
....
Flashback On
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah megah milik keluarga Heryawan itu. Ternyata sang empunya rumah telah kembali dari rumah sakit setelah melakukan check up.
"El ...." panggil Aryan.
Panggilan itu terdengar beberapa kali. Namun, tidak ada yang menjawab. Bu Ida yang mendengar hal itu segera mendekati majikannya dengan sedikit berlari.
"Ada yang bisa ibu bantu, tuan muda?" tanya Bu Ida.
Aryan mengernyit. Ia sedikit merasa heran. Karena berbeda antara orang yang di panggil dengan orang yang datang. "El mana, bu?"
"El sedang keluar, tuan muda," jawab Bu Ida.
"Hmm, kemana?" tanya Aryan.
"Kemana, ya, tadi. Je ... Je ... Je apaan, ya, tadi. Aduuuh!" Bu Ida menepuk jidatnya saat iya lupa dengan istilah yang di sebutkan El tadi.
"JJS?" lanjut Aryan?
"Nah, iya, itu, tuan. JJS," jawab Bu Ida.
"Sama siapa perginya?" tanya Aryan.
Bu Ida menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Duh, maaf, tuan, ibu kurang tahu."
Aryan berdecak menahan kesal. "Pi, papi istirahat aja, ya, Aryan mau cari El."
Tak ada jawaban dari ayah. Heryawan hanya tersenyum dan mengangguk.
"Bu, lain kali jangan gampang melepas El pergi. Tanya dulu, pastikan bahwa ibu tahu dengan jelas dengan siapa dan kemana dia pergi," titah Aryan.
"Iya, tuan, maafin saya." Bu Ida mengatup kan kedua tangannya dan menunduk hormat.
"Ya sudah, saya pergi cari El dulu, ya, bu." Dengan langkah setengah berlari Aryan menuju halaman rumahnya tempat mobilnya terparkir.
Seperti seorang paranormal, Pak Ali yang berada di dekat gerbang sudah bisa membaca gerak gerik dari tuannya. Ia sudah bisa menebak dalam hati apa yang akan terjadi beberapa detik lagi.
"Pak Ali, tahu El pergi kemana?" tanya Aryan.
"Nah, kan, sudah saya duga!" batin Pak Ali.
"Bukannya nona muda sudah bilang ke tuan, ya,"
__ADS_1
Sepasang netra itu seketika menyipit diiringi tatapan yang begitu menelisik. "Bilang ke saya?" Aryan mengeluarkan ponsel pintar belogo buah bekas gigitan dengan type terbaru, tetapi ia tidak menemukan apa pun di sana.
"Dia tidak ada bilang apa-apa ke saya, pak," lanjut Aryan.
"Tadi saya lihat sendiri, kok, nona muda sedang menelpon tuan," sahut Pak Ali.
"Hhh ...." Aryan menghela nafas. El benar-benar membohongi seisi rumah.
"Ya sudah, Pak biar saya cari El dulu," pamit Aryan.
Aryan melacak keberadaan El melalui ponselnya. Tidak butuh waktu lama, Aryan pun menemukan posisi El saat ini.
"Taman? Sedang apa dia di taman?" Aryan membatin.
Setelah sampai di tujuan, Aryan menyisir area taman. Netranya membulat sempurna saat melihat apa yang terjadi tak jauh dari tempatnya berdiri. El sedang duduk berdua di bangku taman dengan seorang lelaki dan dengan tangan saling menggenggam.
Tanpa berpikir lagi, Aryan mendekati keduanya dan menarik tangan El serta mencengkram nya dengan cukup kuat. "Ayo pulang sekarang!"
Flashback Off.
"Auw, kak sakit. Pelan-pelan dong jalannya." El terus mengaduh ketika Aryan menarik pergelangannya tangannya dengan cukup kuat. Belum lagi langkah kakinya yang lebar membuat El kesulitan mengimbanginya.
"Masuk!" Aryan membukakan pintu dan menyuruh El untuk masuk.
Tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, suka atau tidak suka El harus menuruti perintah kakaknya. Ia hanya terdiam. Pikirannya masih tertuju oleh Zack. Entah bagaimana nasib lelaki itu saat ini. Setelah ia menerima cintanya, ia justru dengan sangat terpaksa meninggalkannya begitu saja.
"Sudah pinter berbohong kamu, ya." Aryan membuka pembicaraan tanpa menatap lawan bicaranya.
*glek!
"Matilah aku*!"
El menelan salivanya. Tenggorokan nya tiba-tiba saja menjadi kering sehingga perlu di basahi berkali-kali, tetapi sulit sekali. Ia tahu, yang di maksud Aryan pastilah dirinya.
"Maaf, kak." El tertunduk sambil memainkan jemarinya.
"Apa kamu belajar dari lelaki itu?" tanya Aryan. Kali ini ia menatap El dengan tatapan sinis.
"Nggak! dia baik, kok. Ini murni ide aku sendiri, kak. Jangan bawa-bawa dia!" jawab El tak kalah ketusnya.
"Baik?"
El menjawabnya dengan anggukkan kepala.
"Lelaki baik tidak akan menyuruh wanitanya datang sendirian. Lelaki baik itu yang datang ke rumah menjemput wanitanya dengan cara baik-baik, minta izin dengan keluarganya baik-baik. Paham?"
__ADS_1
"Iya, paham," jawab El.
Tak lama kemudian keduanya tiba di kediamannya. Tanpa banyak bicara, keduanya langsung masuk ke dalam.
"Masuk kamar, El! Besok tidak perlu ke kampus," titah Aryan.
"Hah! yang bener aja, kak, cuma masalah seperti ini aku nggak boleh ke kampus?" El mendengus kesal.
"Kakak bilang enggak, tetap enggak!" ketus Aryan.
"Huh!" El memberengut. Ia segera berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Ia menghentakkan kakinya setiap kali menapakki anak tangga. Setibanya di kamar pun ia membanting pintu begitu saja.
"Maafkan aku, El. Nanti kamu akan mengerti semuanya," batin Aryan.
Aryan memijit dahinya. Kepalanya sedikit pusing hari ini. Seharian ini banyak sekali yang harus di urus nya. Mulai dari masalah perusahan, medical check up sang ayah dan harus di tambah dengan harus mencari El.
"Ar ...." Terdengar suara seseorang.
"Eh, papi. Kok, nggak istirahat?" tanya Aryan.
"Papa mau ambil minum," jelas Heryawan.
"Kenapa nggak panggil Bu Ida, pi,"
"Enggak apa-apa, biar papi bergerak. Oh, ya, El sudah pulang?" tanya papi.
"Sudah, pi. Aryan menemukannya di taman," jawab Aryan.
"Hhh, dasar anak nakal!" seru Heryawan.
****
El membantingkan tubuh langsingnya ke ranjang king size miliknya. Kedua tangannya mengepal, sesekali ia memukul-mukul kasur yang di balut dengan sprei berwarna biru muda tanpa corak itu.
"Huh!"
Rasa kesal seperti tak henti-henti merasuki dirinya. Namun, ia seperti tak punya daya untuk melawan Aryan. Sebab Aryan adalah orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya setelah sang papi. Semenjak sang papinya sering sakit, segala urusan yang berhubungan tentang dirinya beralih ke Aryan.
Bahkan uang sakunya, kartu kreditnya, dan segala keperluan El Aryan lah yang mengurus.
"Kesel sih, tapi aku bisa apa? aku masih butuh ini!"
El menatap dompet berwarna coklat yang berisikan beberapa uang tunai dan berbagai kartu sakti untuk memfasilitasi keseharian El.
"Ah, mungkin mandi akan membuatku jauh lebih baik." El bermonolog
__ADS_1
El pun memutuskan untuk segera membersihkan tubuhnya. Ia berharap setelah ini lelah di tubuh dan kesal di hatinya bisa ikut menghilang.