Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Kesabaran Aryan


__ADS_3

....


"Kakak." Mata indah itu membulat sempurna kala melihat sosok lelaki berbadan tegap itu sudah berada di depannya saat ini.


El menelan salivanya, tapi entah mengapa terasa sulit saat ini. Kerongkongan nya mendadak seperti tercekat. Saat ini El tak punya nyali untuk menatap Aryan walaupun Aryan tak menampakkan kalau ia sedang marah. Tatapan matanya tetap teduh memancarkan ketenangan, tetapi El tahu diri. Di sini memang El lah yang salah.


"Udah selesai makan siangnya?" tanya Aryan.


"U-udah, Kak." El terbata-bata.


"Bisa kita pulang sekarang?" Aryan mengulurkan tangan ke arah El.


Tanpa menatap ke arah Zack, El berjalan ke arah Aryan dan meraih uluran tangannya.


"Maaf, saya dan ISTRI saya duluan, ya." Aryan sengaja menekankan kata 'istri'. Mungkin agar Zack juga tahu diri.


Tidak ada jawaban apa pun dari Zack. Ia hanya mematung di tempatnya. Menatap kepergian El dengan Aryan.


Aryan terus berjalan seraya menggenggam jemari lentik milik El. El pun tidak bisa berbuat banyak.


"Kak."


"Hmm," jawab Aryan, sekedarnya.


"Aku boleh pamit sama Clara dan Jenny? Aku nggak enak kalau harus ninggalin mereka gitu aja. " El menggigit bibir bagian bawahnya. Sungguh, ia sangat takut saat ini.


Aryan dia sejenak. Beberapa detik kemudian, ia berjalan sambil menarik El ke arah restoran tempat Clara dan Jenny berada.


"Pergilah, tapi jangan lama-lama. Aku tunggu di sini," jawab Aryan.


"I-iya, Kak." El pun berjalan dengan tergesa-gesa.


Tanpa basa-basi, ia langsung menghampiri meja kedua sahabatnya.


"Eh, gue duluan, ya," ujar El.


"Lah, kok, cepet banget lo, El?" tanya Clara.


"I-iya, Kak Aryan ngajak gue pulang." El menunjuk ke arah luar.


Clara dan Jenny kompak melihat ke arah yang di tunjuk oleh El. Memang benar. Dari dalam restoran keduanya bisa melihat Aryan yang tengah menunggu El dengan melipat tangannya di dada


"Hmm, nggak asik banget, sih, Kak Aryan," sahut Jenny.


"Sorry, gue duluan, ya." Tak mau membuat Aryan menunggu lama El memilih langsung meninggalkan kedua temannya itu dan menghampiri Aryan dengan setengah berlari.


"Udah?" tanya Aryan.


"Udah, Kak." jawab El.


Tanpa berkata-kata lagi Aryan pun menggandeng tangan El dan membawanya masuk dalam mobil.


Di dalam mobil terasa begitu hening. Aryan yang duduk di bagian belakang bersama El terlihat diam seribu bahasa. Namun, jemarinya seperti tak ingin melepaskan El. Aryan tetap menggenggamnya. Sedangkan pandangannya mengarah ke jalanan.


"Pak, kita langsung pulang?" tanya Septian dari bagian kemudi.


"Iya, Sep," jawab Aryan, singkat.

__ADS_1


El hanya terdiam sedari tadi di samping Aryan. Ia ingin berbicara dengan Aryan, tetapi ia masih mengumpulkan keberaniannya.


'Pengen ngomong, tapi ngomong apa?' batin El.


"Kak." Akhirnya El memberanikan diri untuk berbicara.


"Hmm." Jawab Aryan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Aku ...."


"Minta maaf?" Aryan memotong ucapan El dengan cepat.


El tertunduk lagi. Ia semakin takut ingin berbicara dengan Aryan.


"Hmm, Kakak marah?" El menanyakan hal yang sebenarnya ia sendiri tahu jawabannya.


"Jika suami yang kamu cintai pergi berdua dengan wanita lain. Sambil berpegangan tangan dan suamimu di cium wanita lain di muka umum apa kamu akan marah?" Aryan balik bertanya.


El tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam. Suasana pun kembali hening. El dan Aryan hanya membisu sampai mereka tiba di rumah. Setibanya di rumah, Aryan langsung menggandeng tangan El, membawanya menuju kamar mereka berdua.


"Mandilah, setelah itu tetap di kamar," titah Aryan.


El hanya mengangguk. Ia seperti sudah kehabisan kosakata.


CUP....


Sebuah kecupan mendarat manis di kening El sebelum Aryan keluar dari kamar. El menatap nanar punggung Aryan yang perlahan menghilang di balik pintu. Sebuah senyum terlihat dari sudut bibirnya. Hatinya begitu menghangat mendapat perlakuan manis dari Aryan, tetapi hanya sesaat.


Di detik kemudian, ia justru merasa bersalah kepada Aryan. Lelaki itu tetap memperlakukannya dengan manis meskipun ia berulang kali menyakitinya.


'Maafkan aku, Kak,'


****


Aryan pun meletakkan nampan yang berisikan makanan dan air putih di atas nakas. Aryan duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur sambil mengusap rambut panjang kecoklatan milik El.


"El." Panggil Aryan dengan suara yang begitu lembut.


Tidak ada tanda-tanda pergerakkan dari El, Aryan kembali membangunkannnya. "El."


Mata El mulai terbuka sedikit demi sedikit. "Kakak."


"Itu makan malam untukmu. Makanlah," titah Aryan.


"Kak, aku ...."


"Ayo makan dulu," potong Aryan.


El tidak berani banyak bicara. Ia pun melakukan apa saja yang di perintahkan Aryan agar mengamankan posisinya. Setelah selesai makan Aryan pun mengambil nampan yang di atas nakas untuk di bawa ke dapur.


"Kak," panggil El.


"Sebentar aja, El," Aryan yang sudah berjalan menuju pintu hanya menoleh sekilas.


Tak lama kemudian, Aryan pun masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu.


"Ada apa?" Aryan duduk di samping El.

__ADS_1


"Hmm, maafkan aku, aku tadi tidak se ...."


"Tidak sengaja, kan? Aku tahu, El." Aryan lagi-lagi memotong ucapan El. Ia sudah seperti paranormal yang bisa menebak isi pikiran El.


"Hanya saja, kamu membiarkan Zack menciummu dan kamu menerimanya," ucap Aryan.


"Kakak cemburu?" tanya El.


"Kamu bertanya tentang cemburu? Aku jadi ingin bertanya padamu, apa pantas wanita beristri melakukan hal yang kamu lakukan dengan Zack tadi?


El bungkam. Ia tidak bisa menjawab, karena sebenarnya ia pun merasa apa yang di lakukannya benar-benar tidak pantas. Ia hanya bisa tertunduk sambil meremas ujung guling.


"Kamu belum mengatakan statusmu dengan Zack?" tanya Aryan.


"Sudah, Kak," jawab El.


"Lalu? kenapa masih berani seperti tadi. Masih untung bukan Papi yang melihatnya, El. Mungkin Papi akan langsung mati jika melihatmu seperti tadi."


"Kakak!" Pekik El dengan mata membola.


"Aku tidak bohong, El. Untung saja jantungku masih kuat, emosiku masih bisa aku kondisikan. Jika tidak, mungkin 'si ojek' itu sudah aku beri bogem mentah." Aryan mengepalkan tangannya.


"Aku minta maaf, Kak," ucap El dengan wajah memelas.


"Minta maaf lah dengan cara yang baik dan benar, El. Baru aku memaafkanmu," jawab Aryan.


El menaikkan satu alisnya. "Bagaimana caranya?"


"Coba pikirkan aja," jawab Aryan, seenaknya.


El meraih tangan Aryan dan menyalaminya. El pun mencium tangan Aryan dengan begitu takdzim. "Maafin aku, ya, Kak. Aku janji nggak akan ngulangin lagi."


Aryan menahan tawanya yang hampir meledak. "El, itu cara meminta maaf kepada orangtua. Aku ini suamimu sekarang, bukan kakakmu. Apa harus ku ingatkan?"


El mencebik kesal. "Lalu aku harus bagaimana?"


Aryan tersenyum. Ia menarik tubuh El agar masuk ke dalam pelukannya. "Sini, biar aku kasih tahu."


El yang tak mengerti apa pun hanya mengikuti arahan dari Aryan. Ia terlihat pasrah ketika Aryan membawanya dalam pelukannya.


Aryan hanya diam. Namun, matanya menatap ke dalam retina mata El.Perlahan Aryan mengecup kening El. Cukup lama bibirnya mendarat di sana. El memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang di suguhkan oleh Aryan. Menerima saat Aryan menyalurkan cinta untuknya dan ....


****


"Ayo, tidurlah," titah Aryan.


El hanya terpaku. Merasakan sentuhan cinta yang di berikan Aryan. Ia sampai tidak tahu berapa lama Aryan mengeksplor indra perasanya. Walau Aryan tidak mengambil hak nya malam itu, yang ia tahu, Aryan membuatnya terhanyut dalam sentuhan cintanya.


'Apa memang begitu cara meminta maaf kepada suami?' batin El.


"Sayang." Aryan membelai pipi El.


"Eh, I-iya, Kak," jawab El, gelagapan.


"Baru juga di cium, udah nggak fokus gitu. Kalau aku lakukan yang lebih mungkin kamu bakal eror, El," celetuk Aryan.


El hanya melotot melihat Aryan yang terkekeh.

__ADS_1


'Benarkah?'


__ADS_2