JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 62 Biarkan dia bahagia


__ADS_3

Seorang laki-laki berdiri menatap jauh ke luar jendela yang berada di ruangan itu. Tatapannya tampak kosong. Sudah beberapa hari ini moodnya berubah. Dia yang biasanya suka bekerja keras untuk melupakan masalahnya, sekarang ia malah sering melamun. Bahkan sang asisiten harus lebih bekerja keras karena keadaan sang bos yang tidak stabil.


Pintu terbuka dari luar, seseorang melangkah masuk lalu duduk di atas sofa sembari menatap pria yang saat ini memunggunginya. Ia merasa tak tega melihat keadaan putra bungsunya itu. Ia tahu jika sang putra sangat mencintai istrinya.


"Apa kau bahagia setelah dia pergi? " tanya ayah Malik, membuat Hardian berbalik kemudian mereka saling bertatapan.


Hardian berjalan ke arah sofa lalu duduk di hadapan ayah Malik. "Ada apa?" tanyanya dengan mimik wajah datar yang selalu menghiasi wajahnya. Senyum yang belakangan sering terukir saat ini tidak pernah terlihat kembali. perubahan mood sang bos membuat para bawahan pusing.


Ayah Malik melempar dokumen ke atas meja.


"Jika kau sudah bahagia, maka biarkan Putri juga bahagia. Lepaskan dia! Biarkan dia memulai hidup baru dengan pasangan yang baru."


Hardian menautkan kedua alisnya. "Ayah ingin kami bercerai?"


"Tidak, itu adakah pilihanmu. Aku hanya mempermudahnya saja. Bukankah sama saja sekarang atau nanti, kalian tetap akan berpisah."


Hardian terdiam kembali, mencerna ucapan sang ayah. Wanita itu tidak akan pernah kembali lagi.


"Jangan egois dengan membiarkannya begitu saja. Cukup tanda tangan dan kalian akan menjalani hidup masing-masing bersama pasangan kalian yang baru. Dia masih muda dan cantik, mudah baginya untuk mendapatkan laki-laki yabg lebih baik darimu, yah meskipun tak sekaya dirimu. Tapi Putri bukan wanita yang memandang harta. Terbukti selama menjadi istrimu, dia tidak pernah meminta apapaun. Bahkan dia tidak tahu seberapa kaya dirimu."


Ayah Malik berdiri lalu berjalan ke arah pintu.


"Jika kau berubah pikiran, jemputlah dia! Turunkan egomu atau kau akan kehilangan dia untuk selamanya. Aku dengar mantan suaminya sudah kembali."


Deg


Setelah melihat perubahan wajah sang putra, ayah Malik dengan langkah pasti keluar dari ruangan itu. Tentu dengan senyum devilnya. Ya, ini hanya rencananya untuk membuat Hardian mengerti dengan hatinya. Jauh di lubuk hatinya ia tidak mau mereka sampai berpisah.


Sepeninggal ayah Malik. Hardian termenung sendirian. Tak lama asisten Sakti masuk ke ruangan itu setelah mendapat panggilan dari sang bos.


"Laporkan!" perintahnya dengan wajah dingin.


"Nyonya baik-baik saja, Tuan. Dia sampai di kampung dengan selamat."

__ADS_1


"Apa orangmu masih mengawasinya?"


"Ya, Tuan."


Ya, Hardian memerintahkan Sakti untuk mengawasi sang istri. Setelah hampir dua minggu baru hari ini Sakti melaporkannya karena Hardian tidak menginginkan berita tentang wanita itu. Entah kenapa hari ini tiba-tiba sang bos menanyakan informasi tentang wanita itu.


"Apa sekarag kualitas kerjamu menurun dalam mencari informasi?" tanya Hardian kesal karena asistennya itu tidak memberikan informasi yang lengkap. Ia harua bertanya dulu baru asistennya itu mau menjawab.


"Maaf, Tuan." Sakti jadi serba salah. Sebelumnya laki-laki itu menolak berita tentang sang istri sekarang meminta informasi yang lengkap. "Nyonya baik-baik saja di sana, Tuan. Dia tampak bahagia dan menjalani sehari-hari seperti biasa."


"Di hari kedua Nyonya mulai berbaur dengan para tetangga, ternyata di sana nyonya punya banyak penggemar, Tuan. Apalagi setelah mereka mendengar jika nyonya sudah berpisah dengan suaminya yang berada di kota, semakin banyak laki-laki yang mendekati nyonya."


"Ehmm... satu lagi pria yang sering berkunjung ke rumahnya, Tuan. Dia... mantan suami nyonya," jelas asisten Sakti lengkap sambil tersenyum jahil dalam hati.


"Sepertinya mereka akan rujuk kembali setelah nyonya resmi bercerai," bohong Sakti dan inilah yang dimaksud berbohong demi kebaikan bersama.


"Siapkan keberangkatanku!" perintah Hardian.


"Kemana, Tuan?" tanya Sakti berpura-pura tidak tahu dan langsung mendapat tatapan membunuh dari sang bos. "Anda ingin mengunjungi mertua Anda?" tanya Sakti memastikan.


"Baik, Tuan."


*


*


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Hardian sampai di kampung sang istri. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan rumah mertua yang baru ia kunjungi pertama kali. Di ikuti satu mobil box kecil berisi barang-barang yang akan ia berikan pada sang mertua. Pintar juga Hardian mengambil hati mertuanya, tepatnya asisten Sakti yang menyiapkan semuanya.


Mereka turun dari dalam mobil. Hardian berjalan di depan. Tidak perlu mengetuk pintu karena pintu rumah itu sudah terbuka.


"Assalamu'alaikum." Hardian mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam," jawab orang yang berada di dalam rumah. Lalu berjalan keluar melihat siapa yang datang bertamu. Ibu membulatkan kedua matanya melihat siapa yang datang. Rasanya ibu ingin pingsan untung saja ada ayah yang memegang tubuhnya dari belakang.

__ADS_1


Kedua orang tua itu tidak bisa berkata-kata, saking terkejutnya. Benarkah apa yang mereka lihat ini. Laki-laki yang berdiri dengan gagahnya tersebut adalah menantunya.


"Selamat sore Ayah, Ibu," sapa Hardian lalu mencium kedua tangan orang tua sang istri. Ia melihat ke dalam mencari sosok wanita yang membuatnya hilang akal.


Ayah dan ibu tersadar dari rasa terkejutnya. Detik berikutnya kedua mata ibu berkaca-kaca karena ia terlalu berpikir jauh. Siapa yang tidak akan berpikir buruk jika hampir dua minggu belum ada kabar dari suami sang putri dan hari ini menantunya datang.


"Masuklah, Nak. Ibu terlalu bahagia."


"Silahkan duduk," lanjut ayah menyuruh sang menantu dan laki-laki yang bersamanya untuk duduk.


Sementara orang yang berada di luar sibuk menurunkan barang-barang yang dibawa Hardian sebagai oleh-oleh.


"Ayah, ibu, maaf, saya baru datang berkunjung dan membiarkan istri saya datang sendiri ke rumah ini," ucap Hardian dengan sopan. Meskipun ia terlihat dingin tapi ia tidak lupa caranya bersopan santun. Bagaimanapun kedua orang tua di hadapannya itu adalah mertuanya. Orang tua kandung sang istri.


Ayah dan ibu tersenyum. "Tidak apa, Nak. Kami mengerti kau sangat sibuk." Ibu yang menjawab sedangkan ayah hanya diam saja.


Hardian celingukan masih mencari keberadaan wanita yang membuat hati dan raganya tidak menyatu.


"Kau mencari istrimu?" tanya ibu yang diberi anggukan oleh Hardian.


"Dia masih keluar. Tunggulah sebentar lagi, dia akan datang. Apa, Nak Hardian akan menginap?" tanya ibu.


"Assalamu'alaikum."


Deg


Terdengar suara wanita dari luar bersama dengan langkah kaki yang berjalan masuk. Suara wanita yang beberapa hari ini terasa hilang dalam hidupnya.


Wanita itu adalah Putri. Ia masuk sambil melihat ke arah depan rumah.


"Ibu, kenapa banyak barang di depan rumah kita? Apa tetangga kita ada yang pindahan?" tanya Putri tanpa menyadari keadaan di dalam rumah.


Putri beralih menatap ke depan ke arah kakinya melangkah.

__ADS_1


Deg


__ADS_2