
Perjalanan kita tenang, Nona.
Dengan kau menggenggam tanganku sepanjang perjalanan, menggandengku bagai tak ingin aku lepas darimu.
Sesekali kau melirikku sambil menunjukkan senyummu, aku pun melirikmu dengan perasaan tak karuan.
Kepalaku sedang mencatat moment saat ini, senyum merekahmu sedang dalam proses pemindaian. Kemungkinan di penghujung hidupku, itulah yang akan kuingat. Bahwa kau pernah memberiku senyuman laksana mata air. Menyejukkan hati dan mendamaikan pikiranku.
Sebelah tanganku mengemudikan mobil, menerjang jalanan Jakarta yang mulai padat di hari libur ini. Matahari bersinar cerah seakan sedang merayakan bersatunya hati kita.
Apa yang kau pikirkan saat ini, Nona?
Saat kau menatapku dengan pandangan nanarmu itu?
“Danar,” kau memanggilku dengan suaramu yang serak-serak lembut itu.
“Hm,”
“Kamu sudah jadi milikku, kan?”
Pertanyaan khas wanita. Bagaikan meminta pernyataan pasti, padahal aku rela dipukuli di depan matanya.
Justru aku yang harusnya bertanya padamu, Nona.
Apakah ini realita dan bukan mimpi?
Kenyataan dan bukan khayalanku semata? Kau benar-benar menganggapku milikmu-kah saat ini, atau hanya ingin berbuat jahil padaku?
Mungkin saat kita sudah menikah nanti, kau juga akan menanyakan hal yang sama setiap hari padaku. Pertanyaan yang tak perlu dijawab seperti ‘apakah kamu sayang padaku, suamiku?’ padahal sudah jelas aku mau menikahimu.
Walaupun hatimu tahu kalau aku milikmu.
“Pembuktian apa yang kamu butuhkan?” tanyaku.
“Hanya jawaban Ya atau Tidak,”
“Walaupun aku sudah melakukannya dengan tindakan? Nekat ke rumah orangtuamu hanya untuk kau injak?”
“Ya, hanya jawaban yang keluar dari mulutmu,”
“Mulut bisa berbohong, Nona,”
“Tapi seringkali kami butuh konfirmasi itu,”
“Wanita sangat aneh,”
“Kalian tak akan bisa memahami kami, kami bahkan sering tak memahami tindakan kaum wanita lainnya,”
Aku mengangguk pelan, “menarik,” kataku.
Ya, memang menarik jenis makhluk yang satu ini.
“Aku menyayangimu dan kini aku milikmu,” kataku kemudian.
Terlihat senyumnya mengembang.
Aku tiba-tiba memiliki firasat aneh setelahnya, jadi buru-buru kutambahkan, “Itu jawaban jujur dariku dan aku bukan menggombalimu,”
Dia membuka bibirnya sedikit, sepertinya akan menggodaku lagi, jadi buru-buru lagi kutambahkan, “Jangan coba-coba kamu bilang hal seperti ‘ masa?!’ atau ‘aku kok tak percaya’, atau ‘kamu benar-benar fakboi ahli main cewek’ atau hal semacam itu. Cukup diam dan cium pipiku sebagai balasan rasa maluku,” aku berujar panjang lebar.
Tawanya meledak.
Tawa renyah yang tampaknya menunjukan kebahagiaannya.
“Satu lagi,” tambahku, keburu dia menanyakan hal-hal aneh padaku.
Tawanya berhenti, ia menatapku penasaran.
“Aku berhubungan dengan banyak wanita. Kegiatanku di waktu malam sesuai dengan yang kamu bayangkan. Tapi tidak ada yang berakhir dengan aku rela jadi budak atau ART. Jadi jangan kuatir akan hal itu,”
Ia mencubit pipiku.
Cubitan lemah namun tidak menyakitkan.
Mungkin itu sebagai ganti cium pipi untukku.
“Dan aku sering berfantasi macam-macam mengenai kamu,” gumamku.
__ADS_1
Tawanya menyerangku lagi.
Alunannya memang indah, namun tidak berima seperti saat ia mengomeliku. Seperti ada nada yang sumbang.
Aku lebih suka kalau kamu membentakku daripada kamu menertawakanku, Nona. Tapi kurasa kamu pun sudah tahu akan hal itu.
*
*
Pacarmu ini aneh, Nona
Tapi kamu tampaknya tetap suka
Pacarmu ini menyukai hal-hal yang diluar nalar, Nona
Tapi kamu malah semakin mendekat
Pacarmu ini membayangkan kamu dalam keliaran duniawi yang tak manusiawi, Nona
Tapi kamu malah tertawa mendengarnya
Seakan kamu memaklumi semua hal tentangku,
Seakan kamu bersedia berjalan beriringan denganku,
Seakan kamu mengizinkanku menjadikanmu objek fantasiku,
Tanpa kamu sadari kalau kamu sudah jadi bagian diriku.
Nona Dias,
Pacarmu ini aneh, tapi kau lebih aneh lagi karena mencintainya.
(Septira 2022)
*
*
Kami tiba di sebuah hotel mewah tempat acara pertunangan temannya Nona diadakan. Aku melepas tangannya dan mengambil ranselku yang tergeletak di jok belakang mobil, di kursi penumpang.
Aku mengernyit dan menatap Nona.
Ia sedang menorehkan cairan merah di atas bibir tipis lembabnya.
“Non, kenapa kamu selama ini tidak duduk di kursi penumpang? Biasanya majikan duduk di belakang,” tanyaku.
Ia menghentikan kegiatannya dan dan menatapku dengan pandangan meremehkan, “Masih belum ketemu jawabannya, Danar? Dasar kau ini. Katanya banyak wanita mengelilingimu,” katanya dengan nada menyindir.
“Banyak wanita di sekitarku bukan berarti aku mengerti kode-kode absurd yang kerap mereka layangkan padaku,” sahutku.
“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan menjawab pertanyaanmu,”
Aku menghela napas.
Kebiasaan Nona,
Tidak pernah membiarkan urusanku lancar.
Terutama masalah hati.
“Ya, oke. Apa?” tanyaku
“Aku melihatmu mengobrol dengan beberapa orang wanita. Seperti Bik Isma, Nimas, dan sekretaris kamu yang waktu itu kulihat,”
“Mbak Windy,” ralatku
“Iya, dia.” Nona memasukan lisptiknya kembali ke tas tangannya yang mungil. Yang cukup membuatku terkejut bisa-bisanya dari tas sekecil itu memuat banyak hal seperti ponsel seperangkat make up, dan bahkan dompetnya.
“Lalu?” tanyaku lagi.
Nona tak kuduga menghela napas dan mencondongkan wajahku ke arahku. Ia bagaikan memprotesku akan suatu hal.
Dengan serius ia memperhatikanku.
“Kenapa saat kamu berbicara dengan wanita selain aku, kamu bersikap sangat lembut? Namun denganku seperti cuek dan ogah-ogahan?”tanyanya.
__ADS_1
Hm,
Perlukah kujelaskan?
Aku hanya menatapnya sambil tersenyum penuh arti, ku harap ia mengerti tanpa perlu kujelaskan jadi aku tak membuka aibku dari mulutku sendiri.
“Wanita lain tidak menjadi istriku,” kujawab begitu, sambil berdoa dia tidak memperpanjang urusan ini.
“Itu bukan jawaban, Danar. Jadi aku tak mau menjawab kenapa aku tak duduk di belakang,”
Aku terkekeh, rasanya aku akan memilih tak mengetahui jawabannya dibandingkan harus menjawab kenapa aku selalu membuatnya kesal.
“Baiklah, nggak penting juga buatku,” aku memancingnya supaya ngambek.
Lagi-lagi.
Kebiasaanku sejak bertemu denganmu, Nona. Aku selalu ingin membuatmu kesal, agar aku selalu mendapatkan perhatianmu.
“Kamu melakukannya lagi,” gumamnya dengan wajah muram.
“Apa?”
“Ini. Membuatku kesal seperti ini,”
“Hm,” aku membuka kancing dan meloloskan kemejaku. Kulihat sudah banyak mobil di parkiran, jadi acaranya sudah akan dimulai sebentar lagi.
“Danar,” panggilnya.
“Hm?” gumamku. Aku sudah akan mengenakan setelah resmiku saat tangannya menghentikan gerakanku.
“Selama hidup kamu, siapa saja yang sudah duduk di sebelahmu saat kamu menyetir mobil?”
Aku memicingkan mataku sambil menatapnya. Kurasa nuansa udara di dalam mobil mulai mencekam. Ada makna tersirat yang belum bisa kutangkap dari diri Nona. Dan tampaknya ia kesal dengan hal itu.
Aku ingin dia lebih kesal, jadi kujawab, “Menurut Nona, siapa?” berdasarkan pengalamanku, balik bertanya adalah hal yang bisa membuat orang naik pintam, jadi selama bekerja dan menghadapi klien, aku menghindari metode semacam ini karena bisa membuat urusan pekerjaan runyam.
“Mana kutahu?!” nadanya meninggi.
Ia terpancing, aku semakin bersemangat.
“Ya sudah kalau tak tahu,” kubuat urusannya lebih menggantung, jadi dia bisa semakin emosi.
Lagipula aku tak mengerti kenapa urusan duduk di sebelah supir saat menyetir menjadi hal krusial baginya.
“Danar, apakah aku berarti bagimu?” tanyanya lagi.
Aku pun menatapnya, dengan bertanya-tanya.
Kujawab dalam hati,
Nona, tahukah kamu apa artimu bagiku?
Saat tangan kita bertautan dengan erat,
Dan hati kita berpelukan dengan kuat
Perlu kamu tahu, peristiwa ini menjadikan aku manusia seutuhnya.
Yang sedang dilanda asmara bisa merasakan dunia ini sangat indah,
Yang sedang jatuh cinta bisa melihat dunia ini begitu penuh berkah,
Untuk itu, aku mensyukuri setiap detiknya.
Terutama saat...
Plakk!!!
Kurasakan perih dan panas di pipi kiriku.
"Kalau begitu, siapa dia? Siapa saja yang sudah duduk di sebelahmu saat kamu menyetir?” cecarnya padaku dengan mata nyalang dan amarah.
“Eh?”
“Jawab saja, Danar! Nggak usah mengalihkan perhatian!” ia hampir menjerit.
Mendengarnya, kusadari kemudian, kalau kita seirama.
__ADS_1
Sama-sama terobsesi satu sama lain,
Sama-sama gila.