
Hari ini, aku terkesima.
Pada caramu berbicara,
Pada caramu membela diri,
Pada caramu berprinsip,
Tak bosan-bosannya aku memperhatikanmu, Nona,
Si Juwita Hatiku yang kuat, tegar, dan tak mudah dipengaruhi siapapun.
Mungkin benar, inilah akhir pencarianku terhadap wanita.
Setiap yang kau lakukan begitu cantik di mataku.
Termasuk saat ini,
Kami duduk di sofa, berdampingan, dalam posisi diperhatikan oleh orang-orang di sekeliling kami.
Pak Dias Hardiyata memandangku dengan gusar,
Nyonya menggigit-gigit bibirnya tanda kuatir,
Haidar Dias dan Putri Dias, kedua kakak Nona memandang kami dengan ekspresi yang sulit diungkapkan. Antara mengejek, marah, tapi juga terlihat senang.
Dan Nona,
Duduk santai seakan tidak terjadi apa-apa. Dia tampaknya sudah menyiapkan pembelaan.
Aku juga duduk di sebelahnya dengan berusaha tetap santai, sesekali kuelus rahangku yang nyeri karena dilempar vas bunga oleh Nyonya.
Sekujur badanku juga pegal-pegal karena Pak Dias datang akibat teriakan Nyonya dan memukuliku dengan tongkat sekuriti bertubi-tubi. Untung saat itu Haidar yang badannya besar belum datang. Kalau ia ikutan memukuliku bisa-bisa aku pingsan.
Akhirnya, identitasku diketahui.
Pak Dias menghubungi koleganya dan menfoto wajahku, satu kantor mengenaliku sebagai Danar Sanjaya.
Sialnya, yang ia posting fotoku yang sudah babak belur.
Mau dikatai apa aku besok oleh orang-orang?!
Dan yang paling mengerikan,
Adalah Nona.
Saat kejadian heboh, dia hanya cengengesan di pojok ruangan sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Seakan dia senang melihatku dipukuli bapaknya sendiri.
Mungkin ia menikmati pemandangan di depannya karena dia bisa sekalian balas dendam padaku tanpa mengotori tangannya sendiri.
Nona,
Wajahmu yang menatapku dengan sadis
Terasa sangat manis di mataku.
Auramu yang dingin saat itu, dan senyum tipismu yang puas melihatku terkapar di lantai,
Seakan bilang ‘kamu pantas mendapatkan itu, Danar Sanjaya’!
Aku seharusnya bisa membalas setiap pukulan yang datang bertubi-tubi padaku.
Tapi ya bagaimana, mereka orang tua. Aku hanya bisa menangkis setiap dentuman ke tubuhku.
Karena misiku adalah menarik simpati mereka, bukan membuat mereka jadi makin membenciku.
Tak apa, Nona,
Tak apa,
Aku sudah berikrar supaya mengusahakan apa pun agar kau senang
Kau senang aku luka-luka berdarah? Aku rela
Kau senang melihatku menangis? Aku rela
Kau puas melihatku pusing dan stress? Aku pun rela.
Asalkan, yang tadi itu,
Jangan kau tinggalkan aku.
“Selama ini kamu Danar Sanjaya?!” gumam Pak Dias, “Apa maksud kamu menyusup ke sini, hah?! Kamu ingin memata-matai pergerakan kami supaya bisa menyabotase pekerjaan kami? Agar saat kami bangkrut, kami mengiba padamu dan bersedia bekerja sama kembali?!” seru Pak Dias marah.
Aku diam saja,
Ya memang itu rencananya, tapi masa aku mengaku?!
“Kami pacaran, Ayah,” kata Nona singkat.
“Sejak kapan kamu berpacaran dengan orang yang sudah mencampakkanmu, Nondi? Dia sudah membuat sekeluarga malu!”
__ADS_1
“Itu cuma salah paham, ayah,”
“Salah paham apanya?! Apa tujuan kamu sebenarnya, hah?!”
“Meluruskan kesalahpahaman,” gumamku.
“Omong kosong apalagi ini?!”
Aku dan Nona saling bertatapan. Ia berekspresi angkuh seperti biasa, seakan bilang ‘terserah kamu mau bicara apa’, sementara aku menatapnya karena butuh bantuan karena tak yakin kata-kataku akan dipercaya.
“Apa Pak Dias butuh penjelasan saya? Rasanya tak akan ada yang percaya,”
“Ya memang tidak akan saya percaya!” sembur Pak Dias.
Aku tersenyum maklum. Terdengar Nona menghela napas.
Aku pun berusaha membela diri, “Saya kesini tadinya untuk menemui Nona, untuk meminta maaf. Saya tidak bisa terang-terangan menemui karena saya sudah diblacklist. Apalagi kami rugi milyaran karena kelakukan saya yang seenaknya,” ini tidak sepenuhnya benar, tapi aku hanya berusaha mempermanis kejadiannya. Aku bisa malu kalau ketahuan aku sengaja datang kesini untuk membuat Nona jatuh cinta padaku. Ditambah, fakta kalau aku jatuh cinta justru saat Mbak Windy menunjukan fotonya padaku.
“Ya jelas saja,” dengus Pak Dias.
Iya, aku pun berpikiran sama denganmu Pak Dias, aku juga benci diriku karena kecerobohan ini seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja aku tak bersikap terlalu terburu-buru.
“Bagi saya, perjodohan untuk mempersatukan bisnis, adalah mimpi buruk. Orang yang seharusnya menjadi pendamping hidup adalah orang yang benar-benar kita cintai. Karena selayaknya menikah itu hanya sekali seumur hidup,”
“Iya, karena cerai itu mahal,” sembur Haidar.
Sialan! Tapi dia memang benar.
Merusak moment romantis saja, sih...
Aku berusaha mengembalika suasana menjadi serius lagi,”Walaupun seandainya, nantinya pernikahan itu gagal ,setidaknya ada hari-hari di mana kita merasa bahagia sudah hidup sesaat dengan orang yang kita benar-benar sayang, dibanding seumur hidup harus terjebak dengan orang asing yang tidak kita suka,” kataku.
Entah kenapa, ruangan itu tiba-tiba hening.
Putri langsung menunduk, Nyonya menatap Pak Dias dengan sendu. Dan Haidar menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil menghela napas.
Kata-kata ini jujur dari dasar lubuk hati paling dalam. Itu yang membuatku kabur saat itu.
Karena aku belum tahu siapa Nona Dias Hardiyata.
“Jadi, saya datang ke rumah ini, melamar menjadi driver, dan malah terkena karma,”
“Karma?” tanya Pak Dias.
Aku menatapnya, “Saya malah jatuh cinta dengan orang yang saya tolak,”
"Itu namanya takdir," gumam Pak Dias.
Takdir itu lucu,
Saat kita dapatkan tak kita indahkan,
Saat terakhir, kita sadar itulah yang kita butuhkan.
Takdir itu berkuasa,
Semua harus sesuai jadwal yang ditetapkan Ilahi,
Dikala kita menyesali yang terjadi, ia tak peduli,
Di saat semua kita syukuri, rahmatNya datang bertubi-tubi,
Takdir itu adil,
Manusia berjalan tidak seirama,
Semua memiliki kisah berbeda,
Tak guna iri dengki ke manusia lainnya,
Karena ujian pahala tak terukur nilainya.
(Septira, 2022)
"Ayah, aku akan menikahi Danar,"
"Tanpa restu Ayah," kata Pak Dias.
Aku menghela napas.
"Aku tak peduli Ayah, kalau perlu kami kawin lari,"
"Kamu sudah dibutakan oleh si bajingan ini,"
"Dari pengalamanku, semua laki-laki pernah jadi bajingan. Tanya saja Ibu,"
"Kurang ajar," gumam Pak Dias. Nyonya hanya terkikik. Mungkin beliau mengingat masa lalunya saat bertemu dengan Pak Dias.
"Kami akan tetap menikah, dengan atau tanpa restu ayah," kata Nona.
Aku menatapnya dengan rasa sayang yang tak terhingga.
Demi aku, ia rela durhakai orang tuanya.
__ADS_1
Aku mengerti, Nona. Kamu hanya ingin bebas dari kekangan orang tua.
Ia ingin hidup dengan caranya sendiri, ia ingin menikmati waktunya tanpa tekanan siapa pun.
Aku mengerti, Nona.
Kamu tidak sendiri, aku pun seperti itu. Seringkali menatap sekitar sambil berpikir, kapan punya moment untuk melihat dunia.
Aku mengerti, Nona.
Kami anak-anak nyalang, berusaha berontak namun tak kuasa bergerak. Mencoba lari namun tak bisa jauh. Membangkang sekuat hati namun tenaga tak cukup.
Namun Nona,
Ada hal yang kamu tak sadari...
Saat sudah berhasil mendapatkanmu, Aku akan mengekangmu lebih erat daripada orangtuamu.
"Kamu tahu akibatnya kalau kamu pergi, kan?" kata Pak Dias.
Haidar menoleh ke ayahnya sambil menggeleng. Aku belum menangkap sinyalnya, apa maksudnya.
Tapi Pak Dias tak mengacuhkannya.
"Kenapa ayah? Mau memiskinkanku juga? Mau mencabut semua fasilitas mewahku?"
"Memangnya kamu bisa hidup liar di luar sana sendirian?"
"Memangnya selama ini ayah tidak tahu apa yang kulakukan di luar sana?"
Haidar lagi-lagi menggeleng ke ayahnya. Tampaknya ia ingin mencegah Pak Dias beragumen dengan Nona, karena sudah pasti pria itu akan kalah telak.
"Ayah, aku akan balik bertanya. Memangnya ayah siap kalau aku meninggalkan perusahaan?"
"Jangan," gumam Haidar.
"Ayah siap mencari Direktur Keuangan dengan gaji sekecil aku dan target sebesar aku?"
"Nondi, sudah cukup. Ayah restui saja lah! Kan memang itu rencana awalnya!" tampaknya yang tidak siap kehilangan Nona malah Haidar.
"Mereka sudah mencoreng nama baik kita!"
"Apa yang tercoreng sih ayah?! Paling hanya Nondi yang insecure sendirian mengira dirinya kurang cantik karena ditolak Danar," kata Haidar. Telak menghujam jantung Nona.
"Dan lagi, memangnya bijak membatalkan kerjasama triliunan hanya gara-gara kawin-kawinan?! Rendah sekali harga diri kita, sih!"
"Haidar, adikmu ini sudah 27 tahun belum juga menikah! Ayah sudah dibicarakan dimana-mana!"
"Ya wajar kalau Nondi nggak nikah-nikah, tingkahnya saja sudah seperti womanizer yang nggak butuh laki-laki. Betulin genteng sendirian juga dia bisa!" Sahut Haidar.
Putri cekikikan mendengarnya.
"Sudahlah Ayah, lagipula..." Putri menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan menggoda.
Apa aku salah?
Dia menggodaku?!
Woow...
"Jarang sekali ada pria gentle yang nekat masuk ke rumah harimau hanya untuk pasrah digebuki demi kekasihnya. Aku juga mau dapat suami seperti itu,"
"Kamu sudah menikah 3 kali,"
"Ya, dan semua jodoh dari Ayah. Danar benar, lebih baik jomblo daripada menghabiskan waktu dengan orang asing yang kita lihat saja jijik sendiri," sindir Putri.
Tapi caranya menyindir sangat lembut.
"Jadi kalian semua memihak Nondi? Dasar anak-anak pemberontak! Tidak tahu balas budi!"
"Ih ayah nih, kesannya kita durhaka banget, deh," kata Putri sambil cekikikan. Ia tidak terpengaruh walaupun ayahnya sudah menggeram sampai wajahnya merah.
Nonaku mendengus, "Kenapa jadi bahasnya kemana-mana? Dan apa maksudnya menagih balas budi? Jangan-jangan kami juga harus bayar sewa rumah selama hidup kami? Ayah juga punya hutang balas budi dong ke kakek,"
"Hutang turun temurun jadinya ya?" Timpal Haidar
"Biaya rumah sakit saat kita lahir juga ditagih jangan-jangan?" sahut Putri.
"Ayah jangan begitu, dong. Selama ini kita bekerja kan demi anak-anak, bayaran kita mengasuh mereka sudah dibayar sama Tuhan, Ayah. Kita makan enak terus, ibu juga bisa arisan foya-foya, kita bisa selalu sedekah dan zakat, koleksi mobil ayah bagus-bagus juga tuh," Nyonya bicara begitu.
"Kenapa jadi aku yang salah, sih?!" Gerutu Pak Dias.
"Satu lagi, Ayah..." sahut Nona.
"Apa lagi?!"
"100 milyar deposito kemarin, yang kita kasih bunganya bisa kecil itu loh yah, yang ayah sudah pakai buat investasi reksa dana, itu dari perusahaannya Danar,"
"Halah!"
Dan akhirnya Pak Dias pun mengalah.
*
__ADS_1
*