
Malam ini, aku jatuh cinta
Lagi-lagi jatuh cinta, kepada orang yang sama.
Lebih cinta dan lebih sayang.
Masih terasa manis dan lembut bibirnya di ingatanku, rasanya tak sudah-sudah aroma wanginya berseliweran di hidungku.
Rasa Nona, rasa khayangan.
Sambil berbaring aku menatap langit-langit kamar kosku.
Kutanya diriku sendiri, setelah ini mau apa dirimu, Danar?
Apakah kau akan bertahan dengan egomu terhadap ayahmu,
Apakah kau akan maju dan minta maaf kepada keluargamu,
Atau kah kau akan melakukan keduanya?
Tapi aku tahu, aku tak bisa terus-terusan sembunyi dari orang lain seperti ini.
Dalam hitungan detik, Pak Dias memberitahu yang terjadi kepada ayahku. Aku juga berpikir pasti disertai sumpah serapah ala dirinya.
Ayahku keras padaku, tapi dia lembut terhadap orang lain.
Aku penasaran apa yang dia pikirkan mengenai aku, si anak durhaka yang hidupnya kacau ini.
Tidak bisa begini terus,
Aku harus menemui Nona dalam balutan seorang Sanjaya.
Hanya seorang Raja yang pantas menemui Ratu dengan berdiri tegak.
Dan hanya budak yang menemui Ratu dengan menghamba.
Dan karena ciuman itu, kemungkinan aku kini sudah menjadi Raja, bukan lagi hamba sahaya.
Untuk memuliakan Ratuku, aku harus menemuinya dengan menyandang tahtaku.
Aku menghela napas, rasanya dada ini sesak.
Sambil berpikir aku mendengarkan suasana sekitarku.
Rumah kosku ramai,
Beberapa penghuni sedang main catur di depan halaman, yang lain sedang mabar. Terdengar keriuhan di luar kamar.
Aku bersyukur malamku tidak sepi.
Penghuni kosanku kebanyakan pekerja di kantor sekitar sini, yang bagusnya mereka peduli lingkungan.
Sebentar lagi aku harus mengucapkan selamat tinggal ke kamar kosku yang kumuh namun terasa asri ini, menyambut pagi di kamar luasku yang berperabot mahal namun berlantai dingin, sedingin suasananya.
Baru saja akan terlelap, sebuah pesan singkat muncul, dari ponsel dengan nomor baruku yang hanya diketahui oleh Nona dan Mbak Windy.
Dari Nona.
Mataku langsung segar, dan kududukkan tubuhku setegap mungkin.
Ingin rasanya jemari ini langsung membalas, namun bertahun-tahun mengenal berbagai jenis wanita, aku jadi terbiasa untuk menunggu beberapa saat sebelum membalas.
Untuk memberi kesan misterius dan membuat penasaran.
Wanita suka pria yang dingin, sikap tidak peduliku akan membuat mereka mendekat. Sementara kebucinanku malah akan membuat mereka menjauh karena takut.
Dilain pihak, belum ada wanita yang mengetuk hatiku selama ini.
"Danar, sudah tidur?"
Hanya kalimat itu.
Kutunggu semenit,
Dua menit,
Lima menit,
Tidak ada kalimat lain lagi.
Maka kuputuskan untuk membalas.
"Ada apa, Non?"
__ADS_1
Lalu kerjaku hanya menatap layar ponsel selama beberapa menit ke depan.
Sekitar 5 menit kemudian, balasan pun muncul.
"Apa maksud ciuman tadi? Awas kalau kamu mempermainkanku!"
Aku memang mempermainkanmu. Tapi bukan berkhianat denganmu. Permainanku semata-mata hanya untuk membuatmu tertarik padaku.
"Hanya tindakan untuk menunjukan kalau yang kukatakan di depan Ayahmu bukan pura-pura," begini balasku.
Saatnya aku jujur,
Pada diriku sendiri,
Juga ke Nona.
"Dasar buaya," hanya itu balasan dari Nona.
Ah!
Tak tahan rasanya untuk tidak menggodanya.
"Besok rasanya aku akan menciummu lagi," balasku.
"Kalau begitu kau berhutang 2 milyar padaku,"
"Nego boleh nggak?"
"Berapa?"
"Seratus ribu,"
"Sialan,"
"Atau akumulasikan saja kujadikan mas kawin buat kamu,"
"Kamu serius mau menikahiku?"
"Kamu serius mau kunikahi?"
"Jangan balas nanya Tuan Besar. Jawab saja,"
"Jujur dulu padaku, kalau kamu tak mau aku nggak akan maju,"
"Aku tak mau jawab,"
Lalu pikiran gilaku mulai timbul.
Dan jemarikupun mengetikkan sesuatu.
"Waktu di mobil, kamu yang ada di mimpiku,"
Dan tak ada balasan.
Duh!
Malu aku!
Kupikir aku lancang juga bicara seperti itu padanya, tanpa merasa kalau itu hal bodoh, menunjukan kelemahanku duluan.
Aku frustasi.
Dengan perasaan campur aduk, aku duduk di pinggir ranjang reotku dan mengusap mukaku.
Sekitar setengah jam kemudian, muncul pesan singkat.
Dari Nona,
"Perjanjian kita kubatalkan. Besok cium aku lagi,"
*
*
Untukku, dunia kini lebih indah.
Kini semua terasa tidak sama lagi.
Pagi ini,
Sambil mengancingkan kemejaku, aku berpikir mengenai tadi malam. Kini aku semakin yakin kalau Nona menyukaiku. Setidaknya kami saling terkoneksi dan tidak berat sebelah. Aku menganggap bentuk penolakannya hanya karena rasa sakit hatinya padaku.
Kuharap kini ia bisa melupakan rasa sakit itu.
__ADS_1
Dadaku berdebar-debar menyongsong hari-hariku. Akankah perjuanganku membuahkan hasil?
Selain itu, sudah saatnya aku muncul ke hadapan umum. Aku memiliki tanggung jawab di kantor, kasihan karyawanku setiap hari harus pontang-panting menggantikanku. Memang ada klausul kalau posisiku belum bisa digantikan orang lain secara sepihak, kecuali aku dengan sukarela melakukan serah terima di hadapan Notaris, atau aku meninggal.
Jadi pagi ini, aku akan menyalakan ponselku, dan mungkin sambil meladeni Nona, aku akan standby dengan Airpods di telinga seharian.
Aku memasukkan satu set pakaian olahraga dan sepatu ke dalam ransel, katanya Nona mau jogging jadi untuk jaga-jaga saja aku membawa semuanya. Lalu setelah menatap wajahku di cermin butut bawaan kamar kos, memastikan kalau semua di wajahku sempurna, tak ada cabe terselip di gigi, tak ada bulu hidung yang mencuat, janggut tercukur rapi sempurna, tatanan rambut klimis, aku pun keluar dari kamar kos ku dan menaiki motot butut milik Paksunya Mbak Windy.
Berjalan menerjang jalanan yang renggang dan merasakan hangatnya matahari Sabtu pagi yang menggeliat terbit di ufuk timur.
**
Sampai di rumah Nona, yang pertama ku sapa seperti biasa, adalah Haidar yang memandang nanar jendela besar dengan kopi dan dandanan necisnya. Pria ini sepertinya memang terbiasa bangun dalam keadaan rapi.
“Pagi Pak Haidar,” sapaku.
“IHSG turun,” gumamnya muram.
Mau bilang ‘masa bodo’ tapi aku tak tega.
“Ya Pak, kemungkinan lusa dibuka melemah hingga lebih dari satu persen,” timpalku.
“Astaga, ini gara-gara inflasi,”
“Saatnya platform digital bekerja, Pak. Sistem konvensional sedang tidak populer,” jawabku.
Dibanding perbincangan kami mengenai dunia bisnis yang membutuhkan effort lebih untuk memikirkan sebab-akibat, dampak, resiko, aku lebih tertarik untuk mengetahui apa yang Haidar amati setiap pagi di luar jendela.
“Tapi...” Aku berdiri di sebelah Haidar dengan posisi yang sama, berusaha mencari tahu kearah mana pandangan mata Haidar. “...Crypto juga lagi turun Pak. 300%, drastis. Yang masih aman bidang finansial,”
Ah! Dasar laki-laki kurang akhlak. Aku tahu kemana ia melihat.
Nimas, seorang asisten rumah tangga yang sedang menyiram tanaman dan merawat kebun bunga milik Nyonya. Setiap pagi tugasnya memang berada di seputar area kebun, siang sedikit dia sudah di area laundry. Dari dirinya lah aku belajar menggunakan mesin cuci.
Dan Nimas memang cantik. Menurutku, dari mata seorang lelaki, hal menarik dari diri Nimas adalah senyumnya yang lepas dan bokongnya yang bulat sempurna. Area lain tidak menarik karena dia janda anak dua, dadanya sudah tidak kencang lagi di usianya yang baru menginjak 20 tahun.
Tapi selera pria kan beda-beda.
Dua anak Nimas tinggal di paviliun milik ART yang letaknya di kebun belakang bangunan utama. Kabarnya, mantan suaminya pengedar narkoba, sekarang dipenjara seumur hidup, karena itu mereka bercerai.
Aku hanya tersenyum sambil menunduk, Haidar masih menatap ke depan. Tampaknya ia tidak menyadari kalau aku memata-mata tingkah lakunya.
“Saya harap kerjasama kita di perbankan bisa berjalan lancar, Pak. Itu cadangan saya kalau konstruksi lagi mandek,” gumamku sambil bersiap beranjak dari sana.
“Hm,” jawabnya sambil menyesap kopinya dengan postur tubuh masih sama dari yang awal kulihat.
“Dan, jangan terlalu kentara mendamba, Pak Dias bisa-bisa jantungan kalau anak-anaknya membangkang semua, hehe,” ujarku sambil berjalan menuju kamar Nona.
Haidar juga salah satu korban keegoisan jodoh-jodohan atas nama bisnis. Ia baru saja menikah dengan anak dari Komisaris PT. Citrine Indah, Tbk. Masalahnya, setelah menikah istrinya kabur ke Italy dan belum pulang sampai sekarang. Ini sudah hampir 6 bulan lamanya, Haidar maju-mundur mau menceraikan karena ada hubungannya dengan cuan, cuan dan cuan.
“Ck! Kamu nih...” umpat Haidar dari kejauhan. Ia akhirnya pergi dari sana.
Aku tersenyum dengan sebelah sudut bibir terangkat. Paling tidak, aku memperjuangkan harga diriku demi keinginanku, tidak disetir orang lain.
Bagiku, yang bisa membeli harga diriku hanya Tuhan yang menciptakanku. Selama yang menekanku masih manusia, aku masih akan memberi perlawanan.
Kecuali...
Sang bidadari di depanku ini.
“Danar,” panggilnya dengan suara serak dan pelan. Terkesan seksi, menggoda, merayu, menghasut libidoku untuk meraihnya ke pelukanku.
Matanya sendu menatapku. Dengan bibir lembabnya yang terbuka sedikit, ingin bicara namun urung dilakukan. Akhirnya memilih untuk bergerak saja daripada merangkai kata-kata kosong.
“Kita sarapan di cafe saja, aku nggak jadi joging,” sahutnya.
Aku biasa menerima perubahan moodnya yang seperti ini. Karena itu aku tetap memakai bajuku yang biasa, dengan banyak baju ganti termasuk jas resmi, di ranselku.
Saat ini penampilan Nona, seperti biasa cantiknya. Namun aku mulai bertanya-tanya apakah ia memang sengaja memperlakukanku seperti ini.
Karena saking seringnya aku melihatnya tanpa pakaian lengkap, atau dengan baju seksi, atau bahkan hanya dengan lilitan handuk seperti sekarang.
Aku bahkan tak yakin Dewi Venus secantik dirinya.
"Tutup pintunya," gumamnya.
"Mau pakai baju yang bagaimana?" Setelah menutup pintu, aku berjalan ke arah closet.
"Nanti saja kupilih sendiri," katanya.
Aku menghentikan langkahku. Lalu menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya.
"Duduk sini," ia menepuk-nepuk area di sebelahnya, "Cium aku sekarang,"
__ADS_1
Ya Tuhan,
Rasanya aku akan meledak menerima berkahMu yang bertubi-tubi.