
Nona,
Nonaku yang menawan,
Kamu tahu, rasa cintaku semakin kuat saat kamu memelukku,
Dan hasratku untuk menyentuhmu lebih dalam, keinginanku untuk bersatu denganmu, seiring dengan semakin besarnya perasaanku,
Perlahan tapi pasti, hampir sampai pada batas pertahananku.
Kamu yang tampak rapuh, membuatku semakin jatuh cinta.
Aku tak yakin bisa menahan libido yang terbentuk di aliran darahku ini lebih lama lagi.
Apakah aku harus berpisah denganmu untuk sementara agar pulih,
Atau malah harus bersama denganmu lebih lama agar tidak terserang frustasi?
Aku bingung Nona,
Bingung cara menghadapi diriku sendiri.
Sampai di Lobi hotel, aku melepaskan pelukannya segera saat pintu lift terbuka. Tiba-tiba aku jadi takut dengan diriku sendiri.
Ia memandangku dengan kebingungan, aku melepaskan diriku dengan cara mendorongnya dengan cepat.
Karena,
Tiba-tiba sekujur tubuhku bagaikan diliputi semacam kekuatan, dan otakku berujar ‘segera tarik dia ke dalam kamar dan ‘habisi’,
Dan aku tahu, apa yang dimaksud dengan ’habisi’, yang pasti sudah sampai ke taraf tidak senonoh.
Aku berjalan mendahuluinya, aku tahu dia akan mengikutiku karena Sayangku butuh penjelasan dariku. Aku bahkan masih bisa mendengarnya memanggil namaku dari kejauhan.
Kumasuki restoran Italy yang berada di sebelah resepsionis, restoran bintang lima yang suasananya terkenal romantis dengan pemandangan Kota Jakarta di balkonnya.
Siang ini cerah berawan, bukan saat yang pas tapi kami butuh menyendiri dari keramaian.
Sang Dewi duduk di depanku masih dengan pandangan bertanya sementara aku menyibukkan diri dengan memandangi tablet berisi daftar menu. Kuputuskan, makan siang saat ini tak perlu yang kenyang, karena aku sibuk menahan diri, rasanya perut ini sudah mual karena libidoku meningkat drastis.
Menu dengan campuran bawang putih dan telur pun kuhindari.
Sementara, Nona hanya memesan desert.
“Kau jelaskan atau aku pulang sendiri, sekarang,” begitu katanya saat waitress pergi menjauhi kami.
“Jangan memelukku,” gumamku sambil pura-pura sibuk memainkan ponselku.
“Ha?”
“Jangan memelukku,” aku agak meninggikan nada suaraku, tapi kuusahakan kanan-kiri kami tidak mendengar.
“Atau apa?”
Kudengar dia masih menantangku bicara.
Aku menaikkan kepalaku dan menatap matanya, “Atau aku tak bisa menjagamu dari diriku sendiri,”
Entahlah kenapa aku bicara demikian.
Sang Dewi hanya menatapku dengan tajam. Aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya.
"Hm, begitu," Nona duduk bersandar sambil melipat tangannya di dada dan mengangkat dagunya. Tampaknya ia sedang membuat suatu rencana untukku.
"Kalau begitu, tahan saja semaksimal mungkin. Sudah cukup untuk membuat kamu tersiksa, kan?!" Bibir tipis Nona yang dipoles merah merona menyunggingkan senyum licik.
Dan dia benar.
Aku dalam keadaan tersiksa.
Sampai-sampai tak ingin makan.
"Hei, Danar si bajingan," Nona mencondongkan tubuhnya ke arahku, "Aku akan membuatmu lebih kesakitan, sampai kurasa setara dengan rasa sakit hatiku yang belum pulih," gumamnya pelan.
Berikutnya kurasakan,
__ADS_1
Rasa nyeri yang amat sangat sampai ke perutku!
Aku sampai tersentak mundur tapi tubuhku terjepit antara meja dan kursi makan.
"Jangan bergerak dan tahan saja, Danar," kata Nona sambil menumpu dagunya dengan tangannya, dan memicingkan mata sambil tersenyum.
Tatapannya...
Mengerikan.
Seperti ingin memakanku hidup-hidup!
Aku masih menahan rasa sakit, sambil berusaha fokus mengenai yang sebenarnya menimpaku.
"Uh!" Aku mendengar diriku sendiri memekik tertahan. Nyeri itu datang lagi, kali ini sampai kepalaku juga sakit.
Pusat nyeri berada di tengah pahaku yang tertutup taplak meja.
Maka kusingkap sedikit taplak putih itu, untuk memeriksa yang terjadi.
Astaga...
Kusadari, kaki Nona menjejak milikku.
Ia injak dalam-dalam dalam posisi ia mengenakan sepatu berhak lancip!
Mengagumkan Nona!
Dari mana kau mendapatkan ide senikmat ini?!
Atau memang... benakmu itu juga dipenuhi keliaran sepertiku?
"Non," aku masih berusaha menahan rasa sakit. Bisa gawat kalau seisi restoran menyadari yang terjadi.
"Gimana? Suka? Aku bisa..."
"Arrghstaga..." keluhku sambil menahan meja dengan tanganku. Gila nyerinya sampai menusuk-nusuk kepalaku. Rasanya pandanganku langsung kabur. Mati-matian kutahan teriakanku.
"Jangan coba-coba mencegahku, dasar mesum. Dipeluk sedikit saja sudah birahi. Senakal itu kamu? Ck ck ck, Danar si penjahat kelamin,"
Kau berikan aku macam-macam julukan kasar,
Merendahkanku, menghinaku, memakiku,
Aku merasa semua ini bahkan belum cukup untuk setara dengan kesedihanmu akibat perbuatanku.
"Ada teknik lain tidak?" gumamku menantangnya sambil mengepalkan tangan. Luar biasanya aku, dalam keadaan terdesak malah masih minta tambah.
"Eh?"
"Kamu bisa rasakan sendiri dengan kakimu, bagaimana keadaanku sekarang,"
Dia diam.
Mungkin berpikir sejenak,
Lalu merasakaan yang terjadi.
Milikku, saat diinjak olehnya, bukannya lemas malah semakin mengeras.
Dengan kata lain, walau kesakitan, aku menyukai kelakuannya.
Terasa menggairahkan.
"Kamu gila," gumamnya. Terdengar gemetar dalam suaranya.
"Kamu juga gila, memancingku di tengah orang banyak..." sahutku sambil kususupkan tanganku ke bawah meja, dan kubelai betis mulusnya sambil tersenyum tanpa bisa kukendalikan sarafku ini.
Entahlah, aku merasa bahagia.
Tapi nyerinya masih terasa hebat. Perutku langsung mual dan mataku berkunang-kunang.
Rasanya tubuh ini lumpuh seketika.
Kalau ini bukan Nona mungkin sudah habis-habisan kupukuli.
__ADS_1
Tapi kalau Nona...
"Coba, kamu bisa sanggup menginjakku sampai sekeras apa?" tantangku.
“Huh!” ia mendengus, mungkin meremehkanku "Buka sepatuku," selanjutnya ia berkata demikian.
Aku mengangkat alisku, bertanya tanpa suara.
Maksudnya apa ya?
Apa yang kira-kira mau dia lakukan?
Tapi aku tak salah dengar kan ya? Dia tadi menyuruhku membuka sepatunya?!
Aku melirik kanan-kiriku, orang-orang sibuk mengobrol dengan pasangan mereka masing-masing.
Tak ada yang memperhatikan kami.
Aku masih memegang betis Nona.
Kutatap matanya yang memandangku dengan tajam dan senyumannya yang sinis dan jahil.
Oke,
Aku ikuti dulu saja permainannya.
Kuturunkan belaianku sampai batas tali sepatu yang melingkari mata kakinya. Kuraba dan kukira-kira dimana letak pengaitnya.
Sambil tetap menatap Nona, kubuka ikatan tali kulit itu.
Dan
Klotakk!!
Terdengar sepatu Nona jatuh menghantam lantai di balik meja kami.
Dan berikutnya,
Belaian yang tidak bisa kutebak arahnya.
Menggoda kejantananku dengan gerakan vulgarnya.
"Sial..." Mulutku bergerak sendiri, merasakan jemari mungilnya bergerak naik dan turun di area sangat sensitif diriku.
Yang kata manusia inilah nikmat dunia,
Bagiku malah jauh lebih baik dipukuli oleh Nona !
Kurasakan jemarinya menekan milikku, ia mulai dari atas, lalu perlahan turun ke bawah.
Walaupun nikmat, aku mulai kuatir raut wajahku menarik perhatian orang. Aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan situasi sekitar kami dalam keadaan terkendali.
Kurasakan tekanan di area bawah.
Aku digoda.
Tidak bisa kutahan lagi!
Sedikit lagi dia membelaiku dengan jemari kaki mungilnya ini, aku bisa langsung menyerangnya di tempat dalam kondisi semua orang menonton kami!
"Jangan nakal, Non. Kamu mau kubereskan di sini?" gumamku pelan sambil menyesap kopiku. "Sekalian saja semua orang tahu apa yang kamu lakukan di bawah sana," aku tersenyum menantangnya, "Kalau kamu tidak sepolos yang dikira,"
Senyum Nona sirna,
Kurasakan ia menarik kembali kakinya.
Aku menghela napas untuk menenangkan diriku. Lalu setelah semua kembali terkendali, aku berdiri dan berlutut di sebelahnya.
Mengambil sepatunya dari kolong meja, memakaikannya.
Dan mencium jemari kakinya.
Terdengar orang-orang bergumam, mereka sedang menonton aksiku menghamba di kaki Sang Dewi.
"Kita ke atas ya," ujarku. Tidak meminta persetujuannya, kutarik tangannya dan kugiring dia ke resepsionis hotel.
__ADS_1