
Setelah menarik napas dalam, Azizah membuka pintu, terlihat sang bos yang masih berkutat dengan banyaknya dokumen di atas meja.
Apa dia tidak lelah melihat angka dan tulisan terus?
Azizah semakin melangkah mendekat hingga sampai di depan meja sang bos.
"Ada apa?" tanya Hardian tanpa melihat siapa yang datang.
"Ehmmm... Bibi menyuruh Anda untuk pulang. Bibi bilang ada yang ingin ia sampaikan," ucap Azizah terbata.
Hardian mendongak, menatap wanita yang saat ini terlihat gugup. Bagaimana tidak gugup jika laki-laki itu melihatnya dengan tatapan menusuk.
"Maaf, saya hanya menyampaikan pesan bibi. Saya akan menunggu Anda di depan, permisi." Setelah mengatakan tujuannya dengan suara gelagapan, Azizah menundukkan kepalanya lalu pergi keluar dari ruangan itu.
Wanita berhijab itu memegang dadanya setelah pintu tertutup sempurna.
"Sangat menegangkan, lututku terasa lemas." Putri menghembuskan napas berat.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sakti tiba-tiba.
"Astaghfirullah! Kenapa Anda tiba-tiba muncul?" Azizah terlonjak karena terkejut, baru saja ia merasa lega, eh sekarang laki-laki yang menjadi asisten sang bos itu mengagetkannya.
Sakti masih menatapnya.
Bos dan asisten sama saja, sama-sama menakutkan. Lebih baik aku pergi.
"Maaf, permisi." Azizah segera pergi dari tempat itu. Ia melangkah menuju tempat parkir menunggu sang bos.
Tak lama Hardian bersama Sakti keluar dari perusahaan, mereka berjalan menuju tempat parkir. Azizah sudah menunggu di sana. Hardian mengernyitkan kening bingung.
"Anda mau pulang. Bolehkah saya ikut? Saya juga mau pulang."
Hardian baru teringat jika tadi wanita itu ke ruangannya. Tanpa menjawab Hardian masuk ke dalam mobil. Azizah juga ikut masuk dan duduk di depan tepatnya di samping asisten Sakti. Meskipun sang bos tidak memberi jawaban iya, yang penting ia harus berhasil membawa pria itu untuk menyenangkan hati bibi Stela, jika hatinya senang otomatis hidup Azizah akan tenang.
*
*
Di rumah utama.
__ADS_1
Bibi Stela sudah siap menunggu di depan rumah untuk menyambut seseorang. Dan benar tepat pukul tujuh malam Azizah pulang bersama Hardian. Biasanya jam pulang kantor jam empat tapi karena ada acara hari ini mereka pulang terlambat.
Hardian turun dari mobil di susul Azizah. Tidak terlihat kedekatan sama sekali diantara meraka. Hardian berjalan lebih dulu meninggalkan wanita itu. Tepat di depan pintu, bibi Stela menyambut kedatangan Hardian lebih tepatnya menahan Hardian supaya melangkah bersama Azizah.
"Wah, kalian sudah pulang. Kalian terlihat sangat serasi sepertinya kalian berjodoh," ucap Bibi Stela dengan suara keras hingga dua orang yang berada di ruang tengah mendengar suara yang lebih mirip teriakan itu.
Hardian hanya menampakkan wajah dinginnya. Tanpa menghiraukan ucapan sang bibi, laki-laki itu melanjutkan langkahnya setelah sempat terhenti karena bibi yang menghentikan langkahnya.
Setelah beberapa langkah. Hardian diam terpaku di tempatnya. laki-laki itu terkejut melihat wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang beberapa hari ini ia rindukan, saat ini berdiri cantik di hadapannya.
Keduanya saling menatap dengan pikiran yang berbeda. Hardian tersenyum dalam hati karena ternyata selama ini sang istri masih berada dalam jangkauannya.
Namun, berbeda dengan Putri. Ia menatap tajam ke arah sang suami. Tidak ada senyum sedikitpun yang menghiasi bibir wanita itu.
Berani sekali kau pulang bersama wanita itu.
"Nyonya, makan malam sudah siap." Semua orang beralih menatap pelayan itu. Tanpa mengatakan apapun mereka berjalan menujuenunu meja makan. Ayah Malik sudah berada di sana.
Putri memilih duduk di samping ayah Malik, begitupun Hardian juga duduk di sebelah sang ayah. Kini keduanya saling berhadapan. Bibi stela di sebelah Hardian sementata Azizah di sebelah Putri.
"Benarkah dia istrimu? Kenapa dia tidak menyambutmu? Istri macam apa itu? Jangan-jangan benar dugaanku dia hanya wanita sewaan."
"Azizah, ambilkan nasi dan lauk untuk Hardian." Azizah yang di suruh kebingungan. Antara mau mengambilkan dan tidak, ia merasa serba salah.
"Azizah ...," panggil bibi lagi karena wanita itu hanya diam.
Sementara Putri yang melihat itu semua semakin marah. Ia menusukkan garpu ke daging yang ada di atas piring dengan keras lalu mengigitnya kasar.
Hardian menatap sang istri. Ia merasa heran dengan tingkah sang istri.
Apa dia marah?
Hardian tersenyum dalam hati. Istrinya terlihat mengerikan jika cemburu.
Cemburu? Benarkah? Dia sangat lucu.
Hardian segera mengisi sendiri piringnya, mengabaikan sang bibi yang masih mengoceh.
Sementara ayah Malik sangat menikmati makan malamnya. Ia yakin sang menantu bisa mengatasi segalanya, jadi dia tidak perlu ikut campur. Cukup melihat saja.
__ADS_1
Hingga makan malam selesai pasangan suami istri itu belum mengeluarkan suara sedikitpun.
Bibi Stela masih saja mengompori Hardian.
"Bukankah ibumu sudah berpesan, carilah wanita yang baik. Wanita baik itu akan melayani suami dengan baik, bukan mengabaikan seperti itu. Coba lihat sekarang saja wanita yang disebut istri itu entah kemana."
Hardian tidak menjawab. Dia hanya diam dengan pikiran tertuju pada sang istri.
Hardian berdiri lalu melangkah tanpa menghiraukan sang bibi yang memanggil namanya. Yang ada di pikirannya hanya satu. Sang istri yang sudah beberapa hari ini selalu mengganggu pikirannya.
Laki-laki itu berdiri di depan pintu.
Sudah aku katakan, kau yang akan datang padaku.
Hardian membuka pintu. Kosong. Dia tidak melihat sang istri, lalu ia melihat ke arah kamar mandi, samar terdengar suara air yang mengalir.
Tak lama Putri keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama. Hardian meneguk ludahnya kasar, padahal sang istri berpakaian tertutup, tapi pikirannya sudah mengarah ke adegan ranjang. Seketika ia tersenyum yang bisa ditangkap dengan jelas oleh Putri.
Kenapa dia tersenyum?
"Apa senyum-senyum sendiri? Sok manis," gumam Putri pelan. Namun, masih jelas terdengar ke telinga laki-laki itu.
Hardian berjalan di belakang Putri lalu menarik tubuh wanita itu.
"Aku merindukanmu," bisik Hardian setelah wanita itu berada dalam pelukannya. Hardian semakin mengeratkan pelukannya. Sungguh ia merindukan wanita itu.
Putri hanya diam saja, tidak membalas pelukan sang suami. Meskipun tidak dapat ia pungkiri, jauh di lubuk hati yang terdalam ia sangat merindukan sentuhan sang suami.
"Bohong! Kau pasti senang aku tinggal pergi. Kau bisa berduaan dengan wanita lain!" ucap Putri ketus.
Hardian menautkan kedua alisnya. "Kau cemburu?" Putri melepaskan pelukan sang suami lalu berjalan ke arah ranjang. Berbaring di atas tempat tidur lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Seharusnya dia merayuku. Apa dia tidak tahu aku marah. Aku tidak cemburu hanya saja aku tidak suka melihatnya bersama wanita lain.
*
*
Semoga suka kak, ikuti juga novel recehku yang lain, terima kasih.
__ADS_1