Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Maaf, Ayah


__ADS_3

Ruangan itu penuh dengan buku-buku lusuh yang lembarannya sudah menguning. Berbagai dokumentasi mengenai politik dan ekonomi dari zaman peralihan orde, sampai dokumentasi dalam bentuk koran dan majalah lama mewarnai setiap sudutnya.


Aku sebenarnya suka ruangan kerja ayahku yang ia bangun khusus di rumah kami. Mengerjakan sesuatu di sana dari mulai tugas sekolah, tugas kampus sampai bekerja dengan laptopku terasa ringan saja jemari ini berkreasi. Sejak aku Sekolah Menengah, ayah memang sudah jarang berada di kantor, PT. Jade Pembangunan Bersama, induk usaha dari perusahaanku. Kesehatannya sudah tidak terlalu baik untuk diforsir 9 to 5 di gedung kantor dengan berbagai masalah mengelilingi beliau.


Kalau boleh dibilang, sebenarnya sebelum aku kabur, aku lumayan sering berinteraksi dengan ayahku dibanding kedua kakakku yang selalu menghindar. Dimitri yang selalu mencari alasan untuk bekerja di kantor, dan Devan yang rela kerja fisik di area tambang batu kami supaya jarang bertemu ayah di rumah sekaligus menghindari pekerjaan yang mengharuskannya duduk di balik komputer seharian. Walaupun mereka terlihat nurut-nurut saja dengan perintah ayahku, tapi sebenarnya yang paling tertekan mungkin malah mereka berdua.


Aku memang terbiasa menjalani hidup semauku.


Dikasih perusahaan ya sudah, kuterima. Tapi jangan harap kujalani sepenuh hati, dan aku lakukan hal itu. Terlihat ogah-ogahan dan meremehkan. Terang-terangan menunjukan kalau aku tidak suka.


Tidak diberi perusahaan ya aku santai. Ijazahku sampai S3, dan embel-embel namaku Sanjaya. Aku bisa diterima kerja di mana pun. Jadi Bos di perusahaan lain sampai jadi tukang parkir pun aku bisa. Jadi driver di perusahaan saingan pun nyatanya bisa. Hehe.


Aku mencoba menghadapi ayahku, secara jantan. Selayaknya AYah dan Anak yang bertemu.


Bisa dibilang, aku adalah perwujudan ayahku saat beliau muda. Lebih mirip dibandingkan saudara-saudaraku yang lain.


Segala hal yang ia tak suka dariku, adalah hal yang tidak ia suka dari dirinya sendiri. Dan segala hal yang aku tak suka dari ayahku, adalah hal tidak aku sukai dari diriku sendiri.


Jadi, saat kami berbicara berdua saja seperti ini, bisa jadi kami sedang berbicara dengan diri kami sendiri.


Lucu,


Tapi begitulah Ayah dan Anak Laki-lakinya.


Ayahku bernama Pak Adi Sanjaya. Lahir di DI Yogyakarta, dan masih keluarga keturunan keraton Surakarta. Jangan tanyakan padaku dari keluarga yang mana, jelas aku tak ingat saking banyaknya keturunan. Yang jelas kami rutin dikirimi buku silsilah setiap tahunnya dan diundang mengikuti upacara dan ritual kebudayaan. Tentu saja, yang jarang aku hadiri.


“Kamu kami jodohkan, kamu menolak, kamu menentang, kamu kabur, dan sekarang kamu pacaran sama wanita yang sudah kamu tolak. Lalu ayah yang mendapat makian, hinaan, dan pemutusan kerjasama proyek kamu anggap angin lalu, begitu? Sakit hati ayah masih terasa, loh Nar...”


Aku mencibir dan menunduk. Iya, memang kalau dipikir, tak adil bagi ayahku.


Dalam hal ini, aku mengalah. Aku yang ternyata lebih kekanak-kanakan dibandingkan ayahku.


Mungkin, kata’ maaf’ saja tidak cukup kuutarakan dalam hal ini.


Jadi aku diam, menerima segala keluh kesah ayahku.


“Itu jidat kamu kenapa luka begitu?” tanya ayah tiba-tiba.


Aku masih diam.


Rasanya malu mengakui kalau goresan di dahiku ini bekas dipukuli Pak Dias, Ayah Nona.


“Ayah harap itu akibat dihajar oleh Pak Dias, mungkin ayah harus berterimakasih ke beliau karena bersedia mewakili tindakan yang tak akan pernah ayah lakukan untuk kamu,”


Kembali aku mencebik, lalu mengernyit.

__ADS_1


Kalau aku jadi ayah, mungkin aku juga akan bersikap sama.


"Sudah begitu, duit ayah kamu depositokan di Safir 100 miliar dengan bunga rendah. Akibatnya, bonus di Jade tidak sebesar tahun lalu. Kamu sudah bikin orang sekantor misuh-misuh. Kasihan Loh Nar, karyawan sudah bekerja keras, berharap ada peningkatan pendapatan, eh gara-gara kamu perusahaan jadi terkesan tidak menghargai kinerja karyawan. Jangan begitu lah Danaaaaaar," keluh ayahku.


Aku pun semakin menundukkan wajahku. Itu dana yang kuberikan untuk Nona agar performancenya naik saat aku masih jadi driver.


"Ayah masih percaya kamu bisa mengembalikan kejayaan perusahaan. Strategi yang kamu rancang untuk menyaingi Haidar dinilai berdampak cukup baik dibanding dengan konsep yang diajukan Dimitri. Kalau dilanjutkan sedikit lagi, profit kita bisa meningkat melebihi target.Tak perlu ada jodoh-jodohan segala untuk mewujudkan CAR yang sehat,”


Dalam tundukanku, aku mencibir. Kenapa tidak dari kemarin saja sih bilang begini.


“Yaaa, tapi kan kemarin Ayah tidak tahu kalau strategi kamu berhasil,” ayah menjawabku seperti bisa membaca isi hatiku.


“Jadi, Danar,”


Perlahan aku mengangkat wajahku, sepertinya raut wajahku masih malas-malasan mode on.


“... mau kamu sekarang apa?” akhirnya ayahku bertanya.


Aku menyeringai, “Aku rasa ayah sudah  tahu mauku,”


“Jangan keseringan ngerjain orang tua. Kalau ayah meninggal dalam keadaan memendam rasa dongkol kan bisa runyam,” gerutu ayahku.


“Maaf, ayah,” gumamku pelan.


“Ya, buat ayah sih cukup kata-kata itu saja,”


Berbuat lah baik tanpa terlihat remeh, berlakulah lembut tanpa terlihat lembek. Buatlah orang melihat kamu adalah angsa indah berenang di danau. Kalem, tenang dan indah. Namun saat diganggu, gigitanmu cukup membuat kapok.


Namun diluar dari itu, hitunglah untung dan ruginya. Kalau setelah dihitung unsur merugikan lebih banyak, angkatlah dagumu, tinggalkan tanpa perlu menyakiti. Karena mungkin saja di masa depan kau masih butuh dia. Namun jika unsur untung lebih banyak, tetap angkat dagumu, tapi tambahkan senyum dan bungkukkan punggungmu. Menghormati tanpa perlu menjilat.


Jadi, dalam kasus ini,


Aku dianggap objek yang masih menguntungkan dalam hidupnya. Kepergianku akam membuat semuanya runyam. Jadi dia menerima maafku dengan mudah dan bisa berdamai tanpa perlu perang urat.


Dasar Ayah, dipikir aku tak tahu niatnya.


“Ayah akan restui, dengan syarat.” ia bicara begitu.


 “Kalau kalian bercerai, kalian berdua, Kamu dan Nondi, akan kehilangan semuanya. Kami tidak akan menerima kalian di keluarga kami, kalian tidak akan menerima warisan, hibah, dan pengakuan kalau kalian adalah bagian keluarga kami. Jadi, kalian akan menerima dua kesialan. Yang pertama perceraian, yang kedua melarat. Titik.”


“Ayah dan Pak Dias sudah sepakat, tidak akan bisa kalian berdua mengerjai kami lagi. Keputusan ini berlaku walaupun ayah dan Pak Dias sudah meninggal. Mengikat sampai keturunan ketujuh kalian. Jelas, Danar?!”


Kejam.


Tapi apa boleh buat.

__ADS_1


Setelah itu, aku ke kamarku.


Kulihat sekelilingku.


Tampilannya ternyata benar-benar seperti di etalase toko. Mewah namun dingin. Bagaikan tanpa kehidupan, tanpa jiwa. Seakan semua ini bukan barang-barangku. Tidak seperti kamar kos ku yang aku tahu dari mana saja asal barang-barang yang kubeli, bagaimana nilai historisnya.


Kamar kosku disewakan dalam keadaan kosong, hanya ada gayung di kamar mandi yang milik Ibu Kos. Jadi kubeli semua perabotannya, dan sudah pasti semuanya bekas. Aku cat dan kuperbaiki detail yang rusak, kupajang dengan rasa puas.


Namun sekarang,


Aku bagai berada di tengah ruangan kosong. Ada barang, penuh, kasur empuk dan pakaian mewah. Namun tampak hampa.


Aku tak ingin ruangan seperti ini.


Aku duduk di tepi ranjangku. Bahkan kasurnya lebih empuk daripada yang ada di kamar Nona.


Lalu aku membuka laci nakas di samping ranjang.


Ponsel lamaku masih ada di sana. Ponsel canggih dengan nomor lama yang sengaja kutinggalkan.


Kuaktifkan, ribuan pesan singkat dan ribuan miscall.


Namun aku mengetikkan sebuah angka, kuhapal diluar kepala.


Nomor Nona.


Kuketik,


“Kamu akan jadi istriku, tapi bisakah kita membeli rumah sendiri? Yang kita rancang bangunannya sendiri dengan barang-barang yang kita pilih sendiri, Kalau perlu kita gergaji sendiri,”


Send


Aku pun berbaring dan menerawang menatap plafon. Hanya diam menunggu balasan Nona.


Tak menunggu lama dia pun membalas.


“Memangnya kamu bisa betulin genteng bocor? Kalo bisa boleh lah. Aku suka model industrial,”


Aku tersenyum dan mengernyit. Dia suka model industrial yang seakan bangunan setengah jadi? Kalau dilihat dari kamarnya dan ruangan kantornya yang ala-ala kerajaan dengan berbagai barang antik dan glamor, tampaknya bertolak belakang sekali.


“Sejak kapan kamu jadi Cebum? Kamar kamu seperti Cewek Kue,”


(Cebum : Cewek Bumi. Istilah Gen Z untuk gadis dengan pakaian warna Earth Tone dan bergaya kalem. Cewek Kue diartikan dengan gadis dengan pakaian warna pastel dan manis seperti Kue).


“Kamar itu rancangan ibuku, sudah begitu dari sejak aku kecil. Karena malas mendekor lagi, aku biarkan saja,” balas Nona.

__ADS_1


Aku kembali berbaring sambil menghela napas. Kutersenyum,


Tampaknya di rumah baruku nanti harus ada samsak dan ring tinju. Nggak lucu kalau aku ke kantor dengan luka bogem setiap hari. Setidaknya kalau kesal denganku, Nona bisa sekalian melatih otot lengannya.


__ADS_2