JANGAN MENYERAH

JANGAN MENYERAH
BERUBAH


__ADS_3

Aku yang sedang terbaring di kasur merasakan betapa bosannya dirumah sendirian tanpa orang lain. Aku hanya bisa menahan rasa sakit di semua badan ku karena kejadian kemarin,aku hanya bisa menunggu dan menunggu kepulangan ibuku dari pekerjaannya.jadi,ini yang dirasakan oleh ibu ketika aku bersekolah mencari ilmu menunggu dan terus menunggu tetapi kemarin adalah hari yang membuat tersayat hatinya ketika melihatku diantar pulang oleh teman kelasku dengan keadaan luka memar pada wajahku.


Andai ayah masih disini,pasti ibu akan menemani ku disini dan ayah akan pergi untuk bekerja pada pagi harinya dan pulang pada sore harinya. Akan tetapi,takdir sudah terjadi ayah sudah tiada di dunia yang fana ini dan tak akan kembali menemani kami berdua. Aku adalah harapan satu-satunya untuk membahagiakan ibu ku tak ada yang lain selain diriku.


Keesokan harinya, hari ini matahari tertutup oleh awan mendung yang akan menandakan hujan akan tiba. Aku sekarang masuk untuk bersekolah meski harus berjalan dengan tertatih-tatih,hari ini hari jum'at dimana besoknya libur dan bisa untuk istirahat lagi karena memang luka ku masih sepenuhnya sembuh.


Semua teman kelas ku mendadak menengokku saat aku masuk ke dalam kelas,dari yang sedang mengobrol maupun yang sedang sarapan di kelas. Saat aku sudah duduk dibangku ku tiba-tiba ketua kelas menghampiriku yang membuat aku terkejut karena biasanya saat aku sudah ada dikelas semua menjauhi ku termasuk ketua kelas.


"Ada apa?" Tanya ku dengan rasa heran.


"Enggak apa-apa,cuma mau nanya doang. Kamu sudah sembuh lukanya?" Jawabnya dengan nada cemas padaku.


"Aku sudah baik-baik saja kok. Huft." Tiba-tiba perut ku mengalami rasa sakit kembali yang membuat ketua kelas panik.


"Eh eh kamu kenapa zal?masih sakit?" Tanyanya sambil menyentuh punggung ku.


Dan ketika itu semua teman kelas ku juga langsung menghampiri ku karena merasa kasian padaku.


"Kamu kalau masih sakit mending izin dulu zal!" Saran teman ku yang baru saja menghampiri.


Aku hanya menggelengkan kepala dan menjawab,"Tidak,Aku hanya ingin belajar dan aku juga tidak mau ketinggalan materi pelajaran karena sebentar lagi kita akan ujian kan?"


"Ujian sih ujian tapi kan kesehatan juga perlu zal,kamu mau kalau ujian nanti malah nggak masuk karena sakit?" Balas ketua kelas dengan nada sedikit keras padaku.


Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.


"Ya sudah,kalau masih sakit jangan dipaksakan nanti malah tambah parah." Jawabnya dengan suara tegasnya.


Semuanya berusaha membujukku ke US sekolah,tapi aku tidak ingin hari belajar ku hilang kembali. Aku harus berterima kasih kepada Agung dan Faraz yang telah menolong ku kemarin,mungkin kalau mereka berdua tidak datang bisa saja aku dihajar habis-habisan sampai remuk semua tulang ku.


Teng... Teng... Teng...


Bunyi bel masuk pelajaran sudah berbunyi akan tetapi Agung dan Faraz belum kunjung datang ke kelas. Aku jadi khawatir pada mereka karena bisa saja si Dio menghajar mereka. Aku tidak berhenti memikirkan hal kejam ini.


"Assalamualaikum." Guru pengajar kami sudah masuk ke kelas.


"Wa'alaikumsalam." Jawab kami serentak.


"Hm sudah baca doa apa belum?" Tanyanya pada kami.


"Belum pak." Ketua kelas menjawab pertanyaan dari pak guru.


"Ya udah,baca doa dulu." Balasnya singkat karena memang sudah masuk jam pelajarannya.

__ADS_1


Kami semua pun membaca doa,kegiatan ini sering kami lakukan setiap harinya, Membaca doa dan asmaul husna setelah baru pelajaran. Ini juga termasuk kegiatan yang aku suka disamping berdoa untuk dilancarkan menimba ilmu,ada juga untuk mengenal nama-nama Allah SWT yang baik.


Disaat kami sudah selesai membaca,tiba-tiba dari depan pintu masuk 3 teman kelasku baru datang. Disana juga ada Agung dan Faraz, aku bersyukur karena mereka tidak apa-apa.


"Kalian bertiga ini kenapa terlambat?" Tanya pak guru pada tiga anak yang telat.


"Ya,biasa pak. Rumahnya jauh pak!" Jawab salah satu teman kelasku yang bernama Fikri.


Kemudian, Pak guru menunjuk anak yang berada dibelakang Fikri.


"Itu pak,eng.. sebenarnya belum terlambat tapi gerbangnya sudah mau ditutup saya masuk tuh terus dipanggil sama pak bambang disuruh ngumpul ditengah lapangan." Jawab Agung dengan alasan yang membingungkan Pak guru.


"Maksudnya gimana sih?" Tanya Pak guru pada kami dengan tawa kecilnya.


"Kalau kamu?" Pak guru lanjut menunjuk anak yang ketiga yaitu Faraz.


"Sama pak kaya dia." Jawabnya singkat.


"Sama apanya mas?" Tanya pak guru dengan kebingungan.


"Ya sama kaya dia pak. Disuruh kumpul ditengah lapangan." Balasnya dengan menunjuk ke arah Agung tetapi Agung langsung menepuk tangan Faraz.


"Oh jadi kalian sama? Ohh satu rumah ya berarti?" Tanya pak guru.


Aku hanya bisa terdiam melihat mereka bertiga karena mereka tidak merasa terlambat masuk sekolah. Fikri dengan santainya berdiri,Agung yang hanya menunjukkan raut wajah yang kecewa dan Faraz yang cengar cengir melihat kami yang sudah siap belajar. Semuanya tertawa melihat mereka bertiga begitupun juga aku walau cuma tersenyum dan menahan rasa ingin tertawa ku.


"Oi Zal,udah sembuh?" Tanya agung tentang keadaanku.


"Ya,alhamdulillah sudah sembuh." Jawabku dengan semangat.


"Syukur deh." Balasnya singkat.


"Kemarin kamu ada masalah apa sih sama si Dio?sampe-sampe kamu dipukulin sama dia dan dua orang preman suruhannya." Tanya Faraz padaku dengan raut wajah kesal.


"Ah itu... Itu..." Gumam ku karena tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan dari Faraz tadi.


"Itu apa?" Faraz pun mulai kesal karena aku tidak menjawab langsung.


"Jelasin saja Zal!barang kali kita berdua maupun semuanya yang dikelas bisa membantumu kan kita semua teman." Kata Agung padaku yang ragu untuk menjawabnya.


"Hm baik,itu karena dia membenci ku." Jawabku,dan kedua langsung terkejut mendengar jawaban ku.


"Hah,membenci?" Tanya Agung dengan lantangnya padaku.

__ADS_1


Aku pun hanya menganggukkan kepala karena aku tidak mau semuanya juga terlibat dalam permasalahan pribadi ku dengan Dio.


"Membenci karena apa?bukannya kamu sama Dio dulu berteman?" Tanyanya padaku dengan heran.


"Ya memang kami berdua itu berteman tapi karena ada sesuatu Dio langsung menjauhi ku dan langsung membuli ku." Jawabku mengenai permasalahan antara aku dan Dio.


Agung pun langsung tidak percaya karena dia tahu bahwa aku dan Dio dulu pernah berteman sampai dibilang kakak beradik oleh senior saking dekatnya. Akan tetapi,semuanya berlalu dan waktu terus melaju, semua hati seseorang pasti akan berubah suatu saat nanti. Hati bisa membuat orang senang,ceria,marah,menangis dan sedih seperti halnya matahari terbit akan berubah menjadi senja saat sore hari dan tidak hati yang tak pernah berubah.


Teng... Teng... Teng...


Sekarang sudah saatnya masuk ke mapel berikutnya yaitu Penjas orkes,semua bersiap untuk menuju ke lapangan sekolah. Semuanya berganti pakaian olahraga,aku juga ikut mengganti seragam ku dengan pakaian olahraga. Tetapi,saat aku sudah membuka seragam teman kelas ku langsung menyahuti ku.


"Oi Zal,kamu mau ikut pelajaran?" Tanyanya padaku.


"Iya,aku mau ikut." Jawabku singkat sambil memakai pakaian olahraga.


"Kamu kan masih pada sakit badannya,kamu disini saja dulu. Biar kami semua memberi izin ke bu guru nanti." Balasnya menyarankan diriku untuk tidak mengikuti pelajaran ini.


"A.. aku sudah baik-baik saja kok." Ucapku ragu.


"Oh,kalau kamu sakit lagi,kami gak bertanggung jawab ya. Ini peringatan loh Zal!" Ucapnya padaku karena dia tidak cukup yakin dengan keadaan ku saat ini.


"Baik,kalau saya sakit lagi biar aku yang izin sendiri ke bu guru." Jawab ku tegas padanya.


Semuanya pun bergegas menuju ke lapangan sekolah karena guru kami sudah menunggu saat bel berbunyi. Kami pun harus berlari dari kelas kami yang ada dilantai 3 menuju ke lapangan ditengah sekolah. Hari ini cuaca menjadi cerah setelah paginya mendung dan sudah turun gerimis kecil,aku bersyukur pada hari ini semuanya peduli padaku. Aku harap ini tidak sekejap saja sama seperti waktu dulu,aku harap ini selamanya dan selalu canda tawa bersama.


Saat semua berlari menuju ke lapangan,aku dan Agung hanya berjalan santai karena dia tahu kalau aku tidak bisa berlari jadi dia menemani ku sekali pun dia juga kena hukuman. Dia adalah teman kelas ku waktu kelas 1 sampai sekarang jadi dia tahu aku berteman dengan si Dio,kelas kami disebut kelas unggulan oleh ketua jurusan kami karena kami bisa berpeluang masuk ke bengkel besar di kota.tetapi,waktu itu aku gagal melaju ke tahap magang di sana dan Agung ia berhasil melaju ke tahap magang selama 6 bulan dan sekarang dia sudah kembali setelah 6 bulan disana untuk kegiatan sekolah lagi.


Aku jadi bertanya-tanya kenapa dia dan Faraz tahu bahwa aku akan bertemu dengan si Dio,waktu itu dia langsung mengejar si Dio dengan dua preman suruhannya dan berhasil menyelamatkanku.


"Agung..." panggilku kepadanya.


"Ya Zal,ada apa?" tanyanya heran karena aku tiba-tiba memanggilnya.


"Aku mau tanya,kenapa kamu waktu itu tahu kalau aku ketemuan dengan si Dio di lapangan itu?" tanyaku sambil berjalan.


Agung terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan ku tadi dari raut wajahnya dia seperti sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan ku ini.


Saat kami sedang berjalan tiba-tiba dari depan kami dihadang oleh teman si Dio tetapi ia tidak bersama mereka yang membuat kami berdua berhenti berjalan. mereka seperti akan menghina ku karena terlihat dari senyum sinis nya padaku.


"Hehe.. kenapa kaki mu?sakit?" tanyanya dengan nada melecehkan ku.


"Sudah lah,awas kami mau ke lapangan mau olahraga." kata Agung dengan rasa kesal kepada mereka yang menghadang kami.

__ADS_1


"Kenapa sih terburu-buru?" tanyanya pada Agung yang tergesa-gesa ingin langsung meninggalkan mereka.


Agung langsung terdiam kemudian tangannya langsung mengepal seperti sedang emosi dengan kelakuan mereka. Aku hanya melihat mereka yang saling tatap-tatapan dengan wajah marahnya,aku tak mau ada perkelahian lagi seperti kemarin. Aku juga tak ingin ada yang terluka lagi karena kata-kata yang keluar dari mulut mereka.


__ADS_2