JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 61 Kembali ke kampung


__ADS_3

Serempak semua orang melihat ke arah asal suara itu. Saat terbangun laki-laki itu tidak melihat sang istri. Ia takut kebersamaannya bersama sang istri hanyalah mimpi. Setelah membuka kedua mata ia langsung keluar kamar mencari keberadaan wanita yang selalu membuat hatinya bergetar tersebut. Tapi apa yang dilihatnya saat ini, sang istri melakukan kekerasan kepada orang yang ibunya sayangi.


Hardian melangkah mendekat, berdiri di hadapan wanita yang semalam menemaninya tidur. Bibi stela masih terduduk di lantai. Tak lama Azizah datang lalu membantu bibi Stela berdiri. Sementara Ayah Malik hanya memperhartikan saja.


"Minta maaflah pada bibi!" perintah Hardian pelan. Namun, terdengar tegas.


"Tidak!" jawab Putri dengan sorot mata tajam.


"Aku bilang minta maaflah," ulang Hardian dengan suara sedikit lebih keras. Bukan tanpa alasan dia memaksa Putri. Dia tidak mau sang istri dianggap melawan orang tua, meskipun Hardian sering tidak sependapat dengan sang bibi, tapi dia tidak pernah melawan wanita itu. Apalagi sang ibu sangat menyayangi bibi Stela.


"Aku tidak mau."


"Jangan membuatku memaksamu untuk minta maaf."


"Jika aku minta maaf, berarti aku mengiyakan semua tuduhannya padaku. Aku tidak akan pernah minta maaf. " Putri hendak berbalik. Namun, laki-laki itu menahan tangannya.


"Minta maaflah!" Hardian terlihat marah, ia tidak suka dibantah. Melihat tatapan sang suami membuat Putri tersenyum getir. Ia melepaskan genggaman tangan laki-laki itu dengan satu tangannya yang lain.


"Kau menyuruhku minta maaf tanpa bertanya apa yang terjadi?"


"Apapun alasannya, tidak dibenarkan mendorong orang tua."


"Baiklah." Dengan air mata berlinang Putri menjawab, lalu ia menatap bibi Stela. "Bibi aku minta maaf."


Bibi Stela tersenyum. "Kau tidak perlu minta maaf. Cukup jadilah istri yang baik dan jangan membantah suamimu."


Putri mengangguk lalu berlalu pergi dari sana. Ia masuk ke dalam kamar lalu mengambil koper. Beruntungnya ia karena koper yang dulu dibawanya belum sempat dibongkar, dia hanya memasukkan beberapa benda penting lainnya. Membawa tas kecil dan ponsel tentunya, ia menarik koper lalu keluar dari kamar. Ia turun menggunakan lift.


Dengan langkah pasti ia keluar dari lift. Semua orang melihatnya termasuk sang suami. Hardian menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Jika kau berani melangkah keluar dari rumah ini, jangan harap kau bisa kembali!"


Deg

__ADS_1


Ternyata sedangkal itu perasanmu padaku. Kalau begitu, selamat tinggal suamiku.


Putri kembali melanjutkan langkahnya setelah sempat terhenti karena ucapan laki-laki yang masih berstatus suaminya itu, tapi entahlah bagaimana nanti apakah status itu masih sama atau sudah berubah.


Hardian mengepalkan tangannya erat melihat wanita itu yang pergi tanpa takut akan ancamannya.


"Wanita macam apa itu? Pergi tanpa ijin suami." Bibi kembali membuat suasana semakin panas. Ia tertawa dalam hati melihat kepergian wanita yang mengaku istri keponakannya itu.


Ia tahu Hardian tidak begitu menyayanginya, tapi laki-laki itu masih menghormati dirinya sebagai adik dari sang ibu.


Hardian meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun. Sementara ayah Malik menggelengkan kepalanya pelan. Ia bukan tidak paham, hanya saja ia membiarkan sang putra menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Pergilah! Aku tidak mau melihatmu berada di rumah ini lagi sampai aku kembali."


"Apa maksud kakak?"


"Pergilah! Selagi aku masih bisa sopan." Setelah itu ayah Malik pun meninggalkan kedua wanita itu.


Bibi menatap ayah Malik dengan emosi yang tertahan.


Semalam Azizah sudah berbicara pada orang tuanya untuk mencicil hutang mereka pada bibi Stela dan mereka setuju.


"Ayo, Bi kita pergi!"


"Kau.... " Bibi meninggalkan Azizah dengan wajah yang masih diliputi kemarahan.


Akhirnya mereka berdua pergi dari rumah itu.


"Bibi, maaf, aku tidak bisa pergi bersama bibi. Aku akan tetap tinggal di sini. Terima kasih sudah membantu keluarga Azizah selama ini. Untuk hutang itu aku akan mengembalikannya," ucap Azizah lallu menundukkan kepalanya.


Bibi menatap Azizah tidak suka lalu meninggalkan wanita itu tanpa mengucapkan apapun.


*

__ADS_1


*


Sementara di dalam taxi, wanita yang baru saja keluar dari rumah mewah itu terus menangis tanpa mengeluarkan suara. Sopir yang membawanya hanya diam sambil sesekali melirik ke arahnya.


Pasti karena patah hati. Anak zaman sekarang suka sekali main hati.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, taxi itu tiba di kampung yang di tuju Putri. Kampung halaman yang sudah lama ia tinggalkan. Berbeda dengan kondisi di kota besar, di sini masih terlihat asri. Putri turun dari dalam taxi setelah membayar ongkos. Entahlah orang tuanya akan senang atau malah khawatir dengan kedatangannya.


Putri menatap rumah yang tidak begitu besar itu. Rumah yang menjadi saksi masa kecilnya, ia tersenyum lalu melangkah masuk.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, Putri! Kau pulang, Nak! Alhamdulillah, ibu sangat merindukanmu." Ibu menghampiri Putri lalu memeluk putri semata wayangnya itu erat. Tak lama ayah datang menghampiri keduanya.


"Putri juga merindukan ibu. Ayah, Putri juga rindu." Putri melepas pelukan sang ibu lalu berganti memeluk sang ayah.


"Kau datang sendiri, Nak?" tanya Ayah sambil celingukan mencari sosok yang sudah menjadi suami sang anak.


"Putri pulang sendiri Ayah. Suami Putri banyak pekerjaan," jawab Putri dengan tersenyum.


Setelah menikah dia belum pernah berkunjung ke rumah orang tuanya. Sekarang pulang di saat ada masalah. Putri merasa dilema, haruskah ia bercerita atau diam saja.


"Ayah sudah, jangan bertanya lagi, biarkan putri kita beristirahat. Kamu pasti lelah, sana istirahat."


"Putri masuk ke kamar dulu ya, Bu, Ayah." Putri pun berjalan masuk ke dalam kamarnya setelah orang tuanya menganggukkan kepala.


Ayah dan ibu masih di tempat yang sama, keduanya saling menatap dengan pikiran yang sama.


"Apa ayah memikirkan apa yang ibu pikirkan?" tanya Ibu dengan raut wajah khawatir.


Ayah berusaha untuk tetap tenang meskipun ia juga merasakan apa yang ibu rasakan. Pernah salah memilihkan jodoh, membuat ayah menyesal. Bukan tanpa alasan ayah menerima Hardian meskipun ayah sadar jika Hardian jauh berbeda dengan mereka. Namun, perkataan kakek Malik mampu membuat ayah setuju. Ayah berharap semoga pilihannya waktu itu akan membawa kebahagiaan untuk sang putri. Sunguh ia akan merasa bersalah jika pernikahan kedua putrinya itu juga akan berakhir.


Ayah menarik napas panjang. "Kita berdoa saja, Bu. Semoga anak kita selalu bahagia. Jangan bertanya apapun, Bu. Biarkan dia bercerita sendiri." Ibu pun menganggukkan kepalanya. Lalu mereka masuk ke dalam rumah. Ayah melangkah menuju ruang tengah, sementara ibu langsung menuju dapur. Ia akan memasak makanan kesukaan putrinya.

__ADS_1


Setiap orang tua selalu mengkhawatirkan kebahagiaan anaknya. Meskipun terkadang orang tua berbuat diluar keinginan sang anak. Tapi percayalah orang tua hanya ingin anaknya bahagia.


__ADS_2