JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 55 Hubungan kita


__ADS_3

Di sebuah tempat peristirahatan. Seorang laki-laki duduk menatap batu nisan di depannya. Kaca mata hitamnya menutupi kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Mama, apa kabar? Hardian datang. Maaf, baru datang hari ini."


"Ma, Hardian sudah menikah. Tapi, bukan seperti wanita yang mama inginkan, waniat baik dari kelurga baik. Istri Hardian memiliki masa lalu yang buruk, dia juga seorang janda, tapi masih perawan. Sangat jauh dengan kriteria menantu yang mama inginkan."


"Aku mencintainya, ma. Meskipun dia suka menggoda pria dengan status jandanya, tapi dia wanita yang baik ma. Wanita yang membuatku jatuh cinta hanya dalam beberapa minggu. Wanita yang tidak pernah aku banyangkan akan menjadi istriku. Tapi itulah kenyataannya. Wanita itu kini sudah sah menjadi istri Hardian, Ma."


"Aku akan mempertahankan pernikahan ini. Restui putramu, Ma."


Setelah cukup berbincang dengan sang mama yang sudah tertutup tanah. Hardian bangkit berdiri lalu pergi dari sana. Dia kembali ke kantor untuk menjemput sang istri yang mungkin sudah terbangun dari tidurnya.


"Tunggu aku," ucap Hardian sembari tersenyum bahagia. Dia seperti anak kecil yang mendapat ijin dari sang mama untuk membeli mainan kesukaannya.


"Kita akan bersama selamanya," ucap Hardian sambil membalas pelukan sang istri. Setelah itu mereka keluar dari perusahaan.


*


*


Di rumah utama.


"Tante Stela, aku mau bicara," ucap Azizah setelah masuk ke dalam kamar bibi Hardian. Azizah dari awal sudah memanggilnya tante, sementara Hardian biasa memanggilnya bibi, karena bibi Stela berasal dari desa dan di sana sudah terbiasa memakai panggilan bibi.


Meskipun saudara tiri, bibi Stela dan ibu kandung Hardian tidak tinggal bersama.


"Ada apa?" tanya tante Stela sembari tersenyum menatap putri dari sahabatnya itu.


"Sepertinya perjodohan ini tidak bisa dilanjutkan, tante. Mas Hardian sudah punya kekasih," jelas Azizah, meskipun ia tidak menolak perjodohan itu dan juga tak mampu menolak pesona seorang Hardian, Azizah tidak mau menjadi orang ketiga di antara mereka.


"Mereka hanya kekasih, bisa jadi hubungan mereka putus di tengah jalan. Tetaplah semangat untuk merebut hatinya. Dekati dia jika di kantor, ajak makan siang atau apalah yang penting hubungan kalian semakin dekat hingga Hardian mencintaimu."


"Tapi .... "


"Istirahatlah! Tidak perlu memikirkan apapun selain cara mendekati Hardian." Tanpa menjawab lagi Azizah keluar dari kamar tante Stela setelah sekilas menatap wanita paruh baya itu.


Sebenarnya dari awal dia menolak perjodohan ini, tapi ibunya memiliki hutang pada tante Stela. Jadi dia menuruti kemauan tante Stela sebagai ganti pembayaran hutang itu.


"Benarkah yang aku lakukan ini, ya Tuhan?" Azizah naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuh lelahnya.


*


*


Di apartemen. Tepatnya di dapur.


"Yah, gosong," ujar Putri melihat ke wajan di atas kompor.

__ADS_1


"Maaf," jawab Hardian yang sedag menggoreng.


Putri menghembuskan napas pelan. "Apa yang kau pikirkan?"


"Kamu."


"Apa?" Putri terkejut bukan karena jawaban laki-laki itu, tapi saat ini laki-laki itu sedang gombal. Rasanya Putri ingin tertawa keras, mana mungkin laki-laki seperti Hardian mengeluarkan kata gombalan.


"Aku memikirkanmu," jawab Hardian dengan wajah serius. Putri tidak mampu lagi menahan tawanya. Ia terbahak, laki-laki itu menggombal dengan wajah serius.


"Apa ada yang lucu?" tanyanya yang semakin membuat Putri tertawa.


"Paman hebat." Putri mengacungkan kedua jempolnya tepat didepan wajah HardianH sambil tertawa cekikikan.


Hardian menangkap tangan wanita itu lalu tersenyum lembut dengan sorot mata penuh cinta.


Melayanglah si Putri ke langit ke tujuh. Yang tadi cekikikan kini tersenyum malu-malu seperti rumput putri malu, jika disentuh langsung malu.


Mereka cukup lama bertatapan.


Ayo, katakan kau cinta padaku! Romantis, suasana yang mendukung. Katakanlah, kau cinta padaku!


"Kita makan di luar saja."


"Hah?"


"Kita makan di luar," ulang Hardian.


"Baikah," jawab Putri setengah ikhlas.


*


*


Keesokan paginya.


Putri sudah bertekad untuk mengatakan apa yang sudah menjadi piliannya pagi ini juga sebelum laki-laki itu berangkat ke kantor.


"Paman, bisakah kita bicara sebentar?" pinta Putri setelah mereka selesai sarapan.


Hardian mengernyitkan keningnya. Sepertinya penting sekali.


"Tentang hubungan kita," Imbuh Putri.


Hardian menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah sofa di ikuti Putri yang berjalan di belakang sang suami.


Hardian menunggu wanitanya untuk berbicara. Wanita itu terlihat ragu.

__ADS_1


"Sepertinya lain kali saja kita bicara," ucap Putri setelah cukup lama terdiam. Hardian hanya menatapnya bingung.


"Ada apa?"


Putri tersenyum kikuk. "Aku bingung mau bicara apa."


Hardian tersenyum. "Baiklah lain kali saja kita bicara."


"Tapi aku ingin bicara sekarang."


"Bicaralah!"


"Aku lupa."


"Jadi?"


"Emm... aku ingat-ingat dulu sebentar."


Hardian ingin tertawa melihat tingkah lucu sang istri. Namun, ia menahannya sekuat tenaga, ia tidak mau sang istri semakin gagal fokus.


"Aku sudah ingat," ucap Putri setelah beberapa menit. Hardian diam menunggu wanita itu berbicara.


"Tapi, aku bingung harus mulai dari mana?"


Hardian menghela napas panjang. Lalu mendekatkan wahajnya ke wajah wanita itu. Cup. Sekilas Hardian mencium bibir manis wanita itu, membuatnya semakin salah tingkah.


Yah, aku jadi blank dan goyah.


"Aku ingin kita pisah," ucap Putri akhirnya dalam satu tarikan napas. Hardian tidak merespon, dia hanya menatap Putri dengan pikiran tak terbaca. "Hanya berpisah sementara, sebelum kita benar-benar yakin dengan hubungan kita," lanjut Putri. Dia tetap ingin mempertahankan pernikahan ini dengan caranya sendiri. Kata orang ini cara tarik ulur.


Aku ingin memberimu waktu untuk berpikir tentang hubungan kita. Mungkin jika kita tinggal terpisah kau bisa tahu apa sebenarnya arti hubungan kita dan bagaimana akhir hubungan itu.


Hardian tak menjawab, hanya menatap wanita itu dalam diamnya.


"Aku akan pergi, jemput aku jika kau sudah punya jawaban tentang hubungan kita."


Aku memberimu waktu dua bulan. Tidak, itu terlalu lama, satu bulan saja. Ya, satu bulan jika kau tidak datang di hari terakhir. Akan aku pastikan kakiku sangat kuat untuk menendang bokongmu.


Tidak mendapat jawaban apapun dari sang suami, ia anggap sang suami setuju. Ia beranjak menuju kamar untuk mengambil koper yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


"Aku pergi, jaga diri dengan baik," pamit Putri lalu berjalan ke arah pintu. Putri sudah membuka pintu sedikit, sebelum keluar ia menatap punggung laki-laki itu.


Dia tidak menahanku. Padahal aku berharap ditahan meskipun aku yang mengucapkan perpisahan sementara. Boleh 'kan di saat seperti ini aku jadi plin plan. Keluar tidak ya?


Dengan menutup mata Putri melangkah keluar lalu menutup pintu.


"Kenapa aku jadi ragu di saat terakhir," gumam Putri lirih dengan wajah ditekuk.

__ADS_1


__ADS_2