
Aku dan Ani saling menatap satu sama lain didalam ruang UKS,Nindy yang melihat kami yang saling menatap dengan tatapan tajam bertanya-tanya dalam hati,"ada apa sih ini?"
Ani pun langsung menoleh ke arah Nindy yang berdiri di depan lemari obat-obatan.dia pun menghampirinya setelah menaruh teh hangatnya dimeja samping tempat tidurku.
Ani pun mulai berbicara dengannya.
"Nindy,senior kamu harus dibilangin!dia dari tadi ngotot mau masuk ke kelas tapi aku melarangnya karena aku takut kamu akan menjadi inti permasalahannya ketika dia jatuh pingsan lagi." Ucapnya pada Nindy.
Aku yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah mereka berdua,saat aku melihat mereka Nindy pun ikut menengok ke arahku diikuti juga sama Ani.
"Ada apa?" Tanyaku pada mereka.
"Ah tidak ada apa-apa kok sen." Jawab Nindy.
Setelah itu,mereka langsung melanjutkan percakapannya tentang masalahku.sebenarnya,aku tidak akan menyalahkan anggota PMR yang telah membantuku saat pingsan akan tetapi Ani mantan senior saya dan juga Nindy sudah tahu kelakuan murid laki-laki ketika dia sudah diberi bantuan oleh anggota pmr.bukan terima kasih yang diterima melainkan sebuah ejekan.
Itulah mengapa yang menjaga ku diruang UKS ini ialah Nindy Pratiwi alias ketua PMR disekolah ini karena anggotanya sering mendapatkan sebuah ejekan yang membuat mereka malas untuk menjaga ruang UKS ini.
Setelah dipikir-pikir,perkataan dari Ani ada benarnya juga.karena mungkin dia juga punya pengalaman yang sama seperti ini.
"Bagaimana Nin?aku cuma takut kamu kena omongan yang enggak enak di hati dan setelah itu kau jarang menjaga ruangan ini ketika ada orang sakit maupun pingsan seperti dia.coba kamu pikirkan dulu,jangan terburu-buru!" Kata Ani pada Nindy.
Nindy yang mendengar perkataan dari Ani langsung mencari kursi untuk duduk.Nindy dan Ani pun duduk di kursi saling berhadapan.
Tangan Nindy langsung meraih tangan dari Ani dan menggenggam nya.
"Ada apa Nin?" Tanyanya keheranan.
"Mba Ani,aku sudah siap dengan apapun termasuk omongan dari para siswa-siswi di SMK ini karena aku adalah ketua dari PMR dan juga sen Afrizal akan melakukan ujian sekolah jadi,jika sen Afrizal pingsan lagi yang kedua kalinya aku tetap akan menjaga di ruangan ini sampai dia sadar." Jawabnya panjang lebar kepada Ani.
Ani pun langsung terdiam sejenak dan memikirkan sebuah jawaban untuk mematahkan pendapat dari Nindy itu.
"Jadi,aku boleh masuk ke kelas?" Tanyaku kepada mereka berdua membuat yang tadinya suasana hening menjadi ricuh kembali.
"Tidak..." Jawab Ani.
"Boleh..." Jawab Nindy.
Mereka berdua tetap saja berbeda pendapat satu sama lain.aku jadi bingung dengan mereka sampai-sampai tidak terasa jam sekolah akan berakhir.
"Nin,kamu gimana sih?" Ucap Ani dengan kesal.
"Mba,kan tadi aku sudah bilang sen Afrizal sudah bisa balik lagi ke kelas." Jawabnya.
__ADS_1
"Tidak,tidak,tidak!dia tadi pingsan dari jam berapa?" Tanyanya dengan kesalnya pada Nindy.
"Pukul 10:30 kayaknya mba." Jawabnya sambil mengingat.
"Dari pukul 10:30 sekarang pukul?" Ani menengok ke atas melihat jam dinding. "Sekarang pukul 15:01."
Ani begitu terkejut ketika mengetahui berapa lama aku diruang UKS. Ani pun menengokku dan kembali bertanya kepada Nindy.
"Nin,ini beneran?" Tanyanya dengan heran.
"Iya mba,dia pingsan dari pukul 10:30." Jawabnya.
"Kan bentar lagi jam pulang sekolah mba." Lanjutnya.
Huft...
Ani menghembuskan nafas dalam-dalam,kemudian dia menghampiriku dengan perlahan.
Dia pun berhenti di hadapanku,aku pun hanya melihatnya sambil bertanya-tanya di benakku,"apa yang akan dia katakan padaku?"
"Ehem,kamu boleh pulang tapi setelah bel pulang bunyi.kamu boleh ke kelas mengambil tas kamu dan pulang." Katanya padaku dengan senyum.
Melihat dia tersenyum membuatku terbawa oleh senyumannya,dia memang dikenal dengan sifat kalemnya jadi ketika dia tersenyum padaku itu seperti sebuah hadiah terbaikku.
Akhirnya,jam sekolah sudah usai tetapi aku malah seharian di UKS dan cuma mengikuti beberapa pelajaran. aku pun berjalan keluar dari UKS sambil memegang kepalaku yang masih terasa pusing ternyata Agung sudah menunggu ku di depan ruang UKS sambil membawakan tas punggungku.
Agung yang melihatku berjalan dengan perlahan langsung menghampiri ku lalu meraih tanganku dan menaruh dipundaknya.
"Maaf ya Gung,dari kemarin ngerepotin terus." Kata ku padaku pada Agung sambil berjalan.
"Gapapa kok zal,kita sebagai teman kan harusnya saling membantu.Semuanya sekarang akan menjadi temanmu.pengalamanmu,perjuanganmu dan sahabat mu akan selalu menyertai di setiap harimu dan juga yang terpenting adalah..." Kata Agung.
Kami berdua pun berhenti sejenak ketika melihat semua teman kelasku sudah menunggu diparkiran motor.aku tidak tahu kenapa semua menunggu diparkiran padahal semua sudah mulai satu persatu keluar dari parkiran.
Ketua kelas kami langsung menghampiri ku dan bertanya keadaanku saat ini.
"Kamu sudah sehat zal?" Tanyanya padaku.
"Alhamdulillah,sekarang sudah mendingan." Jawabku.
"Syukur lah,jaga kesehatan mu ya soalnya beberapa bulan lagi ujian sekolah akan dimulai." Katanya padaku.
"Insyaallah,semuanya kok belum pulang?" Tanyaku pada ketua kelas.
__ADS_1
"Iya,saya yang nyuruh biar rasa solidaritas kita semakin kuat." Balasnya.
"Tenang saja zal,kami akan melindungi mu dari si Dio itu."
"Iya,tenang saja zal."
Semua teman-temanku sudah menganggap ku sebagai teman mereka, terharu rasanya ketika disambut seperti ini. Aku ingin solidaritas teman-teman ku bukan saat aku dalam keadaan sekarang melainkan selamanya.
Sementara itu,ada dua teman Dio yang melihat kami sedang berkumpul dan mereka berdua menguping pembicaraan kami,salah satu dari mereka curiga dengan teman sekelas ku karena dulunya aku sering dicuekin dan sering menjadi bahan lelucon tetapi hari ini semua teman kelas ku bersatu untuk melindungi ku dari kejahatan si Dio bersama teman-temannya.
"Kamu kalau ada apa-apa bilang saja ke kita zal! untung kemarin faraz sama agung menemukan surat yang isinya janji ketemuan kalau mereka berdua kagak Nemu tuh surat,kami tidak tahu keadaan kamu gimana nanti." kata ketua kelas padaku.
Aku pun terdiam sejenak mendengar ucapan darinya,"Maafkan aku,aku telah merepotkan kalian dan juga aku berterima kasih telah menasehati ku.mulai sekarang aku akan selalu menjaga solidaritas ini (diam sejenak) aku pernah sakit hati karena kalian semua,aku pernah menangis,dendam dan ingin menyudahi sekolah ini maka dari itu aku tidak bilang kepada kalian karena kalian tidak mengganggap ku ada." ucapku dengan lantang sampai semua orang yang disekitar parkiran mendengar.
"Maaf ya Riz,aku terlalu keras bilang begini.aku mau kalian hargai aku sebagai teman kalian sekali pun aku tidak mempunyai apa-apa." lanjut ku.
Semuanya terdiam ketika mendengar perkataan ku dan ada juga yang berpikir aku yang selalu menjauhi mereka.
"Kapan kami tidak menganggap mu sebagai teman?padahal dirimu yang selalu menjauhi kami dan pengin sendiri terus." ucap teman ku yang bernama Hendi.
"Aku memang sering menjauh tetapi kalau aku mendekati kalian ketika istirahat,kalian semua langsung pergi." balasku.
"Zal,udah zal!kamu kan lagi sakit jadi jangan marah-marahnya nanti malah tambah sakit." kata Agung padaku.
"Aduh..." tiba-tiba rasa nyeri di perut ku mulai terasa Kembali,lalu aku langsung memegang perutku dan badanku mulai tidak seimbang untuk berdiri.
Rizki atau ketua kelas yang ada dihadapan ku langsung sigap menangkap ku yang hampir terjatuh.
"E eh kamu kenapa zal?" tanyanya padaku.
"Perut ku sakit lagi." balasku sambil menahan sakit.
"Ya udah Gung,antar dia sampai ke rumahnya ya!" kata Rizki pada Agung.
Sementara itu,di lorong teman Dio melihat keributan ku dengan teman sekelas ku membuat mereka sedikit senang.
"Wah wah sepertinya ada yang menarik nih." teman Dio 1.
"Menarik kenapa?" teman Dio 2.
"Afrizal tadi bilang ke semua temannya kalau dia tidak pernah dianggap jadi bisa-bisa ada perang antar saudara nih hihihi." teman Dio 1 sambil mengusap tangan dengan senyum sumringahnya.
"Wah rame kagak yah?kalau emang bener akan ada perang saudara?" teman Dio 2 ikut merasakan senang.
__ADS_1
Aku pun pulang diantar sama Agung meninggalkan semua diparkiran.semuanya pun mulai bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.