
....
Pagi itu Aryan bangun lebih dulu di bandingkan istrinya. Selesai sholat subuh, Aryan tersenyum melihat El yang meringkuk di balik selimut tebalnya. Wajah mulusnya tertutup oleh sebagian rambutnya.
"El ..." Panggil Aryan. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah El.
Seperti biasa. Bukan El namanya jika sekali panggil langsung membuka mata.
"Sayang." Aryan sedikit mengguncangkan bahu El.
"Hmm." Hanya terdengar El menggumam.
"Bangun, yuk," ajak Aryan.
El mengerjap beberapa kali. Ia melihat ke atas nakas sambil mengusap matanya. "Kak, kepagian bangunnya." Rengekannya terdengar manja di telinga Aryan.
"Terus kamu mau bangun jam berapa?" tanya Aryan.
"Biasa bangun jam tujuh," jawab El.
Aryan hanya tersenyum sambil mengusap puncak kepala El. "Mulai sekarang bangun pagi, ya. Terus sholat."
'Hah, sholat?'
"Tapi ... Kak ..." El ragu ingin melanjutkan ucapannya.
"Di suruh ibadah, loh." Aryan mengacungkan telunjuknya.
"El lupa bacaannya." El tertunduk. Jujur ia seperti tak punya muka saat ini. Sebagai muslim ia tidak pernah melaksanakan kewajibannya, bahkan bacaannya saja ia sudah tak ingat.
"Nanti aku ajarin, ya," jawab Aryan.
El hanya mengangguk. Selama ini ia memang tidak mengerti apa-apa tentang agama. Di rumah ini memang hanya Aryan lah yang rajin menunaikan sholat dan mengaji. Sementara ia dan Papinya juga tak pernah melakukannya.
"Ya udah, mandi sana. Ada kuliah pagi, kan?" tanya Aryan dan hanya di jawab anggukkan oleh El.
****
Aryan pun sudah berada di meja makan bersama dengan Heryawan wiraja. Keduanya pun terlibat dalam obrolan santai membahas tentang proyek-proyek yang di tangani perusahaan.
"Ar, bagaimana progres pembangunan yang ada di kota X? berjalan sesuai rencana?" tanya Heryawan.
"Alhamdulillah, Pi. Semua berjalan sesuai rencana. " jawab Aryan. Heryawan menanggapinya dengan anggukkan kepala.
Obrolan keduanya terhenti saat El mulai menampakkan batang hidungnya di tengah-tengah keduanya.
"Papi ... Kakak," sapa El.
"Pagi anak Papi. Udah rapi aja."
"Iya, Pi, mau ke kampus." El mengambil roti yang ada di depannya. Saat hendak mengambil selai, matanya tak sengaja melirik ke meja bagian depan Aryan.
__ADS_1
"Kakak nggak sarapan?" tanya El.
"Kakak, kan dari tadi nunggu kopi cinta, El." Aryan berkata sambil menyangga dagunya.
El menepuk keningnya. Tanpa menjawab apa-apa, El langsung berjalan ke dapur untuk membuat kopi untuk Aryan. Ia benar-benar belum terbiasa. Ia masih menganggap dirinya El yang dulu, yang bisa bangun tidur sesuka hati tanpa harus ada tanggung jawab apa pun selain kuliah.
"Ini, Kak." El meletakkan kopi tepat di hadapan Aryan.
"Makasih, ya," Aryan mengusap kepala El.
Heryawan yang melihatnya pun tersenyum.
'Semoga kebahagian selalu bersama kalian, nak,' gumamnya.
"Ayo kita berangkat, El." Ajak Aryan setelah menyelesaikan sarapannya.
"Hah!" Mata El membulat.
"Ayo, mau ke kampus, kan?" ucap Aryan.
"I-iya, Kak."
"Pi, kami berangkat dulu, ya," pamit Aryan.
"Kalian berdua hati-hati, ya," sahut Heryawan.
Aryan dan El pun meraih tangan lelaki paruh baya itu dan mencium punggung tangannya dengan takdzim.
"Iya, Kak," jawab El, singkat.
"Jangan berbuat yang aneh-aneh, ya." Aryan menyentuh hidung wanita yang sedari tadi terdiam di sampingnya.
"Aneh-aneh apa, Kak?" El mengernyit.
"Jangan bertemu si ojek lagi di belakangku, mengerti?" Aryan menatap El, lekat.
El hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di tempat El menimba ilmu beberapa tahun ini. "Kak, aku duluan, ya."
"Hmm, hati-hati. Belajar yang bener biar cepet lulus. Biar bisa ...." Aryan mengedipkan sebelah matanya.
"Bisa apa?" El menatap Aryan, heran.
"Bisa cepet punya anak," jawab Aryan.
Glek!
El menelan salivanya dengan susah payah, lalu ia tersenyum. "Hehehe, punya anak, ya?"
Jujur, tidak ada terbersit di benak El akan memiliki anak secepat ini. Apalagi anak dari Aryan. Lelaki yang sejak kecil ia tahu sebagai kakaknya, kakak kandungnya. Aneh. Itulah yang ia rasanya jika harus melakukan proses perkembangbiakan bersama lelaki itu. Mengapa takdir seaneh ini, pikirnya.
__ADS_1
El pun meraih tangan Aryan dan mengecupnya. Aryan pun meraih kepala El dan mendaratkan satu kecupan manis di kening El layaknya pasangan romantis.
Aryan memandang punggung wanita berbaju biru navy itu hingga menghilang dari pandangannya. Tak lama, Aryan mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas yang ia kenakan. "Tolong awasi El kemana pun dia. Jangan lengah!" titah Aryan pada seseorang yang ada di seberang sana.
****
Siang itu El selesai dengan mata kuliah pagi nya. Ia berniat pulang. Namun, ketika sampai di luar gedung tepatnya di dekat parkiran ia melihat seseorang yang sebenarnya tak ingin ia lihat.
"Zack," ucapnya pelan, Bahkan hanya ia sendiri yang mendengarnya.
"El," Sapa Zack.
"Ada apa, Zack?" tanya El. Sungguh, saat ini ia tidak ingin bertemu Zack. Ia masih merasa malu dengan Aryan, malu dengan dirinya sendiri. Terus-terus bertemu Zack hanya menambah dosa saja untuknya. Dosanya yang tidak mengikuti ucapan suaminya. Sikap baik dan manis Aryan yang ia dapat walaupun ia mengecewakannya, membuat El malu sendiri.
"Bisa kita bicara sebentar? tapi tidak di sini," pinta Zack.
"Aku nggak mau ke mana-mana, Zack. Bicara lah di sini," ketus El.
"Hmm, di dalam mobil, gimana? aku janji hanya di mobil. Aku hanya butuh privasi, sebentar aja," bujuk Zack.
El terdiam. Ia berusaha menimbang ajakan Zack. "Bener, ya, di sini aja."
"Oke." Zack pun berjalan ke arah mobilnya dan di ikuti oleh El.
"Ada apa, Zack?" tanya El sesampainya di dalam mobil.
"Nggak apa-apa, cuma pengen berdua aja, sayang. " Zack mengusap bahu El.
"Hmm, Zack, aku benar-benar udah nggak bisa sama kamu. Please, jangan temui aku lagi,"
Zack hanya terdiam dengan wajah yang tidak bisa di tebak. Di detik kemudian, ia hanya tersenyum. "Minum dulu. Jangan buru-buru ceritanya." Zack memberikan jus jambu merah kepada El.
El menerimanya. Memang kebetulan sekali ia sangat haus. Tanpa menunggu lagi, El pun meminum jus segar itu menggunakan sedotan. "Thanks, ya, Zack." dan hanya di jawab anggukkan oleh Zack.
"Aryan memarahimu kemarin?" tanya Zack.Mengingat kemarin Aryan memergoki keduanya dengan mata kepala sendiri.
"Enggak. Dia enggak pernah memarahiku, Zack. Sesalah apa pun aku. Makanya aku memintamu untuk menjauhiku. Aku malu sama Kak Aryan, Zack," ujar El.
"Lalu kamu mau ninggalin aku gitu aja? Hati aku gimana, El?" tanya Zack, memelas.
El terdiam. Ini memang tidak mudah. Bukan hanya Zack, tapi ini juga tidak mudah untuk dirinya.
"Percayalah, Zack. Ini juga nggak mudah buatku, ssshhh ..." El mendesis sambil memegang dahinya. Mendadak kepalanya begitu pusing seperti nerputar-putar.
"El, are you okey? " tanya Zack.
"Entahlah, Zack. Kepalaku mendadak pusing." El mengerjap beberapa kali. Pandangan nya terasa kabur dan ....
Kesadaran El mulai menurun. Sekuat apa pun ia berusaha membuka matanya, memaksa agar ia tetap sadar ia tidak bisa. El terkulai tak sadarkan diri di dalam mobil.
Zack menyeringai. "Dasar bodoh!"
__ADS_1