
Aku mengikuti Nona yang berjalan ke arah ruang tamu. Di belakang kami ada Haidar dan Putri yang senantiasa memperhatikan tingkah laku kami. Mereka didapuk menjadi pengawas kami, tanpa bisa melawan walaupun aku yakin mereka malas meladeni permintaan Pak Dias.
Tapi bagaimana pun orang tua angkuh itu Ayah mereka sendiri.
“Danar,” Haidar mengajakku berbicara. Aku menoleh padanya sambil mengangkat alis. Kuperkirakan ia ingin membicarakan masalah bisnis.
Tampak wajahnya menoleh ke arah koridor, memastikan kalau ayahnya jauh dar kami.
“Saya tidak pernah setuju saat Ayah memutus kerjasama dengan Jade Construction. Seperti yang kamu tahu, keegoisannya bisa mengancam bisnis yang sudah kita bangun. Ayah kita dibesarkan dalam keadaan ekonomi sudah settle, dan karena ulah mereka yang kekanak-kanakan seringkali proyek mandek dan tender berhenti,”
Aku tahu arah pembicaraan ini kemana, jadi aku serius mendengarkan.
“Bisnis kembali menggeliat saat generasi ketiga, yaitu kita, masuk. Bahkan perusahaan kita berhasil menjadi anggota 12 Naga. Jadi, saya harap, apa pun yang kamu lakukan, kamu tetap memiliki rencana cadangan untuk kesehatan perusahaan,” kata Haidar.
Aku mengangguk, “Pak Haidar sudah tahu tingkah laku saya, walaupun tanpa kantor, tanpa kuasa, saya tetap berkomitmen untuk perusahaan,”
“Mengenai proyek yang melibatkan AI itu, kamu beneran bekerja sama dengan Amethys?”
“Ya, tentu. Kontrak sudah sampai ke meja David Yudha. Tinggal timnya pelajari,”
“Sialan, saya kalah selangkah,” umpat Haidar.
“Tidak juga, Pak Haidar. Tujuan saya memancing kamu untuk proyek AI selama ini, justru agar kita bekerja sama. Saat itu saya belum tahu bagaimana cara agar tidak ketahuan Ayah-ayah kita. Kini karena sekarang semuanya sudah jelas, kamu bisa terang-terangan mengajukan agreement,”
“Bisnis itu membosankan tapi menarik ya,” Haidar mengulurkan tangan padaku.
Aku menerima jabatan tangan penuh persahabatan sekaligus persaingan darinya.
Rasanya lega.
Sekaligus cemas.
Aku tak ingin pekerjaanku berakhir.
Setelah ini aku berencana untuk mengakui semua kepada kedua kakakku.
Kalau kedua kakakku tidak memihakku, aku tak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan ayah. Dan saat itu, karierku benar-benar akan berakhir.
Mereka pikir aku ambisius,
Gila kerja, obsesif, egois,
ke komputerlah mataku selalu fokus,
Sembari otakku memikirkan arus kas,
Mata duitan, profit oriented, semua untuk bisnis.
Kenapa aku melakukan semua ini?
Ribuan karyawan di belakangku,
Menggantungkan hidup dari cuanku,
Ada keluargaku di kanan kiriku,
Tanggung jawabku agar perut mereka terisi.
Saingan, rival, musuh disana-sini,
Tak jelas kawan atau lawan, hidupku sepi,
__ADS_1
Tekanan shareholder buat hampir bunuh diri,
Tak kuat akhirnya melarikan diri,
Healing ke pantai, ponsel dipasang mode mati.
Eksekutif muda bergaya hedon,
Foya-foya, barang mewah, tapi hutang sekebon,
Dibaliknya meeting sana-sini sampai pingsan,
Semua dilakukan untuk simpati klien.
(Septira, 2022)
*
*
“Oke, aku pulang dulu,” aku kini beralih ke Nona.
“Kamu masih harus menjadi ART ku selama seminggu,” kata Nona.
Tatapannya, entah bagaimana atau aku yang sudah gila, kurasa menyiratkan kalau ia enggan membiarkanku pergi.
“Astaga, Nona,”
“Besok, pagi-pagi aku ingin makan roti bakar isi keju, tolong bersihkan kamar mandiku...”
Terdengar Putri cekikikan, “Ya Ampuuun, selama ini ternyata Danar itu jadi pembantunya Nondi, toh! Kasihan juga, udah babak belur begini,”
Sialan, Putri.
“... jas yang hitam kemarin harus dilaundry, sepatuku agak coak di solnya tolong di bawa ke konter untuk diperbaiki. Lalu cek oli mobil kayaknya sudah 5000km ya...” Nona masih membacakan daftar pekerjaan yang harus kulakukan, tanpa mengindahkan Putri.
“...dan aku ingin jalan-jalan ke taman pagi-pagi. Mungkin Eco Park. Kamu siap-siap saja sepatu joging untuk mendampingiku ber... Hmmph!”
Aku menciumnya.
Dengan lancang aku mencium bibirnya.
Biar saja satu milyar melayang, aku rela. Kalau perlu kupinjam uang ke Bank dengan bunga kredit tinggi untuk mendapatkan ciumannya.
Aku tak peduli siapa pun di sekitar kami, atau apa pun yang melewati kami, atau bagaimana anggapan orang mengenaiku.
Aku juga tak peduli diriku sendiri, selain Nona di depanku ini.
Sudah sangat lama aku ingin menciumnya.
Bibir tipisnya yang selalu terlihat lembab terlihat semanis madu. Dan sudah menarik perhatianku dari sejak aku pertama kali bertemu sosok fana ini.
Apalagi saat Nona menahan geram akibat tingkahku yang mengesalkan, ia tarik bibir indah ini ke dalam, bahkan kadang digigitnya sedikit, juga kadang ia basahi dengan lidahnya kalau ia sedang gugup.
Selama ini kutahan-tahan jangan sampai aku menerjangnya.
Namun pertahanku runtuh hari ini, saat ini ada banyak sekali kejadian berkesan bagiku.
Dan aku hanya manusia biasa, hanya Si Pejantan Payah yang menunggu tikus mendekati keju, padahal tikus lebih suka nasi.
Tangan Nona menekan dadaku, memukulku pelan, satu kali.
__ADS_1
Dia sekali saja mencegahku mendekat.
Setelah itu dia hanya diam sambil menyambut bibirku, menerima sesapan lidahku, menyetujui belaianku,
Menampung segala rayuan dariku.
Bletakk!
Sesuatu yang keras menempa bahuku.
Aku melepaskan ciumanku dan menoleh. Putri sudah memegang sebelah sandalnya. "Ciuman di depan rumah bawa sial, tahu?! Kami berdua lagi menghindari masalah cinta-cintaan, kamu berdua malah sengaja mesra-mesraan!" Putri berbicara dengan nada bahasa yang pelan dan lembut, tapi seringainya menakutkan. Selama mengenal Putri, aku memang merasa dia seringkali tersenyum namun tindakannya bertolak belakang.
Haidar hanya terkekeh menanggapi kami dan masuk ke dalam rumah. Putri mengikuti pria itu setelah memicingkan mata padaku. Tampaknya ia memberi kode kalau mereka mulai sekarang akan mengawasi kami dengan lebih intens.
Aku menatap Nona.
Wajah manisnya memerah,
ia tampak tersipu.
"Kurang ajar, dasar mesum..." gumamnya pelan.
Lalu menatapku malu-malu, menyibakkan rambutnya ke belakang bahu, dan masuk ke rumah mengikuti kedua kakaknya.
Sesekali ia menoleh ke belakang ke arahku.
Manis sekali kamu, Sayangku.
Aku sudah pantas memanggilmu 'Sayang' bukan?
Kalau melihat dari matamu saat menatapku, belaian jemarimu di dadaku, kepasrahanmu akan ciumanku,
Seharusnya, kita berdua sudah terjun ke jalinan ikatan yang lebih dalam saat ini.
Hari ini, aku bahagia.
Atas segala yang terjadi,
Atas segala kemungkinan yang timbul,
Atas segala anugerah yang datang.
Sedikit lagi, pujaan hatiku menjadi milikku,
Kalau perlu, kumiliki dalam ikatan suci di depan Tuhan
Tidak akan kubiarkan ia menghilang dari dariku, tak akan kulepaskan dia kali ini.
Ponselku berdering.
sebuah email masuk ke gawaiku.
dari Ayahku.
Setelah tak bisa menemuiku, beliau seringkali mengirimkan pesan padaku lewat email pribadiku.
APA LAGI YANG KAMU LAKUKAN, BOCAH EDAN?!
Memakai huruf capital besar-besar.
Aku hanya terkekeh, dan memasukkan kembali ponsel itu ke dalam kantong celanaku, lalu kulangkahkan kakiku meninggalkan rumah Nona..
__ADS_1
Ku berniat pulang, tidur, dan kuberharap mimpi indah tentang Nona.