
“Danar Aditya, hanya satu kalimat permintaanku,”
Kami hening mendengarkan Nona, menunggunya untuk bersuara lebih lanjut.
“Aku rela menjadi istrimu, Lahir batin, asalkan...”
Nona menatapku dengan mata coklatnya yang indah dan cemerlang. Ia sangat cantik.
Lebih cantik dari yang lalu-lalu.
“...Pernikahan ini bukan kau anggap suatu kewajiban, tapi suatu keinginan. Mencintaiku bukan dengan nafsu, tapi dengan hati. Dan menghabiskan umur bersamaku bukan suatu keterlanjuran tapi suatu kerelaan,”
Astaga, Nonaku.
Kalimat yang kau ucapkan seindah parasmu.
Aku mengerti Nona, aku pun berpikiran sama sepertimu.
Dengan bekal itu, menyakiti kekasih dengan alasan apa pun bukanlah jadwal kita.Pernikahan yang tercipta dengan keterpaksaan akan menjadikan hati ini tidak ikhlas untuk menatap pasangan di setiap pagi.
Nona menatapku masih tanpa ekspresi.
“Dengan menikahiku, kamu akan sanggup menanggung beban atasku. Setiap rasa sakit hatiku adalah api neraka bagimu. Setiap air mata yang jatuh dariku karenamu adalah pahala bagiku. Dan setiap dosa yang timbul dari rasa dendamku adalah tanggung jawabmu,”
Astaga, Nonaku.
Kalimat yang kau ucapkan serumit pengalamanku.
Dan sekali lagi aku mengerti Nona, aku pun berpikiran sama sepertimu.
Jauh di lubuk hatiku, janji untuk selalu membuatmu menyayangiku terpatri dalam di jiwaku. Orang lain mendengar kalimatmu mungkin akan merasa ngeri.
__ADS_1
Namun aku malah senang.
Aku pun meraih kedua tangannya dan kukecup pelan punggung jemarinya. Lembut dan wangi menyerang hidungku. Aku suka aroma kulitmu yang halus. Selalu suka... candu duniawi yang kuterima dengan lapang dada.
“Nona Dias,” kuucapkan kata pertama untukmu. Ikrarku di depan orang, di depan hadirin yang datang ke acara sakral kita ini. “Kusanggupi tanggung jawab atasmu, dirimu bukan beban bagiku, tapi adalah anugrah. Memperistrimu bukanlah kewajiban tapi merupakan keistimewaan. Dan menjalani sisa usia bersamamu bukanlah tanggung jawab namun merupakan pilihan. Semua itu akibat aku mencintaimu,”
Aku mendengar hadirin bergumam tak jelas. Beberapa menertawakanku, mungkin mereka mengata-ngataiku bucin, lebay atau apa lah namanya.
Aku tak peduli. Ini hari pernikahanku dengan Nona. Bucin ke kekasih sudah sewajarnya.
Nona menatapku sambil mengangkat alisnya. Mungkin ia menyangka aku sudah mempersiapkan narasi untuk mengungguli kata-katanya.
Namun, sungguh Nona. Semua itu terucap secara otomatis tanpa bisa kukendalikan.
Ah! Wajahmu itu menyiratkan kalau kamu masih tak mudah percaya padaku.
Sekali lagi aku tak peduli.
Aku akan mengucapkan sumpah di hadapan Tuhan dan para MalaikatNya. Terkutuklah aku kalau aku membohongi kamu dan ayahmu.
Hadirin terkekeh geli.
Berikutnya, semua terasa buram bagiku. Ingatan itu bagaikan pusaran air yang berputar di sekelilingku.
Yang kuketahui dengan pasti, obsesiku akan diri Nona terlaksana di hari itu.
*
*
Pagi ini, seperti biasanya aku jatuh cinta.
__ADS_1
Pada Nonaku yang galak, yang kini bisa disebut Istriku namun aku tetap memanggilnya ‘Nona’.
Ia sedang menancapkan kukunya di punggungku saat aku bergerak di atasnya.
Ulu hatiku masih nyeri akibat tendangannya sekitar beberapa menit sebelum ini, akibat aku bergerak terlalu cepat.
Kini,
Aku tidak lagi kecanduan akan teriakan dan omelannya.
Walaupun aku masih suka saat dia menamparku atau menendangku. Bibirku otomatis tersenyum tanpa bisa kukendalikan.
Kini,
Aku ketagihan senyumanmu. Sunggingan bibir membentuk tarikan menawan yang menggetarkan hatiku, biasanya diiringi dengan binar matamu yang bersinar.
Kini,
Aku selalu merindukan des-ahanmu. Tarikan napasmu yang tertahan dan lepas, mewarnai udara di sekitarku. Bisikan lembut yang menghantui telingaku menyebut namaku dengan lembut.
Merdu terdengar, sayup berirama.
Lembut terasa, simfoni berima.
Entah bagaimana hari-hariku bersamamu di masa depan, masalah akan kita hadapi bersama. Kau suka atau tidak suka, aku akan selalu ada untukmu. Mungkin dalam kapasitasku sebagai manusia, tidak sesering Tuhan mendampingimu. Namun aku selalu akan berusaha dan mencoba untuk tidak mengecewakanmu.
Karena ternyata, Nona...
Senyummu adalah hartaku.
Dan galakmu adalah pusakaku.
__ADS_1
Keduanya adalah kemewahan milikku.
-Tamat-