JANGAN MENYERAH

JANGAN MENYERAH
TUMBUHNYA HARAPAN


__ADS_3

"Hihihi..."


Aku melirik ke arah bangku lainnya,semua temanku tertawa pelan mungkin mereka sudah buat pantun nya tetapi aku masih kebingungan apa yang harus ditulis karena belum ada ide dalam otakku.


"Ehh ketua... Ini kumpulin" anggota kelompokku menyerahkan tugasnya padaku yang sedang mengerjakan tugas.


"Ah iya" balasku sambil meraih kertas tugas dari anggota kelompokku.


"Jangan baca dulu ketua dikumpulin aja dulu biar nanti dibaca" ucapnya sekali lagi padaku.


" tugas dikumpulkan ayo cepat!" pak guru menyuruh semua kelompok untuk mengumpulkan tugas yang diberikan.kemudian,aku pun menulis dengan cepat dan asal tulis karena waktunya hampir habis.


Aku pun mengumpulkan tugas yang dimeja guru dan satu persatu juga mengumpulkan.setelah itu,aku pun menghampiri tempat duduk ke meja kelompok tetapi semua teman kelompoknya langsung cuek akan kehadiranku mereka mengobrol satu sama lain kecuali aku yang hanya diam dan melongo karena tidak ada satu pun yang mengajakku untuk mengobrol.


"Semua sudah dikumpulin" tanya pak guru.


"Sudah semua pak" serentak menjawab.


"Baiklah,sekarang pak guru akan memanggil satu persatu untuk membacakan pantun yang dibuat."


pak guru membuka satu persatu lembar kertas tugas semua muridnya kemudian pak guru menyuruh beberapa anak untuk maju membacakan hasil yang dikerjakan di depan teman-teman.


"Yanto,sini maju coba bacain hasil mu" pak guru sudah memanggil satu persatu untuk membacanya.semuanya membuat pantun dengan lucu sampai kita tertawa dengan keras. tetapi, raut wajahku ragu dengan hasil pantun yang dibuatku apakah nanti bisa berhasil juga seperti yang lain atau tidak.


"Sekarang afrizal" pak guru akhirnya memanggilku untuk maju ke depan membacakan hasil tugasku..


sekarang ini adalah giliran ku untuk membaca pantun yang dibuat,aku maju ke depan dengan menundukkan kepala karena teman-temanku dengan wajah judesnya melihatku berjalan ke depan.Aku pun sudah didepan teman-teman dan pak guru menyerahkan kertas tugas padaku untuk dibaca sekarang.


Aku sedikit gugup dan menghela nafas sebentar. dan ia pun membaca pantun nya.


DUA TITIK DUA KOMA,


CUKUP DISINI SAJA.


semuanya terdiam karena mendengar pantun ku yang tidak ada kesan lucunya.


"Udah gitu doang zal??" Tanya pak guru kepadaku ,"ya" jawabku singkat.


"Ya sudahlah,duduk kembali ke tempat duduk mu. ulangi lagi dan coba buat pantun yang lucu yah" pak guru menyuruhku untuk mengulangi pantun nya lagi supaya hasilnya bagus.


Aku pun kembali ke tempat duduk dengan lesu karena pantun yang dibuatnya tidak berhasil.saat ditengah perjalanan aku meremas kertas tugasnya dengan erat karena aku terlalu emosi tanpa sadar diriku merobek kertas tugasku membuat semuanya menoleh ke arahku pak guru pun yang ingin memanggil anak lain melihat ke arahku.


pak guru yang melihat pun bertanya "ada apa zal??".


Dengan memutar kepala kepada pak guru,aku lantas menjawab "enggak apa-apa kok pak" andai pak guru tau isi hatiku pasti dia tak akan membuat tema ini.semua teman kelasku membuat pantun dengan apiknya tetapi aku masih fokus untuk mengerjakan tugas yang tadi dan ketika itu ada anak yang membuat pantun mengatasnamakan diriku.


"Jalan-jalan beli srikaya,


Bayarnya pake uang koin.


Hai perkenalkan aku si kaya,


Dan Afrizal si miskin"


Seketika seisi kelas tertawa,aku yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah anak itu.saat semua tertawa hanya pak guru saja yang terdiam mendengar pantun yang dibaca anak itu.


"Mas,kamu itu buat pantun jenaka atau apa sih? jelas-jelas ini ada tulisan jangan menghina orang malah kamu membuat hal seperti itu" pak guru memarahi anak itu karena dia tidak mengindahkan perintah darinya.


"Ini jelas-jelas pantun jenaka kok pak. lihat semuanya juga tertawa mendengar pantun ku" dia menjawabnya kepada gurunya dengan merasa tidak bersalah sama sekali.


"Mas,kamu itu tau jenaka sama ejekan gak sih??" Pak guru pun mulai marah atas tindakan muridnya itu dihadapannya.

__ADS_1


Semua murid terdiam seketika saat pak guru sudah mulai marah,dia terus memarahi anak itu dihadapan kami.ketika pak guru memarahi anak itu semuanya menyibukkan dirinya sendiri,ada anak yang tak peduli akan keributan didepan mereka,ada anak yang cuma mainan hpnya di bawah meja,ada juga yang tidur. Semua memang mencari kesempatan disaat seperti ini.


Kring... Kring...


jam pelajaran bahasa indonesia pun berakhir,pak guru dengan cepatnya meninggalkan kelas karena mungkin dia masih kesal kepada anak tadi. semuanya pun merapihkan bangku dan kursi yang digunakan tadi ke tempat semula untuk memulai kegiatan pelajaran selanjutnya.


"Assalamualaikum semua..." salamnya pada seisi kelas.


"Wa'alaikum salam" jawab kami yang sedang merapihkan meja dan kursi.


sekarang adalah pelajaran kewirausahaan yang diajar oleh bu Anggie. Aku sangat menyukai pelajaran ini karena mungkin dari sini aku bisa belajar tentang kewirausahaan dan bisa membuat usaha nantinya setelah lulus dari sekolah.


Bu guru berjalan maju ke depan kami, bu Anggie ini orangnya baik,kalem dan juga pasti cantik. dia hanya mengajarkan materi kewirausahaan ini ke seluruh kelas 12 yang akan lulus.


"Apa kabar kalian semua?" sapa nya.


"Alhamdulillah baik","Sehat bu" seisi mempunyai jawaban berbeda-beda.


"Kalau ibu sih?" tanya teman kelasku pada bu Anggie.


"Saya alhamdulillah sehat" balasnya dengan menunjukkan lengannya pada kami. sontak seisi kelas kaget melihatnya dan tertawa pelan.


"Udah udah jangan dibahas,sekarang kita masuk materi pelajaran buka buku tebal dari perpustakaan pada hal. 80 bab. beberapa macam jenis usaha" lanjutnya sambil menyuruh kami untuk membuka buku.


Dengan semangat aku langsung mengambil buku dari dalam tas yang hampir robek di bagian resletingnya yang membuatku harus berhati-hati ketika menaruh ataupun mengambil buku yang didalam tas.


"Sekarang kita bahas satu persatu dimulai awal bab" kata bu Anggie.


Pelajaran dari bu Anggie pun telah usai dan para anak-anak pun keluar dari kelas untuk makan di kantin karena memang saatnya untuk istirahat.


Detik demi detik,menit demi menit,satu jam demi satu jam,aku lewati disekolah dengan hati yang sakit karena aku tak punya teman untuk mengobrol maupun curhat. Aku seperti orang asing bagi mereka saat istirahat pun mereka menjauhinya yang membuatku selalu sendiri, "kapannya bisa memiliki teman jika tetap seperti ini?" hatiku selalu berkata demikian.


Teng... Teng... Teng...


"Zal,mau ikut gak??" Ajaknya dengan sepeda motor yang bagus.


"Boleh nih" balasku tanpa curiga.


"Ya gak boleh lah haha makanya suruh orang tuamu untuk beliin motor haha." anak itu langsung menancapkan gas motornya ketika aku bersiap-siap untuk memboncengnya.


Dia langsung melaju dengan kencang dan meninggalkanku sendirian yang belum juga sempat duduk di motornya.


"Aku mensyukuri apa yang ada padaku,semoga ini yang terbaik untukku" gumamnya.


Aku pun melanjutkan jalan pulang dengan berjalan kaki,dijalan aku bertemu seorang kakek-kakek yang sedang kesusahan mendorong gerobaknya untuk naik ke trotoar. Aku pun langsung bergegas berinisiatif untuk membantu kakek tersebut.


"Kakek,boleh aku bantu??" Aku menawarkan diri kepada sang kakek untuk membantu mendorong gerobaknya untuk naik ke atas trotoar.


"Boleh nak" jawab kakek itu. kakek itu pun dengan senang hati karena ada anak muda yang ingin membantunya.


Aku pun turun ke trotoar dan langsung membantu mendorong gerobak kakek yang menyangkut ditepian trotoar.


"Ayo kek, kita dorong bareng ya dari hitungan 1..2...3!" Aku pun menyuruh kakek untuk mendorong bersama-sama.


Gerobak yang kita dorong masih belum naik dan sekali lagi mereka mendorong dengan sekuat tenaga.


"1...2...3...dorong!"


Grek... Gerobak pun bisa naik ke atas trotoar ya walaupun ada bagian kena trotoar. Sontak aku dan kakek itu menoleh ke arah suara tersebut.


"Maaf ya kek." Aku pun meminta maaf langsung karena kecerobohanku yang mendorong dengan sangat kuat sampai-sampai gerobak kakek itu lecet di bagian bawah gerobaknya.

__ADS_1


"Gapapa ko nak,seharusnya kan kakek yang minta maaf pada ade. Makasih ya mau bantu kakek." kakek itu memaafkanku yang sudah membuat gerobaknya rusak.


"Tapi.. tap... kek"


kakek langsung memotong perkataanku dan dia pun mengatakan, "Udah enggak apa-apa,kakek maafin kok"


"Makasih ya kek.aku mau pulang dulu ya kek" Aku langsung pamit ke kakek itu dengan bersalaman dan mencium tangannya.


"Assalamualaikum kek" salam ku pada kakek dan melambai tangan padanya yang mulai berjalan mendorong gerobak ke arah sekolahku.


"Izal??"


Ada seorang yang memanggil namaku. Aku pun menengok ke belakang dan wajahku sedikit kebingungan kepada orang memanggil namaku itu.


"Kamu izal kan? ini aku ayu temanmu waktu kecil" Dia berkata bahwa dia adalah temanku pada waktu masih kecil,tetapi aku lupa akan teman masa kecilku.


"Ya,saya izal.kamu??" tanyaku pada wanita itu


"Masa kamu lupa namaku ?" Tanya balik kepadanya "Ok,kalau kamu lupa nama saya ayu okta safira.aku kan dulu tetangga sekaligus teman masa kecilmu." jelasnya padaku.


Aku pun melihat tubuhnya dan wajahnya sekilas karena jujur aku tidak mengenalinya sama sekali.


"Kalau kamu ayu,aku mau nanya sesuatu padamu" kataku pada wanita itu.


"Baiklah,tapi jangan yang susah-susah ya" balasnya sambil menyingkap tangannya dan tersenyum kepadaku.


"Warna favorit dari ayu apa?makanan kesukaan dari ayu apa?" tanyaku pada wanita itu.


" Warna favoritku itu hm biru dan kalau makanan sih mie ayam" jawabnya langsung.


Aku pun mencoba mengingat masa kecilku dulu waktu aku bermain dengan anak seumurannya.


"Ayu... saatnya makan happ..."


"Izal suka warna biru ayu juga suka warna biru"


Sekilas aku mengingat masa kecilku dulu dan membuka matanya ketika ingatan itu sudah terlihat dan mengatakan, "K kamu beneran ayu?waktu aku masih kecil dan kita selalu bermain bersama?" dengan mulutku yang gemetaran karena tidak menyangka teman masa lalunya kembali lagi.


Ayu pun hanya menganggukkan kepala dan menjawab, "Iya,aku ayu zal."


Sudah lima tahun lamanya ayu dan aku berpisah karena tugas dari ayah ayu yang membuat ayu harus pindah ke kota sementara. kini, kami bertemu kembali dan saling berhadapan.


Aku tidak mengenalinya karena ayu sekarang sudah cantik ditambah jaket warna biru Dongker nya, Ayu pun tersenyum kepadaku yang membuatku melamun akan kecantikan dirinya sekarang.


"Eh zal,kenapa kamu melamun??" Ayu mengibas tangannya dihadapan wajahku supaya diriku sadar.


"Eh ehem maaf yu,hehehe.kamu disini ngapain??" Aku pun langsung mengganti topik pembicaraan.


"Aku sama keluarga ke sini mau melihat rumah yang ditawarkan ke kami" jawabnya


Aku terkejut mendengar jawaban dari ayu itu.


"Sungguh,kamu mau kembali ke sini??" Tanyaku dengan perasaan senang.


"Insya allah... Doain aja." Jawabnya.


"Ayu..." Dari kejauhan ada yang memanggil namanya afrizal pun ikut menoleh karena ingin tahu siapa dia dan rasa penasarannya terjawab ternyata dia adalah ibu ayu.


"Iya bu,sudah dulu ya zal.aku sudah dipanggil ibuku. Assalamualaikum." Ayu pun berjalan meninggalkan afrizal dipinggir jalan sendirian.


"Wa'alaikum salam" salam ku.

__ADS_1


Aku berharap bisa seperti ayu yang selalu ceria dan juga jadi harapan keluarganya. Setelah ayu menyeberang jalan,Aku melanjutkan perjalanan ke rumah yang disana ada ibu yang selalu menyemangatinya.


__ADS_2