
Kini tinggal mereka berdua. Putri menjadi kikuk dan serba salah setelah kepergian laki-laki itu. Hardian hanya diam saja dengan tatapan tajamnya. Seakan-akan dia ketahuan selingkuh.
Berani sekali dia merayu wanitaku di depan kedua mataku.
Putri hanya diam saja, tidak tahu harus menjelaskan apa. Keduannya sama-sama terdiam, hingga mereka berada di dalam mobil. Sampai di apartemen pun mereka masih diam membisu. Putri melangkah masuk ke dalam kamar, sementara Hardian langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.
Setelah beberapa menit, Putri sudah siap untuk berangkat ke alam mimpi. Sebelum tidur ia melihat ke arah pintu dengan harapan sang suami masuk ke dalam kamar mereka.
"Dia belum menyusul ke kamar?" Putri menghela napas panjang lalu berbaring di atas tempat tidur. "Apa dia marah padaku, tapi aku 'kan tidak selingkuh?" Putri bertanya pada dirinya sendiri.
"Haruskah aku menyesal karena masa laluku tidak begitu baik. Tapi siapa yang mau seperti itu?"
"Ya, Tuhan. Apakah masa lakuku yang akan menjadi boomerang untuk pernikahan ini." Putri hanya bisa berkata dan bertanya pada dirinya sendiri.
Sementara Hardian hanya berdiam diri di ruang kerjanya. Sebelumnya ia merasa bahagia karena sang istri sudah mau bercerita tentang masa lalunya. Masa lalu yang sebenarnya Hardian sudah tahu. Tetapi mendengar langsung dari mulut wanita itu, rasanya berbeda.
Ada kebahagiaan tersendiri, itu artinya sang istri sudah bisa menerimanya. Tetapi setelah kejadian di restoran tadi, membuat moodnya berubah. Entah kenapa ia merasa kesal dengan masa lalu wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Meskipun ia tahu, wanita itu tidak punya pilihan lain, tapi tetap saja hatinya berkata bagaimanapun keadaannya seharusnya wanita itu bisa menjadi wanita baik-baik.
Saat tengah malam, Hardian masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu sudah terlelap. Ia menyusul sang istri lalu memeluknya erat.
"Seharusnya aku tidak terpengaruh dengan masa lalumu. Kenapa aku jadi seperti ini. Aku mencintaimu," gumam Hardian.
Deg
Putri terkejut mendengar pengakuan cinta sang suami. Ia terbangun saat suaminya itu masuk, enggan untuk membuka mata akhirnya ia berpura-pura tidur.
Hatinya membuncah bahagia mendengar pengakuan cinta dari laki-laki yang sudah merebut hatinya. Pengakuan yang sudah lama ia nantikan, tapi terselip kekecewaan di dalamnya.
Bukankah cinta tidak akan terpengaruh oleh apapun. Jika paman benar mencintaiku seharusnya paman bisa menerima masa laluku.
Entahlah apa yang terjadi pada Hardian, Dia adalah laki-laki yang bisa memegang teguh pendiriannya. Tapi hanya karena laki-laki asing itu, Hardian menjadi pengecut.
*
__ADS_1
*
Di perusahaan.
Terdengar kegaduhan di depan ruangan Hardian. Asisten Sakti yang berada di dalam ruangan sang bos bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Dimana bosmu?" tanya laki-laki matang yang tak lain adalah Tuan Seno.
Belum sempat Sakti menjawab, Tuan Seno masuk begitu saja ke ruangan Hardian dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Apa maksudmu mengganggu kerja sama yang sudah terjalin puluhan tahun?" tanya tuan Seno dengan berteriak. Dia maarah karena kerja sama perusahaannya dibatalkan secara sepihak, bahkan oleh beberapa perusahaan. Kalau hanya satu mungkin dia tidak akan semarah ini.
Hardian mengangkat kepalanya menatap pria yang usianya beberapa tahun di atasnya.
"Kau ... " Tuan Seno terkejut melihat laki-laki di hadapannya. Dia adalah laki-laki yang ia temui di restoran bersama Putri. Hardian tersenyum sinis sambil menatap tajam ke arah laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya.
"Apa maksudmu?"
"Jelaskan!" Perintahnya pada Sakti. Sakti pun mengangguk lalu menjelaskan alasan Hardian melakukan itu.
Tuan Seno tertawa keras setelah mendengar alasan tidak masuk akal dari asisten pria itu.
"Jadi, ini hanya karena wanita." Tuan Seno tertawa remeh. "Tuan Hardian, kembalikan kerja sama perusahaanku, aku akan memberikan wanita yang jauh lebih baik dari wanita itu. Dia hanya wanita murahan yang bekerja di hotel," ucap Tuan Seno santai sambil berjalan ke arah sofa untuk duduk.
"Hancurkan perusahaannya!" Perintah Hardian pada Sakti membuat Tuan Seno tersentak lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kau ... hanya karena wanita murahan ...."
"Dia ISTRIKU!" sela Hardian lantang. "Wanita yang kau sebut murahan adalah ISTRIKU," ulang Hardian membuat wajah tuan Seno seketika pucat pasi.
Hardian tersenyum sinis ke arah pria itu membuat pria itu terdiam. Detik berikutnya dua security datang dan memaksa tuan Seno keluar setelah mendapat perintah dari asisten Sakti. Tuan Seno menolak, membuat security itu menarik paksa tubuhnya.
"Maafkan aku, Tuan. Tolong, jangan lakukan itu! Jangan hancurkan perusahaanku," teriak Tuan Seno memohon dibalik pintu. Tentu saja Hardian mengabaikan teriakan Seno.
Sakti undur diri dari ruangan sang bos untuk melaksanakan tugas berikutnya.
__ADS_1
Hardian menatap jauh dengan pikiran entah kemana. Benar tubuhnya berada di perusahaan, tapi pikiranya berada di tempat yang lain. Hari ini ia berangkat lebih pagi sebelum sang istri terbangun.
"Aku sudah merindukannya," gumamnya pelan sembari menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi lalu menghela napas panjang.
*
*
Beberapa hari kemudian.
"Anda akan menginap di kantor lagi malam ini?" tanya Sakti karena sudah seminggu sang bos tidak pernah pulang ke apartemen.
Hardian tidak menjawab apapun. Namun, dapat di lihat dari penampilan dan raut wajahnya jika laki-laki itu tidak baik-baik saja.
"Tuan, maaf jika saya lancang." Sakti memberanikan diri untuk menasehati sang bos karena dia tidak mau bosnya patah hati lagi yang akhirnya akan mempersulit dirinya.
"Jika Anda benar mencintainya, seharusnya Anda bisa menerima masa lalunya, Tuan. Saya harap Anda tidak akan terlambat yang akhirnya akan membuat Anda menyesal." Setelah mengucapkannya, Sakti segera undur diri.
Hardian masih termenung di tempatnya, ia merasa bingung. Entah apa yang membuat hatinya bimbang.
*
*
Sementara di apartemen, Putri terlihat sedih sambil mengupas buah jeruk. Ia meneteskan air mata ketika melihat adegan sedih di hadapannya. Ya dia sedang menonton drama cinta. Ceritanya sang kekasih pergi meninggalkan si tokoh wanita karena wanita itu ternyata mantan wanita malam.
Sesekali Putri melirik ke arah pintu, berharap ada seseorang yang membuka pintu itu. Selama seminggu ini ia tidak mendapat kabar apapun dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Ia juga tidak menghubungi laki-laki itu. Entahlah saat ini apa yang membuatnya sedih, film yang di tontonnya atau sang suami yang sudah seminggu ini tidak pulang.
"Aku rindu, paman. Apa paman akan meninggalkanku karena masa laluku?" tanya Putri sembari menatap drama cinta di hadapannya. Sungguh miris nasib si tokoh wanita itu, yang hampir bernasib sama dengannya.
Ting. Putri menatap ke arah pintu.
*
*
__ADS_1