
Semua orang sedang membangun panggung ditengah lapangan panti asuhan milik orang tua Ayu.mereka sedang mempersiapkan hari pembukaan panti asuhan yang akan dilaksanakan besok malam.
Ayu yang sedang melihat orang-orang bekerja dari dalam bangunan dipanggil oleh ibunya.
"Yu... Ayu." Panggilnya.
"A iya bu." Sahutnya sambil menengok kebelakang.
"Kamu sedang apa nak?" Tanyanya.
"Ayu sedang lihat persiapan buat nanti malam Bu." Balasnya dengan senyum.
"Oh... Kamu udah undang tetangga kita belum?nanti malah kagak ke undang ke peresmian panti asuhan ini." Tanyanya lagi.
"Ya ampun,Ayu lupa Bu! Ayu belum ngundang tetangga buat ngikutin acara ini. Kalau begitu,Ayu mau ngundang tetangga ya Bu." Ucap Ayu.
Ayu pun langsung berjalan keluar pintu utama akan tetapi ibunya memanggilnya yang membuat Ayu berhenti sejenak dan menengok ke arah ibu.
"Iya Bu,ada apa?" Tanyanya.
"Kamu jangan lupa yah manggil orang yang spesial buat kamu!" Ucap ibunya.
"Siapa Bu?Ayu kan enggak punya orang spesial." Tanyanya heran dengan ucapan dari ibunya.
"Ahmad Afrizal,dia kan spesial buat kamu." Jawabnya dengan tawa lirih.
Ayu yang mendengarnya pun langsung tersenyum dan tersipu malu.
"Ayu akan mengundang dia sama ibunya kok Bu tapi dia belum spesial buat aku Bu,kalau begitu Ayu mau nyebarin undangan dulu ya Bu. Assalamualaikum." Ayu pun langsung melanjutkan langkahnya keluar panti asuhan.
"Wa'alaikumsalam,hati-hati ya." Sahut ibunya.
Sementara itu,Afrizal yang sedang berboncengan dengan Agung masih merintih kesakitan. Agung yang merasa khawatir pun langsung bertanya pada ku.
"Perutmu masih sakit zal?"tanyanya dengan khawatir.
"Iya gung, perut ku masih sakit dan malah tambah sakit." Balasku dengan lirih menahan sakitnya perut.
"Ya udah,saya mau nambah kecepatan lagi." Kata Agung sambil menaikkan gas motornya.
Sementara itu,Ayu sedang membagikan surat undangan kepada para tetangga untuk menghadiri pembukaan panti asuhan yang akan dikelola oleh orang tuanya.
"Assalamualaikum..." Salamnya pada salah satu rumah tetangga.
"Wa'alaikumsalam,ada apa ya mba?" Tanyanya dibelakang pintu yang setengah terbuka.
"Ini Bu,ayu mau ngundang ibu untuk ke acara pembukaan panti asuhan nanti besok malam,maaf ibu ini undangan nya!" Ucapnya sambil menyerahkan undangan pada tuan rumah itu.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
Ayu mengunjungi rumah satu ke rumah lainnya untuk menyerahkan undangan yang sudah tertera namanya,Saat Ayu membagikan undangan dia tidak mengira bakal ada yang menolak undangan tersebut.
"Assalamualaikum..." Salamnya sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam." jawab tuan rumah dari dalam dan membuka pintu lebar-lebar.
"Maaf Bu, Ayah saya mengundang ibu untuk ikut." Saat Ayu sedang menjelaskan ibu itu langsung memotong perkataan dari Ayu.
"Tidak... Saya atau suami saya tidak akan ikut ke acara ayah kamu." Ucapnya dengan nada tinggi.
"Tapi kenapa Bu?" Tanya Ayu dengan heran.
"Kamu mau tau kenapa? Ayah mu pernah membuat keluarga kami melarat,dia sita harta benda kami tanpa tersisa satu pun hanya rumah ini satu-satunya yang tersisa. Dan juga,ayahmu telah membuat anakku meninggal saat bekerja dengan ayahmu,ia meninggal karena kecelakaan." Jawab ibu itu dengan mata yang berkaca-kaca dan akhirnya meneteskan air mata.
"Maaf kan ayah saya waktu dulu Bu! Memang waktu itu ayah sedang menjalani tugasnya untuk perluasan jalan ini. Sekali lagi maafkan ayah saya Bu!" Kata Ayu sambil memohon permintaan maaf pada ibu itu.
"Mah..."
Terdengar suara dari dalam yang memanggil nya seperti laki-laki dewasa,Sambil mengusap air matanya ibu itu langsung menyuruh Ayu pergi dari rumahnya.
"Tolong pergi!jangan menambah penderitaan ini lagi padaku." Pintu langsung tertutup dengan perlahan meninggalkan Ayu yang sedang memegang undangan untuk nya.
"Kenapa Ayah masih dibenci padahal dia sudah tidak kerja sebagai Satpol-PP." Gumam Ayu sambil berjalan menuju ke rumah lainnya.
Afrizal dan Agung sudah sampai di rumah dengan Afrizal tertatih dibantu oleh Agung.
"Wa'alaikumsalam." Jawab ibunya.
Betapa terkejutnya dia setelah melihat Afrizal yang sedang dipanggul oleh Agung sambil memegangi perutnya.
"Ya Allah,kenapa kamu zal?" Ibunya langsung meraih anaknya yang sedang sakit. Agung juga membantunya sampai ke kamar Afrizal.
Raut wajah ibunya begitu khawatir pada Afrizal yang sedang mengalami sakit, ibu nya tidak henti-hentinya bolak balik ke dapur membuat kan teh maupun air hangat untuk dikompres diperut Afrizal.
Diluar kamar,ibu menanyakan kepada agung, "kenapa Afrizal sampai kesakitan begitu?"
"Maaf Bu, Afrizal tadi siang pingsan saat pelajaran olahraga dan setelah keluar dari ruang UKS tiba-tiba dia sakit perut." Balas agung dengan perlahan.
"Kenapa Afrizal ikut olahraga?sedangkan para guru juga tahu kalau Afrizal sedang sakit kan?" Tanyanya lagi kepada Agung.
"Dia yang memaksa untuk ikut Bu,dia tidak mau ketinggalan satu pelajaran pun." Lanjutnya.
"Tapi kamu udah kasih tahu ke guru pengajar nya?"
"Udah Bu, tapi dia terus memaksa buat ikut."
Huk huk huk..
__ADS_1
Suara batuk dari Afrizal membuat pembicaraan ibu dengan Agung berhenti sejenak, mereka langsung berlari menghampiri Afrizal yang sedang terbaring di kasur dengan wajah yang pucat.
"Apa sebaiknya kita periksa kan dia ke dokter Bu?" Ucap Agung dengan pelan pada ibu Afrizal.
"Tapi nak,ibu belum ada uang untuk memeriksa keadaan Afrizal." Jawabnya dengan wajah cemas.
"Besok saya akan beritahu teman kelas supaya bisa memberi sumbangan untuk kesembuhan Afrizal saat ini." Balas dengan menenangkan ibu yang terlihat cemas dengan keadaan Afrizal.
Saat lagi semua dikamar ada orang yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum,Bu." Salamnya
Ibu menyuruh Agung menjaga Afrizal dan ibunya menuju ke depan.
"Wa'alaikumsalam,eh Ayu. ada apa yu?" Ucap ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Ah ini Bu, Ayu mau ngundang ibu sama Afrizal ikut acara pembukaan panti asuhan besok malam." Kata Ayu dengan batin yang bertanya-tanya.
"Makasih ya yu, insyaallah ibu sama Afrizal datang ke pembukaan." Balas ibu sambil menerima undangan dari Ayu.
"Bu,kalau boleh tau gimana keadaan Afrizal sekarang?" Tanya Ayu.
Ibu mengajak Ayu ke kamar Afrizal untuk melihat keadaan nya secara langsung,Agung yang melihat pun langsung berdiri. Ayu berjalan pelan menghampiri Afrizal yang terbaring lemas dikasur.
"Afrizal,kenapa Bu?kenapa semakin parah seperti ini?" Tanya Ayu dengan mata berkaca-kaca.
"Mas,kenapa mas?kamu teman kelasnya kan?aku ingin tahu Afrizal kenapa jadi semakin parah." Lanjutnya.
"Dia pingsan saat pelajaran dan pulangnya sakit perut,tapi aku tidak tahu kenapa. Sebaiknya,Afrizal dibawa ke puskesmas atau klinik yang dekat sini supaya kita semua tidak cemas dengan keadaan Afrizal." Jawab Agung dengan berat karena ia tahu ibu Afrizal belum ada uang untuk membayar biaya pengobatan.
"Iya,sebaiknya Afrizal dibawa ke puskesmas untuk diperiksa." Ucap Ayu dengan menggenggam tangan Afrizal.
"Tapi ibu..."
"Biar Ayu yang membayarnya ibu tenang aja karena Ayu tidak mau kehilangan Afrizal sekarang." Lanjut Ayu dengan menetaskan air mata. "Ayu akan bicara dengan ayah dan ibu ayu untuk membantu ibu dan Afrizal." Lanjut nya.
Ayu dari bahagia sampai dimarahi oleh tetangganya dan sekarang dia merasa hancur karena Afrizal begitu lemas dikasur.
Ibu pun menghampiri Ayu yang menangis sesenggukan kemudian menenangkan nya.
"Ayu,Afrizal belum tiada jadi jangan menangis seperti itu.baik, ibu akan memeriksa Afrizal sekarang karena ibu sudah tidak tega melihat Afrizal begini." Kata ibu dengan memeluk Ayu yang sedang menangis.
Ayu pun menelepon ibunya untuk mengantarkan Afrizal ke puskesmas,ibu dan Agung hanya menunggu kabar baiknya dari orangtuanya Ayu.
"Ibu,kita akan mengantar ibu dan Afrizal ke puskesmas." Ucap Ayu pada ibu.
Mobil ayah ayu sudah menunggu didepan dan Afrizal dibantu oleh Agung juga Ayah ayu menuju ke mobil. Para tetangga yang melihat pun mulai bertanya-bertanya ada apa,kenapa dengan Afrizal.
Setelah sudah didalam mobil,Afrizal masih didekapan ibunya sambil menahan rasa sakit di perut. Lalu, Agung pulang ke rumahnya setelah mobilnya sudah pergi meninggalkan dia. Agung merasa kasian dengan keadaan Afrizal sekarang karena dia sudah dianggap sebagai temannya.
__ADS_1
"Afrizal,bertahanlah...!" Gumamnya sambil mengalirkan air mata.