Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Kecemburuanmu


__ADS_3

Hari ini, aku jatuh cinta


Lebih cinta dari yang kemarin-kemarin


Sampai sore seperti saat ini,


Di saat lembayung perlahan mulai timbul di ufuk barat pertanda matahari akan pergi beristirahat,


Langit memunculkan lukisan Ilahi nan indah, semenawan siluet tubuh Nonaku pagi ini,


Dan itu sebabnya, aku semakin jatuh cinta.


Kuingat samar-samar setelah kami saling diam di dalam mobil, Nona menatapku dan berujar,


“Aku harap kamu menyadari, kenapa aku selalu duduk di sebelah kamu, di depan, saat kamu menyetir,”


Kupikirkan lagi terus menerus,


Sampai saat ini masih kupikirkan,


Tidak ketemu jawabannya.


Aku sedikit membungkuk dan bertumpu pada teralis beranda gedung, menatap ke perkampungan di bawah.


Sejenak aku diam, dengan sebatang rokok di sudut bibirku.


Melamun menenangkan diri, berusaha memikirkan hal lain selain Kekasih Hatiku.


Lagi-lagi gagal.


Sekarang semua manusia malah seakan terlihat seperti Sayangku.


Ibu penjaja seblak, sekuriti di depan pos gedung, abang somay keliling, anak main bola...


Silahkan tertawa, tapi di mataku seakan Nona yang melakukan itu semua.


Aku benar-benar sudah gila.


“Sst!”


Aku menoleh ke samping.


Kok seperti kudengar desisan seseorang?


“Ssst! Sst! Bos! Bos Danar!” seseorang memanggilku sambil berbisik-bisik.


Aku menoleh ke belakang.


Mbak Windy sudah ada di balik mobil Nona, membungkuk-bungkuk takut ketahuan.


Bibirku mencibir melihat tingkahnya.


Aku menegakkan tubuhku sambil berkacak pinggang. Kutatap ia dengan kesal.


Kan sudah kubilang jangan nekat menemuiku! Bagaimana sih si Mbak -Mbak Sekretaris ini?!


“Bos Danar! Sini!” serunya tapi tetap sambil berbisik. Dia berjongkok di belakang bumper sambil menoleh ke kanan-kiri takut ketahuan, dan sesekali melirik CCTV di atas.


“Kamu kesini saja, sekarang semua sudah tahu! Kenapa nggak pakai masker?”


“Lupa, Bos! Ini urgent!” Mbak Windy tergopoh-gopoh menghampiriku.


“Ada apa? Kenapa kesini?”


“Bos, terus terang saja, saya nggak sanggup dikasih kerjaan soal keuangan,” Mbak Windy berdiri di depanku sambil menggenggam erat tas ratusan jutanya, hasil softloan di kantor.


(Softloan adalah semacam pinjaman karyawan ke perusahaan dengan bunga rendah).


Aku mendongak menatapnya.


Wanita ini setinggi 180 cm, tapi dia memakai sepatu hak tinggi 10cm. Aku sampai minder saat dia berdiri di depanku.


“Kan sudah saya bilang jangan pakai sepatu hak tinggi kalau di depan saya,” keluhku.


Mbak Windy peranakan Amerika-Korea, tapi dari kecil tinggal di Indonesia. Di usianya yang ke 40 perawakannya masih tidak berubah seperti saat dia berusia 20 tahun, kata suaminya loh.


Aku sih tak tahu penampilannya saat usianya 20 tahun, tapi melihat sosoknya yang sekarang sudah pasti pas mudanya jadi bahan rebutan para fakboi.


“Oh iya maaf Bos! tadi baru ikut meeting, penampilan harus cetar soalnya Bos Amethys kan cantik buanget. Ya Bos tahu lah gimana," Mbak Windy melepas sepatunya, kini aku tak mendongak lagi.


"Nah, Tentang masalah deal dengan Amethys itu loh Bos! Duh saya kayak orang bego, planga-plongo nggak jelas, nggak ngerti lah saya masalah dunia perbankan! Background saya kan arsitek Bos! Dan perusahaan kita kan main jobnya konstruksi! Saya nyerah lah Bos!"


Baru kali ini aku melihat Mbak Windy berwajah kecapekan. Biasanya kalau stress dia ngomel. Tapi ini merajuk. Itu berarti memang masalahnya serius.


Atau dia hanya ketakutan karena baru kali ini aku meninggalkannya. Biasanya kan selalu ada aku di belakangnya.


"Kamu sudah ke bagian marketing? Mereka jagonya masalah bank, karena kan ada beberapa proyek yang kerja sama untuk masalah pembelian bangunan dengan kredit,"


Mbak Windy pun tertegun.


"Kenapa saya nggak kepikiran ya Bos?"


"Kamu cuma panik karena sendirian, kayaknya,"


"Mungkin ya Bos, Duuuh Bos cepetan lah selesaikan masalahnya! Hamilin aja lah tu prinses, mau nggak mau kalian dinikahkan!"


"Hus! Ngomong kok ngawur, dinikahkan habis itu saya dipenggal," gerutuku.


"Habis ini saya harus ke siapa Bos? Saya sebenarnya males ke bagian marketing, orangnya centil-centil!"


"Ya kan mereka harus jualan, iya lah harus ramah," Aku sedikit memperhalus kalimat Mbak Windy, "Ada kok yang kalem. Coba kamu ke Mbak Dierja, dia lumayan bagus kerjanya. Masih staf tapi achieve terus,”


“Mbak Dierja itu yang digosipin simpenannya om-om berduit kan? Kalem apanya?”


“Jangan percaya gosip, yang penting dia problem solving. Jelas?”


“Hm...” aku mendengar Mbak Windy bergumam. Dia menghela napas. Bisa juga wanita berhati besi ini mleyot ya. Kukira, saat ini dia sedang memikirkan usulku.


“Mbak, capek ya? Maaf ya,” aku merasa tak enak.


“Rasanya setiap hari saya mau kabur saja. Saya tak mengira pekerjaan Bos ternyata banyak yang rumit. Dulu saya pikir kerjaan Bos itu cuma datang siang, ngopi, main cewek, ketemu klien di club, joget-joget ngga jelas,mabok, besoknya berulang lagi,”


“Itu kan di depan kamu,” aku mencibir merasa tersindir.


“Iya saya dapat tulah, ngerasain sekarang setelah Bos nggak ada,” dan wanita ini menatapku dengan muram, memicingkan matanya, dan mencengkeram kerah kemejaku.


“Pokoknya, Bos, kalau sebulan masalah Bos nggak selesai, saya resign! Nggak sanggup saya! 20 tahun saya kerja sama Pak Adi, dari mulai jadi staf Bos Dimitri, Bos Devan yang paling berat itu ngurusin masalah Bos Danar!”


Aku menatapnya dan langsung merasa cemas. “O-oke Mbak... sori...” gagapku. Cengkeramannya benar-benar kencang sampai aku sulit bernapas. Hebat juga Pak Suami bisa mengendalikan Xena the warrior princess.


Mbak Windy pun melepaskan cengkeramannya, tengok kiri-kanan, mengenakan kacamata Ray-Bannya dan mencubit pipiku tanda dia jengkel padaku, lalu pergi ke arah lift tanpa alas kaki. “Hape aktif!” tak lupa dia berseru padaku sebelum pintu lift tertutup.


Iya, gawaiku sering tidak aktif. Yang begitu saja Mbak Windy masih bisa melacakku. Mungkin beliau dulunya agen rahasia.


“Danar,”


Astaga!


Kenapa Mahadewi sudah ada di sana? Berdiri bersandar di mobil memperhatikanku sambil cemberut. Mata coklatnya menatapku dengan menyelidik dan wajahnya terlihat sangat angkuh.


Jelitanya Nona ...


Sangat anggun dan elegan sosokmu, bahkan dalam balutan kemarahan kau begitu menawan. Apakah tadi aku ketahuan bertemu diam-diam dengan sekretarisku? Apakah karena itu wajahnya muram?


Aku penasaran, apa lagi yang akan kau lakukan pada diriku.

__ADS_1


Aku tadinya memang kaget, tapi sesaat kemudian aku memutuskan untuk menenangkan diriku, dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.


Aku menyambutnya seperti biasanya, dengan senyum tanpa makna.


“Non, sudah selesai kerja?”


Kumasukkan kedua tanganku ke saku celana. Terus terang saja, telapakku langsung dingin karena gugup.


Terlihat manik indahnya melirik ke arah lift yang tertutup.


Dia tahu...


Aku tegang dan khawatir


“Ayo jalan,” gumamnya kemudian sambil masuk ke mobil.


Aku menghela napas lega.


Tampaknya dia tak mau ambil pusing, dan bisa jadi dia bisa menjaga rahasiaku. Tapi satu lagi kartu AS ku yang akan dia gunakan untuk mengancamku, bertambah.


Sudahlah, mau bagaimana lagi.


Mbak Windy sampai menemuiku ke sini dan menghadapi risiko dimaki ayah juga karena keadaan mendesak.


Jadi aku pun masuk ke mobil.


*


*


“Tadi pacar kamu?”


Intro yang sangat legit.


Aku diam dulu, ingin tahu reaksinya.


Jalanan di depan kami ramai lancar, aku harus agak fokus karena sedan mewah yang kukendarai agak sulit dikendalikan. Maunya ngegas terus, karena semakin kencang semakin nyaman suspensinya.


Seperti pemiliknya.


Semakin marah semakin menggemaskan ia terlihat.


“Cantik,” gumamnya, tapi sambil merengut.


Aku masih diam, kubiarkan dia berspekulasi semaunya.


“Tinggi dan langsing, seksi juga,” gumamnya lagi, tapi sambil membuang muka.


“Juga outfitnya berkelas, kalian cocok bersama seperti soulmate,”


“Khehehe,” aku tak tahan, aku akhirnya terkekeh. Secantik apa pun Mbak Windy, tetap tidak menarik perhatianku. Tetap Nona yang mempesonaku.


“Kenapa ketawa? Iya aku tahu aku dengannya bagai langit dan bumi. Dia tampak dewasa, dadanya besar, lekukannya kayak gitar. Beda sama aku yang kekanak-kanakan, dada tepos, body rata, pendek pula!” gerutunya.


“Pantas saja kamu kabur, standar kamu setinggi itu,” ia membuang muka lagi.


“Nona lucu juga,” ujarku mencoba menggodanya.


“Kamu ngeselin banget,” dengusnya. “Sakit rasanya,”


Aku tertegun.


Apa ini...


Apa aku tak salah dengar?


Kenapa dia mengeluh sakit? Dia sakit beneran atau sakit hati karena mengira Mbak Windy pacarku?


Apa dia cemburu?


Lalu aku mulai mengurut satu persatu kejadian lampau.


Kalau diingat, dia bilang dendam padaku karena aku kabur dari perjodohan kami.


Tadinya kupikir dia merasa begitu karena merasa terhina.


Tapi semakin kupikir lagi, itu bentuk patah hatinya. Mungkin saja dia sudah senang dijodohkan denganku, tapi aku lari.


Karena kalau kami tak saling suka, bukankah seharusnya dia senang tak jadi dijodohkan denganku?


Lalu sikapnya yang membuatku dan menjadikanku terikat dengannya.


Bukannya hal itu drama banget ya, kayak seri film picisan. Dalihnya menjadikanku pelayan untuk membayar sakit hatinya.


Kalau dia tak ada perasaan denganku, pasti kami sudah berdamai sejak lama. Karena kami tidak kehilangan apa pun.


Tapi Nona malah membuatku semakin mendekat.


Apakah ini...


Tanda bagiku untuk maju?


Kulihat dulu reaksinya, aku perlu menguji lagi satu hal.


Akhirnya kami tiba di cafe langganan Nona dengan perasaanku yang campur aduk.


Nona dengan masih cemberut, menyambar tasnya dan meraih kunci pintu.


Aku meraih lengannya, dan menatap mata coklatnya yang kini sendu.


Dia terasa sangat sedih dan terpuruk.


“Itu sekretarisku,” kataku.


“Ho, jadi kamu ada main sama sekretarismu sendiri? Khas novel romantis di platform online ya,”


Aku tersenyum geli, “Bukan, Mbak Windy bukan pacarku. Dia wanita berusia 40 tahun dengan 3 anak laki-laki dan suaminya pengacara di asosiasi yang Nona pasti tahu karena langganan 12 Naga buat masalah sengketa,”


Nona tertegun, menantiku berbicara lebih lanjut,


“Mbak Windy mencariku ke kantor karena hapeku nggak aktif, ada masalah mendesak di kantor yang butuh saranku,”


“Oh, begitu,” Nona mengangguk. Dan bibirnya menyungingkan senyum tipis.


“Aku nggak ngerti kenapa aku harus menjelaskan soal ini,” kataku sambil melepaskannya, “Padahal kamu hanya majikanku, bukan kekasihku. Kesannya kamu cemburu sih kalau tidak kujelaskan,”


“Siapa yang cemburu?! Dasar GR!” serunya.


“Sebentar,” aku meraih pergelangan tangannya, dan kutangkup.


Ia diam sambil menatap kedua tangan kami saling terkait.


Dia tidak melawan,


Tidak juga berusaha menghindar.


Aku mengangkat tangannya,


Dan kukecup perlahan punggung tangannya.


“Aku tidak punya pacar,” bisikku sambil menatapnya. Mencari sinyal asmara di jendela hatinya. “Dan aku nekat ke rumah kamu, untuk minta maaf atas perlakukan menyakitkan, juga...”


Kukecup sekali lagi tangan lembut nan lentik itu.


“Aku berharap perjodohan itu kembali berlanjut dan keluarga kamu memaafkanku,”

__ADS_1


Nona tampak menahan napasnya,


Lalu menarik oksigen dengan gemetar.


Ia menarik tangannya dengan gugup.


“Aku... aku pikirkan dulu, dasar buaya manipulatif,” desisnya gemetaran.


Pipinya tampak memerah.


Manisnya Humaira-ku.


“Kamu tetap jadi budakku, jelas?! Sakit hatiku belum sirna!” ujarnya sambil buru-buru keluar dari mobil.


Aku tersenyum menatap punggung kurus itu menjauh.


Puas rasanya.


Cintaku sepertinya bersambut.


Kini tinggal menyerangnya dengan manuver-manuver andalan.


*


*


“Pulang!!” Nona masuk ke dalam mobil sambil marah-marah.


Aku yang sedang dalam posisi berbaring, gelagapan. Juga kaget, karena belum 15 menit Nona di dalam cafe. Biasanya wanita kalau sudah ketemu teman sefrekwensi kan bisa sampai berjam-jam? Ini kenapa sudah minta pulang?


“Iya, Non,” jawabku sambil menegakkan dudukku dan menyetel mode mundur dari parkiran.


Di perjalanan Nona diam sambil menatap ke samping mengamati jalanan. Wajahnya tampak gusar dan telinganya merah.


Tampaknya ia sangat kesal.


Tahukah kamu Nona,


Rasanya ingin kupeluk saja dirimu,


Merungut dengan raut penuh murka,


Mengundang bedebah untuk mencengkeram hatimu.


Tahukah kamu wahai Juwita,


Ambekan yang kau pancarkan itu membuatmu semakin ayu,


Ingin sekali kubertanya ada apa,


Dan kuelus pipi kemerahanmu itu dengan bibirku.


“Kenapa kamu harus begitu ganteng,”


Aku mendengar dia bergumam tak jelas, aku sampai harus menengok dua kali ke arahnya karena terusik,


“Ya Non?” tanyaku.


“Nggak ada apa-apa,” gumamnya.


Hening


Belum 5 detik kemudian, terdengar decakannya.


Lalu dari decakan berubah jadi geraman.


“Nggak bakalan aku mau diajak ngumpul lagi! Dasar cewek-cewek gatel! Sudah pada punya pacar masih saja ngincer milik orang...”


Aku menaikkan alisku.


“Ada apa sih Non?”


“Sudah, diam! Fokus saja ke jalan pulang!” serunya marah.


Duh, alunan simfoni nan merdu merasuk telingaku. Sampai terpejam sesaat mata ini mendengarnya. Kalau saja aku tak berada di mesin besi yang menyusuri jalan raya berbahaya ini, sudah kunikmati dengan maksimal teriakanmu itu.


“Iya Non, jangan galak-galak dong,” gumamku, berakting kesal.


“Aku galak juga ada sebabnya!” teriaknya sambil menggebrak dashboard.


Oh Tuhan, lantang sekaliiii,


Sonora membahana nyaring menusuk kalbu.


Lagi, Nona... aku suka teriakanmu.


Saat kau memekik seperti itu aku jadi membayangkan kau berteriak-teriak di bawahku, saat kuhimpit tak bergerak dan kita bersama mencapai puncak.


“Siap,” ujarku pelan sambil kuremas setir mobilku.


“Kenapa kamu senyum-senyum?”


“Heh?” aku menoleh menatapnya dengan kaget.


“Itu, aku bisa lihat bibir kamu senyum dikit,”


Haduh,


“Masa?” tanyaku pura-pura tak tahu.


“Aku pikir lagi, setiap aku omeli kamu selalu pasang wajah kayak begitu, senyum sinis itu,”


“Senyum sinis, Non?” aku berusaha keras memposisikan wajahku agar polos bego.


“Nah! Kayak begitu itu!” Nona menunjukku dengan tatapan yakin, “Senyum macam itu, kayak seneng begitu!” matanya memicing menyelidikiku.


Tampaknya selama ini semakin kuposisikan, wajahku semakin tak sinkron.“Ini sudah settingan dari Illahi, Non,” kataku berdalih.


“Aku pernah ngeliat kamu cemberut waktu di ruang laundry, nggak seperti itu,” katanya, “Ini seperti kamu senang kalau aku omeli,”


“Nona perhatian banget deh...”aku berusaha mengalihkan perhatian.


Lampu merah di depan kami, aku menghentikan mobil.


“Danar,” panggilnya.


“Ya?” aku menoleh ke arahnya.


Plakk!!


Tamparan pedas menyambar pipiku.


Wow, gila rasanya nikmat sekali!


Jatungku langsung berdetak cepat, bekas tamparannya masih terasa panas sampai ke gendangku.


“Astaga...” gumam Nona. “Senyum itu...”


Aku menoleh ke arahnya sambil kebingungan, tapi jadi lebih bingung lagi saat aku lihat dia duduk menjauh mepet jendela sambil menatapku dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.


“Kamu psikopat,” bisiknya sambil gemetaran, begitulah ia menyimpulkan diriku.


Hm, cuma denganmu, Nona,


Hanya kalau berhadapan denganmu aku jadi tak waras.

__ADS_1


__ADS_2