panjang laki-laki itu membuka pintu kamar. Terkunci. Pintu kamar itu terkunci. Ada rasa kecewa di hati mendapat penolakan dari sang istri.


Laki-laki itu kembali masuk ke dalam kamar, berjalan mendekati sebuah pintu rahasia. Ia membuka pintu itu lalu masuk. Benar dugaannya wanita itu berada di sana.


"Aku membencimu. Aku membencimu," cicit wanita itu disela isakan tangisnya.


Wanita itu menangis tersedu. Meskipun tubuh wanita itu dalam posisi berbaring, tapi masih bisa terlihat kedua bahunya yang bergetar.


Hardian menghentikan langkahnya, membiarkan wanita itu meluapkan segala emosi di hati, berharap besok pagi wanita itu akan lebih tenang. Itulah yang dipikirkan Hardian. Berbeda dengan yang wanita inginkan. Wanita manapun akan semakin menjadi jika dibiarkan begitu saja. Dia akan semakin marah dan tak terkendali. Lebih tepatnya kecewa yang mendalam.


Tepat ketika Hardian membuka pintu rahasia kembali, Putri bangun lalu melihat ke arah sang suami.


"Kau... " Putri pikir itu hanya hiasan, karena dari kamar Putri pintu rahasia itu tidak kentara. Bahkan hanya terlihat seperti hiasan dinding saja.


Hardian berbalik menatap wanita itu.


"Jadi?"


Hardian mendekat. "Kau sudah bangun?" tanya Hardian asal padahal ia sudah tahu wanita itu tidak tidur sama sekali, bahkan sisa air mata masih membasahi pipi.


"Apa kau sering membuka pintu itu dulu?" Putri menjawab dengan pertanyaan. "Jangan bilang kau pernah melakukannya ? Mengunjungi kamarku secara sembunyi."


Hardian hanya menganggukkan kepalanya, membuat Putri mendesah kasar.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Putri pelan namun, terdengar tajam.


Hardian mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menghapus jejak air mata sang istri. "Maaf. Sungguh kami tidak melakukan apapun. Dia hanya datang untuk meminta maaf. Aku menyuruhnya keluar karena tidak ada yang perlu di maafkan, tapi dia reflek memegang bagian tubuhku. percayalah dia hanya memegang tanganku," jelas Hardian. Dia sudah berkata jujur.


"Tubuh ini hanya milikmu," imbuh Hardian sembari menarik tangan wanita itu untuk meyentuh tubuhnya.


Kaku sekali, sama persis seperti wajahnya. Apa dia memang tidak bisa merayu wanita lebih baik lagi?


"Tapi benar 'kan? Wanita itu mendekatimu dan kalian dijodohkan."


Hardian memegang tangan wanitanya. "Dengar, dia tidak pernah mendekatiku. kalaupun itu terjadi aku tidak akan mau di dekati olehnya karena aku sudah punya istri dan untuk perjodohan itu hanya keinginan bibi, bukan keinginnanku ataupun ayahku. Hanya dirimu dan kakak ipar tentunya menantu di rumah ini." Entahlah Putri harus bagaimana, bahagia atau sedih. Tapi dia cukup menghargai kejujuran laki-laki itu.

__ADS_1


Putri tersenyum. "Kenapa mereka harus tinggal di sini?"


"Kau tidak suka?"


Pertanyaan apa itu? Jelas dong aku tidak suka. Dia bukan saudaramu. Wanita mana yang mau memelihara pelakor?


Putri hanya diam bingung harus menjawan apa, karena ini bukan rumahnya.


"Baiklah, aku akan menyuruhnya pergi. Apa sekarang kau memaafkan aku?" tanya Hardian yang diiringi anggukan kepala oleh wanita itu.


Tanpa berkata lagi, Hardian naik ke atas ranjang lalu berbaring sembari menarik tubuh sang istri masuk ke dalam pelukannya.


"Aku merindukanmu," ucap Hardian membuat Putri tersenyum.


"Kenapa tidak bilang kalau kau akan tinggal di sini?" Tangan Hardian mulai bergerak kemana-mana.


"Ah... aku datang bulan." Wanita itu mengeluarkan suara laknat saat tangan sang suami bermain di area sensitifnya.


"Tidak apa, sedikit saja. Aku menginginkannya."


*


*


Keesokan paginya.


Putri terbangun lebih dulu. Setelah membersihakn diri ia keluar kamar untuk memasak. Rencananya dia mau mengajak sang suami piknik mumpung hari ini wekend. Dengan tujuan agar hubungan mereka lebih baik. Tampak senyum bahagia dari bibir wanita itu.


"Nyonya rumah sudah bangun? Aku pikir dia masih di bawah selimut. Meskipun dapat laki-laki kaya, memang harus begitu, jangan melupakan kodrat sebagai wanita untuk melayani suami," sindir bibi Stela. Putri hanya diam melanjutkan memasak. Bisa mual perutnya jika meladeni sang bibi.


"Kau hanya bisa masak seperti itu? Apa ibumu tidak pernah mengajarimu? Kamu pikir Hardian itu anak TK." Putri masih diam.


Ingin kusambal tuh mulut, bi. Bisanya hanya menghina. Udahlah put, cuekin saja, sabar. Orang sabar banyak ayamnya.


Tidak berhasil mengompori Putri, bibi tidak tinggal diam. Dia terus menyudutkan wanita itu.

__ADS_1


"Pelet apa yang kau gunakan hingga keponakanku mau dengan wanita kampung sepertimu? Wanita kampung biasanya suka menikah muda. Kau belum pernah menikah 'kan sebelum menikah dengan keponakanku?"


Spontan Putri menjawab dengan tersenyum smirk. "Sayangnya, sebelum menikah dengan keponakan bibi yang tajir melintir itu, aku seorang janda kembang."


"Apa?" Kedua mata bibi melotot tidak percaya. Janda? ulangnya dalam hati. Setelah terkejut, ekspresi wajahnya berubah marah.


"Kakak... kakak ..., " panggil bibi dengan berteriak.


"Tidak perlu berteriak dan jaga sikapmu di rumah ini," sahut Kakek yang berada tak jauh dari dapur. Lalu kakek duduk di meja makan dengan secangkir kopi yang sudah di siapakan salah satu pelayan.


"Kakak menikahkan Hardian dengan wanita yang sudah menyandang status janda?"


Kakek menatap bibi Stela malas sebelum menganggukkan kepalanya.


"Bagaimama bisa kakak mengijinkan Hardian menikahi seorang janda? Dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik."


"Dia waita baik."


Bibi tertawa. "Wanita baik? Kalau dia baik dia tidak akan bercerai."


Putri melangkah ke meja makan menghidangkan cemilan untuk kakek. Sebenarnya ia mendengar pembicaraan mereka, tapi ia hanya diam saja tidak berniat untu menimpali.


Bibi terlihat frustasi, ia terkejut menerima kabar Hardian sudah menikah dan lebih terkejut lagi wanita yang dinikahi keponakannya itu adalah wanita yang sudah menjanda.


"Kau ... apa yang kau lakukan pada Hardian, kau menggunakan guna-guna? Dia tidak mungkin mau dengan janda kampung sepertimu di saat masih banyak perawan yang mengantri untuknya." Bibi menuduh Putri dengan amarah yang menggebu.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau bersekongkol dengan orang tuamu untuk mendapatkan laki-laki kaya?"


"Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun?" Bibi semakin tidak terkendali.


"Bibi, jangan pernah menghina orang tuaku." Cukup sudah ia menahan diri. Tidak ada yang boleh menghina orang tuanya.


"Kenapa? Apa yang aku katakan itu benar? Janda di usia muda. Jangan- jangan kau dan ibumu seorang pelacur."


"Jangan menghina ibuku! Brak." Karena emosi Putri tidak sengaja mendorong bahu bibi Stela, padahal dia tidak mendorong terlalu keras tapi wanita paruh baya itu bisa jatuh hingga menabrak kursi lalu terduduk di lantai.

__ADS_1


"Putri!" Teriak seseorang dari atas tangga. Rahangnya mengeras, tatapannya tajam. Laki-laki itu adalah Hardian.


__ADS_2