Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Psikopat


__ADS_3

Nona, aku semakin cinta,


Padamu yang membuatku bersemangat menjalani hidup


Padamu yang menatapku dengan hina


Padamu yang sebenarnya takut tapi tetap maju


Padamu yang nyatanya semakin ketagihan menyiksaku


Bahkan lebih cinta kamu daripada negeriku.


Ia melepaskan cengkeramannya di leherku, darah menetes ke kerah kemeja hitamku.


Astaga, perihnya langsung diingat otakku! Tidak akan sirna sampai aku mati.


Goresannya akan berbekas.


Bagus!


Aku suka ini.


Aku menekan pedal gas karena lampu sudah hijau. Ia tetap mencecarku sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarganya.


"Sejak kapan kamu begini? Dari lahir? Atau baru-baru ini?" tanya Nonaku dengan alis berkerut.


Manis sekali caramu menatapku.


"Maunya sejak kapan?" tanyaku balik.


"Kamu penggemar masochist atau bagaimana?"


"Kenapa, Non? Takut?"


"Aku tanya dulu, biar bisa atur kekuatan mukulin kamu,"


Aku terkekeh. Kamu makin lama makin lucu saja. "Aku merasa bersalah sudah menyakiti hati kamu, sudah lari dan mempermalukan kamu. Sejak itu, semakin kamu 'keras' padaku, rasanya satu persatu dosaku terhadap kamu luntur," aku mengakui kekuranganku di hadapannya.


Berharap Nona memaafkanku.


"Begitu? Sakit hatiku lebih besar daripada rasa sakit yang diakibatkan hujaman kuku,"


Aku hanya diam menatapnya, tidak membalas ucapannya.


Tentu saja, Aku pun sudah tahu itu.


Fetishku terhadapmu sudah sampai pada taraf sulit dikendalikan.


"Aku benci kamu, Danar," gumam Nona dengan mata berkilat.


Aku sudah tahu itu.


"Saat ini aku ingin sekali membunuhmu,"


Aku tahu yang ini.


"Tapi pelan-pelan, kusiksa dulu sampai kamu nggak bisa senyum lagi,"


Aku juga tahu yang ini. Nona bahkan menyeringai lebar.


“Aku berharap begitu, sampai kamu puas aku baru merasa di maafkan,” gumamku. Tenggorokanku langsung kering.


Kuatir kalau Nona benar-benar akan menyiksaku tanpa perikemanusiaan. Di lain pihak aku rela dia melakukan apa pun terhadap diriku.


Apa pun, kecuali meninggalkanku.


“Bagaimana kalau aku menyuruhmu mencambuk dirimu sendiri? Masih bisa senyum?” tanyanya.


Pertanyaan konyol,


Penebusan dosa dengan cara ekstrim semacam itu sudah ada sejak abad ke 13. Walaupun aku bukan kaum radikal, bukan monastik, dan lebih memilih kamu yang menyakitiku daripada kulakukan sendiri, tapi kalau dirimu yang meminta, aku tidak akan pikir panjang.


Pasti kulakukan.


Sekali lagi, misiku adalah membuatmu jatuh cinta padaku sehingga aku bisa dengan mudah memperbaiki hubungan dua keluarga.


Kalau aku jawab ‘iya’ sekarang, apakah laki-laki dengan standar rendah seperti itu bisa merebut hatimu, Nona? Kupikir tidak akan cocok bersanding di pelaminan dengan wanita kuat seperti dirimu.


Kuputuskan, aku akan menjaga imageku, seperti kata Mbak Windy.


Kujawab,


“Tim medis standby ya,”


“Curang namanya,” gerutunya.


“Kamu masih butuh aku untuk menggantikan Bik Isma. Juga untuk menampung segala keluh kesah,”


“Keluh kesah? Makian dan sumpah serapah maksud kamu,” ia meralatku.


“Iya, begitulah,”


“Mencambuk diri sendiri, “ aku terkekeh meremehkannya, dengan tujuan membuatnya kesal. “Selain kamu cuci tangan terhadap kejahatan yang kamu lakukan, kamu yakin aku akan benar-benar keras mencambuk diriku sendiri? Darimana sih kamu bisa memikirkan hal seperti itu? Apa itu fantasi kamu terhadap lelaki selama ini?”


“Hanya padamu, kok,” jawabnya pendek.


Sangat terlihat kalau ia terpancing olehku, terpancing untuk kesal.


Sama, Nona


Aku juga memiliki kegemaran disiksa, hanya olehmu.


Mungkin kamu benar, alam bawah sadarku mendeteksi kalau itu sebagai penebusan dosa.


Karena aku hanya lelaki pengecut yang kabur dari masalah,


Tanpa kusadari kamu kesakitan akibat perbuatanku


Bahkan di kala kita belum saling mengenal saat itu


Kamu sudah sakit hati karenaku


Begitu hebatnya otak bajinganku


Bahkan di kala kita belum saling mengenal saat itu

__ADS_1


Kamu sudah meneteskan air mata karenaku


Begitu hebatnya sifat brengsekku


Bahkan di kala kita belum saling mengenal saat itu


Keluarga kita saling berseteru karenaku


Begitu hebatnya kelakuan durhakaku


Jadi saat sekarang kita sudah saling mengenal,


Silahkan puaskan dirimu dengan pembalasan,


Siksa aku sepuasmu, maki aku dengan arogan


Jadikan aku tawanan, tidak akan aku melawan


“Danar,” panggilnya.


Aku menoleh sekilas ke arahnya.


“Kamu menyebalkan,”


Aku tahu itu.


“Tapi kenapa aku mencintai kamu, ya?”


Aku tidak tahu yang itu.


“Bahkan saat kita belum bertemu, aku sudah mencintai kamu,”


Astaga, aku tidak tahu yang itu juga!


“Wanita yang mendendam hanya akan pulih kalau melihat si pria lenyap atau kena azab,”


Aku diam, mencerna semuanya.


“Bagaimana kalau sekarang kamu terjun saja dari atap gedung?”


Oke... ini mulai serius.


"Aku becanda, nggak seru kalau kamu mati mudah,"


Oke... Aku harus kuatir.


"Kamu tahu, siapa yang bisa melawan seorang psikopat?"


Aku diam menyimak.


"Psikopat lainnya," sahutnya.


Ternyata Nona mengerikan.


Aku mulai cemas.


Beruntung, kami sudah tiba di rumah Nona, aku masuk ke dalam gerbang dan kuparkir mobil tepat di depan pintu masuk.


Kami harus bicara,


Sebagai sesama psikopat.


Nona keluar dari mobil setelah aku mematikan mesin.


Aku berjalan mengikutinya.


Langkah kami agak cepat, kami berjalan masuk rumah dalam diam.


Tampak rumah penuh makanan, acara arisan si Nyonya baru saja selesai. Para pelayan sibuk membereskan perabotan sisa acara.


Tidak ada yang menyadari kami masuk rumah, semua fokus dengan pekerjaannya masing-masing.


Kami pun... Tidak ingin diinterupsi.


Kami berdua saat ini, saling tahu harus apa.


Kami berdua saling tahu harus bagaimana.


Kami berdua saling tahu, masalah harus diselesaikan secepatnya.


Jadi,


kami berdua masuk ke kamar Nona,


Menutup pintunya,


Memutar kuncinya,


Dan sekali lagi dia menamparku


Sampai-sampai aku mundur selangkah saking kerasnya tamparannya.


Ia menamparku lagi untuk kali kedua. Kali ini lebih lemah dari yang pertama.


Aku tak bergeming, tapi juga tak mencegahnya. Aku biarkan dia bertingkah sesukanya, aku biarkan ia mencurahkan semua isi hati sepuasnya.


Ia pantas melakukan ini.


Aku pantas mendapatkan ini.


Setimpal.


Aku dan dia tahu, kata-kata tidak cukup menggambarkan semuanya.


Dia menendangku dengan stilettonya, tepat kena perutku.


Karena hak sepatunya lancip dan panjang, aku tak sanggup menahan perih.


Aku tersungkur ke lantai.


Ia menginjakku tepat di atas dada.


Mencegahku bangkit.


"Apa mau kamu sebenarnya, Tuan Muda Sanjaya? Bos Danar?!"

__ADS_1


Aku mengatur napasku.


"Jawab!" Serunya marah.


"Menjalin kembali ikatan keluarga yang sudah terlanjur rusak,"


"Dengan cara apa?"


"Membuatmu mencintaiku,"


"Kamu berhasil, aku mencintaimu sekaligus membencimu. Kalau melihatmu, aku inginnya sekaligus mencakarmu!"


"Lakukan saja kalau itu bisa membuatmu puas,"


"Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadapku?"


"Aku..." Dan aku ceritakan perasaanku, semua kesalahpaham ini, kelainan seksualku yang timbul saat aku melihat Nona, dan kenapa bisa-bisanya aku malah tersenyum saat Nona mengomeliku.


Semua kuceritakan dalam posisi aku berbaring di lantai dan dia menginjakku.


"Kamu tahu tidak semudah itu keluarga kita kembali berdamai," katanya sambil melepaskanku.


"Makanya aku menyamar," aku mengelis area dadaku yang merah, ujung stilettonya meninggalkan bekas yang lumayan dalam, "Niatnya untuk mengambil hati mereka,"


"Itu juga salah, mereka malah akan menganggapmu penipu,"


"Kamu ada ide?"


Ponsel Nona berdenting, notifikasi pesan masuk.


Ia membacanya sebentar lalu menyeringai. Ia menatapku dengan berbinar.


"Aku punya cara lain," Nona mengelus daguku, "Dengan bayaran setimpal tentunya,"


"Jangan kemahalan, keuangan perusahaanku lagi genting," gumamku mengangkat daguku karena jemarinya menancap di rahangku.


"Nggak usah protes, ini semua salahmu sendiri," ujar Nona.


"Jadi bagaimana?"


"Aku pura-pura hamil anak kamu,"


Aku menyeringai, "Setuju,"


Ide konyol dari Mbak Windy. Ternyata mereka satu circle.


Hamil sungguhan juga aku ikhlas kok.


"Bayaran atas jerih payah aktingku," dia menampar-nampar pelan pipiku.


Ahiya, aku lupa yang ini,


"Kau sentuh aku, denda 1 miliar," katanya.


Nona, kamu memang kejam.


"Sekarang, buka baju kamu," sahutnya.


"Aku tak ingin di denda," kenapa sih aku masih saja jaga image?!


"Kamu tak boleh sentuh aku, tapi aku kan boleh,"


Aku mencibir. Dasar licik kamu, wahai Dewi Cinta sekaligus Dewi Maut.


Aku pun dengan enggan melepas kemejaku.


Ia memperhatikanku dengan seksama.


"Itu juga," dia menujuk celanaku dengan dagunya.


Aku menghela napas dan membuka ikat pinggangku.


Kini hanya tinggal boxer saja di tubuhku.


"Sekarang, berlutut," ujarnya.


"Eh?" Kok aku berasa De Javu ya? Seperti pernah berada di situasi yang sama.


"Berlutut Danar, kamu nggak dengar? Atau aku harus teriak, Hah?!"


"Nggak perlu teriak, Non," gumamku sambil berlutut. "Jangan galak-galak, ah. Kupingku pengang dengar suaramu teriak-teriak terus,"


"Ini gara-gara siapa, Haaaah?!" ia berteriak tepat di dekat telingaku.


Aku mengeluh sambil mengelus telingaku yang berdenging.


Dan pemandangan indah pun terjadi.


Nona melepas semua pakaiannya, hanya tersisa pakaian dalamnya, dan ia berjalan ke arah pintu kamar untuk memutar kunci pintu.


Lalu ia pun berdiri di depanku.


"Mau apa, Non?!"


"Diam saja dan nurut, Dasar Buaya!" gumamnya.


Iya, dia juga hanya diam berdiri di depanku, seakan menunggu sesuatu.


Aku pun menunggu sesuatu yang belum tampak sambil berlutut.


"Kita mau ngapain sih?" tanyaku.


"Ssst!" desisnya.


Terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku mengenal bunyi langkahnya, itu suara langkah kaki Si Nyonya.


Lalu pintu di belakangku terbuka, "Nondi, ini ada banyak cake, dihabis... Astaga Ya Tuhan!! Apa yang kalian lakukan?!"


Nyonya menjatuhkan nampan berisi cake dari tangannya. Ia tampak sangat terkejut dan shock melihat kami berduaan dengan penampilan absurd.


Aku pun mulai membaca situasi.


Nona, dasar licik kamu.


Tapi Aku Suka.

__ADS_1


__ADS_2