
Wanita itu masih menatap pria di hadapannya. Lalu beralih menatap uang yang ada dalam genggaman pria itu. Uang pecahan kecil dalm jumlah yang banyak.
"Paman, kerja apa?" tanya Putri sembari mengambil uang itu kemudian menghitungnya. "700 ribu, hanya dalam dua jam." Putri menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Orang kaya tetaplah orang kaya, begitu mudah untuk mendapatkan uang.
"Pekerjaan apa yang kau lakukan?" tanya Putri kembali menatap kedua pria itu bergantian.
"Tuan, saya akan melaksanakan perintah Anda sekarang juga, permisi Nyonya." Tidak ingin ikut campur, Sakti pun lekas berpamitan.
"Hey, kau mau kemana?"
"Saya harus kembali ke perusahaan Nyonya, perusahaan butuh pemimpin, banyak karyawan yang dipertaruhkan jika mereka kehilangan pekerjaan."
Deg
Perkataan Sakti seakan menyindirnya, seolah-olah ia yang menahan pemimpinnya.
Sakti segera angkat kaki setelah mendapat persetujuan dari sang bos. Kini tinggal mereka berdua. Putri menatap jengah pada sang suami yang terus tersenyum.
Tak lama datang ibu Rt.
"Jadi mas ganteng tinggal di sini? Apa dia saudaramu, Put? Kenalin dong sama ibu, kali aja bisa jadi calon mantu."
Putri mengernyitkan keningnya. Dia hendak menjawab, tapi sang suami yang duluan memberi jawaban.
"Saya suami Putri, Bu," jawab Hardian ramah dan tak lupa senyum yang menghiasi bibirnya. Membuat Putri menganga tak percaya.
Apa aku salah jurus? Aku jadi benci senyumnya.
"Suami? Jadi benar toh, berita mengenai Putri yang menikahi orang kota itu? Jadi kalian akan bercerai?" tanya ibu yang sebelumnya mendengar kabar kepulanagn Putri karena dia dicerai suaminya.
"Bercerai?" tanya Hardian terkejut sembari menatap ke arah Putri dengan tatapan bertanya, benarkah gosip itu?
"Kenapa menatapku begitu? Mereka saja yang mengambil kesimpulan seperti itu." Suara Putri semakin pelan di akhir ucapannya. "Lagian aku juga di usir," imbuhnya dengan kedua bibir manyun yang hanya bisa didengar oleh pria itu saja.
Pria itu menghembuskan napas pelan sambil menutup mata lalu menatap ke arah ibu itu.
"Maaf, Bu. Kami baik-baik saja dan tidak akan pernah bercerai."
"Yah, gagal deh jadi mertua orang ganteng. Tapi gak pa-pa yang penting ganteng." ibu itu terkekeh pelan. "Ini, buat abang ganteng."
"Apa ini?" tanya Putri meskipun ia tahu dan sudah melihatnya
__ADS_1
"Masak masih ditanya, Put. Ini, ya beras, untuk dimasak."
"Ya, tapi untuk apa?"
"Buat suamimu-lah, kasian kalau harus kerja berat, terlalu ganteng." Ibu Rt kembali terkekeh. Putri menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil melihat suaminya yang masih saja tersenyum.
Bahaya ini.
Beberapa menit kemudian, datang lagi ibu-ibu dan juga anak muda membawa banyak barang di tangan mereka.
"Ini juga buat abang ganteng."
"Ya, ini juga, masak kalah sama ibu RT."
"Abang ganteng ini singkong bagus untuk kesehatan." Lalu meletakkan barang yang mereka bawa di kursi yang ada di depan, bahkan ada yang nyelonong masuk ke dalam.
Setelah meletakkan barang-barang itu. Mereka mendekat ke arah Hardian membuat Putri tak suka.
"Boleh foto lagi gak, Bang?" tanya ibu-ibu sambil mengerlingkan satu matanya dan yang lain juga ikutan menggoda si abang ganteng.
"Foto?" Putri yang bertanya mulai mengerti dengan apa yang dilakukan sang suami.
Awas saja kalau benar. Akan aku ah...
Putri membulatkan kedua matanya. "Ganjen sekali, kau masuk ke dalam rumah sekarang juga!" Perintahnya pada Hardian. Hardian yang merasa bingung masih berdiri di tempatnya. "Cepat masuk!" Putri mendorong laki-laki itu agar segera masuk ke dalam rumah.
"Yah, Put kenapa disuruh masuk?" tanya ibu-ibu yang lain merasa kecewa.
"Dia suami Putri? Kenapa harus jadi suamimu?"
Loh, apa maksudnya itu?
"Gak masalah, mungkin butuh istri kedua, aku mau kok," ucap wanita muda tak tahu malu dan masih banyak yang mereka ucapkan.
Putri merasa geram dengan ucapan mereka.
"Maaf ya, ibu-ibu, adik-adik, kakak-kakak. Suami saya yang ganteng itu baru pulang dan kami harus istirahat. Lebih baik kalian pulang saja, ya!" Setelah mengucapkan itu, Putri lekas masuk ke dalam rumah, jika tidak mereka tak akan pergi.
"Eh, Put. Tunggu dulu! Yah, pintunya ditutup, gak bisa lihat abang ganteng lagi," ucap salah satu dari mereka.
Akhirnya mereka pergi dari rumah Putri dengan berat hati dan mereka akan kembali lagi nanti. Semangat mereka tidak bertambah untuk bertemu abang ganteng.
Sementara di dalam kamar. Putri bersedekap dada menatap tajam sang suami.
__ADS_1
"Jadi uang tadi kau dapatkan dari mereka?" tanya Putri mengintrogasi laki-laki itu. Seperti polisi yang sedang mengahadapi tawanan.
"Ya, itu untuk biaya berfoto?" jawab Hardian tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Jadi kau menikmatinya? Berfoto dengan banyak wanita!" Sentak Putri marah.
Hardian tidak pernah melihat sang istri semarah itu. " Kau marah? Aku--"
"Kau masih bertanya aku marah? Tentu saja tidak, hanya saja suaraku sedikit tinggi."
Hardian memilih diam. Mungkin wanitanya cemburu pikirnya membuat senyum di bibirnya terbit.
"Hentikan senyummu Itu! Aku geli melihatnya."
"Bukankah kau suka laki-laki yang suka tersenyum?" Masih sempat Hardian bertanya pada wanita yang sedang marah dan terbakar api cemburu.
"Astaga... laki-laki seperti apa yang aku hadapi ini. Pintar cari uang tapi nol dalam perasaan," pungkas Putri sembari menepuk jidat.
Putri memilih keluar dari dalam kamar, lama-lama bersama pria itu membuatnya darah tinggi. Hingga malam tiba mereka tidak berbicara lagi.
"Mana suamimu?" tanya ibu karena makan malam sudah siap. Dengan malas Putri berdiri bersamaan dengan pintu yang diketuk.
"Siapa yang bertamu?" tanya ibu sembari melangkah ke arah pintu.
"Assalamu'alaikum," ucap banyak orang serempak ketika ibu membuka pintu.
"Waalaikumsalam," jawab ibu dengan mimik wajah terkejut, untuk apa ibu-ibu sekampung berkunjung ke rumahnya? "Ada apa ya, ibu-ibu?"
"Ini Bu, sedikit makanan dari kami." Kemudian para ibu-ibu itu masuk ke dalam rumah begitu saja sebelum tuan rumah memberi ijin.
"Selamat malam semuanya," sapa ibu-ibu itu serempak. Putri yang barusaja keluar dari kamar melihat jengah ke arah ibu-ibu itu. Sedangkan Hardian berjalan di belakang sang istri.
"Abang ganteng, semoga suka ya, masakan kami."
"Tidak perlu repot ibu-ibu," ujar ibu
"Tidak repot kok, kami malah senang," jawab bu Rt dengan senyum lebar.
"Kalau begitu terima kasih dan kami akan mencobanya. Boleh kami coba sekarang?" Maksud ibu mengusir para ibu-ibu itu secara halus.
"Baiklah, kami permisi dulu. Sampai jumpa besok abang ganteng." Kemudian mereka keluar dari rumah, tak lupa ibu mengucapkan terima kasih.
Putri menatap Hardian horor. Pria itu hanya diam saja.
__ADS_1
Ternyata istriku kalau marah menakutkan juga, bisa gak dapat jatah ni.