
Siang itu, wanita bertubuh tinggi semampai itu telah menyelesaikan mata kuliahnya. Setelah mengecek ponsel pintarnya, ia bergegas meninggalkan ruang kelasnya menuju luar gedung.
"El ..."
Merasa namanya di panggil, gadis berkulit putih itu pun mengedarkan pandangannya mencari sumber suara.
"Iya."
"Buru-buru amat, sih, El."
"Zack, aku udah di tunggu kakakku," ucap El.
"Aryan?" tanya Zack dengan mata menelisik.
"Hmm ...." gumam El.
"Ntar aja, ya, Kak Aryan udah nunggu, nih. Bye!" El, berlari meninggalkan Zack tanpa mengindahkan panggilannya.
El terus berlari menuju parkiran, mercedes benz E class berwarna hitam metalic menjadi tujuannya.
Tok tok tok
El mengetuk kaca mobil sambil mengintip ke dalam mobil. Merasa tak ada respon dari kakaknya, ia pun kembali mengetuk kaca mobil lebih keras lagi dan itu berhasil membuat orang yang ada di dalam terjingkat kaget.
El membuka pintu setelah mendengar pintu mobil itu tak terkunci lagi.
"Bengong mulu, nih, kakak." El merengut kesal.
"Maaf, El. Kakak nggak fokus. Udah selesai, kan?" tanya Aryan.
"Iya. Kakak kenapa, sih,? kayak lagi banyak pikiran gitu."
"Hmm, memang," jawab Aryan.
"Mikirin apa, sih?"
"Mikirin calon istri!" Aryan menjawab tanpa menatap El.
"APA!" pekik El.
Lengkingan suara El sukses membuat Aryan yang berada di sampingnya menutup telinga.
"Kakak udah punya calon istri? yang benar aja. Aku, kok, nggak tahu apa-apa, sih? tatapan El seketika membola.
" Hmmm ...." jawab Aryan.
"Siapa orangnya, kak? orang di perusahaan, ya? kenalin, dong." El menyerang sang kakak dengan serentetan pertanyaan.
"Nanti kamu pasti tahu, kok. Yuk, kita jalan!" ajak Aryan.
El masih terdiam. Ia masih tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Mendadak ada banyak pertanyaan yang berebut masuk ke dalam kepalanya. Siapa calon istri kakaknya? sejak kapan kakaknya menjalin hubungan? selama ini El tidak pernah melihat kakaknya dekat dengan siapapun. Yang ia tahu, sehari harinya sang kakak hanya sibuk bekerja membantu papinya di perusahaan.
"El ...."
"Eh, iya, kak," jawab El, kaget.
"Kok, jadi kamu yang bengong, El?" tanya Aryan.
"Syok aja, kak,"
"Ayo pake seat belt nya, El," titah Aryan.
"Oke!"
__ADS_1
Mobil mewah yang di kendarai oleh Aryan melaju membelah keramaian kota. Hingga keduanya tiba di depan sebuah gedung.
"Kita kesini sebentar, ya, El." Aryan mematikan mesin mobil.
El mengernyit membaca tulisan yang ada di depan gedung itu. "Toko perhiasan?"
"Hmm ... Ayo," ajak Aryan.
"Aku?" El menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah bingung."
"Iya, Ellycia Geoneva! bantu kakak untuk memilihnya."
El hanya terkikik pelan. "Baiklah, kak, Ayo!"
Keduanya bergegas memasuki gedung berpintu kaca itu.
"Wah!" mata El seketika terbelalak taktkala melihat koleksi aneka perhiasan di toko itu.
"Gimana menurutmu, El?" tanya Aryan sembari merangkul pundak sang adik.
"Bagus bagus, kak," jawab El.
"Bisa tolong pilihkan?"
El mengernyit. "El yang pilih?" dan di jawab anggukkan oleh sang kakak.
"Enggak,ah, El nggak tahu kesukaan calon kakak ipar gimana," tolak El.
"Pilihkan aja," Aryan menarik tangan El.
"Eh, tunggu dulu. Ukurannya gimana, kak?" tanya El.
"Sesuai dengan jarimu, El. Ayo!" Aryan kembali menarik tangan El menuju etalase yang menyimpan aneka koleksi cincin.
El sangat bersemangat. Matanya menyusuri tiap sudut etalase. Memilah dan memilih setiap cincin yang di rekomendasikan oleh pegawai toko itu.
"Tahu aja cincin mahal" celetuk Aryan
El hanya tersenyum. Ia menunggu cincin itu untuk di bayar oleh Aryan.
Setelah selesai, keduanya pun masuk ke dalam mobil untuk menuju ke rumah.
"Kak, calon kakak ipar orangnya gimana, sih?" tanya El
"Penasaran banget, sih, El?" jawab Aryan.
"Ya penasaran aja. Jawab, dong," desak El.
"Orangnya pecicilan kayak kamu!" ketus Aryan.
El mencebik. "Kalau tahu pecicilan kayak aku, kenapa kakak mau? salah kakak sendiri itu namanya."
Tidak ada jawaban dari mulut Aryan. Ia hanya membalasnya dengan senyuman dan gelengan kepala.
***
Sesampainya di rumah, El segera mencari keberadaan papinya.
"Pi, Papi!" Panggil El dengan suara yang keras menggema ke seluruh sisi ruangan rumah.
"Salam dulu, El." Aryan mengingatkan.
El hanya cekikikan saja. "Assalamualaikum, papi!" El membingkai bibirnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Dasar tarzan wati!" celetuk Aryan.
"Kalau sudah rame seperti di pasar, itu tandanya anak papi sudah ada di rumah. Bukan begitu?" jawab papi sembari menuruni anak tangga.
"Ah, papi! El segera menghambur ke pelukan papinya dan di balas hangat oleh papi.
" Pi, papi tahu. Kak Aryan sudah punya calon istri."
Papi tersenyum dan menatap Aryan. "Papi, kan, ayahnya, sudah pasti papi tahu."
"Berarti cuma El yang enggak tahu? jahat sekali!" El memasang raut wajah kesal sambil melipat tangannya ke dada.
"Sudah, El, cepat ganti bajumu! setelah itu kita makan siang bareng." titah Aryan.
"Iya iya, cerewet!" jawab El.
Aryan dan papi hanya menggelengkan kepalanya melihat satu satunya putri di rumah itu.
"Kamu membawanya membeli cincin?" tanya papi.
"Iya, pi," jawab Aryan.
Papi hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. "Ya sudah, ayo kita ke meja makan sambil menunggu El."
"Iya, pi," jawab Aryan.
Kedua lelaki beda era itu pun dengan kompaknya berjalan menuju meja makan sambil menunggu El selesai berganti baju.
"Bagaimana, Ar? Apa semua rencana berjalan dengan semestinya?" Papi menarik kursi yang ada di dekatnya dan duduk di sana.
"Alhamdulillah, pi, tidak ada kendala apa pun," jawab Aryan.
"Terimakasih, Ar, atas semuanya," ucap Papi.
"Tidak perlu berterimakasih, pi," sahut Aryan.
"Papi tidak tahu apa yang terjadi jika jika tidak ada kamu." Lelaki paruh baya itu menepuk pundak Aryan.
"Hai, Hai, everybody, maaf sudah lama menanti permaisuri yang cantik ini." Suara keras bak petasan milik El tiba-tiba saja terdengar di sela obrolan ayah dan anak lelaki nya itu.
Heryawan Wiraja, sang ayah hanya bisa memijat pelipisnya melihat tingkah putrinya.
"Ayo, kakak, papi, di makan, loh, makanannya. Jangan malu-malu," celetuk El.
Aryan dan Heryawan saling melempar senyuman akibat celetuk kan wanita muda di depan mereka.
"Loh, kok, nggak ada kerupuknya? Bu, Bu Ida, tolong ...."
"Ambilah sendiri, El! . Bu Ida ada kerjaan yang lain," titah Aryan.
"Ih ...." Dengan wajah di tekuk El berjalan ke arah dapur untuk mencari kerupuk kesukaannya. Saking kesalnya ia sampai menghentak-hentakkan kakinya ketika berjalan.
"Jangan terlalu bergantung dengan Bu Ida, El. Kasihan Bu Ida," ucap Aryan.
"Kan, memang udah tugasnya Bu Ida, Kak," sahut El.
"Apa salahnya menghargai Bu Ida, El. Sesekali kamu yang bantu Bu Ida nggak masalah, kan," jawab Aryan.
"Papi ...." rengek El.
"Ikuti saja kata kakakmu, El," jawab Heryawan.
El hanya menghela nafas. Niat hati ingin meminta pembelaan dari sang ayah, sang ayah justru memintanya patuh dan taat pada ucapan sang kakak.
__ADS_1
Ketiganya pun larut dalam suasana makan siang bersama. moment yang cukup jarang terjadi karena kesibukan mereka masing-masing.
TBC