Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Buttercream


__ADS_3

Sejak malam itu, hari-hari kami tak sama lagi.


Dewi Pagiku selalu berusaha menarik perhatianku, sementara aku malah berusaha membuatnya terus menerus kesal. Hanya taktik untuk membuatnya penasaran.


Dan aku sangat-sangat-sangat menikmati perlakuannya padaku.


Ia bagaikan jalinan anggrek terangkai di dinding emas. Mekar dengan anggun, sekaligus eksklusif dan special.


Dalam waktu sehari Nona-ku berpakaian provokatif. Dengan berbalut handuk, menyuruhku menjilat rasa manis yang terbalut di anggota tubuhnya.


Bagaimana ceritanya?


Jadi, pagi itu aku dengan bersemangat berangkat ke kantor keduaku, yaitu rumah Nona. Seperti perintah awal, selama seminggu, demi menebus kesalahanku padanya menjebaknya dalam derasnya hujan di luar mobil sehingga dia terlambat menghadiri meeting penting yang mana sebenarnya adalah kantorku, aku menjadi ART menggantikan Bik Isma yang sedang pulang kampung.


Kalau ayahku tahu aku menginvestasikan uangnya di perusahaan Nona, bisa makin mengamuk Pak Tua itu. Dan juga jangan sampai orang tua Nona tahu kalau dia dapat nasabah dari Jade Construction. Walaupun sebenarnya didepositokan atas nama anak usaha, tapi yang namanya kebohongan pasti akan terungkap.


Motor bututku berjalan masuk ke dalam gerbang raksasa, motor itu kupinjam dari suami Mbak Windy, dan benar-benar butut. Supra tahun 2004 yang knalpotnya bunyi tekotekotekotek seperti ayam sakit amandel.


Bukannya Mbak Windy melarat, bukan. Tapi memang suaminya memiliki hobi bongkar pasang dan modif motor. Dan yang diberikan padaku termasuk bahan eksperimennya.


Memasuki rumah Nona yang sepi, menyusuri lorong berdinding marmer putih, dan bertemu dengan Haidar, kakak Nona yang sedang termenung menghadap jendela besar yang mengarah ke taman.


“Pagi, Pak,” sapaku.


Pria itu menoleh dan menatapku sayu. “Hei, Danar. Pagi banget kamu, Nondi kan berangkat jam 10?”


Iya, aku tahu ini masih jam 5.30 pagi. Ini akibat aku tak bisa tidur semalaman.


Dan dia sebut Nondi, singkatan dari Nona Dias. Hanya karena dia malas memanggil adiknya dengan nama 'Nona', kesannya seperti Nona Muda aristokrat.


Aku belum pernah bertemu Haidar sebelum bekerja dengan Nona. Tapi mendengar namanya sudah sering.


Kami bisa dibilang rival di dunia finansial. Gara-gara dia, kami pun ikutan mendirikan perusahaan keuangan. Lumayan cuannya, dana diputar untuk kegiatan konstruksi kami.


Dulu, saat Aku mengeluarkan aplikasi pelayanan mandiri, eh, dia ikutan.


Dia merintis layanan ‘satu kartu untuk semua’, eh aku pun ikutan.


Bisa dibilang, kami bersaing untuk tumbuh.


Karena tidak menemukan lawan seimbang lain. Lumayan bisa memacu adrenalin, sih.


Dan kuharap, dengan adanya aku di sini, aku jadi bisa memata-matai pergerakan berikutnya.


“Iya, Pak. Saya disuruh menggantikan Bik Isma jadi pembantu,” jawabku.


Ia mengangkat alisnya, “Hah?” hanya begitu bunyi dengusannya.


“Pak Hai kan tahu, Nona nggak suka diurusin orang lain,”


“Iya tapi kenapa harus kamu?”


“Saya juga ingin bertanya hal yang sama,”


“Aneh-aneh saja deh, jangan-jangan Nondi suka sama kamu,”


Aminkan saja.


“Saya juga ingin bertanya hal yang sama,” sekali lagi itu jawabanku, “Tapi keburu diambekin,” sambungku.


“Saya hubungi agen penyalur deh, minta gantinya. Kerjaan Bik Isma itu dari mulai nyuci baju, nyapu, ngepel, dan salon segala, loh. Memang kamu bisa?”


Aku tak ingin digantikan orang lain, karena ini cara kami agar bisa lebih intim.


“Kalau yang begitu sih, kalau Nona mau sudah dari kemarin dia telpon sendiri agen penyalurnya, Pak,” kataku.


“Oh iya ya, benar juga...” Haidar menurunkan ponselnya, tak jadi menghubungi agen.


Tiba-tiba benakku menggelitik. Ada bahan pacu jantung di depanku, berdiri dalam balutan manusia eksekutif, dan aku akhir-akhir ini sebal dengan Mbak Windy yang semakin sering mengomeliku, Bosnya sendiri.


Ya, memang dia mengomel gara-gara aku,sih. Tapi ya aku ini Bosnya loh.


Jadi aku ingin sedikit mengerjai Mbak Windy agar kerepotan, dan jantungnya terpacu.


“Pak, ada aplikasi yang bisa buat customer service bicara secara online face to face lewat ponsel nggak sih di Banknya Pak Hai? Kemarin ATM saya error dan jawabannya hanya : ditunggu, petugas OTW,” aku pura-pura mengeluh.


“Wah, ide bagus. Belum ada sih, tapi ada tawaran pakai AI dari Amethys Tech untuk aplikasi mandiri,” Mata Pak Hai berbinar.


(AI : Artificial Inteligence. Robot komputer yang pinternya ngalah-ngalahin manusia dan digadang-gadang sebagai cikal bakal terminator. Becanda... tapi serius.)


“Ya Pak, kan asyik kalau bisa zoom face terus bilang, mbak, saya pencet apa ini? Terus arahin layar ke mesin ATM, dia kasih kita arahan juga gampang. Juga mungkin bisa tunjukin kita lokasi atm terdekat sambil ngomong, belok kiri paaak, lewat portal paaak, nah ini rumahnya Raffi Ahmad ada ATMnya pak, itu kelihatan dari sini,”


Ia terkekeh,“Kamu modus saja, biar bisa sekalian godain mbak-mbaknya kan?!”

__ADS_1


“Ngapain juga saya godain robot?”


Dan beliau cengengesan.


Aku meninggalkannya yang langsung sibuk dengan ponselnya, sementara kekirimkan pesan singkat ke Mbak Windy.


'Mbak, terima tawaran dari Amethys tentang aplikasi peer to peer yang proposalnya dikirim ke kita minggu lalu. Sekalian cari programer khusus untuk menangani sistemnya,'


Tak berapa lama Mbak Windy pun membalasnya,


'Nggak suruh saya baring di rel kereta Manggarai, Bos? Biar jadi setan budeg sekalian,'


Yak, dia kesal. Misiku berhasil.


Kembali ke Nona, aku pun melanjutkan perjalanan ke arah kamar Nona di lantai 3. Naik lift sebentar, menyusuri lorong, say Hi ke ART lain yang sedang sibuk bersih-bersih, beri salam ke Ibu Nona, Si Nyonya, aku memanggilnya begitu, yang sedang mengomel ke florist karena bunganya kurang matching sama karpet persia yang baru.


Aku sedikit menggodanya,


“Bu,” aku berdiri di sebelah wanita paruh baya itu, “Warna pelangi bukannya simbol LGBT ya?”


Dia terpekik kaget dan matanya melotot padaku, “Astaga! Kamu benar! Saya lupa! Hei, pakai yang bunga merah, hijau dan biru saja!” dia panik dan memberi instruksi ke florist.


“Bunga yang ungu buat saya saja boleh? Mau saya pajang di kamar Nona, yang kemarin sudah seminggu sudah hampir layu,” kupikir daripada dibuang lebih baik kumanfaatkkan.


Kasihan makhluk Tuhan yang itu. Berharap mekar dengan indah menyongsong dunia, menikmati desiran angin ciptaan TuhanNya, malah harus dipotong batangnya dan ditaruh di vas sempit.


Sama saja dengan membunuhnya perlahan, seakan dia tidak merasakan kesakitan.


Belum kalau terlanjur dipotong dan dirasa kurang cocok dengan ruangan. Hanya berakhir di tempat sampah dan tidak sempat bermanfaat dipandang orang.


Kasihan...


“Ambil! Ambil! Ini bawa yang ungu dan kuning! Duh... untung kamu kasih tahu saya, hampir khilaf jadi omongan di arisan nanti!” kata si Nyonya. “Bawa juga cakenya, buat sarapan Nondi,”


Sarapan pakai cake? Kurang absurd apa, coba?!


Aku sih sudah memesan set sarapan ke chef di dapur bawah, sebentar lagi akan diantarkan ke depan pintu Nona.


Jadi, aku pun melanjutkan perjalanan ke arah kamar Nona, dengan membawa rangkaian besar Mawar Ungu, dengan beberapa aster kuning.


Aster Kuning memiliki makna kebahagiaan dan semangat optimisme. Dan mawar ungu?


Hem, artinya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Mawar, aster, melati,


Cinta buta menggerogoti hati,


Melahirkan kekaguman hakiki,


Membuat wajah berseri.


Geranium, Marigold, Matahari,


Duka akibat cinta yang pergi,


Kala gelisah mengiris hati,


Karena Sang Dewi tidak tergapai.


Krisan, Lavender, Morning Glory,


Kejujuran dan ketulusan perasaanku yang murni,


Kuyakin akan membuat kamu menyadari,


Serangan menggebu dari cinta suci.


(By : Author Sok Senja Padahal Sudah Subuh, 2022)


Aku mengerti masalah bunga karena sebagai eksekutif muda, memberi hampers ke klien adalah hal biasa. Juga untuk memikat lawan jenis.


Dan kebiasaan memberi bunga untuk meredakan amarah wanita, tidak lekang dimakan zaman.


Wanita dari zaman Nabi sampai zaman Boyband Korea selalu suka diberi rangkaian bunga, walaupun dari segi investasi benar-benar tidak berguna dan membuang-buang uang, dan semua juga tahu itu.


(Apa? Pasti mau bilang : aku juga suka Bunga Bank. Bagaimana kalau dikasih Bunga Kredit? Hehe)


Dan hariku yang sebenarnya dimulai sekarang.


Peperangan yang sesungguhnya, perjuangan yang simpang siur, taktik memikat yang dibuat seakan rumit.


Namun sebenarnya sangat sederhana.

__ADS_1


Hanya karena masalah gengsi, aku tarik ulur. Entahlah kalau Nona.


Dalam satu tarikan napas kuputar kenop pintu.


Dan masuk ke dalam ruangan keramat itu.


*


*


Aphrodite duduk di tepi ranjangnya, menatapku sendu dan menggigit bibirnya sedikit.


Tubuhnya hanya dibalut handuk putih tipis, rambutnya sedikit basah dan pipinya kemerahan.


Sekali lagi, jantungku harus tersiksa karena dipompa sangat kencang, oleh aliran darah yang dialiri listrik birahi.


Kesialan dan keberuntungan dalam satu waktu, entah berapa lama aku bisa bertahan terhadap situasi penuh gairah ini.


“Pagi banget kamu datangnya,” kata Nona sambil meletakkan ponselnya ke nakas di sebelahnya. Tampaknya ia baru saja menerima panggilan telepon. Masih tertera nama sekretarisnya di layarnya.


“Pagi, Non,” Aku meletakkan cake di atas konter dan berjalan ke arah vas bunga di samping meja rias. Kuambil bunga yang layu, dan kurangkai bunga yang diberikan oleh Si Nyonya.


“Ungu,” gumamnya pelan.


“Iya,” jawabku pendek, tanpa menoleh.


“Artinya asmara,” kudengar ia berujar begitu.


Reflek, kuhentikan gerakan tanganku. Nona tahu maknanya, akan jadi apa hari-hari kami setelah ini?


“Masa?” jawabku terkesan tak acuh, masih tanpa menoleh.


“Entah apa maksud kamu memberikan saya bunga berwarna itu,” terdengar suaranya yang pelan dari arah punggungku. Deritan rangka ranjang yang terdengar halus menandakan kalau tubuh sintalnya beranjak dari sana.


Dan desiran angin yang membawa aroma wangi tubuhnya menandakan kalau ia sedang mendekat ke arahku.


“Ini dari Nyonya, kok,” jawabku sambil tersenyum sinis, aku bermaksud membuatnya kesal.


“Huh!” ia mendengus. Dan berdiri di sebelahku, membuka tutup cake yang kuletakkan di konter.


Dari sudut mataku, kulihat jemari lentiknya mencolek buttercream putih dengan perlahan, lalu dimasukannya ke mulut dengan bibir tipis kemerahannya itu.


Astaga Ya Tuhan!


Sangat menggoda!


Kalau saja ego ku tidak lebih besar dan etika ku rendah.


Sudah pasti otakku tidak terkendali dan hatiku tidak berusaha menahan kebuasan hormon testosteronku.


“Kurang manis,” gumamnya. Suaranya serak dan lembut jadi satu.


Aku menoleh padanya,


Kulihat cake putih itu sambil mengernyit. Benarkah kurang manis? Saat tutupnya dibuka indera penciumanku malah mendeteksi adanya kandungan gula yang overdosis, membuat gigiku langsung tersugesti nyeri.


Ia kembali menyolek buttercream cake itu, lalu diangkatnya adonan lembut putih itu ke depan bibirku.


Matanya menyipit, mengintimidasiku.


Ia berbicara padaku tanpa suara.


Aku menatapnya lurus. Bergantian antara jemarinya, matanya, kuku lentik indahnya, manik coklatnya.


Keraguan melandaku.


Dan telunjuknya dimasukannya ke mulutku.


Rasa manis dan lembut langsung menari-nari di lidahku. Apakah ini krim atau memang rasa jemarinya yang menggoda rongga.


Saking manisnya, aku sampai menggigit ujung telunjuknya, kuku lancipnya menggores lidahku. Perih dan manis bercampur satu.


Lalu aku merasa jarinya semakin melesak ke dalam mulutku, seakan meminta kutelan, memicu adrenalinku untuk memainkan lidah di sepanjang buku jarinya. Dan kuhisap perlahan.


Ia mengernyit dan menarik jemarinya.


Kupandang Ia,


Wajah cantik nan sendu. Menatapku dengan waspada. Kelopak sayunya seakan bertanya, apa yang kamu rasakan wahai penyamun brengsek?


“Manis, kok,” gumamku. Aku memasang raut tanpa ekspresi.


“Maksud saya, kelakuan kamu yang kurang manis,” ia menjilat sisa krim di jemarinya yang tak terbawa lidahku.

__ADS_1


Ciuman tak langsung dari Nona Dias si wanita penggoda iman.


__ADS_2