Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Di Lemari Pakaianmu


__ADS_3

Daripada menjilat bekas liurku di jemarimu bukankah lebih baik kau hisap saja lidahku sekalian?


Lagi-lagi aku berpikir secara vulgar sambil mengamati cara Nona bergerak menjauh. Ia mengaitkan handuknya agar terikat solid mengelilingi tubuhnya dan membuka pintu ruang closet.


Jajaran pakaian dan aksesoris terpampang bagaikan sebuah toko, setiap benda ditata secara seksama, setiap lembar diatur berdasarkan warna dan kebutuhan. Luasnya bahkan bisa 3 kali kamar kosku. Bahkan lebih luas dari kamarku di rumah ayah.


"Ini juga tugas kamu, mengatur lemari saya. Jangan kuatir, hanya seminggu kok. Tapi selama itu kamu harus mencarikan saya baju yang cocok dipakai ke kantor,”


“Itu juga tugas Bik Isma?” tanyaku. Kupikir selama ini Nona yang memilih pakaiannya sendiri. Aku tak yakin Bik Isma, wanita setengah baya yang sehari-harinya berseragam ART, berkeringat, dengan koyo didahinya, mampu memadupadankan secermat itu. Bik Isma menikah untuk yang kedua kali saja aku lumayan kaget mendengarnya.


“Tidak, saya biasa memilih sendiri baju yang mau saya kenakan,” Nona mengangkat bahunya.


“Lalu, kenapa saya?”


"Nggak usah membantah, saya inginnya kamu yang pilihkan,”


Intim,


Apakah Nona tahu kalau dia sudah melewati batas budak-majikan?


Makna seorang pria memilihkan baju untuk wanitanya, tidak bisa dianggap seperti pelayan toko memberi saran bagi pembelinya.


Ini jauh lebih berarti dari itu.


Ini berarti menunjukkan sikap dominan si laki-laki terhadap kesayangannya.


Dan Nona malah membiarkanku bergerak.


Mungkin dia penasaran denganku, jadi dia biarkan aku maju lebih dulu untuk mengamati dan menentukan langkah selanjutnya.


Baiklah, kubiarkan saja dia bermain. Aku juga akan bermain sepuasku.


“Kalau saya sih, lebih pilih Nona tanpa pakaian seharian,” aku mencoba bercanda.


“Oke,”


Heh? Apa dia bilang barusan?!


Aku bahkan sampai meliriknya memastikan kalau aku tak salah dengar.


“... Oke, kamu memang cowok mesum,” tambahnya.


Sialan!


“Tandanya saya normal,” tampikku tak mau kalah.


Dengan perlahan aku berjalan, kususuri setiap etalase, kuperhatikan dengan seksama.


Lemari adalah jati diri wanita sebenarnya. Kita bisa tahu sifatnya seperti apa dari cara dia menata barang-barangnya, dari pilihan barang-barangnya, dari cara merawat setiap bagiannya.


Aku memasukan kedua tanganku ke saku celana, di sini dingin sekali.


Dan Nona duduk santai di sofa masih dengan berbalut handuk.


Menatapku lekat-lekat.


Dia bagaikan cctv hidup. Mengamati setiap gerakku, setiap tindakanku, setiap detiknya terekam.


Kupelajari, sifat Nona dari pakaiannya sesuai dengan yang kutangkap selama ini.


Seksi


Mencoba lebih dominan


Tapi sebenarnya anggun dan sederhana


Pakaian untuk bekerja dan acara di luar dipilih yang menunjukkan lebih banyak kulit mulusnya, dengan aksen permata dan kebanyakan branded Eropa.


Sementara pakaian untuk santainya, benar-benar casual. Banyak kaos sederhana, . hoodie, jeans skinny, bahkan dia punya banyak koleksi sepatu kets yang aku tak pernah lihat dia pakai.


Hanya ada sedikit lingerie dan ada banyak daster.


Wah, kapan Nona menggunakan kain batik tipis adem ini ya? Aku bahkan tak bisa membayangkan.


Hm,


Sebenarnya wanita ini kalem, tapi dia mencoba memikat. Dia masih takut melangkah lebih jauh, dilain pihak dia ingin tampil lebih provokatif.


Kemungkinan besar, Nonaku ini cewek cupu yang ingin dewasa. Agar orang tidak menganggapnya remeh, dia berpenampilan seperti p3lacur.


Kumanfaatkan saja moment ini.


Aku membuka laci besar dan kutemukan koleksi pantynya dari berbagai warna. Sebagian besar modelnya benar-benar tidak menarik.


Ada satu-dua piece yang menarik perhatianku. Thong berenda dengan aksen manik.


Kuangkat dan kuperhatiikan, labelnya masih tergantung. Jadi belum pernah dipakai.


Tangan lembut merebut potongan kain tipis itu dari tanganku dengan cepat, diletakkannya ke dalam laci, dan ditutupnya bagian itu.


“Saya tidak akan pakai itu ke kantor,” tiba-tiba dia sudah ada di sebelahku. Aku hanya meringis.


“Katanya ingin saya yang memilihkan,” cibirku.


“Tapi jangan seragam malam dipakai untuk pagi, dong. Bisa-bisa saya tidak konsentrasi bekerja karena nyelip terus,”

__ADS_1


Hehe, seragam malam, katanya.


Nakal, Nona... binal juga kamu.


Mungkin akan kubuka lagi laci itu suatu saat dan aku sendiri yang akan mendandanimu dengan potongan tipis menggoda, yang saat libido kita mulai memanas bisa kurobek dengan sekali tarik.


Kupastikan kalau kamu jadi milikku, seragam itu tidak hanya untuk malam, tapi bisa jadi setiap saat.


Baiklah, kembali ke realita.


Pakaian ke kantor,


Kira-kira aku ingin Cintaku ini berpenampilan seperti apa ke kantor? Aku jelas tak ingin dia jadi konsumsi publik, mengingat saat Nona bekerja, aku akan lebih banyak menunggunya di basement atau di ruangan driver.


Aku pun melihat ke bawah, ke pakaianku.


Kemeja hitam, celana hitam.


Kupilih saja yang senada denganku. Monochrome, mungkin.


“Kamu pilih korset?” tanyanya saat kuletakkan beberapa lembar pakaian ke dekatnya.


“Hm,” gumamku sambil tersenyum menggoda. “Kalau di kantor, pakai blazernya.” Kuletakkan juga blazer hitam berlengan pendek dengan aksen tali. Juga celana hitam yang menurutku sangat anggun. Aku ingin penampilannya lebih berkelas, karena ada arisan dengan geng sosialitanya sore nanti.


“Kalau di mobil kita hanya berdua saja, saya lepas blazer biar jadi lebih terbuka, begitu maksud kamu?”


Dia memancingku ya? Tapi kuakui, memang itu tujuanku. Tapi aku akan berpura-pura tak tergugah.


“Nona akan terlihat eksklusif di antara teman-teman Nona nanti,” kataku. Terus terang saja, bulan lalu saat aku mengantar Nona, geng sosialitanya terlihat membosankan. Makeup tebal, perhiasan mentereng dan pakaian ala OKB. Norak dan murahan padahal aku tahu harganya mahal.


Aku tak ingin Nona se-lebay itu.


“Ah! Arisan nanti sore ya. Saya malah lupa,” gumamnya sambil membelai korset yang kupilih. Dia melupakan kegiatan kumpul-kumpulnya, itu berarti dia sebenarnya introvert.


“Nona ini Direktur muda di perusahaan besar, jadi pakaian resmi yang terkesan mengintimidasi lebih cocok,”


“Saya jadi Direktur juga karena ayah saya kok,”


“Nggak usah minder begitu, cantiknya nanti hilang...”


Ia mengernyit menatapku, “Kalau kamu pikir saya cantik, kenapa kamu lari dari perjodohan?”


Hooo, kembali lagi ke masalah itu? Dendammu lumayan tinggi terhadapku ya, Sayang.


“Karena yang akan jadi istri saya, bukan wanita yang hanya sekedar cantik,” jawabku.


Ia langsung pasang wajah suram.


“Wanita itu pasti sangat beruntung ya,” ia berujar dengan suara yang sangat pelan tapi masih bisa kudengar.


Dia pikir aku memiliki wanita lain.


Sudah banyak wujud cantik setara bidadari berseliweran di sekitarku.


Yang memikatku sampai aku tak berani langsung mendekat hanya kamu,


Aku kuatir sosokmu akan pecah saat kusentuh dengan tangan kotorku ini.


Serapuh itu kamu di mataku.


Sekaligus, semenakjubkan itu kamu di hatiku.


Aku gemas.


Kamu terlalu memukau.


Apalagi saat merajuk seperti ini.


Aku tidak tahan lagi,


“Iya, mungkin,” jawabku.


Aku tidak tahan lagi,


“Saya harap dia merasa beruntung,”


Benar-benar tidak tahan lagi,


“Kalau saja saya tahu perasaannya,”


Akhirnya tanpa bisa kukendalikan gerakanku, kutarik lengannya agar dia berdiri, kusingkap handuk sialan itu dengan sekali tarik.


Dan kunikmati tubuh t3lanjangnya dengan mataku.


Setiap jengkalnya.


Kuukir dalam benakku,


Bentuknya, lekukannya, teksturnya.


Warnanya...


Lingkaran coklat muda yang indah, dengan kuncup mungil yang tampaknya semanis madu. Warnanya sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang seputih pualam.


Dia hanya bisa diam terdesak ke dinding dengan melotot ke arahku. Kaget namun tidak melawan.

__ADS_1


Tidak bisa melawan, atau tidak mau?


Aku ingin melihat reaksi lain, kutarik kedua tangannya ke atas, kudesak ia ke dinding, dan ku tahan gerakannya dengan menyelipkan sebelah lututku ke area di antara kedua pahanya.


Terdengar pekikannya tertahan.


Kuangkat dagunya agar lehernya mendongak, dan matanya menatapku dengan waspada sekaligus...


Takut.


Ada ketakutan di binarnya.


Ada getaran di kedua tangannya.


Dia gemetar.


Apa yang kulakukan?!


Astaga...


Dia takut terhadapku.


Aku terlalu cepat bertindak.


Sambil menghela napas, kutempelkan dahiku ke dahinya. Hidung kami bersentuhan. Kutahan sekuat tenaga gairahku yang hampir saja meledak.


Aku bisa merasakan aroma manis buttercream di setiap hembusan napasnya yang tersendat-sendat.


Sabar Danar, waktunya tidak tepat.


Kamu akan meninggalkan kesan buruk di mata Nona.


Bisa jadi dia malah akan menjauh dan bersyukur perjodohan itu batal.


“Non,” bisikku.


Dia diam saja, hanya gemetaran di desakanku.


“Saya manusia biasa, bukan malaikat yang diciptakan tanpa hawa nafsu,”


Aku melepaskannya, dan menjauh sedikit.


Lalu berlutut,


Sekuntum Lily putih tepat di depan wajahku. Merekah indah dengan gundukan kecil putik terselip di antara kelopaknya.


Aku mengambil kain tipis, dan perlahan kuangkat kakinya.


Kukaitkan dan kuangkat menutup Lily


Agar aman dari endusan serigala sepertiku.


Belum,


Terlalu tipis untuk bisa disebut ‘aman’,


Jadi kuambil kain hitam tebal, celana bermerk Dior yang terbuat dari wool berkualitas tinggi.


Kembali kuangkat kakinya satu persatu dan kukaitkan. Lalu kuangkat ke atas.


Lalu aku mengangkat kepalaku dan tersenyum.


“Aku... lari dari perjodohan bukan karena kamu, tapi karena prinsip,”


Dan aku pun berdiri, meraih korset hitam di atas sofa.


Kubalikkan tubuh kurusnya menghadap dinding, kuposisikan pakaiannya agar menutup bongkahan indahnya dengan sempurna, dan kuangkat resletingnya perlahan ke atas agar terkunci dan terbalut sempurna.


“Bagiku, menikah dengan orang yang tidak kuketahui adalah mimpi buruk seumur hidup,” dan aku pun menjauhinya, berjalan ke depan etalase sepatu.


“Jadi, jauhkan pikiranmu yag bilang kalau kamu jelek. Rendah sekali kalau aku memilih wanita hanya berdasarkan wajahnya,” kataku.


Dia menatapku sambil menggigit bibirnya.


Aku tersenyum.


“Nona mau pakai yang mana?” aku kembali ke panggilan resmi.


“Terserah kamu saja,” dia masih mengatur napasnya. Sepertinya shock. Anggapanku kalau dia belum pernah bersentuhan dengan lawan jenis, sepertinya tepat.


Kupilih sandal dengan hak tinggi dan lancip yang tampak berkilat berlogo Jimmy Choo. Tali panjangnya sangat anggun kalau dijalin.


Aku kembali berlutut dengan niat memakaikan barang mahal itu ke kaki mungilnya. Kuloloskan ke tapaknya, dan dia menarik kakinya.


Lalu dengan lancangnya meletakkannya di bahuku.


Minta kuikatkan.


“Mau minta maaf padaku?” tanyanya. Bahasa santai. Dia merobek satu lapisan batas di antara kami.


“Bagaimana caranya?” tanyaku sambil mengikat tali sandalnya yang bertengger di bahuku.


“Cium kakiku,” jawabnya.


Aku tersenyum sinis.

__ADS_1


Dasar Nona ini,


Tahu saja kesukaanku.


__ADS_2