
Tapi kenapa aku masih saja berdiri di tempatku? Terpaku tak bergeming dengan kaki yang tiba-tiba sangat berat, seberat cintaku padamu. Nafsuku menggebu, namun otakku berpikir lebih logis.
Ia berujar, Danar, berpikirlah. Kenapa bisa semudah ini?
Sialan! Padahal aku sudah senang.
“Kenapa?” tanya Nona dengan mata masih sayu menatapku, “Kamu curiga padaku?”
“Semacam itu,”
Nona tersenyum padaku, kilatan matanya nakal.
“Sejak perbincangan kita semalam, aku berpikir berulang-ulang. Mau kuapakan hubungan kita,” ia akhirnya beranjak, membiarkan handuknya jatuh ke lantai.
Tenggorokanku langsung kering. Aku menelan ludah.
Kurasakan setiap inci kulitku bereaksi, aliran darahku menjadi lebih kencang. Listrik statis mulai timbul dan menyebar, ketidakseimbangan pompa jantung ke seluruh bagian tubuhku menimbulkan reaksi pusing di dahiku..
Dengan kata lain, aku gugup sekaligus bernafsu.
Baru kali ini Danar Sanjaya mundur selangkah ke belakang.
Bahuku menabrak dinding.
Aku tersudut.
Tapi, bukan terdesak yang mengkhawatirkan.
Aku diantara dua pilihan.
Mendorong tubuh lembut itu dan keluar kamar, atau diam di situ dan mengikuti permainan.
Aku pernah melihat tubuh mungil ini seutuhnya, namun dia ketakutan. Perlahan rasa trauma dalam diriku menjadi-jadi. Aku tak ingin melihat raut wajah semacam itu lagi, apalagi saat itu ditujukan kepadaku.
Saat ini dia mungkin sudah mempersiapkan segalanya, hatinya, niatnya, dan keberaniannya. Dan seharusnya setelah sekian lama menunggu aku menyambutnya.
Tapi,
Semakin besar aku mencintainya, semakin aku tak ingin merusaknya
Semakin besar rasa sayangku timbul, semakin ingin aku menjaganya dari diriku sendiri
Semakin aku memilikinya, semakin aku urung menyentuhnya.
Aku takut tubuh ini rapuh, hancur oleh tanganku.
Tapi aku juga takut dia kecewa akan penolakanku,
Kami sudah pernah berselisih paham, aku tak ingin yang kedua kalinya. Nona haruslah nyaman terhadapku, kini yang ada hanya keterusterangan dan penyerahan seutuhnya.
Jadi, saat dia mendesakku dan mendekatkan bibirnya ke arahku, aku menyambut ciumannya. Namun ringan saja.
Hanya ciuman sekilas yang tidak intens.
Dia mengernyit menatapku, tampak keheranannya.
Lalu kupeluk dirinya, sambil kukecup dahinya.
“Aku ingin hubungan kita tidak dinodai kekhilafan,” kataku akhirnya.
Dia hanya diam di pelukanku.
*
*
Ciumanmu sayangku,
Bagai panas dingin jadi satu
Lembut membelai buatku rindu
Erangan intim buatku candu
Ciumanmu sayangku,
__ADS_1
Kau dan aku menginginkannya
Setiap desahmu setiap nafsuku
Peraduan bibir kita jadi pintu awalnya
Ciumanmu sayangku,
Noda Romansa dalam panggutan
Tenggelam dalam nikmatnya madu kehidupan
Kini memilikimu bukan sekedar impian
(Septira, 2021)
*
*
Siapa wanita tercantik yang pernah ada di muka bumi? Atau di hidup kalian? Kebanyakan laki-laki biasanya menjawab Aphrodite, Sang Dewi Venus. Walaupun kalian belum pernah melihatnya secara langsung, dengan banyaknya dongeng yang kita dengar sejak kecil, secara tak langsung sudah tertanam di sanubari.
Namun, bagaimana jika kemudian hari, kalian bertemu dengan wanita yang menurut kalian lebih cantik dari Sang Dewi itu? Standar kecantikan selalu berubah setiap saat, wanita cantik di otak kita juga berubah seiring perkembangan zaman.
Dulu, saat kecil, trend alis tipis segaris sedang booming, kurasa wanita dengan hal itu sangat cantik. Namun perlahan, seperti saat ini, alis nona yang kecoklatan dan tebal terlihat lebih menarik di mataku.
Tapi dengan bentuk wajah seperti itu, ia tak memiliki alis pun rasanya masih tetap cantik.
Penampilan Nona saat ini, lebih cantik dari patung Aphrodite. Bagaikan siap untuk melahirkan Eros bersamaku. Sang Cupid yang senantiasa membantu pasangan yang ditakdirkan bersama lewat panah cintanya. Mungkin aku pun termasuk korban si Cupid.
Dia dengan lancang duduk di pangkuanku, memintaku untuk menaikan resleting gaunnya.
Masih saja kau menggodaku, Nona? Aku tak perlu kau goda pun sudah pasti menghamba.
Perlahan kukaitkan ujung resleting dan kunaikkan. Kuperhatikan setiap bagian kulit yang pelan-pelan tertutup.
Di ujung kaitan, aku tak tahan untuk tidak mencium punggungnya.
Mulanya sekilas,
Namun lidahku merasakan candu,
Dua kali lagi,
Tiga kali lagi,
Tak terasa sudah sampai tengkuk Nona.
Aku pun berhenti karena menyadari kalau ini bisa jadi lebih jauh.
Terdengar gumaman Nona. Ia terdengar menikmati setiap sentuhan bibirku yang semakin intens mengecap.
“Sebentar lagi akan dinodai kekhilafan kalau kamu meneruskannya,” kata Nona.
Aku terkekeh, dia benar.
“Kamu bahkan sudah tak bisa menahan diri,” ia menggerakkan pinggulnya, merasakan anggota tubuhku yang menegang di bawah bokong padatnya. Rasa nyeri langsung datang, nyeri yang berbeda menyerang sampai ke pinggang, dada dan kepalaku.
“Hehe,” aku terkekeh sedikit, lalu menyibakkan rambutnya kembali ke punggung.
Lalu Nona beranjak dari duduknya, dan memilih sepatu di rak.
Berbagai warna, berbagai merk, berbagai model, mungkin ada ratusan jumlahnya. Dan dia memilih sepatu hak tinggi dengan warna salem, sesuai warna dressnya, yang memakai aksen tali sebagai pengait di mata kakinya.
Ia mengangkat kakinya, mengenakannya, lalu meletakkan kakinya yang belum terikat di atas dadaku. Memintaku mengaitkannya.
Dan saat itu terdengar ketukan dari luar kamar.
Pak Dias dan Nyonya masuk ke dalam kamar Nona, tepat saat kaki Nona masih di atas dadaku dan aku mengaitkan tali sepatunya.
Kami berdua menoleh ke Pak Dias.
Terdengar pekikan tertahan Nyonya. Pak Dias menatap bergantian antara aku ke Nona ke aku ke Nona lagi.
Lalu dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya tidak tahu siapa yang lebih bucin di antara kalian, yang saya tahu pernikahan kalian harus dipercepat,"
Sementara Nyonya hanya memandangi kami sambil menutup mulutnya dan tersipu. Lalu ia melirik Pak Dias dengan sinis.
Aku tersenyum ke Pak Dias, kukecup kaki Nona, disertai desisan terharu Nyonya, lalu beranjak berdiri.
"Kalau begitu, saya akan kabari ayah dan kakak-kakak saya siang ini. Mudah-mudahanan saya masih diterima sebagai keluarga,"
"Ya ya ya cepatlah sana kau hubungi," Pak Dias melambaikan tangannya kepadaku.
"Ngomong-ngomong, ada apa Ayah ke sini?" tanya Nona.
"Ayah cuma mau bilang, kalau Danar ayah pecat jadi driver kamu,"
Aku tegang.
Nona menghela napas. Mungkin dia berpikir, ada apa lagi kali ini.
Pak Dias hanya mengangkat bahu, "Ayah hanya tak ingin punya menantu seorang driver. Danar harus kembali ke posisinya semula, jadi Bos,"
Aku dan Nona kini saling bertatapan dengan senyum lega di wajah kami masing-masing.
"Ah, lalu... Kurangilah intensitas kalian bersama, kalian belum resmi terikat. Nondi, sementara untuk menggantikan Bis Isma, Nimas akan jadi ART kamu. Ada-ada saja kamu, masa laki-laki kamu jadikan art... Jangan-jangan Danar juga merangkap budak," Omel Pak Dias.
Aku menyeringai tanda kalau aku mengakui perkataannya.
"Astaga," Pak Dias mengangkat tangannya tanda menyerah "Kayak telenovela romantis kesukaan ibumu! Sudah bukan areaku lagi soal cinta-cintaan begini, aku dan ibumu jatuh cinta malah setelah menikah,"
Pak Dias merangkul nyonya dan keluar dari kamar Nona.
Nona duduk di sofa sambil terkikik. Aku menghampirinya dan berlutut di depannya.
Kuraih jemarinya, dan kukecup punggung tangannya.
"Mau sarapan dimana? Pakaian kamu rapi," tanyaku.
"Setelah sarapan, kita akan ke acara undangan pertunangan Siska," Nona membelai pipiku.
"Yang dokter kulit kamu itu?"
"Iya, dia,"
"Kamu akan bertemu teman se-geng sosialita yang kemarin. Yang kamu bilang nggak akan mau diajak kumpul-kumpul lagi,"
"Aku sudah lebih percaya diri, karena kamu sudah jadi milikku," kata Nona sambil mengalungkan lengannya di seputar leherku.
Matanya menatapku dengan puas. Bibirnya merekah seindah mawar mekar.
Aku tak menjawab, hanya tersenyum saja.
Jadi, kemungkinan kemarin saat Nona ngambek dan minta pulang cepat- cepat dari cafe, mereka sedang membicarakan diriku sebelumnya.
Bisa juga dirimu ini cemburu.
Kukecup dahinya untuk menyemangati. Ia menatapku dengan sendu, seperti sangat sayang padaku.
Tampaknya aku sudah dimaafkan.
"Dasar buaya, pantas saja kau jadi idola. Caramu memperlakukan wanita lumayan romantis," sahutnya sambil menusuk kuku telunjuknya ke pipiku.
Sakit, dan perih.
Tapi seperti biasa, aku suka.
Melihatku meringis dia makin jadi menggores kukunya lebih dalam.
"Hm, kata siapa aku diidolakan?! Lagipula kamu nggak bakal percaya kalau hanya kamu yang kubiarkan menyiksaku bertubi-tubi," kataku sambil meraih tangannya dan menjauhkannya dari pipiku. Bisa mengundang pertanyaan kalau aku muncul di acara pertunangan dengan goresan berdarah di pipi.
Kalau tak salah Mbak Windy memang pernah menginfokan kalau ada acara pertunangan Dokter Siska. Tamunya dari kalangan businessman. Aku sudah menginstruksikan Mbak Windy supaya menggantikanku datang.
"Jadi, kamu mau dipukuli lagi?! Aku dituntut nggak nih kalau kamu sampai sekarat?!" sepertinya dia sedang mengancamku.
"Asalkan setelah itu kamu bisa mengurusi pekerjaanku sih, tak masalah bagiku," jawabku. Kau tusuk jantungku sekalian juga tak masalah.
Aku akan mati dan menghantuimu sampai kau ikut aku ke liang kubur.
__ADS_1
"Wah wah, biar kupikirkan apa yang harus kulakukan padamu sambil kita jalan-jalan," kata Nona sambil mengecup rahangku sekilas.
Lalu ia menggandengku untuk keluar dari kamarnya.