
Setengah jam berlalu. Putri belum tahu apa yang harus dikerjakannya. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya. Apanya yang direkap? Apa semuanya?
"Kau tidak menggunakan laptop?" tanya Hardian dari tempat duduknya tanpa melihat wanita itu.
"Oh, pakai laptop ya. Emm... aku hanya belum mengambilnya."
Laptop yang mana yang harus aku pakai. Apa boleh pilih yang mana saja? Ah, Sakti datanglah! Kenapa kau tidak menjelaskan semuanyaa secara rinci?
Terpaksa Putri mengambil satu laptop dengan memejamkan kedua matanya. Setelah dapat ia membukanya. Kalau untuk mengoperasikan laptop dia bisa, bukan berarti dia bodoh sekali ya.
Aku harus pakai apa? Excel apa word? Biasanya di perusahaan besar ada programnya sendiri.
Rasanya aku ingin menjerit. Tolong aku!
Akhirnya Putri membuka excel. Dia memasukkan semua data satu persatu dari tahun dan juga isinya. Entahlah yang dia kerjakan benar atau salah. Setelah berjam-jam, akhirnya pekerjaannya selesai.
Putri pun bisa bernapas lega. Lalu menyerahkan laptopnya pada Hardian.
"Ini, Tuan. Semuanya sudah saya masukkan." Putri meletakkan laptopnya ke atas meja sang suami.
"Kirim saja."
"Hah, kemana?" Mendengar pertanyaan Putri, Seketika Hardian mendongak melihat wajah wanita itu. Tidak dapat Hardian pungkiri rasanya ia ingin tertawa keras. wanitanya itu sangat lucu sekali.
"Email-ku."
"Baiklah." Putri kembali duduk di atas sofa. Meletakkan laptop itu kembali ke atas meja.
Tenanglah! Hanya mengirim email saja. Pertama kita buka email. Pasti samalah seperti di Hp. Tetapi selama ini aku tidak pernah mengirim email, buat apa? Kan sudah ada pesan whatsipp.
Tulis alamat. Duh, aku lupa emailku.
Putri membuka ponselnya, ia berhenti saat teringat sesuatu.
Kenapa tidak memakai alamat yang ada di laptop saja. Ah, bodoh ini selalu mengikutiku.
"Akhirnya selesai juga," gumamnya. Lalu menatap Hardian. "Sudah saya kirim, Tuan."
Hardian langsung mengeceknya.
"Kau menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengerjakan tugas anak SD?"
"Tidak, Tuan. Saya mengerjakan tugas yang Anda berikan," jawab Putri polos dan apa adanya.
Hardian menghembuskan napasnya pelan.
"Perbaiki!"
"Apanya?"
__ADS_1
"Semua."
Membayangkan dia harus membuka dokumen segitu banyaknya membuat kepalanya puyeng. Putri berdiri lalu mendekati Hardian. Dia berdiri tepat disamping Hardian sambil menundukkan tubuhnya agar bisa melihat laptop juga.
"Apanya yang salah? Semuanya sudah rapi. Tahunnya sudah masuk semua, isinya pun sudah sesuai."
Hardian memperlihatkan rekapan yang lain.
"Buatlah seperti ini!"
Putri melihat contoh rekapan itu. Mendadak kakinya lemas hingga tubuhnya bersandar pada Hardian.
"Kenapa tidak bilang daritadi. Seharusnya kau mengajariku. Aku lelah," ucap Putri manja lalu sengaja menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan laki-laki itu.
Hardian yang ingin memberi pelajaran pada istrinya sepertinya gagal fokus melihat tingkah nakal sang istri.
"Aku butuh pelukan, otakku rasanya mau pecah." Putri langsung memeluk tubuh sang suami. Rasanya nyaman sekali, ingin rasanya ia mengucapkan i love you.
Posisi ini membuat Hardian berhasrat. Ia memeluk sang istri lalu berbisik.
"Mau ku ajari di sini apa di kamar?"
"Di sini saja."
Kalau di kamar kita tidak akan belajar, yang ada kau menggarap ladangku.
Putri tersenyum penuh arti. Saatnya membalas.
Ternyata suamiku ini sengaja mengerjaiku dari awal.
"Jadi, pakek program?" tanyanya pura-pura terkejut.
"Hemm... ini akan lebih mudah dan cepat. Kau tinggal memasukkan saja datanyan sesuai ini."
Kau membiarkanku mengerjakan semua berjam-jam.
Putri yang masih duduk dipangkuan Hardian, ia menggerakkan pinggangnya untuk melihat layar laptop sambil tertawa dalam hati.
Putri melirik sekilas ke arah sang suami yang seperti menahan sesuatu.
Rasakan itu.
"Kalau yang ini bagaimana?" tanya Putri mendekatkan kembali tubuhnya, posisi wajahnya sangat dekat, tapi tidak bersentuhan. "Yang ini, saya kurang mengerti, Tuan." Putri merangkul leher Hardian membuat dadanya sedikit terangkat.
Dasar gadis nakal. Punyaku sudah on.
Hardian menggigit telinga wanitanya sembari berbisik. "Nakal."
Tanpa banyak kata, Hardian mengangkat wanitanya ke atas meja. Dengan cepat ia membuka kancing kemeja sang istri lalu menikmati isinya dengan tak sabaran. Putri yang awalnya hanya ingin membuat sang suami resah, kini ikut terhanyut dalam permainan laki-laki itu.
__ADS_1
"Wauw... kau ternyata bisa brutal juga," sindir seseorang yang barusaja membuka pintu lalu melangkah masuk begitu saja ke ruangan itu. Spontan Hardian menghentikan aksinya lalu memeluk wanitanya sambil berdiri.
"Keluar!" bentaknya, ia tidak mau miliknya dilihat orang lain. Siapapun itu.
Laki-laki itu yang tak lain adalah Vino menutup pintu kembali. Kedua matanya ternoda karena ulah sahabatnya itu.
"Ternyata dia juga bisa mencumbu wanita. Ah, wanita itu, aku sudah memperingatinya," gumam Vino sembari melangkah ke arah sekertaris lalu duduk disana.
"Sejak kapan bosmu main wanita?" tanyanya pada sekertaris itu. Sekertaris itu hanya mengedikkan bahunya.
Dia tidak berani merayu wanita itu karena statusnya sudah bersuami, dia anti menjadi pebinor.
Vino tidak bertanya lagi. Lama-lama dia teringat akan wanita itu, wanita yang waktu itu mengaku kekasih Hardian. Rasa penasaran membuatnya menunggu pasangan yang sedang bercocok tanam di dalam. Hingga satu jam sudah berlalu.
Sementara di dalam ruangan. Hardian memeluk wanitanya erat. Setelah pintu tertutup kembali perlahan Hardian melepas pelukannya lalu memasang kembali kancing baju sang istri.
"Kenapa?" tanya Putri sambil menghentikan tangan laki-laki itu yang akan memasang kancing bajunya.
"Hah?" Hardian menghentikan kegiatan tangannya, lalu menatap wajah sang istri. Putri menjilat bibir bawahnya lalu menggigitnya kecil.
Glek
Hardian menelan salivanya. Putri menyentuh dada bidang pria itu.
"Terlanjur katahuan. Bawa aku ke kamar, Sayang," bisik Putri sensual. Dengan cepat Hardian menggendong wanitanya untuk menyelasaikan pekerjaan mereka yang belum selesai.
Vino terlihat kesal. "Mereka lama sekali. Apa belum selesai juga?" tanya Vino, entah ia tujukan pada siapa.
Tak lama telephone di atas meja sekretaris itu berdering, wanita itu mengangkatnya.
"Silahkan masuk, Tuan. Bos sudah menunggu Anda," ucap sekertaris itu setelah menutup teleponnya.
Vino menatap wanita itu sejenak lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Hardian setelah memberikan senyum nakalnya pada wanita itu.
"Ehemm... " Vino berdehem ketika masuk ke dalam ruangan itu. Hardian dan Putri terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Vino bingung melihat keduanya. Dia memilih duduk di sofa menemani Putri.
"Kau punya affair dengan bosmu?" tanya Vino sembari menelisik penampilan wanita itu yang sudah berganti pakaian. Vino terbatuk ketika melihat warna kemerahan di leher wanita itu.
Putri menjawab dengan mengedikkan bahunya.
Vino menggelengkan kepalanya. "Aku sudah memperingatimu."
"Ternyata dia suka janda segar sepertiku," gumam Putri pelan. "Aku harus bagaimana? Rasanya tak mampu menolak pesonanya," imbuh Putri sembari ketawa cekikikan.
*
*
__ADS_1