Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Tinggal Di rumah Pak Kamsuri


__ADS_3

....


Malam itu, dengan sedikit berlari Aryan menyusuri selasar rumah sakit. Ia segera berlari menuju kamar di mana Heryawan di rawat setelah bertanya di bagian informasi.


Setelah menemukan kamar yang di cari, Aryan pun menarik handle pintu. Mata Aryan di suguhkan dengan pemandangan yang membuat batinnya tersayat. Heryawan terbaring lemah di atas brankar dengan beberapa selang yang terhubung ke tubuhnya.


Aryan menatap nanar tubuh Heryawan. Matanya terpejam erat dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Aryan meraih tangan Heryawan dan mengecupnya.


Tak berapa lama, terlihat lah Bu Ida keluar dari dalam toilet yang masih berada dalam satu ruangan dengan kamar perawatan Heryawan.


"Tuan Muda," sapa Bu Ida.


"Papi kenapa, Bu?" tanya Aryan.


"Hmm, sepertinya Tuan Besar memikirkan Nona El, Tuan." Bu Ida menatap sendu majikannya.


Aryan memejamkan mata sambil memijit pelipisnya. Ada sedikit merasa bersalah karena tidak bisa menjaga El.


"Hmm, Gimana kabar dari Nona El, Tuan?"


"Masih belum ada kabar, Bu. Do'akan mudah-mudahan ada kabar baik." Jawab Aryan dengan senyum tipis di wajahnya. Mencoba meredam kegelisahan orang-orang di sekiranya.


"Aamiin," sahut Bu Ida.


"Lebih baik Ibu pulang aja. Istirahat di rumah. Biar saya yang jaga Papi," ucap Aryan.


"Baik, Tuan Muda. Saya permisi pulang duluan." Bu Ida pun meninggalkan kamar rawat inap itu.


****


El dan Bapak yang menemukannya itu pun berjalan perlahan-lahan menyusuri rimbunnya pepohonan. El mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia benar-benar merinding melihatnya. Entah bagaimana nasib El jika Si Bapak tidak menemukannya. Bisa saja dia mati di terkam hewan buas penghuni hutan ini.


"Pak, masih jauh nggak, sih? Sakit banget, loh ini," rengek El.


"Sabar, Mbak. Sebentar lagi," jawab Si Bapak.


El benar-benar merasakan kakinya seperti mau patah. Untuk berjalan saja, ia harus berpegangan erat pada pundak Si Bapak.


"Oh, ya, nama Bapak siapa?" tanya El.


"Saya Kamsuri, Mbak," jawab Pak Kamsuri, singkat.


El membalasnya dengan anggukkan kepala.


Tak lama kemudian, El dan Pak Kamsuri telah sampai di perkampungan kecil. "Rumah saya yang di sebelah sana, Mbak. Ayo, sebentar lagi kita sampe, Mbak." Pak Kamsuri memberikan El semangat.


"Oh, iya, Pak." El melihat ke arah rumah yang di tunjuk Pak Kamsuri.

__ADS_1


Akhirnya, keduanya pun sampai di sebuah gubuk tua yang terbuat dari anyaman bambu. Tidak ada listrik, penerangan pun hanya memakai lampu yang terbuat dari kaleng susu bekas yang di beri sumbu.


"I-ini rumah Bapak?" tanya El


"Iya, Mbak. Maaf cuma gubuk reot," jawab Pak Kamsuri.


El hanya tersenyum getir. Ia duduk di kursi yang terbuat dari bambu, menunggu istri Pak Kamsuri membukakan pintu.


"Bu, Bapak pulang." Pak Kamsuri memanggil sangat istri sambil mengetuk pintu yang terbuat dari anyaman bambu juga.


Tak lama kemudian, nampak lah seorang wanita rambut yang di sanggul. Tidak terlalu tua. Mungkin usianya sekitar tiga puluhan.


"Eh, Pak, udah pulang?" Wanita itu menyambut kedatangan Pak Kamsuri.


"Iya, Bu," jawab Pak Kamsuri.


Wanita itu lalu menatap keluar. Matanya terbelalak ketika melihat Pak Kamsuri membawa seorang wanita muda.


"Pak! siapa ini? Bapak dapet perempuan di mana, Pak?" Suara cempreng lima oktaf nya begitu memekakkan telinga.


"Ssstt, pelan-pelan kalo ngomong, Bu. Nanti tetangga terganggu." Pak Kamsuri mengacungkan telunjuknya ke bibir wanita yang ternyata istri Pak Kamsuri.


"Kenapa, Pak? Bapak takut kalo tetangga tau Bapak itu punya dua istri, hah!" Suara cempreng itu kian meninggi ukuran oktaf nya.


'Apa katanya, aku di sangka istri kedua Pak Kamsuri. Punya laki seganteng Kak Aryan aja gue masih sulit nerima.' El ngomel dalam hati.


Pak Kamsuri menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kilatan amarah yang sempat menyala di wajahnya perlahan mulai meredup.


"Kamu sudah makan?" Istri Pak Kamsuri mendekati El selepas ia bercerita dengan suaminya.


El hanya menggelengkan kepalanya.


"Maaf, yo, Mbak. Ibu tadi terbawa emosi. Ibu kira Si Bapak punya istri lagi," kata istri Pak Kamsuri. El hanya membalasnya dengan senyum getir.


'Ya ampun, Si Ibu cemburu ternyata,' El membatin.


"Ayo, saya bantu masuk ke dalam," ajak istri Pak Kamsuri.


El pun di papah oleh istri Pak Kamsuri untuk masuk ke dalam rumah.


"Bajumu basah, Ganti pake baju ibu mau?" tanya Istri Pak Kamsuri.


"Hmm, asal Ibu nggak keberatan," jawab El.


Istri Pak Kamsuri terlihat tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar yang hanya tertutup oleh kain. Namun, tak berapa lama ia keluar lagi sambil menepuk keningnya. "Owalah, Ibu lupa. Kamu, kan, susah mau jalan, toh? Kita langsung kamar aja, kan, nggak mungkin kamu ganti di sini."


El mengganti baju dengan baju seadanya. Baju daster batik yang kondisinya sudah lusuh. Bahkan terdapat sedikit robekan kecil di beberapa bagian.

__ADS_1


'Ya ampun bajunya'


"Maaf, yo, cuma ada baju itu." Istri Pak Kamsuri datang dengan membawa piring berisikan singkong rebus dan segelas air putih. "Ini makan dulu, tapi cuma ada ini." Lanjutnya lagi.


"Terimakasih, Bu," jawab El.


"Nama kamu siapa?" tanya Istri Pak Kamsuri dengan sentuhan logat Jawa nya.


"Saya El, Bu," jawab El.


"Hah, El? pendek, ya, namanya. Cuma satu huruf." Istri Pak Kamsuri menujukkan jari telunjuknya.


El tertawa melihatnya. "Bukan huruf L aja, Bu. Nama saya Ellycia, tapi keluarga saya kalo manggil El aja."


"Oh, Ellycia."


"Bu, ini apa?" tanya El menunjuk isi piring.


"Kamu nggak tahu?" tanya istri Pak Kamsuri dan di jawab gelengan kepala oleh El.


"Ini singkong rebus," lanjutnya lagi.


"Singkong? Di rebus? Saya kira singkong cuma untuk keripik aja." El heran.


"Singkong itu bisa di olah jadi macem-macem makanan, El, nggak cuma keripik. Ayo, di makan. Perutku harus di isi, biar nggak masuk angin. " ujar Istri Pak Kamsuri.


El mengambil singkong yang ada di dalam piring, lalu ia menggigit sedikit ujung singkong rebus itu dan mengunyah nya. Seumur hidupnya ini pertama kalinya ia makan singkong rebus, yang ia tahu singkong itu adalah bahan untuk membuat keripik.


'Hmm, begini rasanya. Nggak seburuk yang aku bayangkan'


Perlahan lidah El mulai terbiasa dengan rasa singkong rebus ala Bu Yati, istri Pak Kamsuri. Ia pun memakan dua potong singkong rebus.


"Enak juga, ya, Bu. Saya baru ini, loh, makan singkong rebus." El meletakkan gelas yang isinya sudah berpindah ke lambungnya.


Mata Bu Yati terbelalak mendengar pengakuan El. "Kamu baru pertama kali makan singkong rebus?"


"He'em." El menganggukkan kepalanya.


"Kamu,tuh,tinggal di mana? Kok, yo, baru pertama kali makan singkong rebus." tanya Bu Yati.


"Saya tinggal di Kota J, Bu," jawab El.


"Hmm, yowes, kamu tidur. Udah malem ini. Besok kita cerita lagi, tapi maaf, yo, tempatnya kayak gini. Mungkin nggak sebagus di rumahmu," ujar Bu Yati.


"Iya, Bu." Jawab El menatap Bu Yati yang menghilang di balik kain penutup pintu.


Malam ini, benar-benar tidur dalam kondisi seadanya. Tidur di atas tempat tidur kayu tanpa kasur. hanya ada tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Ia pun memakai kain panjang untuk selimut. Jauh dari kata nyaman, tapi ini jauh lebih dari pada El harus tidur di hutan belantara. beralaskan tanah dan berselimut kan embun malam.

__ADS_1


__ADS_2