JANGAN MENYERAH

JANGAN MENYERAH
LANGIT SENJA SORE


__ADS_3

Hari semakin siang dan kami pun istirahat makan siang. Aku membaca surat itu sekali lagi dan membacanya dengan seksama isi surat tersebut.


Setelah membacanya,aku langsung meremasnya lalu membuangnya di tempat sampah didepan kelas,Banyak sekali pertanyaan dibenak ku tentang surat yang ditulis oleh dio si anak pejabat.


"aku harus menghiraukannya sekali pun itu bentuk ancaman" gumam ku.


Saat semua pergi ke kantin untuk makan siang,hanya satu dua orang yang ada dikelas bersama ku.


Tiba-tiba ada seorang anak yang masuk kelas mencari ku,Dalam benakku "siapa lagi ini".


"Maaf sen,yang namanya Afrizal mana ya?" Anak itu bertanya kepada temanku yang duduk dihadapan pintu kelas.


"Tuh dibelakang" tunjuk nya padaku.


Anak itu pun berjalan menghampiriku yang sedang makan dibangku belakang. Aku melihat dia membawa sesuatu ditangannya,


"ada apa ya?" Tanyaku pada anak itu.


"Ini sen,ada surat buat senior" jawabnya sambil menyerahkan surat itu padaku tetapi ada hal aneh padanya saat ia menyerahkan suratnya padaku tangannya gemetaran seperti ada sesuatu yang terjadi padanya.


"Kamu kenapa? Kok kaya takut gitu sih sama aku?" Tanyaku sambil menenangkan dirinya.


"Ahh enggak apa-apa kok sen,cuma gugup saja masuk ke kelas senior" jawabnya dengan menatapku.


"Ohh kirain kenapa? Oh iya ini surat dari siapa ya?" Tanyaku kembali karena keheranan sudah dua kali aku mendapatkan surat dari siswa lain.


"M..maaf sen,saya gak dibolehin nyebut namanya tapi mungkin didalam surat ada namanya" jawabnya padaku dengan mulut yang gemetaran aku tak tahu apa yang ditakutinya.


"Ohh ya udah enggak apa,makasih ya" jawabku karena melihat dia yang merasa masih canggung dihadapan seniornya sendiri.Kemudian, aku pun membuka surat tadi dan isinya pun hampir sama di sana ditulis.


* jangan lupa datang ke lapangan belakang sekolah setelah pulang sekolah atau kau akan tahu akibatnya kalau tidak datang ke lapangan.*


"Ini pasti dio lagi" gumam ku setelah membaca surat itu. "Ahh masa bodoh lah" lanjut ku sambil membuang ke belakang bangku ku.


Sementara di gudang sekolah,anak yang tadi menghampiri ku berjalan menuju ke dio dan kawan-kawannya.


"Suratnya sudah diberi ke dia belum?" Tanya si dio ke anak itu.


"S s sudah.. s... sen" anak itu pun langsung menunduk saat diajak bicara dengan dio.


Dio yang sok jagoan pun menghampiri anak itu yang kelihatan raut wajahnya yang ketakutan dan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa hah? Ini smk bukan sma jangan cengeng. Heh tatap mata gue ! Tatap mata gue!" Dio membentak anak itu sampai membuat tubuhnya semakin gemetar. Tetapi,anak itu pun menuruti apa yang dikatakan oleh si dio. Dia pun memberanikan diri untuk menatap mata si dio yang didepan mukanya persis.


Plak...


Dio langsung mengayunkan tangannya ke pipi anak itu sampai terjatuh ke lantai. Anak itu pun langsung memegangi pipinya.


"Bangun...! Ayo bangun...! Inilah smk yang harapkan oleh senior lu saat ini. Jika lu masih lemah begini mending lu pindah ke sma saja" dio pun menepuk dadanya menandakan dia itu kuat.Sedang kan, kawan-kawannya yang dibelakang hanya tersenyum senang melihat si dio menampar juniornya.

__ADS_1


"Ayo jalan lagi ke kantin kita" ajak si dio ke kawan-kawannya meninggalkan anak itu sendiri.


"Banci lu cuihh hehe" teman dio pun melontarkan hinaan kepadanya.


Setelah gerombolan dio sudah pergi,Anak itu berdiri meringis kesakitan memegangi pipinya dan berjalan meninggalkan tempat ini.


Teng... Teng... Teng...


Waktu istirahat siang sudah habis dan melanjutkan pelajaran produktif, Saat kelas lain sudah dimasuki para guru untuk mengajar hanya kelas kami yang belum ada guru pengajarnya.


"Belum ada gurunya ya?" Tanya ketua kelas kebingungan kepada guru pengajar kami yang belum datang juga padahal kami mau belajar tentang overhaul.


Seperti ini tadi pagi tetapi kali ini berbeda ada yang masih belajar bongkar ada juga yang tidur siang di atas kursi yang tersusun rapi, Aku pun ikut melihat proses dari awal pembongkaran sampai akhir pemasangan engine.


Dari arah belakang aku mendengar temanku berkata, " Disini ada yang menjadi idola nih" teman ku menyindir diriku karena dia melihat ada anak yang memberikan surat lagi padaku.


" Siapa?" Teman-teman yang mendengar pun langsung bertanya-tanya.


"Noh si izal dari tadi dicariin terus sama anak kelas sebelah" balasnya.


"Whoa..." Dengan wajah ekspresi terkejut melihatku.


Ini hari yang sangat indah bagiku,karena teman kelas ku sudah mau berteman dengan ku. Dan semuanya berkata akan membantu ku jika ada kesulitan itu membuatku terharu karena mereka sudah mau mengajakku bercanda.


"Kenapa kamu zal? Kok kaya sedih?" Tanya salah satu teman yang berdiri disampingku


"Enggak kok cuma kemasukan debu saja kok" jawabnya.


Bel pulang sekolah pun akhirnya berbunyi membuat semua bersiap-siap untuk pulang ke rumah, saat kami sedang bersiap-siap ternyata guru pengajar kami baru datang.


"Dari mana aja pak? Kok lagi waktu pelajaran enggak ada?" Ketua kelas bertanya kepada pak guru karena ketika akan pulang dirinya baru muncul.


"Haha maaf ya tadi, saya diberi tugas sama kelapa sekolah jadi saya enggak bisa mengajar kalian." Jawabnya menjelaskan kenapa dia baru masuk lagi setelah rapat kepada kami. Pak guru ini adalah wali kelas kami dan juga menjadi seksi kesiswaan di sekolah jadi sibuk karena tugasnya.


" Ya udah,mari berdoa sebelum pulang! Biar nanti kita bisa selamat sampai rumah"


"Duduk siap..." Ketua kelas menyiapkan kami untuk berdoa, " berdoa mulai...!" Kami menundukkan kepala sambil berdoa semoga diberi keselamatan.


"Aamiin..."


Semua pun langsung berebut untuk bersalaman dengan pak guru. Semua terkesan terburu-buru ingin pulang.


Saat semua pulang ke rumah namun aku berjalan menuju ke lapangan belakang sekolah,aku masih berpikir apa yang ingin dia katakan padaku saat bertemu di lapangan. Aku terus melangkah sambil memikirkan semua apa yang akan terjadi.


"Oh..."


Aku terkejut ketika sampai dilapangan ternyata si dio sudah duduk di drum kosong menunggu datang aku. Aku pun langsung menghampirinya tetapi tampak disampingnya seperti preman,satu memiliki tubuh berotot,berambut panjang dan berpakaian kaos yang sudah robek lalu yang satunya lagi memiliki tato di lengannya dia menggunakan kaos oblong.


Aku sudah berdiri dihadapan dio yang sedang duduk,

__ADS_1


"Akhirnya lu datang juga,heh lu tau nggak gue dari tadi nunggu lu sudah dari 10 menit yang lalu." Dio berkata itu didepan ku.


" Kamu tahu kan kalau aku berjalan kaki bukan naik sepeda motor kaya kamu" balasku padanya yang sedikit sombong kepadaku.


"Ya gue tahu,tapi itu bukan alasan yang membuat gue puas." Dio menjawab sembari melototi saya.


"Terus yang membuat kamu puas apa hah? Memukuli seseorang? Atau menghina seseorang? Hai jawab aku." Aku pun terbawa suasana karena si dio seperti tidak menghargaiku yang sudah datang dilapangan itu.


"Ya lu taukan itu favorit gue" balasnya sambil memasang wajah serius, "tetapi sebelum gue menghajar lu di sini, gue mau lu jawab dengan jujur" lanjutnya.


Aku pun langsung memasang wajah cemas karena aku merasa itu ancaman dalam diamnya.


"Menjawab pertanyaan apa?" Tanyaku.


"Hmm gue mau jawaban dari lu tentang hm siapa cewek yang semalam berjalan dengan lu hah?" Pertanyaan dari mulutnya pun keluar yang membuatku terkejut karena dio tahu saat aku dengan ayu berjalan di pasar malam.


Sementara itu, kelas sudah sepi ditinggal oleh para siswa tetapi ada beberapa anak yang masih di sekolah seperti ekstrakulikuler atau juga ada yang bersih-bersih di kelas.


Hari ini adalah jadwal dari agung dan faraz untuk membersihkan kelas.


"Haduh, padahal pengin cepet-cepet pulang malah ada jadwal piket lagi haduh" faraz mengeluh sambil membersihkan keringat yang ada di wajahnya.


"Ya udah jalanin aja dulu, biar cepet pulang" agung pun menjawab keluhan dari faraz yang seperti malas menjalankan tugasnya.


Saat sedang menyapu agung melihat kertas yang aku buang sebelumnya ke belakang kursi. Agung pun meraih kertas itu dan bertanya pada faraz.


"Raz,ini surat dari siapa raz?"


"Tidak tahu" jawab singkatnya sambil menyapu lantai di kolong kursi dan meja.


" Kotor amat sih kelas ini untung ada saya kalau enggak udah saya tambah biar kotor lagi" tambahnya mengomel sendiri.


Diam-diam agung membuka kertas itu dan seketika wajah agung terkejut setelah membaca isi surat itu.


"Raz..." Panggilnya sambil membaca isi surat itu.


"Ada apa sih?" Jawabnya.


"Raz,Afrizal dalam bahaya nih." Agung memberitahukan akan ada sesuatu pada Afrizal.


"Apa peduliku?" Jawabnya singkat sambil menyapu.


"Afrizal akan di hajar habis-habisan kalau dia sampai telat sampai ke lapangan" jawab agung yang masih memegang surat itu ditangannya.


Ha.. ha.. (menghela nafas)


Aku tergeletak di tengah lapangan dan seragamku pun penuh dengan tanah.


"Ini yang tunggu-tunggu setelah sekian lamanya gue ingin menghajar lu sampai mokad ditangan gue sendiri haha" dio menghampiriku yang masih tergeletak di tengah lapangan dan menarik rambutnya sampai kepalanya terangkat. Wajahku sudah berdarah dan matanya juga bengkak sebelah kanan.

__ADS_1


Dio dan dua preman berdiri sejajar menutupi sinar matahari senja di hadapanku. Aku menangis karena aku tidak tahu dio bertindak berlebihan seperti ini. Malam akan datang aku harus bangkit tetapi tubuhku seperti sudah remuk semua kali ini aku menyerah.


__ADS_2