JANGAN MENYERAH

JANGAN MENYERAH
RASA BERSALAH


__ADS_3

Suatu ketika dibawah hujan rintik awal kami dibina fisik dan mental tahun 2016,saat itu Afrizal,Dio dan semua anak baru dikumpulkan dalam satu lapangan. Kami mendengarkan apa yang pembina kami katakan dengan saksama dan akhirnya hujan pun semakin besar membuat kami dipindahkan ke ruang aula sekolah.


"Dio,kamu kenapa?dari tadi kamu diam terus,kenapa?" Tanya Afrizal yang sedikit heran dengan kelakuan Dio berbeda dari hari sebelumnya.


"Aku tidak apa-apa zal,mungkin kecapean gara-gara kegiatan ini." Balasnya.


"Iya sih,aku juga sedikit kecapean gara-gara kegiatan ini. Kita harus berangkat pagi-pagi sekali supaya tidak dihukum kalau terlambat tapi kamu jangan murung terus begitu." Ucap Afrizal dengan memberi semangat pada Dio.


"Baik,zal. aku akan mencoba untuk tersenyum,terima kasih teman ku yang selalu ada disamping ku haha." Jawabnya dengan bercanda dan menarik Afrizal.


Kami berdua tertawa saat itu sampai membuat senior kami marah karena berisik.


Akan tetapi,semuanya berubah setelah kami melaksanakan pelantikan sekolah. Dio terus menjauhi ku tanpa sebab walaupun kelas kami bersebelahan dia tidak menyapa ku sama sekali seolah tidak ada,itu membuatku sakit hati karenanya.


"Maafkan aku,Afrizal!" Gumamnya sambil melewati Afrizal yang sedang berdiri dihadapannya.


Seiring berjalannya waktu semua berubah menjadi malapetaka bagi Afrizal,dia selalu dibully oleh Dio dan temannya. Hingga, Dio tidak segan membuatnya terluka.


Sementara itu, hari ini Dio dan teman-temannya berkumpul di basecamp biasa mereka kumpul.


"Akhirnya sekolah selesai juga ah... Lega." Kata temannya yang baru saja datang dan langsung duduk.


"Bu,kopi hitam satu ya Bu." Lanjutnya.


Temannya kebingungan dengan tingkah laku Dio yang sedang gusar seperti memikirkan sesuatu. Dio yang biasanya selalu mengobrol dengan temannya tetapi kali ini dia hanya melamun dan diam.


"Kenapa kamu Dio?" Tanyanya karena sudah bertanya-bertanya.


Dio masih diam dan mengatakan,"apa aku salah melukai teman pertama yang selalu ada untukku sampai dia terluka parah sampai berjalan pun dia begitu berat?jawab aku sen !"


Raut wajah dari temannya langsung berubah ketika ditanya soal masalah Afrizal. Dia begitu tidak peduli dengan keadaan Afrizal saat ini.


"Kenapa sih kamu mikirin dia terus? Lu tau kan dia itu anak orang miskin dan lu anak orang kaya jadi ya kasta kalian berdua berbeda. sudahlah,jangan pikirin nasib Afrizal! Biar dia mati ke tersiksa seumur hidup sama miskin sampai tua aku bodoh amat." Balasnya sambil senyum.

__ADS_1


Dio yang mendengar jawaban dari senior sekolahnya pun langsung menghampiri dengan muka marah dan tangan yang mengepal seakan ingin memukul wajahnya.akan tetapi, kejadian itu tidak terjadi karena kedua temannya datang menggunakan sepeda motor sambil membunyikan klakson.


Sang mantan senior itu yang merasa terganggu oleh suara klakson itu pun langsung memarahi kedua orang itu.


"Oi oi berisik, atau motor lu mau gue rusak." Ucap senior dengan muka cemberut.


"Ma.. maaf, Sen Aji,kami..." Jawabnya dengan ragu.


Sang mantan senior yang sedang marah pun langsung menyuruh mereka untuk duduk karena membuat nya kesal.


Dio yang masih berdiri jauh dari kelompok nya langsung berbicara dengan temannya yang baru datang tersebut.


"Zis,dari mana saja kalian?" Tanya Dio.


"Tadi aku Sama si galih memantau si Afrizal disekolah." Jawabnya.


Dio yang mendengar kata Afrizal langsung menarik badan temannya dan bertanya,"Afrizal?ada apa dengan dia?"


Karena ketakutan dia menjawab dengan ragu.


"Kenapa kau tidak kasih tau ke saya tentang si Afrizal secepatnya?" Balas si Dio dengan wajah yang merasa bersalahnya.


Teman-temannya yang ada disitu langsung tertegun setelah mendengar perkataan dari Dio itu, kecuali sang mantan senior yang merasa terusik dengan nama Afrizal. Dio langsung memikirkan tentang Afrizal yang dikatakan oleh temannya.


"E...emang kenapa?" Ucapnya terbata-bata.


"Aku,tidak aku ingin bertanggung jawab atas kejadian waktu itu sampai Afrizal harus menderita seperti ini." Balas Dio sambil perlahan melepaskan tangannya dari badan temannya.


Sang mantan senior lagi dan lagi menyela perkataan dari Dio yang menurutnya itu semua salah si Afrizal. Dia mengatakan semua terjadi waktu baru naik ke kelas 12 dan seangkatan si Dio baru masuk, waktu itu dia sedang bermain bola tiba-tiba ada bocah yang entah dari mana datang lewat ditengah lapangan dan tanpa sengaja tendangan bola yang cukup keras itu membentur kepalanya sampai dia terjatuh. Beberapa jam setelah masuk ke kelas,dia dan teman-temannya dipanggil ke ruang BK mengenai bola yang membuat bocah itu luka di bagian kepala.


Dia dan teman-temannya ditanya satu persatu mengenai bola itu,padahal waktu itu masih istirahat. Dia membela dirinya pun tidak bisa karena sudah berhadapan dengan guru BK.


"Kalian semua bisa Dispen selama 3 hari jika ada kejadian seperti ini lagi,kalau kalian mau berangkat terus dengan nilai yang baik jangan membuat onar lagi." Kata guru BK itu kepada sen Aji dan teman-temannya.

__ADS_1


Mereka pun keluar dengan wajah yang cemberut semenjak saat itu sen aji membenci Afrizal sampai sekarang dan menghasut teman baiknya yaitu si Dio untuk menghancurkan hidupnya.


Semuanya langsung tertegun mendengar cerita sen Aji, kecuali si Dio yang langsung mengepalkan tangannya bersiap untuk berkelahi.


"Jadi,siapa yang bersalah kali ini?aku?kamu?atau teman cupumu yang salah?" Tanya sen Aji dengan muka menyeringai.


"Itu sudah jelas,waktu itu adalah salah kau bajingan. Kau yang menyuruh ku membuat teman ku Afrizal terkapar tak berdaya ditengah lapangan itu. Sekarang,kau akan ku buat babak belur dengan tangan ku." Balas Dio dengan wajah marahnya.


Sontak teman-temannya yang mengetahui akan terjadi perkelahian langsung melerai Dio untuk tidak berkelahi dengan mantan seniornya waktu disekolah dulu.


Sen Aji bangkit dari tempat duduknya,semua teman Dio langsung menyuruh Dio untuk menghentikan perkelahian ini.


"Dio,tenang Dio! Kamu kemungkinan bisa kalah melawan sen Aji." Ucap Azis sambil menahannya.


"Ya,walaupun aku pasti kalah tapi aku yakin bisa mengalahkan dia." Balas Dio dengan tatapan tajam ke arah sen Aji.


Fisik lebih kecil dibandingkan dengan fisik sen Aji yang membuat teman-temannya tidak ingin Dio terluka parah. Dulunya,sen Aji pernah menjuarai turnamen taekwondo saat dia masih kelas 11. Dia berhasil menumbangkan lawan yang diunggulkan diturnamen itu di grand final.


Sen Aji berjalan menuju ke arah Dio dengan tangan mengepal seakan ingin langsung memukulnya.


"Dio, sudah lah. Kamu tidak mungkin bisa melawannya." Kata Azis untuk menghentikan perkelahian itu.


Penjaga warung itu,langsung menyuruh mereka pindah tempat jika ingin berkelahi karena dia tidak mau lapaknya bisa berantakan oleh mereka berdua.


"Kalian semua pergilah! Jangan berkelahi disini." Kata si penjaga warung.


"Baiklah,kami akan pindah." Jawab sen Aji sambil menatap tajam ke Dio.


Dio seperti tidak ada rasa takut akan tetapi dia menelan ludahnya sendiri.


"Baik, pak. Kami akan pindah." Balas Dio.


Mereka pun meninggalkan tempat itu bersama teman-temannya. Mereka pergi menuju ke lapangan dimana waktu itu Afrizal di keroyok oleh Dio dan dua preman suruhannya.

__ADS_1


sementara itu, Afrizal dibawa masuk oleh petugas medis ke ruang UGD bersama ibunya dan keluarga Ayu. Sang ibu menangis keras karena khawatir dengan keadaan anaknya dan sekarang dia tidak boleh masuk ke ruang UGD sampai semuanya selesai.


__ADS_2