
Nona,
Aku tak mengerti
Sungguh tak kupahami
Kenapa kau yang masih suci rela memperlihatkan tubuhmu di hadapanku.
Aku tak bisa menduga-duga,
Juga tak bisa diam saja mendapatimu yang seperti itu.
"Kenapa kamu begitu mudahnya telanjang di depanku?" tanyaku ke Nona dengan suara sepelan mungkin.
Wanita jelita itu hanya menatapku.
Tanpa ekspresi, tanpa raut wajah.
Hanya menatapku saja,
Seakan waktu terhenti dan ia berdiri mematung, membeku dalam kebisuan.
"Sini lo!" Devan, kakak keduaku, menarikku dengan geram.
Aku tertarik menjauh dari Nona, tapi kami masih saling menatap.
Aku masih bisa melihat teman-teman Nona menghampirinya, kini kami berjauhan tapi dengan jarak pandang yang masih bisa terlihat.
"Finally, you showed up!" gerutu Dimitri, kakak tertuaku. Aku lupa mereka berdua kolega Dokter Siska, si empunya acara. Sudah pasti mereka berdua diundang ke acara ini.
"Oke, jelasin dengan singkat dan padat. Gue coba untuk ngertiin walopun gue ragu bisa ngikutin jalan ceritanya soalnya lo terkenal sinting," sahut Devan sambil menghadangku, ia berkacak pinggang dan mengernyit memandangku seakan sedang mengomeli anak SD yang pulang larut malam.
Aku masih menatap Nona dari kejauhan.
Nona mengobrol dengan teman-temannya, tapi sesekali melirikku sambil tersenyum.
Senyuman yang getir,
Terasa sedih dan penuh rasa sayang.
Kenapa kamu, Nona?
Kenapa dari sekian banyak laki-laki, kamu memilihku?
Aku seketika merasa menjadi biadab paling brengsek di muka bumi.
"Gue..." Susah payah aku mencoba menjelaskan kepada kedua kakakku apa yang terjadi. Tapi bibir ini sukar sekali bergerak.
Sementara mataku tetap tertuju ke Nona. Seakan sudah terkunci untuk tetap menatapnya.
"Hah?!" Devan memicingkan mata menajamkan pendengarannya.
"Gue jatuh cinta," gumamku.
__ADS_1
Aku merasa Devan dan Dimitri mengikuti arah pandanganku, dan akhirnya kami bertiga menatap Nona.
"He's insane," gumam Dimitri, "Just grab him away from this scene," pria itu berjalan menjauh dengan gelas sampanye di tangannya dan langkahnya yang santai.
"Ayo sini bro, kita butuh penjelasan lebih detail dari cuma sekedar kalimat 'gue jatuh cinta'. Dosa lo banyak ke kita!" dan Devan pun menarikku dengan paksa menjauhi Nona.
*
*
Oke, perkenalkan dua saudaraku sekaligus sahabat karibku sepanjang hidup. Si kembar tak identik, Dimitri dan Devan Sanjaya.
Mereka benar-benar tidak mirip, baik rupa maupun sifat mereka yang saling bertolak belakang. Bisa dibilang Dimitri dan Devan bagaikan Bad Cop dan Good Cop tapi dengan satu visi misi, menginterogasiku.
Dengan kata lain, mereka Yinyang, saling melengkapi.
Aku berusaha menjelaskan yang terjadi selama ini, sebisaku.
Dimana aku selama ini berada, apa yang terjadi, dan bagaimana akhir ceritanya.
Mereka menyimak tanpa memotong ceritaku. Aku kisahkan dengan jujur tanpa ditambahi ataupun dikurangi.
Setelah selesai ceritaku, kupandangi mereka berdua. Kulihat reaksinya.
Dimitri dengan seringainya, dan Devan dengan gelengan kepalanya.
"You're sure you take on that step? Don’t regret it," gumam Dimitri. (Kamu yakin ambil jalan itu? Jangan menyesal, ya) Dia lama di Amerika, jadi seringkali lupa bahasa ibunya sendiri.
Pekerjaannya sekarang Komisaris Independent di banyak tempat dan Presdir di dua anak usaha milik Jade Construction. Bisa dibilang, dia kandidat kuat yang akan menggantikan tahta ayahku.
Tapi, dia juga sebenarnya agak licik dalam berbisnis, ahli taktik, jadi cocok sekali ditunjuk sebagai pengusaha.
“Gue rasa, gue udah gila,” gumamku sambil mengusap wajahku. Setelah bertemu kedua abangku, kenapa rasanya jadi lelah sekali. Seperti ada beban yang terlepas, dan perasaan yang lebih lega.
“But you’ve been crazy for a long time,” (tapi kamu kan sudah lama gila) kata Dimitri. Disertai kekehan Devan.
“Actually I don't have a problem as long as you can live it, but make sure you won’t regret it. It your decisions, youre choice, and remember, you reject it once don’t make it twice or she’ll be gone forever,” (Sebenarnya aku tak masalah dengan jalan hidup yang kamu pilih, tapi ingat, itu keputusan kamu, pilihan kamu, kamu sudah pernah menolaknya sekali. Jangan sampai yang kedua kali atau dia akan hilang selamanya).
Aku melihat tatapan Dimitri terhadapku menerawang. Ia memang melihat ke arahku, tapi kurasa pikirannya di tempat lain. Seakan dia sudah pernah memiliki pengalaman yang seperti diriku dan kini dalam tahap kehilangan tanpa bisa sempat mengulang kembali seperti semula.
Mengenai masalah cinta, Dimitri memang cenderung tertutup.
“Juga, kamu lumayan hebat kalau bisa menjalin kembali kerjasama antar dua perusahaan raksasa yang tadinya berseteru,” tambahnya.
Ah! Benar juga. Dia kan pengusaha. Di otaknya hanya ada cuan. Sejauh hal ini menguntungkan, jalan apa pun yang ditempuh, haram atau halal, tak masalah baginya.
Dan hubungan kerjasama antara Jade dan Safir bisa melahirkan megaproyek bernilai ratusan miliar.
Aku curiga sifat workaholic Dimitri adalah bentuk dari pelampiasannya dari kekecewaan yang pernah dialami. Atau mungkin saja bentuk pengalih perhatian.
“Selama lo pergi tiap hari Ayah ngomel, tiga hari sekali ke rumah sakit buat check up,” gerutu Devan.
“Lah, yang ngajak gelut duluan sapa,” balasku.
__ADS_1
“Lo tuh dijodohin soale dia prihatin ngeliat gaya hidup lo gonta-ganti cewek,”
“Mas bro, gue tuh bujangan,”
“Gue juga bujangan nggak gitu-gitu amat!”
“Mas, Lo tuh nggak laku soale songong kebanyakan gaya,”
“Eh, jangan seenaknya lu ye, dasar durhaka! Ini namanya berprinsip!”
Dan akhirnya perbincangan diwarnai aku dan Devan sibuk berdebat mengenai gaya hidup kami.
Pekerjaan Devan sebagai supervisor di tambang-tambang batu milik keluarga kami. Ia menolak semua jabatan krusial, dan lebih memilih pekerjaan operasional di lapangan.
Devan berhubungan dengan preman, mafia, begal, dan orang-orang yang berusaha mengusik tanah dan hasil tambang. Entah apa enaknya pekerjaan itu, tapi sejauh ini ia merasa nyaman.
“Gue nggak ada urusan sama cinta-cintaan lo, tapi...” Devan merendahkan suaranya, “Lo bikin masalah lagi, sniper gue bakal ada di atas gedung. Sasarannya burung lo. Ngerti?”
Aku bergidik dan mencibir.
Kedua kakakku berbeda 3 tahun dariku,tapi pola pikir dan cara pandang mereka bagaikan 15 tahun diatasku.
Mungkin itu sebabnya walaupun kedua kakakku juga belum menikah, mereka menjalani kehidupan yang kalau dilihat sekilas tampaknya lurus-lurus saja, berbeda denganku yang cenderung seenaknya.
Seenaknya, begitu anggapan mereka.
Menurutku sih biasa saja.
Makanya, aku yang dijodohkan. Harapannya agar gaya hidupku membaik.
Yah, harapan ayahku terkabul sih. Sejak bertemu Nona aku menarik diri dari pergaulan sesat.
“Ayah udah tua, jangan keseringan dikerjain,” kata Devan sambil meringis. Aku mendengus.
Lalu kami terkekeh bersama.
Menurut kami, kejadian kaburnya diriku memang lucu. Entah siapa yang lebih kekanak-kanakan, antara aku atau ayahku.
“Bos!” sebuah seruan terdengar dari arah belakangku. Aku bisa menebak dari suaranya itu adalah...
“Waaah baguslah Bos ada di sini! Itu berarti keadaan akan semakin baik kan ya? Bantuin saya menghadap Pak David ya Bos! Saya nggak tahu apa-apa masalah teknis!” Mbak Windy mencengkeram kedua lenganku dan mengguncang-guncangkan tubuhku.
Ibu-ibu kalau lagi panik tak ada yang bisa memotong argumennya.
“Duh, lagi acara tunangan loooooh, kenapa saya harus diganggu kerjaan siiih? Konstruksi lagi sepi ini, sekarang jamannya platform investasi online,”
“Ya karena dari situlah biaya hidup kita terbayar! Anak saya tiga Bos, semua laki-laki tukang rusuh. Dan impian saya mereka bertiga bisa jadi Bos di masa depan, jadi harus banyak kursus ini-itu, butuh banyak dana! Bos kan juga tahu biaya hidup zaman sekarang bikin saya malas nonton acara berita! Isinya omong kosong janji palsu! Jadi tolong kali ini kerja yang bener biar bonus karyawan cepet keluar! Kalau perlu 24 jam 7 hari Bos Danar kerja!” Mbak Windy menyerangku bertubi-tubi dengan curhatannya.
Membuat kami bertiga terpaku, karena kesulitan mencerna kalimatnya yang memberondongku secepat Shinkasen.
“Saya tidak peduli gitu-gituan Bos! Tak sampai nalar saya! Mau proyek lagi sepi lah, mau Planet Mars musim banjir lah, Bos Danar harus menghadap Pak David hari ini buat ngomongin proyek! Go! Kerja sana!” Mbak Windy mendorongku dengan antusias.
“Haduuuuh kamu niiiih,” keluhku sambil malas-malasan.
__ADS_1
Tapi ya kukerjakan juga, karena omongan Mbak Windy benar.
Akunya saja yang bebal.