JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 37 Aku tidak akan berjuang lagi


__ADS_3

Setelah mendapat ijin dari sang suami, Putri bergegas untuk menguras isi dalam kartu ajaib itu. Ia membeli semua kebutuhan pribadinya dari make up, pakaian dalam dan banyak lagi. Selain itu dia juga membeli banyak cemilan dan juga untuk kebutuhan dapur.


Ia diantar sopir yang sudah disiapkan oleh sang suami. Setelah puas berbelanja, ia merasa lapar dan di saat perut berbunyi ia teringat akan sosok laki-laki yang mulai masuk ke dalam hatinya. Ia masuk ke dalam restoran lalu memesan tiga porsi makanan, satu untuk pak sopir.


Dengan semangat ia masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi itu. Melangkah menuju ruangan sang suami.


Ketika ia akan membuka pintu yang memang tidak tertutup rapat. Putri menghentikan langkahnya untuk masuk setelah mendengar seorang wanita berbicara.


Dari suara saja ia sudah tahu siapa wanita itu. Ia diam dibalik pintu, karena ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.


Rasa penasaran bisa membuat sakit hati. Benar kata seseorang dalam novel, semakin ingin tahu maka semakin besar resikonya. Putri mendengar dengan jelas semua pembicaraan mereka. Dari awal hingga akhir, tidak ada sedikitpun yang terlewatkan.


"Aku menyesal mendengar semua," gumam Putri sendu sembari mengusap air mata yang jatuh di pipi.


Dengan langkah gontai, ia pergi dari sana. Berjalan menuju tempat parkir.


Pak sopir melihat Putri heran, karena kembali dengan wajah sedih dan juga makanan yang pasti belum tersentuh. Tapi ia tidak berani bertanya pada istri majikannya.


Putri masuk ke dalam mobil.


"Mungkin seperti ini istri rasa pelakor," gumam Putri pelan.


Mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi. Setelah itu, menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Lalu menutup kedua matanya. Memikirkan langkah apa yang akan dia ambil setelah itu.


Setelah sampai di apartemen. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dan juga sudah berganti pakaian, Putri berbaring di atas ranjang sembari berpikir keras.


"Langkah apa yang akan aku ambil? Menyerah atau berjuang?" Putri merasa dilema. Meskipun statusnya seorang istri, tetapi ia merasa seperti orang ketiga. Berada diantara pasangan yang saling mencintai.


"Di saat seperti ini, aku butuh kakak. Kakak dimana? Apa kakak baik-baik saja?" Putri teringat akan Ratna. Entah dimana sahabatmya itu berada.


Putri berpikir kembali dengan lebih matang sebelum memutuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya.


"Segala sesuatu pasti butuh perjuangan. Apalagi hubungan pernikahan sangat patut untuk diperjuangkan. Ya, aku akan berjuang," ucap Putri penuh semangat.


Tak lama Putri tersenyum penuh arti. Ia teringat dengan nasehat para sepupu yang sudah menikah sewaktu dikampung.


"Menjerat suami dengan cara lima centi. Jagalah perutnya dan juga bawah perut. Di saat seperti ini nasehat kalian sangat berguna, terima kasih saudaraku."

__ADS_1


Putri mengambil ponsel lalu menghubungi Raditya.


"Kenapa tidak diangkat? Apa dia sangat sibuk?" Berulang kali Putri menghubungi Raditya, namun laki-laki itu tidak mengangkat teleponnya. "Aku kerumah kakek saja, kakek pasti tahu lebih banyak."


Putri berganti pakaian lalu pergi menuju rumah Kakek Malik.


"Kau masih ingat kakek?" sindir kakek ketika melihat Putri berjalan dari pintu utama.


Putri tersenyum malu. "Maaf, Kek. Putri akan sering-sering kesini."


"Jadi, apa tujuanmu kesini?" tanya kakek to the point, ia yakin kunjungan Putri pasti ada maksud.


"Kakek, langsung nge-ngas membuat Putri sungkan." Putri terkekeh kecil. "Putri mau bertanya tentang paman, Kek?"


"Suamimu?" Putri pun mengangguk.


"Makanan kesukaan paman apa saja, ya, Kek?" tanya Putri sedikit ragu. Sebenarnya ia sudah bertanya pada Raditya, hanya saja kurang banyak. Raditya hanya mengatakan kalau paman suka udang dan makanan pedas.


"Kau ingin memasak untuknya?"


"Ya, kek."


Kakek teringat ucapan Raditya kalau mereka berdua akan bahagia.


"Hardian tidak pemilih, dia suka makan apa saja." Putri mendengarkan dengan seksama.


"Dia tidak suka makanan pedas?"


"Tidak suka pedas?" tanya Putri terkejut.


"Ya dan hindari memasak udang."


"Udang?" tanya Putri lebih terkejut lagi.


"Dia alergi udang, dia hampir mati karena makanan itu."


Putri terdiam membisu, karena apa yang diakatakan kakek adalah makanan yang pernah ia berikan pada laki-laki itu.

__ADS_1


"Kek, Putri pergi dulu." Tiba-tiba Putri berpamitan dengan wajah gelisah. Setelah mencium tangan kakek dengan tergesa ia keluar dari rumah itu.


Kakek hanya geleng-geleng kepala melihat tingakah wanita itu. " Semoga kalian selalu bahagia, supaya kakek bisa pergi dengan tenang."


"Pak, kita ke perusahaan lagi," ucap Putri pada sopir. Sopir itu pun melajukan mobilnya menuju perusahaan.


Setelah sampai di sana, Putri segera turun lalu berlari ke arah lift, ia ingin segera sampai ke ruangan laki-laki itu. Sampai di sana ruangan itu kosong. Ia berjalan menuju meja sekertaris dan bertanya keberadaan sang suami.


"Maaf, Nona. Tuan Hardian sedang meninjau proyek di lapangan," jelas sekertaris itu. Belum ada yang tahu jika Putri adalah istri Hardian, karena pernikahan mereka yang sangat sederhana dan juga dihadiri oleh kerabat dekat saja. Apalagi pernikahan mereka terbilang tak terduga.


"Dimana aku bisa menemuinya? Tolong?" mohon Putri dengan mengatupkan kedua tangannya.


Sekertaris itu beberapa kali bertemu dengan Putri dan sang bos tidak pernah menolak wanita itu. Setelah berpikir, sekertaris itu memberikan alamat proyek yang Hardian kunjungi.


"Terima kasih," ucap Putri lalu berlalu pergi dari sana dengan setengah berlari.


Tak lama Putri sampai di tempat proyek itu. Putri menyapukan pandangan ke seluruh penjuru, mencari sosok laki-laki yang membuatnya merasa bersalah. Setelah beberapa menit, ia melihat sosok itu.


Putri tersenyum lalu berlari menghampiri sosok laki-laki itu. Putri langsung menjatuhkan tubuhnya pada tubuh Hardian, hingga laki-laki itu terjengkal ke belakang. Putri terlalu semangat memeluk laki-laki itu. Sementara Hardian terkejut dengan kedatangan wanita itu. Rekan dan juga asisten Sakti melihat wanita itu dengan ekspresi tidak jauh berbeda. Mereka meninggalkan keduannya agar lebih leluasa.


"Maaf, maafkan aku." Putri berucap sembari terisak.


"Kenapa diam saja? Kenapa memakannya? Kenapa tidak dibuang saja? Kenapa masih berusaha untuk menelannya? Kenapa harus menahan sakit sampai aku tidur?" Putri membanjiri Hardian dengan banyak pertanyaan. Awalnya Hardian tidak mengerti, lama-lama laki-laki itu paham.


"Siapa yang memberitahumu?" tanya Hardian sembari mengurai pelukan wanita itu.


"Kakek," jawabnya masih dengan sisa sesenggukan.


"Aku tidak tega membuang masakan istriku."


"Paman..." Putri memeluk Hardian kembali. Ia terharu dengan perkataan laki-laki itu.


"Maafkan aku."


Ini untuk hal yang lain. Maaf jika aku egois, aku tidak akan berjuang lagi untuk mendapatkanmu. Tapi mulai saat ini kau sudah ditandai. Kau hanya milikku. Kau hanya suamiku. Maaf jika paman harus melupakan dan melepaskan wanita itu dengan suka rela ataupun tidak. Bagiku, saat ini paman hanya milikku.


*

__ADS_1


*



__ADS_2