
Cinta membuatku melihat hidup dengan cara berbeda.
Aku mencari pasangan hidupku berdasarkan pandanganku terhadap suatu subjek. Saat aku merasa tertarik dengan seorang wanita, lalu kami menghabiskan hari itu bersama, aku membayangkan bagaimana bila di pagi hari, saat terbangun dari tidur, aku menatap orang ini?
Apakah aku hanya menatapnya sekilas lalu bangun seperti otomatis,
Atau saat menatapnya aku malah membayangkan orang lain,
Atau saat menatapnya aku malah dirundung perasaan aneh, ingin pergi dari sana, atau bahkan diliputi perasaan menyesal,
Atau saat menatapnya di pagi hari aku malah bosan.
Karena bagiku, perasaan cinta ada pada pandangan pertama, pada pandangan terakhir, pada pandangan selama-lamanya.
Jadi kita tidak akan merasa jenuh terhadap kekasih kita.
Itulah istimewanya perasaan itu. Marah, sedih, kecewa, gembira, perasaan-perasaan itu bisa menghilang seiring waktu. Tapi cinta bertahan sangat lama jika bersama orang yang tepat.
Kita tidak akan pernah menemukan alasan ketika mencintai seseorang, karena cinta sejati itu datang tanpa alasan logis.
Saat ini,
Ketika aku pertama kali melihat Nona, aku tidak pernah berhenti berpikir tentang Nona.
Bahkan keesokan harinya, bahkan sampai saat ini, dalam kondisi seperti apa pun, dalam perasaan sedih kami, kecewa kami, marahnya kami, aku tak pernah berhenti memikirkannya. Herannya aku, bahkan diri ini bisa selalu merasa nyaman berada di dekatnya.
Dia mengalihkan duniaku dengan satu senyuman, dan mengalihkan hatiku dengan satu ciuman.
Kini aku tahu, arti kebahagiaan bagiku adalah dicintai dan mencintai.
Kini, saat berbicara dengan orang lain, aku malah terfokus pada dirimu di ujung sana. Aku tidak terbiasa bicara dengan kolega secara face to face, hanya orang-orang tertentu yang mengenaliku sebagai pebisnis. Kebanyakan orang di pesta di sini malah mengenalku sebagai supir pribadi Nona. Walaupun aku gila pesta, bergaul dengan banyak orang, memiliki kartu pass ke club-club eksklusif, tapi aku jarang mengenalkan diriku sebagai seorang Sanjaya.
Orang-orang lebih mengenal Dimitri sebagai pemilik tahta. Dan aku hanyalah ‘adiknya Dimitri’.
Lebih nyaman bagiku seperti itu, karena ruang gerakku menjadi lebih luas. Bisa berbuat kenakalan tanpa harus menorehkan skandal di media.
“Hoo, jadi ini Pak Danar Sanjaya? Saya sudah baca proposal bapak mengenai pengajuan kerjasama sistem AI, dan saya terkesan dengan konsepnya. Kami langsung mempersiapkan tim untuk itu” David Yudha, salah satu petinggi di kalangan pebisnis besar yang dikenal dengan julukan 12 Naga, menjabat tanganku.
“Kamu tidak pernah muncul di meeting, saya sampai berpikir kamu ini tokoh khayalannya Dimitri,” ujar istri David Yudha, Susan Tanudisastro, beliau juga termasuk ke dalam jajaran pebisnis elit. ”Apa-apa pakai nama kamu, proyek ini-itu pakai nama kamu, tapi orangnya nggak pernah muncul,”
Aku menyeringai, "Saya kurang suka bicara di depan orang,”
“Iya Devan juga begitu, sampai memilih jadi operator lapangan untuk menghindari kaum aristokrat. Ada apa sih dengan kalian para Sanjaya? Ayah kalian itu pebisnis besar sudah sepantasnya kalian ambil alih porsinya, jangan hanya Dimitri yang ambil alih. Sayang sekali loh,”
“Susan,” David Yudha menghentikan ocehan istrinya, “Kadang ada orang yang lebih memilih hidup dengan berkecukupan dibanding hidup dengan berlebihan. Mungkin Bagi Pak Danar, ini yang cukup untuk kebahagiaannya,” Pria ini tersenyum padaku seakan ia iri dengan hidupku. Mungkin ia juga ingin melarikan diri dari pekerjaannya.
__ADS_1
“Yah, gaya hidup masing-masing sih ya, yang penting isi otak kalian selalu standby biar cuan, wujudnya tak kasat mata tak masalah bagiku,” Ujar Bu Susan, sepertinya dia menyindir. Wanita ini memiliki anggapan bahwa kalangan pebisnis seharusnya saling bergaul dan memiliki tingkat kesopanan yang wajar dengan cara berinteraksi dalam wujud nyata. Hal itu dipercaya bisa meningkatkan hubungan pertemanan dan kepercayaan.
“Mohon maaf kalau selama ini saya kurang sopan, mulai sekarang saya akan lebih banyak muncul. Untuk membuktikan kalau saya benar-benar berwujud, bukan teman imajinasinya Dimitri," aku menyeringai.
David menimpaliku dengan senyuman maklum yang ramah. “Lebih baik tetap di balik layar, biar kalau ke spa plus-plus nggak dikenal netizen ya Pak Danar,” ujarnya.
Sial! Ya benar memang itu tujuannya.
Kami tertawa berbarengan.
Bu Susan hanya menarik napas jengkel sambil menyesap air mineralnya. Aku bisa melihat bibirnya membentuk kode ke suaminya berujar tanpa suara 'maksud spa plus-plus tadi apa?! Awas kamu, kalo kita sudah di rumah!'.
Aku berdehem mencari topik pembicaraan baru.
*
*
Setelah itu, kegiatanku hanya dari tamu ke tamu, memperkenalkan diri, mengobrol, menerima reaksi kaget seperti Pak David tadi, sambil mataku mencari-cari dimana Nona berada.
Ah! Si Dewi Venus Sayangku ada di seberang sana, bersama sekumpulan wanita-wanita seusia namun bergaya mentereng. Dandanan mereka yang berlebihan malah memperlihatkan kalau usia mereka tampak lebih tua dari yang sebenarnya.
Namun Nona, dengan segala keanggunannya dan penampilan sederhananya terlihat lebih mencolok. Aku tidak kesulitan menemukannya karena dia menjadi pusat perhatian padahal hanya berdiri sambil tersenyum di sana.
Cantiknya Nona,
Aku tahu, kecantikan dan belia tidak kekal,
Nona mungkin terlihat memikat karena usianya yang masih muda.
Namun Kecantikan Nona terpancar dari dalam dirinya. Caranya dia tersenyum, caranya dia memandang suatu objek, caranya dia berbicara dengan segala pemikiran-pemikirannya yang berbeda, ditambah dengan tubuh dan kulit yang terawat kuanggap bonus untuk menambah kejelitaannya, Nona bagiku satu diantara sejuta wanita.
Beginilah Cinta,
Kekasihmu adalah yang terbaik, yang lain hanya kerikil tak berarti.
Secara tiba-tiba ia menoleh, kearahku dengan sekali tolehan. Mata kami bertemu bagaikan ia tahu persis dimana aku dari tadi berada.
Apakah dia juga sepertiku, saling selalu mencari sosok masing-masing?
Lalu mata itu memberi sinyal padaku, kalau ia butuh bantuanku.
Aku tersenyum tipis, berpamitan ke lawan bicaraku, dan pergi menghampiri Nona.
Saat dekat, aku mulai bisa mendengar perbincangan mereka yang lumayan heboh.
__ADS_1
“Si Nondi sih mana bisa dia cari laki, pendiam begini jangan-jangan lo udah menopause tapi nggak ngomong-ngomong yak?!”
“Cari pacar lah Nondi, ato lo lesbi kali? Cari cewek juga boleh lah, daripada sendiri melulu bawaanya judes terus,”
“Emang lo nggak mau pesta tunangan semewah Siska begini, kan enak diliatnya,”
“Btw, driver lo keren juga, dateng kesini nggak dia?”
“Apa bener gosip itu kalo lo sebenernya simpenan Om-Om?”
“Atau jangan-jangan lo merasa udah nggak butuh cowok karena merasa bisa segalanya? Eling Nondi, harta lo tuh punya bokap lo, bukan punya lo! Lo kan menjabat cuma gara-gara anaknya Pak Dias! Kemampuan lo nggak se-gape Haidar atau Mbak Putri,”
“Dengan kata lain lo tuh kayaknya modal cantik doang. Jangan tersinggung ya, kita kan temen, semua yang kita bicarakan ini demi kebaikan lo juga,”
“Orang tu jadi bertanya-tanya lo tuh ada apa-apanya sampe ditinggalin kabur sama yang mau dijodohin ke lo, tau nggak?!”
“Sayang,” aku memeluk Nona dari belakang dan kukecup lehernya. Tubuh Nona yang tadinya tegang langsung lunglai di pelukanku. Ia memejamkan matanya seakan menahan tangis. “Kamu udah selesai? Aku mau makan BERDUA sama kamu aja di balkon,” sahutku sambil mengecup kening Nona.
Terlihat wajah kaget dan bengong dari wanita di sekitar Nona.
“Eh? Kamu bukannya drivernya...”
“Dia tunangan gue, bukan driver,” sahut Nona.
"Selamat Siang, Nama saya Danar... Sanjaya,"
Tak kuduga, semua langsung heboh mendengar namaku.
"Kamu Sanjaya yang suka jadi gosip itu?! Ya ampun kamu benar-benar ada ternyata!"
Gosip apa ya yang mereka maksud? Ah! Tapi aku sebenarnya tak peduli juga.
“Gue capcus duluan, oke?! Lo semua tungguin aja undangan nikah dari gue,” kata Nona sambil memeluk lenganku dan melambaikan tangan ke semua temannya.
Aku menarik pinggang Nona dan kubawa menjauhi kerumunan.
Kami memasuki lift untuk ke lantai 5, ke arah hotel. Begitu lift tertutup, Nona langsung memelukku.
Dan menangis sesenggukan.
Aku menghela napas menyesal, karena aku tidak datang lebih awal.
Kini aku hanya bisa menenangkannya dengan membelai rambut lembutnya.
*
__ADS_1
*