Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Betis Indahmu


__ADS_3

Budak, hamba sahaya, pesuruh, pengikut setia,


Apalah namanya,


Jadi yang mana pun aku bersedia,


Asal dekat denganmu setiap saat.


Kuundur kenyataan yang hampir saja keluar dari bibir ini.


Ingin kuucap,


Kamu cantik apa adanya, Sayang,


Karena,


Kalau buruk rupa saja sosoknya semacam dirimu, bagaimana yang katanya jelita?!


Apakah kamu bidadari surga yang tersasar jatuh ke dunia karena sayapmu patah?


Aku hampir saja berteriak kegirangan.


Untung saja teringat perkataan Mbak Windy,


Bos, tolong jaga image, jangan polos planga-plongo kayak biasa, bisa turun wibawa.


Begitulah.


Untung saja sekretarisku ibu-ibu 40 tahun anak 3, bagaikan kakak bagiku, jadi bisa bicara kenyataan.


Pernah aku tidak bisa menemukan pulpenku, dan dia menemukannya tepat di samping laptop tapi sedikit melesak ke dalam pinggiran. Dan aku diomelinya :


Nyari pakai mata Bos, jangan pakai hati. Sampai Shiratal Mustaqim dibuka untuk umum juga nggak bakalan ketemu.


Suatu quote yang makjleb sekali.


Kembali ke masalahku,


Dalam kondisi terdesak, hm, tidak tepat.


Ulangi,


Dalam kondisi didesak tubuh sintal seksi dengan dada busung selembut dacron, aku berusaha menatap Nona Kesayanganku tanpa ekspresi.


Wajahku memasang mode Jaga Image.


Dan bibirku berujar, "Nona salah paham, saya ke rumah ini hanya untuk bekerja karena butuh uang. Seluruh fasilitas keuangan saya dibelukan ayah," kataku, setengah berbohong.


"Kenapa harus rumah saya?"


"Karena gajinya paling besar,"


"Apa yang terjadi kalau kamu ketahuan anak bungsu Sanjaya yang telah memutus tali silaturahmi dua keluarga?"


"Saya sih nggak yakin yah, silaturahmi putus gara-gara saya kabur, " sahutku sambil berusaha senyum sinis.


Aku ingin melihatnya melotot marah padaku.


Juga ingin melihatnya berteriak kesal padaku.


Kalau perlu ia mennamparku dengan kencang sampai berbekas di pipi.


Sesuai prediksiku, dia melotot padaku.


Cantik,


Manis dan cute banget.


Ekstra pipi kemerahan, saking kesalnya dia.


"Mereka dari golongan konglomerat, kaum intelek tidak akan buang waktu saling membenci mengesampingkan urusan cuan hanya karena dipicu dengan masalah perjodohan. Pasti ada masalah politik dan birokrasi sebagai pemicu aslinya,"


Ini hanya alasanku.


Faktanya, memang masalah gengsi karena kesal aku lari dari perjodohan.


Iya, sekonyol itu orang tua kami.


Namun dari golongan konglomerat dan pebisnis besar di negara ini, yang dikenal dengan nama 12 Naga, masih banyak peluang untuk mendapatkan tender dari proyek lain.


Keluarga Hardiyata, pemilik dari PT. Safir Mulia Grup, adalah Peritel yang menaungi beberapa merek dagang terkenal dari Eropa. Saat barang branded eropa mau merambah bisnis ke negara ini, mereka tidak bisa mendirikan perusahaan sendiri atas nama mereka. Harus lewat PT. Safir baru mereka bisa menjual barang di sini.


Baru-baru ini mereka bahkan merambah ke bisnis perbankan. Nona Dias adalah salah satu Direktur di Safir Bank International.


Sedangkan ayahku, Adi Sanjaya dari Jade Construction dan Building adalah perusahaan konstruksi besar dengan spesialisasi tender pembangunan gedung dan jalan.


Terbayang besarnya proyek kalau mereka bersatu.


Tapi masih memikirkan ego gara-gara perjodohan.


Padahal anaknya banyak.


Kenapa harus aku?


Sudahlah, toh gara-gara itu aku bisa mengenal Nona.


Dan aku merasa sangat bersyukur.


Kini tinggal menjalankan aktingku saja.


Kata Mbak Windy, cewek cantik biasanya tertarik dengan badboy tapi bukan fakboi.


Aku tidak begitu mengerti maksudnya, tapi kujalani saja sebisaku.


Nona melepasku sambil menggigit bibir bawahnya. Ia ragu, ia memperhitungkan perkataanku.


Aku yakin dia kini mulai goyah dengan asumsinya sendiri.


"Jadi kalau saya mengenalkan kamu ke ayah saya dengan bilang kalau kamu anak bung..." tanya Nona.


Wah, leherku berdarah!


Goresannya lumayan dalam, sempurna!


"Jangan," sahutku cepat. "Bisa perang dunia,"


"Cih! Ketahuan maksud kamu sebenarnya! Kamu mau mensabotase ayah saya, kan!"


"Lebih ke... Ingin menjalin silaturahmi kembali, tapi belum tahu caranya,"


"Mau saya beritahu identitas kamu yang sebenarnya ke ayah?"


Wah! Dia mengancamku!

__ADS_1


Mulai seru, ini...


"Terus terang saja Non, saya nggak ingin dijodohkan karena memiliki..."


"Wanita yang kamu suka. Ck! Sialan!" Dia seenaknya memotong kalimatku.


Maksudku, memiliki prinsip sendiri untuk saling mengenal dari awal baru perlahan ke jenjang pernikahan. Masalah nikah jangan sat set sat set. Memangnya kita jual beli?! Ini masalah hati, loh... Bukan bisnis!


Tapi sepertinya makin seru kalau aku diam saja.


"Siapa wanita itu? Orang yang kamu impikan sampai basah tadi?!" Cecarnya padaku.


Aku menunduk.


Nggak tahan melihat mata indahnya. Salah-salah kurengkuh dia dalam dekapanku, kalau aku tidak memalingkan wajah.


Imanku goyah...


Kesadaranku mulai kabur.


Setan mulai membujukku pelan.


Nona galau,


Apa kucium saja langsung? siapa tahu keadaan akan berbalik, dia yang akan jadi budak.


Begitu setan membisikiku


Tidak! Tidak!


Aku yang harus jadi budaknya!


Aku akan mencium kakinya, merangkak mengikutinya dan menahan lecutannya.


Nona harus jadi Ratuku!


"Lebih cantik dari saya?" tanyanya lagi.


Aku diam lagi.


Diam berarti 'iya'.


Padahal maksudku, diam berarti tak tahu harus jawab apa.


Karena memang tak ada sosok wanita lain, hanya ada Nona.


"Seperti apa dia? Pasti lebih kalem dan tidak bawel seperti saya kan ya? Juga bisa jadi, dia lebih anggun dan kayaraya," terdengar iri nada suaramu Nona.


Aku ingin menggodanya, jadi kutimpali, "Dia manis, seperti bidadari. Senyumnya memukau, tapi saat cemberut semakin menggemaskan. Nona benar, dia anggun dan kayaraya,"


Maksudku kamu, sayang...


Kamu wanita termanis yang kutahu.


Nona memalingkan wajahnya dengan wajah sangat suram, hampir terasa seperti akan menangis. Mungkinkah aku berhalusinasi?


"Kalau tidak ingin ayah saya tahu, kamu harus menuruti semua perkataan saya," kata Nona.


"Yah, yang saya sanggup saja ya Non, yang saya anggap tidak berbahaya," aku jaga image. Padahal disuruh gantung diri juga aku mau.


"Keselamatan kamu tuh ditangan saya, masih saja kamu angkuh!"


"Non, Ayah kita sebentar lagi pensiun. Tahta akan bergulir. Kita berdua akan kebagian masalah bisnis. Apa jadinya kalau saya mati di tangan Nona? Bisa makin hancur hubungan dua keluarga di masa depan,"


Wah, si Nona penggemar kekerasan juga sepertinya.


"Perintah pertama saya, putusin pacar kamu!"


Aku diam saja.


"Jawab!" serunya.


"Hm," gumamku. Ekstra pura-pura malas.


"Awas kalau kamu ketahuan pacaran!"


"Hm," gumamku lagi.


"Lalu, Saya ngantuk, kamu pijetin kaki saya sampai saya tidur," ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya.


Dalam hati kubersorak.


Kaki Nona adalah impianku.


Fetishku sangat liar kalau masalah kaki.


Apalagi yang jenjang dan kurus seperti milik Nona.


Apa yang kubayangkan?


Kuberfantasi kaki itu diatas kepalaku,


Menendangku sampai aku terpental


Menginjakku dengan kebencian mendalam,


Lalu diacungkannya jemari mungilnya ke depan hidungku,


Dan disuruhnya aku...


"Danar! Jangan bengong aja!" seru Nona dari ambang pintu kamarnya.


"Iya, iya... Jangan galak-galak dong, Non! Muka ditekuk melulu keliatan cepet tua nanti," gerutuku sambil berjalan ke arahnya.


*


*


"Nih!"


Kakinya teracung di depan hidungku.


Susunan tulang tibia dan fibola berbalut kulit mulus seindah sutra,


Jalinan anatomi memukau yang menggoda dengan gerakan terencana,


Berusaha memikatku dengan terangkat dekat dengan indera penglihatanku.


Aku hampir terlena, namun aku pun tersadar,


Bahwa di dunia ini hal instan hampir mustahil,


Semua pasti ada sebab akibat, maksud tujuan,

__ADS_1


Jadi aku harus lebih berhati-hati dan tetap ke rencana semula.


Tapi ...


Astaga!


Kenapa semua harapanku jadi kenyataan?!


Terlalu berlebihan, ya Tuhan!


Juga,


Terima kasih yang teramat sangat besar juga untukMu.


Posisiku saat ini duduk di kursi empuk yang biasa Nona gunakan untuk meja rias, letaknya di sebelah ranjang raksasanya.


Nona setengah berbaring menghadapku, dan sebelah kakinya diacungkan tinggi-tinggi, bagaikan ingin memamerkan kain segitiga tipis keramatnya padaku.


Aku pun menatap pertengahan pahanya, lalu ke matanya, lalu ke kain segitiga, lalu ke matanya lagi.


Ia tahu aku terang-terangan melihat tapi bersikap seakan ia memang ingin menunjukkannya padaku.


Sial! Sial! Sial!


Tujuan Nona di depanku ini kentara sekali


Ia berusaha memikatku


Membuatku mabuk kepayang


Lalu bisa jadi setelah itu menjatuhkan dengan membongkar semuanya!


Ia mau membuatku malu di depan orang-orang


Karena aku membuatnya patah hati lebih dulu


Tanpa bisa kukendalikan, tanpa sengaja, tanpa ku tahu sosok dirimu yang indah ini,


Maaf Nona, wajahmu yang cantik itu harus tercoreng karena aku!


Dan yang lebih menyebalkan di saat-saat ini, yang ada di benakku malah suara sekretarisku!


Bos, tolong lebih jaga image


Bos, jangan ceroboh


Bos, tahan birahi


Bos, cepetan balik ke kantor, soalnya saya menggantikan Bos mengurusi semuanya!


Sabar Danar, Sabar...


Saat ini yang bisa kulakukan adalah berusaha tidak terpancing,


Dan mencoba sekuat tenaga mendecak bagaikan tidak tertarik, padahal mati-matian menahan libidoku yang menggeliat-geliat kepanasan..


Berusaha kalem sambil meraih kakinya dan mulai memijat area mata kakinya perlahan.


Membayangkan kalau yang berada di depanku bukanlah Nona


Tapi gadis-gadis di spa dan club yang seringkali melayaniku


Tanpa hati, tanpa kenikmatan, hanya saling membutuhkan


Mereka butuh uang, aku butuh pelampiasan gairah


Nona masih menatapku lekat-lekat.


Dari binar matanya, aku bisa menilai kalau ia sedang mengujiku.


Apakah aku sekedar laki-laki brengsek yang pantas ditindas,


Atau aku bernilai lebih dari itu.


Aku juga memperhatikannya dari sudut mataku,


Sesekali meliriknya dengan berakting malas-malasan dan sinis


Apa yang bisa kulakukan untuk menjatuhkan si Nona supaya malah mengiba padaku?


Mungkin pertama,


Mencari tahu titik sensitifnya.


Tangan kananku menyusuri betis kurusnya sampai ke lutut, mengelusnya dengan gerakan yang seakan biasa padahal feromonku sedang menyerang.


Ia tergerak sedikit.


Ah!


Aku langsung menyadari, kalau ia tidak terbiasa dengan sentuhan lawan jenis.


Apalagi di area privat seperti yang kulakukan sekarang.


Kuputuskan, menyerang dengan elusan lagi. Kali ini tanganku menyentuhnya dengan gerakan melingkar,


Dan hampir sampai ke pangkal paha.


Duag!!


Dia menendangku!


Tendangannya telak mengenai daguku.


“Jangan lancang!” serunya kesal.


Tapi wajahnya sangat merah.


Kepalaku langsung pusing dan telingaku berdenging.


Sakit, nyeri,


Tapi sangat nikmat.


Bibirku reflek langsung menyeringai. Dan menatapnya dengan mengejek.


Ia menatapku kesal, sekaligus mengerut.


Mungkin dia sadar kalau telah memencet tombol aktif seorang bedebah.


Ini yang kuinginkan, siksaan erotis seperti ini.


Nona, kamu akan segera kujatuhkan ke pelukanku!

__ADS_1


__ADS_2