Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Dasar Lelaki


__ADS_3

POV, Nona Dias


Harus kuapakan dirimu, wahai lelaki bajingan,


Kau injak harga diriku, tapi kau kembali membawa harapan,


Kau sakiti hatiku, lalu kau datang meminta ampunan,


Kau rendahkan martabatku, dan kau beri aku rayuan,


Kau kira aku akan luluh, maafku senantiasa tertahan,


Aku tidak semudah itu termakan mulut manis berbisamu,


Aku bertekad menyakitimu dulu lalu menjatuhkanmu,


Wanita tersakiti mudah memaafkan tapi akan selalu mengingat,


Betapa naif dirimu menganggap aku lemah, dasar bejat!


(Septira, 2020)


*


*


Namaku Nona Dias Hardiyata.


Biasa dipanggil Nondi oleh keluargaku.


Atau Bu Nona, oleh karyawan dan nasabahku.


Entahlah kenapa aku dinamai begitu,


Tapi di dalamnya terkandung doa orang tuaku, bahwa aku akan selalu menjadi seorang 'Nona'.


Aku anak bungsu keluarga Hardiyata dari tiga bersaudara.


Keluarga kami menjalankan bisnis Retail dan Perbankan.


Permasalahanku saat ini, di usiaku yang menjelang 27 tahun ini,


Aku jatuh cinta,


Untuk pertama kalinya dalam hidupku.


Nama orang yang kucinta Danar Sanjaya. Anak bungsu keluarga Sanjaya itu memang low profile. Jarang ada fotonya terpampang di internet.


Ada beberapa foto saat acara gathering atau grandlaunching, tapi beramai-ramai. Jadi wajahnya tidak terlalu jelas terlihat.


Saat kami direncanakan untuk dijodohkan pun, pihak sana tidak memberi kami foto Danar ini. Katanya yang bersangkutan tidak ingin memberi fotonya.


Sosial medianya tidak diketahui, dan dari Jade Company hanya ada foto saat dia masih berkuliah. Foto itu juga yang ia pakai untuk annual report, name tag, linked in, dan lainnya.


Foto saat berkuliah? Wah sudah lama sekali. Mungkin ada sekitar 10 tahun lalu.


Betapa misteriusnya Danar ini.


Tapi, aku langsung jatuh cinta.


Aku akan memiliki seorang suami!


Kuperhatikan matanya, hidungnya, mulutnya, rahangnya.


Kubeli aplikasi berbayar untuk memperkirakan seperti apa wajahnya kalau ditambah 10 tahun. Dan saat keluar hasilnya, aku semakin jatuh cinta.


Bukan karena ketampanannya yang membuatku jatuh cinta,


Tapi ada daya magis yang kurasakan saat melihatnya, seperti ada bayangan masa depan.


Keluarga kami merencanakan pertemuan dalam waktu seminggu ke depan, aku mati-matian merawat diri dan membeli beberapa gaun cantik.


Aku melatih senyumku, aku meluruskan rambutku, aku juga mempelajari mengenai bisnis Keluarga Sanjaya.


Aku sangat bersemangat untuk bertemu dengannya kala itu.


Tapi,


Dia tidak pernah datang.


Dia menghilang.


Dan dia tidak bisa dihubungi.


Yang lebih parah, muncul pesan singkat kalau ia membatalkan perjodohan sepihak.


Dia langsung mematahkan hatiku.


Aku jadi benci semua lelaki di dunia ini.


Aku tidak bisa tersenyum saat bertemu nasabahku yang laki-laki, yang kira-kira seusia dengan Danar.


Nada suaraku mulai meninggi, aku mulai bersikap judes ke semua orang, rasanya tak ada yang bekerja dengan benar di mataku. Bahkan aku memecat supirku dan memilih menyetir mobil sendiri karena aku jadi benci laki-laki. Aku tak ingin berada berdua saja di ruangan sesempit mobil dengan lelaki.


Aku benar-benar trauma.

__ADS_1


Saat itu, aku merasa seperti wanita buruk rupa, paling jelek sedunia.


Lalu aku sadar kalau aku tidak bisa terus-terusan terpuruk, saat aku melihat perusahaan yang kupimpin mulai merugi. Beberapa deal melayang karena aku dianggap angkuh.


Aku sesaat lupa kalau aku bekerja di bisnis keuangan. Senyum ramah adalah salah satu kunci sukses. Service excellent adalah trik kami untuk kerjasama lancar.


Aku depresi dan akhirnya merasa kalau yang kulakukan tidak benar. Tapi rasa sakit hatiku belum pulih.


Aku mulai membeli gaun provokatif, terbuka dan seksi, yang sebenarnya bukan gayaku sama sekali. Aku ingin meningkatkan kepercayaan diriku, sekaligus menghukum semua pria di dunia agar terpana melihatku, lalu tak kuacuhkan mereka.


Dan tiba-tiba, dia muncul...


Kurang ajar!


Dia bahkan menyamar dan melamar menjadi driverku!


Apa pula tujuannya?!


Tidak ada yang mengenalinya, tapi aku tahu itu Danar Sanjaya, dari aplikasi berbayar yang kubahas tadi.


Aku geram,


Ingin sekali kucakar-cakar wajahnya!


Dia malah cengengesan dan seenaknya berkeliling di rumah kami!


Dengan santainya mengambil hati semua orang,


Dalam waktu singkat ia akrab dengan semuanya, bahkan dengan Haidar, kakakku, yang terkenal galak!


Aku tadinya bertekad untuk tidak mengindahkannya.


Aku bersikap galak padanya, aku memakinya sesuka hatiku, apa pun yang dia lakukan di mataku selalu salah.


Tapi aku urung untuk membuka rahasianya. Aku ingin tahu, apa yang mau laki-laki brengsek itu lakukan di rumahku?!


Aku juga mau tahu, kenapa sikapnya terhadapku berbeda dibanding yang lain?


Dengan kakakku yang perempuan, Putri, dia bersikap lembut dan murah senyum, dengan ibuku apa lagi, sangat ramah dan santun.


Tapi saat denganku,


Tatapan sinisnya selalu menyapu setiap bagian tubuhku.


Sikapnya cuek dan dingin,


Seringkali dia bertingkah seenaknya.


Kadang dia tidak mendengarkanku,


Seakan dia meremehkanku.


Sinis dan palsu.


Apa aku segitu jeleknya di matanya?


Apa dia ingin memastikan kalau pilihannya untuk kabur di perjodohan benar adanya?


Di lain pihak,


Ia ingin memperbaiki hubungan kerja dengan keluarga kami,


Jadi dengan sikap manipulatifnya ia menyusup.


Aku tahu itu.


Dasar bejat!


Ah, tapi...


Tetap saja aku mencintainya.


Walaupun sikapku begini, angkuh dan sombong terhadapnya.


Tetap saja aku suka dia.


Aku tidak bisa menahan diri untuk memilih duduk di depan, di sampingnya saat ia menyetir mobilku.


Ia begitu mempesona,


Gerakannya elegan dan manly.


Semua bagian tubuhnya seakan diciptakan dengan seksama.


Aku suka,


Saat ia memegang stir mobil dengan tangan kanannya, dan tangan satunya bertengger santai di atas tongkat persneling,


Aku suka,


Saat ia berdiri menungguku dengan kedua tangan dimasukan ke saku celananya dan bersandar di mobil,


Aku suka,


Saat dia bersikap mencurigakan diam-diam menatap dada atau bokongku dengan mata berkilat,

__ADS_1


Aku juga suka,


Saat di sudut bibirnya tersundut batang rokok dan senyum mesumnya menatapku sambil membayangkan hal jorok,


Aku juga suka,


Menjahilinya dengan belahan dada rendah, rok mini, lipstik merah merona...


Namun akhirnya perlahan semua terjawab.


Soal tujuannya menyamar, soal sikapnya terhadapku.


Sulit dipercaya ternyata ia juga tertarik padaku.


Juga sulit dipercaya kalau aku selama ini salah paham terhadapnya.


Lalu... Saat ini,


Aku sedang merasa risau.


Apakah laki-laki di sebelahku ini... Psikopat?


Dia selalu tersenyum sinis terhadapku.


Kupikir lagi, senyumnya itu muncul kalau aku mengomelinya,


Atau membentaknya,


Atau menamparnya,


Atau melemparnya dengan benda-benda di sekitarku.


Kupikir tadinya ia tersenyum karena ia menantangku, seperti bilang : itu pukulan atau belaian, Nona? Kok lemah sekali ya kamu?!


Ternyata...


Tunggu, aku mau mengecek sesuatu.


Aku pernah membaca novel online, mengenai saat si wanita mengintimidasi si pemeran prianya.


Kupikir itu bisa kupraktekan sekarang.


Kalau dia senang, fix! Dia sudah gila...


"Sini kamu," desisku sambil mencondongkan tubuhku ke arahnya.


Dia menatapku dengan curiga. Tapi menurut mendekat.


Aku langsung mencengkeram lehernya, dan kuhujamkan kuku ke kulitnya dalam-dalam.


Dia terpekik,


Lalu menatapku,


Dan mendengus tak percaya.


Tapi, sambil tersenyum.


"Serius, Non?!" desisnya. Tapi dia tak tampak kesakitan. Bahkan mencegah tanganku pun tidak, bahkan menahan gerakanku juga tidak, bahkan berteriak menolakku pun tidak.


Kenapa pria ini?!


"Kamu ada kelainan ya? Kok kamu kayaknya senang kusiksa?"


Ia hanya menatapku.


Terbersit sesuatu dalam benakku, langsung saja kuutarakan.


"Ini bukan aksi kamu untuk membiarkanku berbuat kekerasan karena merasa bersalah padaku, kan?!" tanyaku.


Kalau memang benar, kumanfaatkan saja dengan maksimal.


"Mungkin saja begitu," katanya sambil mengernyit. Darah menetes dari kulit lehernya.


"Hehe, cuma segitu kemampuan kamu?" Dia menantangku? Sialan!


"Aku bisa lebih dalam lagi mencakar kamu," sahutku.


"Silakan saja," itu jawabannya


Dia benar-benar meremehkanku.


Kini, aku jadi takut padanya.


Takut tak bisa mengontrol diriku untuk lebih menyiksanya.


Sepertinya dia bahkan rela kusakiti.


Takut tak bisa mengendalikan tubuhku untuk tidak membunuhnya.


Sepertinya malah mungkin itu harapannya.


Takut tak lelah dengan dendam terhadapnya sekaligus cinta terhadapnya.


Sepertinya, dia juga memiliki perasaan yang sama denganku.

__ADS_1


Harus kuapakan dirimu, Danar Sanjaya?!



__ADS_2