Jangan Galak-Galak Dong, Non !

Jangan Galak-Galak Dong, Non !
Sentuhanmu, Sayang


__ADS_3

Malam ini,


Kamu milikku.


Aku jatuh cinta pada bidadari bermata indah.


Rambutnya yang lebih lembut dari sutera dan kulit pualamnya yang bersinar cerah.


Namanya Nona Dias, nama yang terkesan mewah.


Tak kuasa aku menolak saat kau memerintah.


Tak bisa kutahan libido yang senantiasa mengaliri darah.


Aku mencengkeram tengkuknya dan memaksanya mendekat.


Iya, aku agak kasar malam ini.


Mohon maaf tapi aku sedang dirundung gairah.


Ia menatapku dengan kuatir, namun tampak tak gentar.


"Mau mundur atau tidak? Kujamin hari ini kamu tak akan selamat ditanganku," tantangku, kata-kata vulgar, porno dan seenaknya.


"Kamu yang memimpin," ia memberiku kesempatan.


"Kalau aku yang pimpin, saat pertamamu akan jadi traumatis,"


"Coba saja," ia menantangku balik.


Ho, baiklah kalau itu maumu Nona Dias Kesayanganku.


Aku akan menerima tantanganmu.


Suka atau tidak suka, aku akan memperlakukanmu semampuku menahan monster bernama s3xual di aliran darahku.


Aku menciumnya. Kusesap dalam-dalam bibirnya.


Kudengar ia mend3sah pelan.


Aku melepaskannya karena ingin tahu raut wajahnya.


“Danar...”


“Hm?” aku bergumam sambil mendesak Nona ke dinding.


Kuraba dadanya sambil kutatap mata besar kecoklatan itu.


Cantik,


Seperti biasa, menggairahkan.


Dan satu hal lagi yang kutangkap dari caranya menatapku, adalah...


Kepasrahan.


Lalu saat itu kusadari, dari awal dia menyerahkan dirinya padaku, secara sukarela.


Nona yang polos, mencoba nakal untukku.


Dari awal kami bertemu, dia sudah tahu aku yang sebenarnya, tapi dia tetap memikatku.


Bodohnya aku,


Bisa jadi, dari awal perjodohan, tanpa sempat bertemu dia bahkan sudah menerimaku.


Nona,


Maafkan kebodohanku,


Dan kini terimalah penyerahan diriku.


Lalu tanpa memberi aba-aba aku meraih tengkuk Nona kembali dan menariknya mendekat.


Ia suka kukasari, ia tak melawan.


Kali ini aku menghadiahinya ciuman yang cukup intens, cukup dalam, dengan sedikit permainan lidah dan sesapan menggoda, hasil pengalaman belasan tahun jadi player.


Dan tanganku?


Menyusup masuk ke celana tipisnya dan memainkan bagian tengah kewanitaannya dengan lembut.


Dia sudah sangat basah,


Terdengar pekikan kagetnya.


Aku senang dan semakin intim menggodanya.


"Aku suka kalau kamu bersuara begitu..." bisikku di sela-sela ciuman kami. Jariku menyusup masuk lebih dalam.


Dia mengeluh menahan nikmat.


“Danar, jangan terlalu...”

__ADS_1


Ahya, aku lupa.


Dia sesuci itu, dan aku adalah pendosa.


Kalau tak diingatkan aku pasti akan terus maju.


"Kamu wanita paling cantik dalam hidupku," bisikku.


Aku mempercepat gerakan jemariku. Jari tengah dan jari manisku mengerjainya berkali-kali.


"Danar..." ia kembali mend3sah.


Genggamannya di lenganku mengencang. Kukunya menancap di otot atas lenganku.


Perih,


Tapi semakin membuatku bergairah.


Peluh dan nafas memburu menjadi satu, mewarnai udara yang dingin menjadi panas.


D3sahannya akan menjadi suara yang lebih merdu dari pekikan kemarahannya. Benakku akan merekam suara itu sampai akhir hayat.


Lalu aku merasa ia sudah lepas...


Pegangannya padaku mengendur, napasnya panjang namun gemetar. Nona berusaha menguasai dirinya.


Aku?


Puas,


Hanya dengan melihatnya seperti itu aku sudah merasa menjadi lelaki yang paling jantan sedunia.


*


*


POV Nona Dias Hardiyata.


Hari ini,


Duniaku sangat indah.


Lelaki impianku terjerat jaringku, ia bahkan tidak berusaha membebaskan diri.


Juga yang lebih membuat diriku semakin merasa Tuhan masih sangat sayang padaku, adalah lelaki-ku sengaja terjaring jeratku.


Begitulah ia, Danar Sanjaya, mengakui.


Sore ini, ia mengerjai diriku.


Dia ambil tanpa malu-malu menikmati diriku, seakan aku memang adalah miliknya sejak lama.


Dan itu memang benar.


Saat ia meninggalkanku, aku bagaikan anj1ng yang ditinggal pemiliknya. Berjalan tanpa tujuan, menggonggong saat bertemu orang lain, berbuat kenakalan padahal sangat ketakutan.


Aku terengah-engah mengatur napasku.


Rasanya luar biasa.


Kelegaan sekaligus perasaan menyesal menghiasi kepalaku, membuat jantungku berdebar lebih kencang.


Ia, Lelakiku, mengusap air mataku.


Sentuhannya lembut, belaiannya menyentuh hatiku.


Tangannya yang besar itu bisa memperlakukanku dengan hati-hati, bagaikan aku gelembung yang rapuh pecah.


Aku tidak bermaksud menangis, air mata turun tanpa kusadari.


Lalu ia mengecup dahiku dengan lembut.


Dan memelukku dengan erat.


“Aku mencintai kamu,” kalimat yang menurutku romantis, namun penuh kepalsuan. Aku masih tak mudah percaya pada orang yang dengan mudahnya menyatakan cinta.


Lalu, ia berbisik lagi, “Terima kasih, sudah berkorban untukku,”


Kutarik kata-kataku,


Aku kini percaya akan kekuatan cinta.


Lalu egoku kembali muncul.


Aku dorong tubuhnya, aku ambil tasku yang kurasa cukup berat karena bagian pengaitnya dari besi, lalu kupukul dia dengan itu berkali-kali.


“Sama-sama, cowok brengsek,” gumamku.


Ia terkapar di lantai sambil terkekeh. “Jangan galak-galak dong, Non. Kamu kan juga merasa nikmat,”


“Awas kalau kamu minta macam-macam padaku,” seruku.


“Sini,” desisnya.

__ADS_1


Aku membulatkan mataku.


Apa pria di depanku ini sinting?! Dia tadi bilang ‘sini’, memangnya ia kira aku bisa diperintah semudah itu?! Pelepasanku bentuk reaksi lahiriah, bukan berarti aku bisa tunduk padanya.


“Duduk di sini,” ia menepuk-nepuk pangkuannya. “Giliranku,”


“Mimpi saja sana!” aku menamparnya.


Kutampar ia sekali.


Jemariku sampai nyeri dan panas.


Dia tak bergeming dan malah menyeringai.


Oh Tuhan, seringai itu.


Terlihat licik tapi membuatku terkesima.


Dia sangat tampan dengan senyuman sinisnya itu.


Tanganku ke atas, bersiap untuk menamparnya lagi. Ia malah maju dengan sigap mencengkeram rahangku dengan kedua tangannya.


Lalu menciumku bertubi-tubi.


“Aku butuh tanganmu,” bisiknya.


Cengkramannya sangat kuat, kepalaku terpaku di tempat.


Aku tahu apa yang ia maksud, aku bertekad tidak akan semudah itu dijatuhkan. “Aku akan meremasmu sekuat tenaga,” ancamku.


“Kamu cantik... sangat cantik...” aku mendengar ia bergumam sambil menciumi leherku, kini tangannya di belakang kepalaku, menjambak rambutku sehingga kepalaku tersentak sedikit ke belakang. Herannya, aku tidak merasa kesakitan. Malah dari sentuhannya aku merasakan suatu gairah.


Tanganku digiring ke bawah, lalu ia tempelkan diantara pahanya.


Sesuatu yang keras dan panas di baliknya.


“Tolong,” gumamnya. “Berkenankah kamu, Ratuku, untuk memuaskan hamba sahayamu ini,”


Entah kenapa aku malah tertawa. Kalimatnya yang puitis membuatku bagai diawang-awang.


Ia juga tertawa saat mendengarku tertawa.


“Agar budak laknatmu ini bisa sampai ke surga dunia?” sambungnya.


“Dasar Gila!” aku masih tertawa.


“Hehe, aku anggap itu suatu persetujuan,”


“Aku nggak tanggung yah kalau milikmu tergores-gores kuku,” sahutku.


“Terserah kamu mau diapakan,”


“Kalau kamu keluar, aku akan menempelkan cairan itu ke pipimu. Agar kita impas!” gumamku mengingat kejadian lampau.


“Kau suruh jilat juga aku mau saja,”


“Serius?”


“Bercanda,”


Berikutnya, kami pun kembali berciuman.


*


*


POV Danar Sanjaya.


Harus Dipercepat.


Pernikahan kami harus dipercepat.


Aku ingin setiap hari menatap wajah jelitanya, kemolekan tubuhnya yang pasrah meringkuk di pelukanku seperti ini, aku ingin setiap hari membelai rambut indahnya yang bersinar dan mengecup dahinya sesering mungkin.


Juga, memanggilnya ‘istriku’.


Setelah ia memberikan sentuhan sampai aku melepaskan benihku, aku mandi. Saat aku keluar dari kamar mandi, Nona sudah tertidur di ranjang.


Kuhampiri, kuelus pipinya. Ia membuka matanya sedikit lalu menarikku lebut suoaya berbaring di sebelahnya.


Dan memelukku sampai ia tertidur kembali.


Sampai sekarang aku tak kuasa bergerak. Kunikmati moment ini, kunikmati waktu yang seakan berhenti, kunikmati kesendirian kami.


Kami melakukan pelepasan masih dengan berpakaian, tanpa ia harus kehilangan kegadisannya.


Prestasi terbesarku.


Aku juga tak ingin merusaknya. Ia harus tetap tersegel sampai benar-benar kumiliki melalui sumpah di hadapan Tuhan.


Tapi,


Aku tahu, mulai sekarang kami berdua akan sulit menahan godaan s3ksual. Aku juga tak yakin akan bisa bertahan.

__ADS_1


Maaf Nona,


Mulai sekarang, seranganku akan semakin intens. Kamu mungkin akan kewalahan menghadapiku.


__ADS_2