
“Jangan galak-galak dong, Non,” gumamku sambil mengelus pipiku yang terasa nyeri.
“Kamu sendiri yang minta kugalakkin! Jawab saja kenapa sih? Apa susahnya?!” serunya marah.
Wow...
Nada yang tak terlupa, lantunan simfoni penuh harmoni, irama yang memoles susunan kata.
Ini yang kucari darimu, dentingan alunan memekakkan telinga ini yang menjadi canduku.
Teruslah marah padaku, Nona.
Aku suka...
Aku sangat suka...
“Kalau sudah kujawab, apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku. Lebih ke rasa penasaran.
“Lihat saja nanti,” ia mencengkeram rahangku dengan jemarinya yang kurus.
“Aku serius bertanya, Nona. Karena mungkin akan ada yang terluka,”
“Sudah pasti akan ada yang terluka,” ia memicingkan mata menatapku.
Rasanya aku sedang dicintai dengan sepenuh hati. Tapi aku agak khawatir kalau dia akan menstalking para wanita yang pernah dekat denganku. Karena sudah pasti Nona akan pingsan kelelahan.
Saking banyaknya wanita di dalam hidupku.
Aku bujangan, konglomerat, dan tampangku lumayan. Omong kosong kalau aku tak punya beberapa pacar.
Dan aku tak ingin Nona kewalahan dan kecapekan karena lelah membalas dendam ke satu persatu teman kencanku.
Maksudku yang terluka itu adalah Nona sendiri.
“Sebentar kuhitung dulu berapa wanita yang kukencani, atau termasuk one night stand juga? Kalau friends with benefits juga masuk tidak?” tantangku.
Ia membelalakkan matanya menatapku.
Lalu...
Plakk!!
Tadi pipi kiriku, sekarang pipi kananku yang jadi sasaran amukannya.
“Dasar cowok breng-sek! Bej4t banget kehidupan kamu selama ini! Dan kamu sekarang datang padaku?! Sebelum kita bercinta aku ingin laporan General Checkup-mu dulu! Terutama di bagian itu!” teriaknya sambil meraih bantal di dekatnya dan mulai memukuliku.
Aku hanya terkekeh saat mendapatkan serangan bertubi-tubi darinya.
Kemudian pukulan-pukulannya berhenti.
Dia sedang menatapku sambil terengah-engah.
“Ya Ampun, aku lupa kalau kamu suka saat aku marah-marah,” gumamnya sambil menatapku dengan malas. Ia menatapku bergantian antara mataku dan bibirku. Kemungkinan besar, bibirku ini sedang membentuk seringai karena merasa nikmat mendengarnya mengomel.
“Entahlah kenapa aku mencintai kamu Danar Sanjaya. Dasar cowok aneh!” Ia melipat tangannya ke dada dan duduk sambil cemberut menatap ke depan. Tampak ia sedang mengatur napasnya yang ternegah-engah, kecapekan karena memukuliku.
“Sini,” ujarku.
Aku tak tahan.
Aku tak tahan untuk tidak merengkuhnya ke dalam pelukanku.
Kutarik tubuh mungilnya, kurengkuh ke dekapanku sambil kubenamkan hidungku di lehernya yang aromanya lebih wangi dari bunga di taman Olympus.
Terdengar des4han dari bibirnya, ia enggan kupeluk tapi tampaknya tak kuasa menolakku.
Aku tak tahan,
Untuk tidak membelai rambut kecoklatannya yang lembut dan menghirup dalam-dalam aroma parfumnya.
Aku juga tak tahan untuk tidak sedikit jahil menurunkan tangannya dari punggung ke bokongnya yang padat dan meremasnya sedikit.
“Hei, mesum! Kemana tanganmu, hah?!” ia mendorongku.
Aku terkekeh senang.
Pipinya bersemu merah saat menatapku. “Lakukan lagi saat kita di ruangan yang lebih privat,” lalu ia merendahkaan suaranya padaku.
Aku tertegun mendengarnya. Lalu kutatap gedung tinggi di depanku.
Hotel bintang lima.
__ADS_1
Dan menyeringai penuh arti padanya.
Ia melirikku sambil memasang raut wajah waspada.
“Sebentar lagi acaranya dimulai,” gumamnya sambil membereskan dandanannya, dan bersiap beranjak keluar dari mobil.
“Kamu mau tahu siapa saja yang pernah duduk di sebelahku saat aku menyetir mobil?” tanyaku.
Ia menghentikan gerakannya dan menoleh padaku.
Dia diam, hanya menyimak perkataanku.
“Banyak," uajrku. "Jawabannya banyak wanita yang duduk di sebelahku saat aku menyetir mobil. Dan hampir semuanya pernah tidur denganku,” jawabku.
Tidak kumaksudkan untuk membuatnya kesal, tapi memang itu yang sebenarnya terjadi.
“Hanya saja, aku bahkan tidak ingat nama-nama mereka. Sosok mereka saat ini pun tak kuingat, hanya berupa siluet tak berarti di mataku. Dan saat itu, posisiku adalah sebagai pemilik mobil. Bukan driver, bukan karyawan dari seseorang, apalagi seorang budak dari majikan bawel yang menuntut beberapa pekerjaan dalam satu waktu,” kataku lagi sambil menyindirnya.
Dia diam dan mendengarkanku.
Entah kenapa raut wajahnya malah membuatku sedih. Dan tentunya, merasa bersalah.
Karena bukan hanya dia wanita yang pernah ada di kehidupanku.
Bukan hanya dia satu-satunya yang pernah menikmati tubuhku dan kucumbu.
Tapi,
Kamu satu-satunya yang kini ada di hatiku.
Dan kuharap bukan hanya saat ini, tapi sampai seterusnya.
“Dan aku terbiasa mendominasi. Tidak ada wanita yang kuizinkan membentak-bentakku. Apalagi kukaitkan tali sepatunya. Yang ada mereka yang menyiapkan semuanya untukku,”
“Hemmm...” hanya itu jawaban Nona.
Tanpa dia perlu berkata-kata aku sadari kalau tujuannya duduk di sebelahku saat aku menyetir adalah dia sudah lama ada perasaan tertentu padaku.
Desiran aneh menyerang jantungku, yang secara cepat berdebar kencang.
“Dan... hanya satu orang yang kusebut Nona. Dan kumaksudkan, benar-benar seorang Nona. Bukan Nama. Tapi posisi dalam kehidupan,” aku tersenyum padanya, kuraih jemarinya, dan kukecup perlahan punggung tangannya.
Nona menatapku dalam diam, wajahnya tampak terkesima.
Aku menyeringai, “Aku mau anak yang banyak,”
“Astaga, Danar!!” jeritnya kaget.
“Aku suka keluarga besar,” Aku terkekeh sambil mengenakan setelanku dan keluar dari mobil.
“Bisa-bisanya kamu...” suara Nona teredam karena aku keburu menutup pintu mobilnya.
*
*
Nona memeluk lenganku saat kami memasuki koridor aula gedung. Kulihat beberapa tamu sudah datang, ibu-ibu dengan dandanan mewah dan sasak rambut itnggi, juga ada yang di blow sempurna dengan bulu mata melengkung tebal.
Bagiku semua seperti sedang mengikuti karnaval.
Berlebihan.
Aku melirik Nona, wajahnya masih merah karena malu dengan ucapanku tadi.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa punya anak? Atau memutuskan untuk childfree?” bisiknya. Ia agak menarikku ke bawah agar suaranya bisa terdengar olehku. Perbedaan tinggi badan kami yang mencolok terkadang memang membuat ku tidak terlalu bisa mendengarnya kalau ia berbicara dalam posisi kami sama-sama sedang berdiri.
“Kita masih bisa adopsi anak,” bisikku.
“Duh, dasar Tuan Besar,”
“Dan satu lagi,”
“Apa lagi, sih?!” Nonaku sewot. Ia tampak kesal denganku.
“Aku suka gaya d****y style, tapi dengan posisi kedua tangan kamu terikat di belakang punggung dan agak kuangkat sedikit jadi...AOW!!” ia mencubit pinggangku.
“Diam, dasar bejat!” bisiknya menahan geram. “Kamu nikahi aku dulu, baru minta gaya aneh-aneh. Yang pertama kuharap kamu berlaku lembut, karena itu pertama kalinya bagiku,”
“Hah?”
Astaga,
__ADS_1
Aku kini shock.
Aku terdiam dan bagai kerbau dicucuk hidungnya, aku berjalan tanpa bisa berpikir dan hanya bisa mengikuti langkah Nona.
Karena seketika sengatan kaget langsung menyerang kepalaku, membuatku terdiam beberapa saat.
*
*
Kekasihku Sang Perawan,
Tidak seharusnya kau datang padaku Si Bajingan
Tak takutkah engkau menyesali semua aksi sialan
Kuntum-mu yang tak ternilai itu kau suguhkan ke hadapan kelamin preman
Kekasihku si anggun nan suci
Mendengarmu masih kuncup rasanya aku ingin lari
Tak pantas kuanggap diriku yang hina ini
Bukan aku yang seharusnya merenggut cinta murni
Besarnya perasaanku membuatku urung memiliki
Kekasihku, si anak dara
Kuharap kita bertemu saat sudah sama-sama ternoda
Agar tak carut marut hati ini berpikir tentang dosa
Semakin kau mendekat padaku semakin mundur aku melangkah
Ulang kali ku berpikir pantaskah aku mencinta
(Septira, 2022)
*
*
Hari ini, aku kembali jatuh cinta.
Sekaligus takut.
Aku takut melukai cintaku.
Yang kurasakan saat ini tak karuan, Nona menggenggamku erat-erat seakan tak ingin kehilanganku, tapi aku malah semakin enggan bersamanya.
Kuanggap diriku tak pantas mendampinginya. Lancang sekali manusia bang-sat sepertiku merayu Sri Baginda. Dia yang bahkan kulitnya saja tidak boleh disentuh orang lain, durjana sepertiku bagai bandit merenggut paksa harta orang tuanya.
Ah, sekarang aku malah merasa pukulan Pak Dias kemarin tidak seberapa dibanding melihat putrinya yang masih perawan ditelanjangi oleh manusia bejat sepertiku.
Sungguh hina aku ini.
Perlakuanku terhadap Nona sama sekali tak pantas, kubermain kata-kata seakan dia sudah mengalami semuanya.
Kumengkhayalkan dia dan kubicarakan fantasi liarku dengannya seakan dia sama-sama iblis sepertiku.
Salah besar Danar Sanjaya. Kamu memang pantas dapat azab!
“Danar?”panggilnya.
Dia menatapku sambil bertanya, alisnya terangkat. Sepertinya dia menyadari raut wajahku yang berubah. “Kenapa diam saja?” tanyanya.
“Maafkan aku,” gumamku. Rasanya tenggorokanku langsung kering.
“Maaf?”
“Danaaaaar!” sebuah teriakan penuh geram dari ujung sana mengagetkan kami.
Kami menoleh ke sumber suara
Kedua kakakku di sudut ruangan dengan wajah merah karena marah menghampiriku.
Aku bahkan sudah tak ingin lari, rasanya tubuhku mati rasa.
Bukan karena takut akan amukan kakak-kakakku.
__ADS_1
Tapi karena takut untuk menyakiti hati Nona lagi.