
Aku berdiri dihadapan dio dengan dua preman yang berdiri disampingnya,wajahku terlihat gugup dan sudah keringat dingin saat melihat ada dua preman di samping dio.
"Oii... Sini lu lebih dekat lagi" kata dio padaku yang masih jauh dari hadapan dio.
Aku pun menuruti keinginan si dio tetapi aku langsung menundukkan kepala dihadapan dio. Langkah demi langkah mendekati dio yang agak jauh dariku
Aku pun berhenti tepat didepan dio dengan tangan kanan ku memegang tangan kiri sambil melirik ke arah dua preman di sampingnya.
Dio pun turun drum kosong dan mendekatiku sambil berkata," Gue ada pertanyaan buat lu." Afrizal mendengar itu langsung menjawab perkataan dari dio " Pertanyaan apa?"
"Haha" dio menepuk bahuku sambil mengitarinya.
Dia pun berhenti dihadapan mukaku yang spontan membuat mental ku langsung menurun karena dio melototi ku.
"Jawab pertanyaanku ini ! yang pertama, Semalam lu pergi siapa? Yang kedua, siapa dia? Dan yang ketiga, dimana rumahnya? Simpel saja pertanyaannya sih itu doang" dio langsung mencecar pertanyaan padaku yang sedang gemetaran karena didepan ada dua preman sekaligus.
Aku menjawab, " jawaban yang pertama dan kedua sama yaitu dia adalah temanku."
"Maksudnya siapa namanya bego,bukan teman jawaban yang gue tunggu." Dio membentak aku, "Terus dimana dia tinggal?" Lanjutnya.
" Jawaban dari pertanyaan kedua dan ketiga mu adalah kamu tidak boleh tahu tentang dia." ucap Aku sambil menatap sinis dio.
" Oh jadi seperti itu jawaban dari lu,baiklah" kata dio. Setelah dia mengatakan itu padaku,dio langsung berjalan menuju drum kosong lagi. Tanpa aku sadari ternyata dio memberi aba-aba pada dua preman itu.
Dio mengayunkan jari telunjuknya padaku dan kedua preman itu langsung berjalan menuju ke arahku. Aku yang tak menyadari akan terjadi sesuatu terjadi kedua tanganku dipegang oleh dua preman, tangan kanan dan kiri ku yang membuatku tidak bisa melarikan diri.
"Oi...oi...lepaskan aku." Aku meronta-ronta saat dipegangi oleh preman itu.
"Diam..." Preman yang memakai kaos oblong menyuruhku untuk diam.
Dio langsung menatap tajam dan tersenyum sinis padaku yang sedang dipegangi kedua tangan oleh dua preman suruhannya.
"Jadi,itu jawaban lu" dio mengepalkan tangan kanannya seperti bersiap-siap memukul. " Satu kali lagi gue tanya pada lu,siapa namanya dan dimana tinggalnya" lanjutnya sambil memegang pipiku dan menaikkan daguku membuat mereka berdua saling bertatapan.
"Kau tidak boleh tahu tentang dia karena dia mungkin tidak suka denganmu" ucapku pada dio.
Tiba-tiba tangan kanan dio mengayun ke arah perut yang membuatku meringis kesakitan.
__ADS_1
"Jadi,itu jawaban dari lu tentang dia hah? Gue gak boleh tahu tentang cewek itu?" Dio langsung menanyakan dengan raut wajah emosinya padaku yang masih kesakitan.
"Lutut kan dia.!!" Ucap dio pada dua preman yang memegangi ku.
"Baik,bos." Jawabnya menuruti perintah dari dio.
Dua preman itu langsung menendang dua kakiku dari belakang,membuat lutut ku membentur tanah dengan keras.
"Aaaa...." Teriak ku kesakitan.
Dio hanya melihatku dengan senyum masam karena teriakannya dan tidak peduli apa yang terjadi padaku.
"Teriak lah dengan keras! Emang ada yang mau membantu lu" ucap dio kepadaku.
Aku langsung menatap tajam ke arah dio yang didepan ku sambil menahan rasa sakit. Dio pun menghampiri ku dan langsung jongkok di hadapanku.
" Izal izal,kasian amat sih nasib lu. Di sekolah,selalu dibully. Teman,gak punya. Aduh untung waktu itu gue sadar." Ucapnya padaku yang semakin marah ketika dio mengucapkan itu.
"Wah wah sabar dulu jangan emosi dulu! Dengerin ya sebenarnya waktu gue masih berteman dengan lu,gue udah benci dengan lu sejak awal. Ya waktu itu tahun pertama gue di desa ini,jadi aku harus mempunyai teman sebanyak mungkin disini.tetapi,gue melakukan satu kesalahan besar yaitu berteman dengan lu yang miskin dan melarat. Itu lah kenapa gue menjauh dari lu." Kata dio membuatku terkejut akan hal ucapan itu yang membuatku langsung murung seketika.
"Ya untung waktu itu senior kita menyadarkan gue untuk menjauh dari lu. Mereka berkata pada gue kalau lu pasti akan memanfaatkan gue untuk melakukan apa yang lu mau." Lanjutnya, tetapi aku hanya menundukkan kepala dihadapannya yang membuat dia marah padaku. "Woii lihat gue,tatap mata gue."
Dio hanya menganggukkan kepala dan menjawab pertanyaanku, "ya gitu maaf ya" sambil berdiri.
Mendengar itu aku langsung naik pitam,aku berusaha untuk meraih dio tapi aku ditahan oleh dua preman. Kedua tanganku ditarik dan punggungku didorong oleh preman itu yang membuatku berteriak kesakitan.
"Aaaa..." teriakku kesakitan
" Zal zal dasar bodoh lu!" Ucapnya padaku.
"Dasar baj..." Ucapan dariku terpotong ketika dio tiba-tiba menendang kepalaku ke arah kanan. Aku pun dihajar habis-habisan oleh dio hingga aku berdarah di area wajah,baju seragam yang aku pakai pun menjadi kotor karena tanah lapangan.
Dio berhenti menghajarku karena melihatku sudah babak belur dan dua preman itu tetap memegangi tanganku.
"Uhuk.. uhuk.." aku batuk darah ke tanah lapangan, dimulut dan hidung sudah keluar darah dan mataku yang sudah membiru karena dio menghajarku.
"Lepaskan dia !" Ucap dio pada dua preman. Dio pun akhirnya menyuruh kedua preman itu untuk melepaskanku.
__ADS_1
Mereka berdua melepaskan tanganku yang sedang sekarat karena di hajar terus menerus oleh dio. Aku tidak bisa mengelak dari pukul dio karena aku terus ditahan
"Oh iya,angkat dan seret dia ditengah lapangan supaya ada yang menolong dia" kata dio.
"Baik,bos." Mereka pun menuju ke arahku yang tergeletak dihadapan mereka bertiga.
Dio lalu mengeluarkan kain dari kantong sakunya untuk membersihkan tangannya yang kotor. Aku pun hanya pasrah ketika diseret oleh kedua preman tersebut ke tengah lapangan.
Aku pun ditaruh ditengah lapangan, dua preman itu masih berdiri di hadapanku. Dio pun menyusul mereka berjalan ke arahku yang sudah tergeletak tak berdaya.
"Ha.. ha..." Aku hanya bisa menghela nafas menahan sakit.
Dio pun sudah berada dihadapanku,yang membuat sinar matahari sore biasa terlihat indah seketika tertutupi oleh mereka bertiga. Aku hanya bisa pasrah dan menyerah.
"Izal,maafkan gue yang karena gue sudah menjelaskan alasan gue menjauhi dirimu. Dan lupakan tentang wanita yang bersama lu tadi malam karena gue akan mencari tahu tentang dia." Ucapnya padaku yang tergeletak dihadapannya.
Seketika aku melihat sebatang kayu yang menancap di sebelahku, aku pun berinisiatif menyerang balik mereka ketika dia akan meninggalkanku sendirian disini.
"Woi.. hentikan." Dari jauh aku mendengar suara teriakkan seseorang yang membuat dio dan kedua preman itu panik.
Orang itu langsung berlari mendekati dio dan dua preman itu pun berlari meninggalkan ku sendiri di tengah lapangan.
"Woi... Jangan lari woi." Orang itu sudah berhenti dihadapan ku.
Orang itu pun menengok ke arah ku dan menghampiri ku,tetapi setelah aku lihat siapa orang itu ternyata dia adalah teman kelas ku namanya adalah dwi agung dan satu orang lagi ikut bersamanya namanya adalah faraz bintang haydar.
"Zal,kau baik-baik saja.?" Katanya padaku yang sudah tak berdaya.
"Raz,ayo angkat dia! Dan bawa dia ke rumahnya." Lanjutnya yang cemas melihat kondisi ku.
"Ayo lah." Jawabnya.
"Oke, 1...2...3 angkat." Agung menghitung untuk bisa mengangkat ku bersama-sama. Kemudian mereka meraih tanganku dan meletakkan tanganku di bahu mereka berdua.
"Kamu bisa berjalan zal?" Tanya agung padaku yang sudah diangkatnya,tetapi diriku hanya meringis kesakitan dan tidak menjawab pertanyaan darinya.
"Ya udah raz,kita tuntun dia ke motor dan antar dia pulang." lanjutnya.
__ADS_1
"Ayo cepat ! Ini sudah hampir maghrib." Kata faraz tergesa-gesa.
Aku pun akhirnya dibawa oleh mereka berdua ke motor milik agung untuk mengantarkan ku pulang ke rumah. Ibuku pasti terkejut dengan kondisi ku sekarang,pasti ibu akan bersedih ketika anaknya terluka seperti ini, aku hanya bisa berharap semoga ibuku tidak menangis melihatku ketika aku tiba di rumah.