
Semua murid baru berkumpul di ruang aula sekolah untuk mendapatkan penjelasan dari guru kesiswaan,Aku dan Dio duduk bersebelahan mendengarkan penjelasan itu.semua murid baru akan dipelajari tentang hal-hal disekolah ini,misalnya seperti,meningkatkan sifat solidaritas,kuat mental dan juga fisik. Kami semua dipelajari tentang itu,sampai-sampai setiap pagi kami semua disuruh melakukan push up sebelum kegiatan dimulai.
Aku melirik ke arah Dio yang raut wajahnya seperti menyesal masuk ke sekolah ini,aku pun langsung menanyakan pada dirinya.
"Dio,kamu kenapa?kok kaya lemes gitu?" Tanyaku padanya.
Dio pun langsung menoleh ke arahku dan menjawab,"kamu tidak dengar apa yang pak guru katakan?"
Seketika itu aku langsung terdiam sejenak mendengar jawaban dari Dio.
"Ya,aku dengar apa yang dikatakannya.akan tetapi,apa masalah sebenarnya yang membuatmu seperti ini?sampai tak mau melihat orang yang menjelaskan." Kataku.
"Jujur saya katakan padamu,kalau sebenarnya aku tak ingin masuk ke sekolah ini. Yang begitu menginginkan yaitu orang tua ku bukan aku." Jawabnya dengan tegas.
Aku begitu kaget setelah mendengar jawaban darinya. Dia berbeda dengan ku,ibuku menyekolahkan aku dengan susah payah aku tetap terima meski pun itu bukan sekolah terfavorit.
Kami berdua pun saling menatap karena kami berdua berbeda prinsip dalam kehidupan,mungkin prinsip darinya adalah dia ingin sekali masuk ke Sekolah Menengah Atas bukan Sekolah Menengah Kejuruan.keinginannya berbanding terbalik dengan keinginan orang tuanya,meski begitu orang tuanya ingin anaknya masuk ke SMK ada alasannya.
Dio langsung membuang mukanya ke arah kanan,aku merasa bersalah karena aku bertanya seperti itu padanya. Kami berdua pun kembali fokus mendengarkan penjelasan dari guru kesiswaan.
Ketika guru kesiswaan sedang menjelaskan beberapa materi ada senior perempuan berkerudung putih berjalan menuju ke depan murid baru,dia memfoto kami untuk dijadikan dokumentasi nanti. Murid laki-laki yang melihatnya pun langsung memanggil-manggilnya ada juga yang hanya melihat dia berjalan ke depan dan belakang.
Aku dan Dio juga melihatnya sambil mendengarkan penjelasan dari guru kesiswaan. tiba-tiba Dio mencolek tangan ku yang membuatku sedikit terkejut.
"Zal,cewek itu cantik ya." Bisiknya padaku.
"Iya,tapi kenapa?kamu naksir sama dia?" Tanyaku.
"Ya,bukan naksir sih cuma ngomong saja tapi ya kalau dia suka saya mah enggak apa toh." Sahutnya dengan tertawa kecil.
"Dia kan senior kita mana bisa kita dapatkannya Dio?" Ucapku dengan mematahkan kepercayaan dirinya.
"Ya kan barangkali Zal,jangan marah lah itu kan cuma bercanda doang." Sahutnya padaku.
"Haduh Dio Dio." Ucapku dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
Dio pun langsung kembali menghadap ke arah guru kesiswaan yang ada didepan. akan tetapi,aku malah terus menerus memandanginya yang sekarang berdiri di hadapan barisan murid perempuan.
Rasa penasaranku semakin besar dengan perempuan itu. Setiap kegiatan pengenalan lingkungan sekolah,aku selalu mencari dia sampai-sampai Dwi agung yang ada disebelah ku pun heran dengan tingkah lakuku.
"Zal..." Panggilnya padaku karena melihat ku melirik ke kanan dan ke kiri.
Betapa terkejut diriku ketika mendengar suara memanggilku seketika itu langsung menoleh ke arah kanan dan ternyata yang memanggil itu adalah Dwi Agung.
"Iya,gung.ada apa?" Balasku.
"Kamu lagi nyari siapa sih? Dari tadi saya liatin kamu tengok kanan tengok kiri." Tanyanya padaku.
"E... Enggak nyari siapapun kok Gung." Jawabku dengan keringat dingin mengalir di wajah.
"Oh ya udah." Balasnya singkat.
Setelah pembicaraan singkat itu,kami berdua pun kembali fokus mendengar pengarahan dari pelatih fisik dan mental kami. Yang aku suka dari sekolah ini adalah semua muridnya di gembleng untuk siap fisik dan mentalnya.
Hari-hari terus berlalu sampai akhirnya bertemu hari Jum'at,semua murid baru disuruh ikut kegiatan Pramuka dan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah pun di jeda sementara dan akan dilaksanakan kembali besoknya untuk hari terakhir namun juga hari yang berat bagi kami murid baru SMK ini karena harus berjalan beberapa kilometer dari sore sampai malam. Kegiatan Pramuka belum dimulai kami semua duduk dipinggir lapangan sekolah menunggu instruksi dari pembina Pramuka. Dari kejauhan aku melihat perempuan itu berjalan menuju tempat sanggar Pramuka,aku jadi semakin penasaran dengan dirinya karena dia selalu ada dan tiada.
Akan tetapi,sekarang dia ada berada dihadapan ku.Dia duduk seperti menjaga diriku di ruang UKS sendirian sambil mengerjakan tugasnya.
"Mas,ada apa mas?" Ucapannya membuatku sedikit terkejut. Dia memandangiku seperti belum pernah melihat ku sebelumnya.
"Aku mau langsung ke kelas saja Mba." Jawabku sambil menurunkan kedua kaki dari ranjang kasur.
Setelah mendengar itu,dia langsung berdiri untuk menghalau ku bergerak.
"Mas,tadi kan udah dibilangin. Mas,belum boleh ke kelas dulu." Ucapnya padaku.
"Tapi,aku tidak mau ketinggalan pelajaran karena sebentar lagi ujian sekolah akan dilaksanakan." Balasku dengan memandangi matanya.
Dia langsung memasukkan kedua telapak tangannya ke saku jaketnya dan mengatakan,"Emang kamu mau belajar dengan badan yang lemas itu?kamu mau sakit seperti ini atau mau sehat seperti dulu?itu semua ada tanganmu sendiri. Aku tidak bisa melarang kehendak dirimu,jika kamu maunya belajar silahkan belajar akan tetapi,jangan salahkan Adik kelasmu jika kamu jatuh pingsan lagi di jam pelajaran."
Seketika itu,aku langsung terdiam mendengar perkataan darinya. Aku berpikir apa yang dia katakan Memang benar,otak tidak bisa bekerja maksimal jika aku sakit.
__ADS_1
"Kalau kamu mau ke kelas,Silahkan! Intinya aku tidak bisa melarang kehendak dirimu." Ucapnya sekali lagi.
Tiba-tiba dari pintu masuk anggota yang menjaga di ruang UKS,dia berjalan sambil membawa gelas berisi teh panas untukku.
"Teh angetnya sudah Dateng." Katanya.
Aku dan juga wanita yang bersama ku langsung melirik ke arah pintu melihat adik kelasnya membawa gelas teh panas.
"Eh sini tehnya nin!" Sahutnya sambil meraih gelas yang sedang dipegang.
"Ini kak,hati-hati panas ya!"
"Iya,aku hati-hati kok!" Jawabnya singkat dengan senyum pada anak PMR itu.
Ia pun berjalan menuju ke arah meja yang ada di samping ranjang kasur yang ku tiduri sambil membawa teh itu. Anak PMR itu terkejut melihatku sedang duduk dengan kaki menggantung dipinggir kasur.
"Mas,sudah mendingan?" Tanyanya padaku yang sedang terdiam.
Tiba-tiba ada menyahut pertanyaan darinya yaitu Ani Resti,dia adalah wanita yang aku sukai namun kini semua perasaan itu hilang ketika dia langsung menjawab pertanyaan itu dengan menyalahkan tindakanku tadi.
"Tadi dia mau ke kelas dengan keadaan seperti itu." Sahutnya.
"Masnya mau ke kelas?" Balasnya dengan bingung.
"Iya,tapi aku selalu dihalangi olehnya." Jawabku dengan menunjuk ke arah Ani.
"Gimana enggak dihalangi?kondisi badanmu juga masih lemas gitu. Aku cuma takut kamu nanti pingsan di kelas dan juga ya hm menyalahkan petugas PMR nya." Balasnya dengan menjawab semua alasan yang aku buat.
Ketika itu pun,aku langsung sedikit merasa kecewa dengan apa yang dikatakan olehnya. "Aku tidak akan menyalahkan orang yang bertugas membantuku akan tetapi jika aku pingsan sekalipun itu adalah salahku."
Ani dan Nindy pun terdiam sejenak mendengar perkataan ku tadi.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu! Aku cuma mau kamu sehat saja kok susah banget diomongin beberapa kali." Balasnya dengan lantang seperti dia emosi padaku.
Kami bertiga berpendapat berbeda-beda akan tetapi semua akan berakhir ketika semua sepakat dengan satu pendapat karena dua atau tiga pendapat tidak akan bisa memecahkan masalah.
__ADS_1