Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Kakak Menikah Dengan Siapa?


__ADS_3

El mengerjap beberapa kali. Matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Ia menatap jam yang di atas nakas.


"Ah, masih jam delapan," gumamnya.


El pun menghempaskan kembali tubuhnya di atas ranjang.


"Untuk apa juga aku bangun, nggak boleh kemana mana juga, kan?" El berbicara seorang diri.


Namun, perutnya ternyata tak bisa seiring sejalan dengan niatnya. El memegangi perutnya yang baru saja berbunyi.


"Ini perut bener-bener, ya. Nggak bisa di ajak kompromi banget," batin El bermonolog.


Dengan terpaksa El beranjak dari tempat tidurnya menuju meja makan yang terhubung dengan dapur. Sepasang netranya tampak menyisir seluruh sisi ruangan yang terlihat cukup sepi itu.


"Kok sepi?" gumamnya.


"Non," panggil Bu Ida.


"Eh, i-iya, bu." El tersentak kaget. Jantungnya seakan ingin lompat dari tempatnya bersarang. El pun tampak mengusap usap dadanya.


"Nona butuh sesuatu?" tanya Bu Ida.


"Bu, Kak Aryan sama papi kemana?" El justru balik bertanya.


"Oh, itu. Tuan muda dengan tuan besar sedang keluar, tapi sepertinya bukan untuk urusan pekerjaannya, non. Tuan muda tadi keluar pakai pakaian biasa aja, bukan pakai pakaian kantor," jelas Bu Ida.


"Oh," jawab El, singkat.


"Nona mau ibu buatin sesuatu?" tanya Bu Ida.


"Hmmm, jus pepaya sama sandwich, ya, Bu. Antar ke kamar."


"Baik, non," jawab Bu Ida.


Merasa tidak ada yang harus ia kerjakan, El pun kembali ke kamarnya. Sambil menunggu Bu Ida mengantarkan menu sarapannya, El pun memeriksa ponselnya. Jemarinya begitu lihai bergeser ke kanan, ke kiri, serta ke atas dan kebawah membuka setiap aplikasi yang ada di ponsel dengan case bermotif doraemon. Sesekali ia bersenandung kecil dan hanya dirinya lah yang bisa mendengarnya.


Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu dari arah luar.


"Masuk!" sahut El. Tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Ini sarapannya, non,"


El terkejut saat suara bariton itu datang memecah keheningan di kamarnya. El melihat dengan ekor matanya.


"Hhh, dia lagi," batin El.


"El,"


"Hmmm,"

__ADS_1


"Belum sarapan?" tanya Aryan.


"Hmmm,"


Aryan tersenyum melihat tingkah El. Ia tahu, saat ini El sedang marah dengannya. Ia pun berjalan mendekati El yang asik dengan ponsel pintar di tangannya.


"El, maaf, ya," ucap Aryan.


Tidak ada respon dari El.


"El," panggil Aryan dan lagi lagi tidak ada respon dari El.


"El, kamu tahu, kemarin kakak nonton sinetron azab di TV ikan terbang itu. Kamu tahu judulnya apa? 'AZAB ADIK YANG TIDAK MAU MENJAWAB PANGGILAN' serem, kan?"


El hanya merespon dengan melirik pada ekor matanya.


"Kamu tahu, El, ketika sang adik hanya bermain ponsel dan tidak menjawab saat di panggil, Tiba-tiba ponsel itu meledak dan membakar bagian wajah. Terutama bibirnya," jelas Aryan.


El yang tadinya rebahan, langsung mendudukkan tubuhnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Enggak lucu!" ketus El.


Aryan tertawa mendengar jawaban El.


"Maafin kakak, ya, El," ucap Aryan.


"Sebenarnya yang harus minta maaf itu aku, bukan kakak," sahut El.


El menganggukkan kepalanya sembari memainkan jemarinya. "Aku minta maaf, ya, kak,"


"Memangnya apa salahmu, El?" tanya Aryan.


El memutarkan kedua bola matanya "Pake nanya!"


Aryan terkekeh. "Loh, kakak ke sini untuk meminta maaf denganmu, kenapa justru terbalik?"


"Aku tahu, kakak menyindir ku. Makanya kakak berpura-pura minta maaf agar aku merasa bersalah, begitu, kan?" tuding El.


Mendengar tudingan negatif yang mengarah kepadanya, Aryan justru tergelak. "Hahaha,"


"Kamu merasa bersalah? really? " tanya Aryan.


El hanya menjawab dengan anggukkan kepala. "Ya, begitulah,"


Aryan yang sedari tadi berdiri, akhirnya mendekati El dan turut duduk di atas ranjang king size milik El. "Jangan ulangi lagi! jika ingin kemana pun bilang dulu dengan orang di rumah ini. Katakan kemana kamu akan pergi, katakan kamu pergi dengan siapa,"


El mengangguk. Ia sepertinya sudah kalah telak. Tidak ada bantahan apa pun yang meluncur dari mulutnya. "Maafin, El, ya, kak."


"Kami semua menyayangimu, El," ucap Aryan.

__ADS_1


"Ayo habiskan sarapanmu, El." Aryan menyodorkan sarapan yang tadi ia letakkan di atas nakas.


"Kakak sama papi tadi pergi kemana?" tanya El sambil memakan sandwich.


"Keluar sebentar. Ada urusan." jawab Aryan.


"Nggak kerja?"


"Enggak. Kan, ada urusan." Aryan menjawabnya sambil cengengesan.


"Ya, ya, terserah kakak saja, lah. Pergilah, kak, aku ingin menghabiskan sarapanku sendirian." El mengibaskan tangannya.


"Kamu mengusir kakak?"


"Aku hanya ingin menikmati hukuman dari kakak, bukankah aku tidak boleh kemana mana hari ini?" sindir El.


"Anak baik! kalau kamu menuruti perintah kakak hari ini, nanti malam kakak akan kasih kamu hadiah," ucap Aryan.


Mata El sontak berbinar mendengar ucapan Aryan. "Beneran, kak?"


"Duduk diam saja di rumah, nanti kakak siapkan hadiahnya," jawab Aryan.


"Ah, kakak memang yang terbaik di dunia." El berlari dan memeluk Aryan.


*****


Hingga sang pusat tata surya mulai tergelincir di ufuk barat, El masih saja di dalam kamarnya.Selama seharian ini tidak ada aktifitas apa pun yang di kerjakannya selain rebahan dan berselancar di dunia maya. Ia akan keluar kamar jika di rasa perutnya mulai membutuhkan asupan. Ia akan


Perlahan, ia pun mulai jenuh. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk turun ke lantai dasar rumahnya. Berharap mudah-mudahan Bu Ida sudah menyiapkan makan malam.


Ketika hendak berjalan ke dapur, samar-samar El mendengar suara yang cukup ramai di ruang utama. Entah setan apa yang merasukinya, sehingga ia tertarik dan melangkahkan kaki ke sana. El berjalan mengendap-mengendap, lalu ia menyembulkan sedikit kepalanya dari balik dinding yang berbatasan langsung ke ruang utama.


El melihat Aryan seperti sedang menulis. Aryan terlihat seperti sedang menandatangani sesuatu. Sebab, ia hanya terlihat menggoreskan sedikit penanya, lalu orang yang memakan peci di hadapan Aryan memberikan lagi kertas yang lain.


"Wah, proyek baru kayaknya, tapi meeting nya, kok di rumah, sih?" El bertanya dalam hati.


Tidak lama kemudian sang ayah memeluk Aryan. Wajahnya terlihat bahagia dan penuh haru.


"Tuh, kan, pasti proyek gede. Papi sampe terharu gitu," Gumam El dengan sok tahunya.


"Selamat, ya, nak, dan terimakasih. Papi sangat bahagia atas pernikahanmu. Tolong, jaga dan bimbing istrimu."


"APA! KAKAK MENIKAH!" pekik El yang tanpa sengaja. Tangannya sampai harus menutup mulutnya yang menganga akibat keterkejutannya.


Semua orang yang ada di situ tersentak mendengar teriakkan El. Ke lima orang yang duduk di sana menatap ke arah wanita yang memakai piyama berwarna marun itu.


Begitu juga El, ia juga sebenarnya terkejut atas tindakan konyol yang tak sengaja ia lakukan tadi. Ia sampai harus memukul mukul bibirnya sendiri.


"El, anak papi." Papi berjalan mendekati putrinya yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


"Pi, kakak menikah dengan siapa?" tanya El


tbc


__ADS_2