
"Nak,ibu ingin kamu jadi orang yang sukses,orang yang berhasil dan bisa bermanfaat bagi orang lain"
"Baik,bu!!aku akan berusaha,aku juga pengin punya mainan yang bagus kaya teman-teman aku punya"
"Hehehe... Tetap semangat ya nak sampai kau dewasa.sekarang ayo tidur!!"
Aku terbangun dari tidurku yang lelap karena teringat kembali semua kata-kata dari ibu waktu masih kecil,aku merasakan jantungnya berdegup kencang sampai meneteskan air mata. "Ibu aku sudah berjanji akan membuat ibu bahagia." itulah kata yang selalu diucapkan aku setiap paginya.
Malam hari pun telah berubah menjadi pagi yang membuat orang-orang siap untuk beraktivitas kembali seperti biasa, saya pun mulai bersiap-siap untuk memulai kegiatan sekolah menggunakan seragam biru-biru. Aku kini masih kelas 3 SMK jurusan teknik kendaraan ringan,aku adalah anak tunggal yang sudah kehilangan ayah waktu kecil sekarang aku tinggal bersama ibuku di rumah yang sederhana.
"Pagi bu...!!" Sapa ku pada ibu yang masih menjemur pakaian didepan rumah yang menggunakan pakaian daster berwarna coklat muda bermotif batik. "Ehh pagi izal" balasnya.
"Afrizal berangkat dulu ya bu,assalamualaikum" salam ku sambil meraih dan mencium tangan ibuku.
"Wa'alaikumsalam,hati-hati dijalan ya nak!jangan nakal kalau dikelas nanti dan jangan patah semangat untuk meraih apa yang kamu inginkan juga jangan lupa membantu orang lain yang sedang kesusahan ya nak." ibu selalu menasehati diriku ketika akan berangkat supaya saya bisa bermanfaat untuk orang lain suatu nanti.
"iya bu,aku akan berjuang biar nanti ibu merasakan kebahagiaan kembali seperti waktu dulu." aku pun berjalan menuju ke sekolah sendirian.
Sekarang aku tinggal bersama ibu saja karena ayahnya meninggal saat saya masih sekolah TK,waktu itu aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya kenapa ayah terbaring ditengah-tengah keramaian orang yang disertai oleh tangisan ibu dan sanak saudaranya yang datang jauh-jauh.
Setelah ayahku meninggal,ibuku diam-diam selalu meminjam uang ke para tetangganya untuk menyekolahkan anaknya jika tak ada yang memberi uang,dia biasa menjadi tukang cuci di rumah tetangga mengingat hal itu aku jadi sedih dengan ibuku. Aku selalu membicarakan tentang diriku yang ingin sekali menimba ilmu di jepang kepada ibuku dan reaksi dari ibuku terlihat dari matanya yang berkaca-kaca mungkin ibu tidak ingin merasa kesepian karena aku afrizal anak semata wayangnya harus pergi meninggalkan ibunya sendiri di rumah, sebagai anak pasti tidak ingin membuat orang tuanya bersedih maka dari itu saya pun juga mempunyai pilihan lainnya selain harus pergi keluar negeri.
Aku selalu berpikiran untuk menjadi mekanik di sini dan bisa membuat ibu tidak merasa kesepian. Saat berjalan kaki,aku melihat teman-temanku berangkat sekolah dengan sepeda,sepeda motor dan juga ada yang menggunakan mobil padahal di sini desa dekat pegunungan dimana jalan-jalan desa dipenuhi oleh hijaunya sawah. Setiap aku selalu berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki karena ia tidak mempunyai kendaraan di rumah,tak terasa langkah kakinya melaju dia sudah berada didepan gerbang sekolah yang dimana para siswa masuk ke dalam.
"Selamat pagi pak" sapaku pada penjaga gerbang sekolah "oh iya pagi juga." balasnya.
Disekolah aku jarang ada yang ingin berteman denganku, aku merasa dikucilkan oleh teman seangkatanku berbeda dengan adik kelas yang selalu menyapa ketika dia berjalan meskipun mereka tidak mengenaliku.
"ih anak orang susah lagi lewat nih" semua siswa siswi selalu membisikan sesuatu tentangku.
"Jangan deket-deket dia!dia bau"
Selalu saja ketika aku berjalan di lorong sekolah aku selalu menjadi pusat perhatian oleh anak-anak lain dan selalu diomongin dengan kata-kata yang tak mengenakan di hati. Disaat saya berjalan di lorong kelas tiba-tiba ada segerombolan siswa berjalan dihadapannya dan apakah kalian tau apa yang akan dia lakukan padaku.
"Ups maaf ya es saya jatuh di sepatumu." dia sengaja menjatuhkan es yang dibawanya di sepatuku yang membuat sepatuku basah,
"Ah jatuh sial" anak itu malah merasa tidak bersalah akan tindakannya padaku.
mereka selalu menghina diriku sampai puas dengan setiap caranya,anak-anak yang melihat kejadian ini semua menertawai ku dengan terbahak-bahak.
"Ayo pergi kawan,misi sudah selesai haha." mereka kegirangan karena yang ingin dilakukannya itu sudah berhasil mengenai sepatuku yang sudah lusuh dan hampir terkelupas.
__ADS_1
"Hei... Apa kau pikir ini lucu hah!!apa kalian pikir ini lucu!! Ya,kalian pikir ini lucu tapi bagiku ini tidaklah lucu." aku tak sengaja meluapkan kekesalanku pada gerombolan tadi, semua terdiam ketika aku mulai marah dan anak-anak tadi pun langsung menoleh ke arahku.
"Whoa ternyata anak ini bisa marah juga ya haha" anak yang menjatuhkan es kepadaku malah tambah kegirangan dan tepuk tangan ketika aku marah dan dia malah menghampiriku setelah tepat di hadapanku ia seraya berkata, "Eh bos lu tau kan?kalau gue itu gak sengaja jatuhin es gue ke sepatu lu."
"gak sengaja...? gak sengaja gimana maksudnya?" aku pun menjawab dengan sedikit emosi pada anak tadi.
"eh bos, hush hush dengerin ya! gue tadi lagi pegang es-nya tapi lu malah menghadang terus nabrak gue jadi lu yang salah." dia membentak balik padaku dan juga menyalahkan ku bahwa gara-gara tersenggol bahuku jadinya es yang digenggam terlepas dan jatuh mengenai sepatuku.
(menghela nafas) aku ingin menjadi tenang kembali.
Aku langsung pusat perhatian dari teman seangkatanku di lorong sekolah.
Aku yang tak tahan pun lari meninggalkan gerombolan anak tadi daripada membuat kericuhan di lorong sekolah,aku pun berjalan menuju ke kelas."kenapa aku selalu seperti ini??" Dalam benakku selalu ingin menitihkan air mata tetapi aku tetap mencoba tegar dari semua permasalahan yang dia hadapi sekarang.
"Akhirnya,dia mengalah juga haha. ayo lanjut ke kantin!" kata ketua gerombolan.
ketua dari gerombolan tadi adalah temanku waktu kelas 1 dia pindahan dari kota waktu lulus smp dan dia pun tinggal disini dengan alasan ayahnya ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa di daerah ini.
Aku pun masuk ke kelas dengan terengah-engah karena berlari dan aku melihat teman-temanku sedang ribut dibangku salah satu temanku sebelah kiri ku dan seperti sedang mengerjakan sesuatu.
"Hai,rizki ada pr gak?? Tanyaku pada salah satu teman.
"Kagak ada" jawabnya dengan singkat.
Teng... Teng... Teng...
Pelajaran pun dimulai seperti biasa pak guru yang mengajar kami selalu dibuka dengan pantun jenaka. hari ini pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia,guru ini selalu membuka dengan cerita kocaknya yang membuat para murid yang diajarnya begitu akrab dengannya. Ketika dia bercerita semua anak-anak tertawa lepas seperti tiada beban dalam hidupnya.
Tetapi saat diriku tertawa,"Haha lucu ya haha". semua seisi kelas langsung terdiam dan langsung menoleh ke arahku.
"....." (seisi kelas Hening)
"kamu kenapa sih??kesurupan ya? pak nih pak ruqyah biar sadar" tanya ketua kelas padaku atas kelakuan tak jelas ini dan berkata kepada pak guru untuk menyadarkan ku.
"Hahaha" seisi kelas tertawa dengan keras.
Aku pun hanya tersenyum ketika mereka tersenyum lebar bahagia. aku mungkin sosok yang sulit untuk memiliki teman karena semua teman kelasku seperti memandang kasta dan ketika guru memberikan tugas berkelompok mereka menghindari ku untuk masuk ke dalam kelompoknya.
Aku selalu mencoba untuk masuk kelompok satu persatu mereka selalu menjawab,
"Nggak" jawab kelompok satu dengan singkatnya.
__ADS_1
"Boleh ikut ke kelompok ini??" tanyaku ke kelompok lain.
"Nggak,kamu gak berguna" jawabnya lagi dengan menyindir ku yang membuatku sakit hati.
Aku selalu terpojok ketika guru menyuruh kami membuat kelompok untuk kerja kelompok. aku pun langsung menghampiri pak guru untuk mencarikan kelompok untukku.
"Ada apa zal?" tanyanya melihat aku menghampiri dirinya yang sedang duduk didepan.
"Aku belum mendapat kelompok pak,jadi aku harus mengerjakan sendiri?" tanyaku dengan raut wajah yang kecewa kepada pak guru.
Pak guru melihat keadaanku yang belum dapat kelompok akhirnya menyuruh salah satu kelompok untuk memasukan saya. disini aku melihat raut wajah dari teman kelasku banyak sekali yang tidak mengharapkan kehadiran diriku di kelompok mereka masing-masing.
"Kelompok 5 masukin Afrizal ke kelompok kalian" pak guru langsung menunjuk ke kelompok 5 yang berada di barisan paling belakang.
"Hah.. kenapa kelompok kami pak bukan kelompok lain? kelompok 5 sudah penuh nih" Ketua dari kelompok 5 merasa tak terima akan perintah dari pak guru.
"Apa kamu enggak kasian sama Afrizal yang belum dapet kelompok sendiri?" Pak guru tanya balik ke ketua kelompok itu.
"Tapi kan masih ada kelompok lain pak yang kurang" protesnya karena tak ingin aku bergabung dengan kelompoknya. Aku pun semakin cemas karena gara-gara aku,pak guru dan ketua kelompok ke 5 menjadi ribut satu sama lain.
"pak guru akan menambah kan jumlah ke kelompok mu,kan kalau banyak anggota makin cepet belajar kelompoknya" pak guru langsung menepis alasannya seketika.
"ya udah deh pak terserah" jawabnya karena sudah tak ada bahan untuk protes.
"Kamu sebagai ketua harusnya jangan pilih kasih seperti itu. Ayo zal,kamu masuk ke kelompok 5" pak guru pun mempersilahkan ku masuk ke kelompok 5. "kalau kalian seperti afrizal apa yang akan kalian rasakan? ya pasti terluka hatinya. jadi,hargai lah seorang temanmu walau sedang kesusahan kalau dia berhasil nantinya kalian pasti akan kaget dengan pencapaiannya." lanjutnya.
Aku pun berjalan menghampiri bangku kelompok 5 dengan rasa ragu dan aku mengambil kursi yang kosong untuk dia duduk di meja kelompok 5.
"Nama kamu siapa?" Aku sedikit terkejut karena ketua kelompok bertanya namaku seperti belum kenal sejak lama padahal kami sudah satu kelas waktu kelas 2 SMK.
"Ahmad Afrizal" jawabku singkat.
"Ok,sekarang kamu ketuanya di kelompok ini" siswa itu menyuruhku untuk menjadi ketua kelompok dengan sombongnya sambil menyingkap tangannya di dada.
"Ke...napa saya ya??" Tanyaku dengan heran padanya. "a.. aku belum terbiasa dengan itu." lanjut ku.
"Ya karena kamu kan uangnya banyak.iya gak kawan-kawan??" Lagi-lagi saya dihina oleh temannya sendiri yang tertawa kecil dengan wajah menghina. Kemudian,aku pun menjawab dengan singkat "Aamiin".
"Ok,ini tugas kalian untuk hari ini" pak guru menulis sesuatu dipapan tulis disana tertulis.
BUATLAH PANTUN JENAKA DALAM 2 MAUPUN 4 BAIT
__ADS_1
"Kalian boleh membuat dengan lucu tapi jangan mengejek ataupun menghina seseorang" lanjutnya.
Seketika aku melirik ke kanan-kiri teman kelasnya karena dia berpikir bahwa dirinya lah yang akan jadi bahan untuk ini. aku pun hanya bisa pasrah menuruti perintah dari pak guru dan membuang rasa curiga pada teman-teman kelasku sendiri.