Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Aku melihat tubuh indahnya terbaring di ranjang hotel. Lekukan ringkih menyatu dengan alasnya bagaikan sehelai kain sutra dilemparkan begitu saja.


Pipinya kemerahan, bibir tipis yang terbuka sedikit menyunggingkan senyum tipis yang manis bagai sangat menikmati buaian kasur. Aku yang melihatnya merasa menjadi laki-laki seutuhnya. Wanitaku puas bermain denganku, ia nyaman setelahnya, pertanda kejantananku bukan hanya nama anggota tubuh tapi sudah menjadi sosok kepribadianku.


Aku saat ini baru selesai mandi. Handuk masih tersampir di pinggulku.


Kuhampiri Sang Juwita dari belakang, aku tidak tahan untuk tidak mengecup bahunya yang telanjang, mengkilat berwarna gading, dan tampak manis. Perlahan kuperluas kecupan itu ke lehernya, ke pipinya.


Terdengar gumaman senangnya. Ia terkikik geli.


Aku menggodanya sedikit dengan gigitan kecil di daun telinganya. Ia mende-sah. Nona menyukai perlakuanku.


Tanganku menaikkan roknya sampai pangkal paha, lalu kubelai sepuasku. Kuremas dengan lembut bokong kencangnya, lalu kuselipkan salah satu jemariku ke area sempitnya.


Pinggulnya mundur, memintaku berbuat lebih jauh. Ia mencengkeram bantal yang ditidurinya dan bergumam, bibirnya melantunkan nada bersuara vulgar, membuatku semakin bersemangat bermain dengan tubuh indahnya.


Saat tangannya terangkat kebelakang dan menjambak rambutku, gerakan jariku semakin cepat.


"Bisa-bisa kamu diperawani jariku," bisikku.


"Silakan, kalau kamu tega,"


Curang...


Kamu tahu aku tak akan tega.


Jelas-jelas aku sudah bertekad tidak akan menyakitimu.


Cengkeramannya di rambutku semakin kuat, menarikku untuk maju ke arahnya. Ia menciumku lembut.


"Ayah menelponku barusan," bisikku. Ia berhenti menyerangku.


"Mau bertemu beliau malam ini?" tanya wanitaku.


"Besok pagi. Hari ini kuhabiskan denganmu saja,"


Ia cekikikan saat aku menciumi lehernya. Tubuhnya yang tampak manis membuatku semakin ingin menjelajahi setiap bagiannya, ingin mempelajari area sensitifnya, ingin memuaskannya dengan sentuhan erotis.


Rasanya bahagia sekali bisa sedekat ini dengan wanita idamanku.


Sekaligus tak percaya, aku bisa layak untuknya.


"Danar," bisiknya.


"Ya?"


"Kamu akan jadi suamiku, kan?"


Apa yang membuat Nona tak yakin padaku?


"Tentu," jawabku. Tapi hati ini rasanya tak tenang. Nada suara Nona terdengar ada setitik kecurigaan.


"Berapa wanita yang pernah tidur denganmu?"

__ADS_1


Aku diam. Tak ingin kujawab. Hanya membuka masa lalu yang berakibat buruk ke masa depanku.


"Berapa banyak wanita yang kau cium sepertiku tadi?" Pertanyaan lain, padahal yang tadi belum bisa kujawab.


Jawabannya, tidak ada yang pernah kucium sepenuh hati seperti Nona tadi. Tapi apakah ia percaya padaku?!


"Yang akan kunikahi hanya satu, kamu. Dan kujamin tak akan kubiarkan ada wanita lain yang mengganggu kita setelah kamu jadi istriku,"


Jawaban diplomatis dariku.


"Hm," Nona menegakkan duduknya dan bersandar. "Aku harus tahu macam-macam darimu, karena aku akan memberikan diriku seutuhnya padamu. Aku harus yakin kamu bukan orang yang salah,"


Aku memandangnya. Aku merasa wanita di depanku ini sangat cerdas. Dominasinya padaku tidak memaksa, tapi mengikatku dengan aku menghampiri secara sukarela.


"Mungkin aku orang yang salah untukmu," gumamku. Aku tidak terlalu percaya diri. Bukan masalah tidak bisa menghidupinya setelah menikah atau mengambilnya dari ayahny, tapi aku tidak percaya diri karena aku merasa tidak akan menjadi suami panutan.


"...tapi kamu wanita yang kuinginkan. Aku tak peduli seberapa jauh kamu menghindar, aku akan mengikutimu,"


"Setelah kamu mendapatkan aku, apa yang akan kamu lakukan? Membuka segelku, memakanku, lalu membuangku ke tempat sampah?"


Sinis dan sarkarme, Nona.


Tapi itulah dirimu, bicara apa adanya.


"Non, ibarat permen. Kubuka bungkusnya, kumakan, kutelan, gulanya mengalir dalam darahku selamanya. Sampai disitu saja. Kalau aku diabetes gara-gara gula darimu ya kuterima. Karena dari awal aku sudah tahu resiko makan permen,"


"Karena permen tak ada ampasnya..." Nona tersenyum sinis, "Dasar perayu, aku makin tak yakin kalau aku adalah satu-satunya," ia mengumpat.


"Terserah kamu," aku menyerah, tak tahu lagi bagaimana meyakinkannya. Tapi aku tahu, dia juga jatuh cinta padaku. Seburuk apa pun kelakuanku di masa lalu ia akan selalu jadi milikku.


Caranya bergerak terhadap sentuhanku, ragu-ragu tapi memaksakan diri untuk terus maju, seakan tak ingin mengecewakanku. Ia takut tapi mencoba percaya padaku. Setiap inchi kulitnya bergetar saat kusentuh. Bahkan tangannya dingin sepanjang pergumulan kami.


Tapi ia mencoba kuat.


Ia tidak terbiasa dengan laki-laki.


Ia tidak bilang, tapi kunilai berdasarkan pengalamanku saja. Reaksinya berbeda dengan wanita manapun dalam hidupku.


Dan malam ini, aku semakin mencintainya.


Kami menghabiskan waktu di kamar hotel sambil berbincang, bercumbu, saling merangsang, tidur berpelukan.


Rasanya, waktu disediakan hanya untuk kami berdua.


*


*


Pagi ini, aku masih jatuh cinta.


Tapi kehidupan harus tetap berjalan.


Setelah mengantar Nona pulang tadi malam, yang kuingat terakhir adalah kami berciman lama sekali, di dalam mobil Nona.

__ADS_1


Lalu, setelah aku menaiki motor butut pinjaman, ayahku menghubungiku lagi. Memintaku datang pagi ini untuk pembicaraan Ayah-Anak yang sekian lama kuhindari karena banyaknya ego yang tercampur.


Jadi, hari ini dengan berat hati, aku pun menemui beliau di rumahnya.


Saat dua Raja bertemu, apa yang mereka bincangkan?


Apakah saling menceritakan keadaan negerinya? Ataukah saling berbagi nasehat mengenai mensejahterakan rakya?


Kenyataannya, dalam sebuah keluarga, Ayah dan Anak laki-lakinya jarang ada yang sepakat mengenai suatu pemikiran. Ada, tapi jarang.


Karena pada dasarnya, keburukan seorang ayah akan diadaptasi 10 kali lebih buruk oleh anak laki-lakinya, begitupun kebaikannya. Anak laki-laki belajar hidup dari melihat tingkah laku ayahnya, lalu memodifikasinya sedikit agar pas dengan kepribadiannya sendiri.


Dan caraku berinteraksi dengan wanita juga mengadaptasi dari cara ayahku memperlakukan ibuku.


Aku melihat ayah selalu tertawa kepada ibu. Ia keras ke anak-anaknya, tapi selalu bersikap lembut ke ibu. Tatapannya menunjukan rasa cintanya ke ibu.


Tapi ayahku tidak suci. Beberapa kali aku memergokinya berbuat nakal. Mencoba-coba sesuatu ke gadis-gadis muda.


Namun ia selalu kembali ke ibu.


Aku tak tahu apakah ia mengakui dosanya ke ibuku tapi sampai sekarang mereka tetap harmonis.


Dalam hal pekerjaan, walaupun ayah ahli strategi dan ulet bekerja, namun ia sering mengeluh. Ini-itu semua dikeluhkannya dari hal kecil sampai hal besar, dari hal ringan sampai berat. Kalau bisa dibikin sulit kenapa harus dibuat mudah?! begitu yang kulihat selama ini.


Sehingga, aku pun menganggap pekerjaan terutama hal yang berkaitan dengan ayah adalah sesuatu yang menyulitkan dan menyusahkan. Kami anak-anaknya jadi tidak termotivasi untuk meneruskan kerajaannya.


Mungkin itu sebabnya kenapa Devan dan aku terlihat tidak tertarik. Kalau DImitri, dia bertekad untuk menguasai semuanya dan merubah semua ketentuan yang dibuat ayah menjadi versinya sendiri. Sayangnya, hal itu sepertinya masih lama terwujud. Sampai sekarang dia masih didikte ayah.


Dan inilah... rumahku, istana ayahku.


Aku bahkan lebih nyaman tinggal di kosan kumuhku dibanding di rumahku sendiri.


Beberapa sekuriti menatapku sambil mebelalakkan mata karena aku datang dengan motor butut bersuara berisik milik Paksunya Mbak Windy.


“Tolong dijagain, ada nilai historisnya,” sahutku ke Pak Sukimin, si penjaga gerbang.


“Siap Pak!” ia menghormat padaku.


Aku pun berjalan dengan malas memasuki pintu depan.


“Akhirnya kamu pulang juga bocah ndableg!” gerutu ayahku. Ia menungguku di depan pintu, serasa aku anak gadis yang sudah tengah malam belum pulang juga. Tapi setidaknya aku masih merasa diakui sebagai anak karena beliau rela menungguku.


“Ayah...” aku mencium tangannya.


“Ada apa sih sama kamu, kelakuan kamu itu bikin umur ayah pendek,”


“Ayah sudah 65 masih sanggup teriak-teriak, kelihatannya sih panjang umur,”


“Jangan kurang ajar kamu,”


Aku hanya tersenyum jahil. Karena umur panjang belum berarti barokah. Hanya masih diberi kesempatan lebih lama untuk bertobat. Kurang sayang apa Tuhan sama ayahku?!


“Ayo masuk, ayah mau bicara berdua saja sama kamu,”

__ADS_1


Aku menghela napas berat sambil mengikutinya. Saat Ayah mengajakku bicara hanya berdua, yang ada hanya rasa sesak. Ada hal yang membuatnya sangat kecewa pada diriku, dan sampai-sampai ia sudah tak sanggup marah lagi.


Jangan kuatir ayah, aku memang kelihatannya mendurhakaimu. Tapi aku tetap sayang padamu.


__ADS_2