JANGAN MENYERAH

JANGAN MENYERAH
HATI YANG TERLUKA


__ADS_3

Hari semakin petang,burung-burung berterbangan menuju ke sarang mereka dan orang-orang sudah pulang dari kegiatan bertani nya. Disaat itu lah ada orang tua yang sedang bimbang karena anaknya tak kunjung pulang.


" Izal,kemana? Biasanya dia sudah di rumah kalau sore begini." Ucap ibuku dirumah menunggu kepulangan ku dengan raut wajahnya yang cemas.


Ibu mondar-mandir keluar masuk rumah karena hari mulai gelap. Tiba-tiba ibu melihat ayu yang berjalan menuju masjid di depan,kemudian ibu memanggil ayu yang sedang berjalan.


"De ayu de ayu." Panggil ibuku kepada ayu.


Ayu yang bisa mengobrol sama temannya kemudian langsung menengok dan meninggalkan temannya.


"E.. kamu duluan ya, aku mau ke ibu ike dulu." Pamitnya kepada temannya.


"Ya udah aku duluan ya." Balasnya.


Kemudian ayu menghampiri ibu yang sedang mencemaskan sesuatu di depan pintu rumahnya.


" Ada apa bu?" Tanyanya heran pada ibu karena memanggilnya.


"De ayu,lihat Afrizal enggak?" Ucap ibuku kepada ayu.


" Kalau Afrizal hm ayu enggak lihat bu. Emang kenapa?" Tanyanya kembali dengan ingin tahu apa yang terjadi.


" Afrizal... Belum pulang sekolah padahal sebentar lagi maghrib." Jawabnya dengan penuh kekhawatiran.


" Afrizal belum pulang?" Tanya ayu.


" Iya de ayu, ibu takut ada apa-apa terjadi pada Afrizal." Jawabnya dengan raut wajahnya semakin cemas. Ayu pun terdiam seketika karena tidak tahu harus berbuat apa.


" Mungkin dia sedang belajar kelompok dirumah temannya bu,jadi Afrizal pulangnya telat." Ucap ayu sambil menenangkan ibu yang semakin cemas.


" Iya mungkin ya." Ibu pun menjadi tenang kembali.


"Ibu,ayo kita sholat masjid. Sebentar lagi, mau adzan maghrib ini. Ibu jangan cemas pada Afrizal, Afrizal kan orangnya kuat jadi ibu tenang saja paling setelah maghrib pulang." Ucap ayu pada ibu yang mulai tenang.


" Iya yu,ibu terlalu cemas pada Afrizal, Mungkin dia sedang belajar dirumah temannya dan pulang setelah maghrib." Sahut ibuku pada kata-kata ayu.


" Ibu mau ambil mukena ibu dulu ya yu, ibu mau ke masjid." Lanjutnya.


Ayu pun senang ibuku sudah tenang kembali.


"Baik bu, ayu tunggu di sini ya." Kata ayu pada ibu dengan senyum manisnya.


Akan tetapi, ketika ibu mau masuk ke dalam rumah. Aku sudah tiba dirumah dengan diantarkan oleh agung dan di belakangnya ada faraz.


" Assalamualaikum." Salamnya pada ibuku dan ayu yang di depan rumah.

__ADS_1


Ibu dan ayu langsung menengok kaget melihat keadaanku yang terluka. Sontak ibuku langsung berlari ke arahku dan meneteskan air matanya.


" Afrizal,kenapa kau?" Ibu langsung memegangi wajahku yang sudah babak belur oleh pukulan dio.


" Ibu, Afrizal tadi dipukulin sama teman sekolahnya bu." Kata agung menjelaskan apa yang terjadi padaku. Tetapi,ibu tidak mendengarkan omongannya karena dia menangis dan memelukku.


Ayu pun hanya terdiam melihatku dengan kondisi terluka. Ayu pun menghampiri ku dengan langkah perlahan dan mengatakan, " zal,kamu kenapa kaya gini?" Dari matanya yang berkaca-kaca tidak tega melihat aku terluka.


" Ayo mas, tolongin bawa ke kamar." Kata ibuku kepada agung dan faraz.


"Iya bu." Agung bergegas menuntun ku masuk ke rumah. Berbeda dengan faraz, dia hanya terus memandangi si ayu tanpa membantu agung.


Ibu dan agung menuntun ku masuk ke kamar dan meletakkan ku di kasur.


"Aduh sh sh." Aku kesakitan ketika dibaringkan di atas kasur.


Ayu yang sebelumnya ingin menuju ke masjid lalu menaruh sajadah dan mukena nya di kursi yang diruang tamu. Dan menuju ke kamar mandi mengambil air dingin dan mengambil air hangat dari teko tetapi teko itu isinya kosong.


Lantas ayu pun bertanya pada ibu, " bu,air hangatnya dimana?"


" Di termos yang warna biru." Jawab ibu dari kamar.


Ayu pun bergegas mencari termos itu di dapur.


Ibuku menangis tidak percaya apa yang terjadi menimpa anaknya.


" Ini kesalahan izal bu." Jawabku singkat.


Faraz dan agung hanya diam di luar kamar. Lalu, datang ayu dari belakang membawa air hangat dan handuk di dalam baskom.


" Maaf bu, ini air hangatnya." Ayu pun langsung menyerahkannya pada ibu yang ada disampingku. Ibu pun langsung menerima air hangat yang dibawakan olehnya.


Agung dan faraz cuma berdiam diri melihat ku dari luar kamar.


Allahu Akbar Allahu Akbar...


Suara adzan maghrib mulai terdengar,ayu pun langsung meminta izin untuk pergi ke masjid pada ibu.


"Bu,ayu sholat dulu ya." Pamitnya pada ibu.


"Iya yu,makasih banyak ya." Balasnya.


Ayu pun keluar kamar dan mengambil mukenanya di meja. Mata faraz selalu tertuju pada ayu yang akan keluar. Disaat bersamaan agung pun pamit untuk pulang ke rumah.


"Ibu,kami mau pulang ya bu." Panggilnya pada ibuku yang sedang membersihkan tanah pada tanganku.

__ADS_1


"Mau pulang sekarang? Enggak ke masjid dulu?" Balasnya.


"Ah nanti aja bu di rumah sekalian. Takutnya orang tua kami juga nyariin." Kata agung karena dia juga tak ingin orang tuanya mencemaskan nya.


"Oh iya mas, makasih banyak ya sudah mengantarkan izal ke rumah." Ucapnya sambil menghampiri mereka.


"Izal,kami pulang dulu ya." Sapa nya padaku yang sedang berbaring di kasur.


" Iya, makasih ya sudah nolongin aku." Jawab ku dengan senyum pada mereka.


Mereka pun mencium tangan ibuku dan berjalan keluar rumah.


" Assalamualaikum bu,kami pamit dulu ya." Salamnya pada ibuku di depan rumah.


"Wa'alaikum salam,makasih ya." Ucap ibu di depan rumah.


Mereka berdua pun menuju ke motor masing-masing dan melaju ke rumah mereka masing-masing. Setelah itu ibu langsung masuk ke rumah dan menghampiri ku.


Ibu pun melanjutkan membersihkan kotoran pada tubuh ku karena memar di sekujur tubuh,aku pun merasakan perih dari air hangat itu.


"Ah aduh." Meringis kesakitan.


Seketika itu ibu pun menanyakan pada ku "kenapa kamu bisa seperti ini? Kenapa kamu terluka dan seragam kamu juga kotor semua?."


Aku pun bingung harus menjawab apa karena aku tak ingin masalah pribadi ku dengan dio diketahui oleh ibu. Kalau ibu tahu mungkin dia akan melaporkan masalah ini ke kepala sekolah ku.


"Aduh..." Pada saat aku memikirkan jawaban apa yang pantas, aku kaget karena ibu yang sedang membersihkan tangan ku.


" Ah maaf ya nak. Ibu terlalu nekan ya?" Kata ibu dengan wajah cemas padaku.


"Enggak kok bu,tadi aku cuma kaget." Jawabku.


"Ouh." Ucap ibu sambil meremas handuk yang berisi air dan langsung menyentuh tubuh ku yang memar.


Dari kejadian ini, aku berpikir bahwa ibu adalah satu-satunya penolong ketika anaknya sedang mengalami kesusahan atau pun kesepian. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya tapi ketika dia membutuhkan ku, aku selalu hilang darinya. Aku berjanji akan membahagiakan mu ibu walau harus bersusah payah dan tubuh terasa sakit semua,itu karena aku ingin melihat senyum ibu yang indah.


Aku kecewa hari ini, aku membuat hatinya hancur ketika aku di bawa oleh dua temanku, Air matanya hampir mengalir saat pertama kali melihat ku seperti ini. Ketulusan hatinya pada anaknya tak akan luntur selamanya.


" Nak,ibu mau terus belajar dengan giat dan capai lah cita-citamu! Carilah wanita yang bisa membuat mu bahagia jangan seperti ibu mu ini." Ucapnya padaku saat membersihkan wajahku.


" Jangan seperti ibu? Maksudnya apa bu?" Tanya ku keheranan. Ibu pun lantas berhenti membersihkan wajahku.


" Maaf ya nak, ibu enggak bisa berbuat lebih untuk membuat mu senang. Ibu cuma ingin kamu hidup bahagia nantinya karena sekarang kamu sudah mengalami kesusahan,ibu tak ingin kamu nantinya juga mengalami kesusahan seperti ini." Jawab ibu dengan matanya yang berkaca-kaca yang membuatku ikut bersedih.


"Insya allah bu,aku akan berjuang untuk ibu dan untukku sendiri." Jawabku dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Setelah itu ibu pun menghampiri ku dan memelukku erat,aku pun juga memeluknya dengan erat. Ibu ku menangis sambil memelukku entah kenapa batin ku merasa bersalah karena membuat ibuku menangis seperti ini.


__ADS_2