
....
Mentari perlahan mulai merangkak naik. Semburat kekuningan pun mulai mengintip, siap menyapa para penduduk bumi.
Pagi itu, Aryan masuk ke kamar Heryawan. Ia ingin memastikan sendiri bagaimana kondisi terkini sangat ayah mertua.
Ketika Aryan memasuki kamar dengan membawa nampan berisi bubur dan air putih.Tak lupa juga ada beberapa obat yang biasa di konsumsi Heryawan. Ia tersenyum melihat Heryawan yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Papi," sapa Aryan.
Heryawan tak menjawab, tetapi senyum yang mengembang di wajahnya memberi isyarat bahwa kondisinya sudah lebih baik dari yang kemarin.
"Sarapan dulu, Pi," ucap Aryan.
"Terimakasih, Ar," jawab Heryawan.
"Gimana kondisi Papi?" tanya Aryan.
"Sudah lebih baik, Ar. Kemarin, Papi hanya syok aja. Oh, ya, mana anak nakal itu?"
"El masih tidur, Pi,"
Heryawan menghela nafas. "Dasar. Suruh aja dia bangun, Ar, supaya dia bisa belajar untuk melayanimu."
"Iya, Pi. Pelan-pelan aja. El tidak bisa di paksa, Pi. Apalagi perubahan statusnya itu begitu mendadak. Aryan yakin, pelan-pelan El pasti bisa berubah," jawab Aryan.
Heryawan mengangguk.
"El itu anak yang baik, Pi. Dia juga sebenarnya anak yang penurut dan mudah untuk di arahkan. Hanya saja, pendiriannya kurang kuat. Dia mudah terpengaruh," kata Aryan sembari menyerahkan semangkok bubur hangat yang di masak oleh Bu Ida.
"Iya. Kamu benar, Ar,"
Di tengah obrolan santai keduanya, Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu. Keduanya sontak melemparkan pandangannya ke arah pintu secara bersamaan.
"Masuk!" jawab Aryan.
Suara derit pintu perlahan terdengar seiring semakin melebar nya daun pintu. Tak berapa lama muncul seorang wanita dengan setelan piyama berwarna biru muda.
"Hehehe, Papi, Kakak." El cengengesan seperti orang yang tertangkap basah melakukan sesuatu. Mendapat tatapan dari kedua lelaki di hadapannya ini ia semakin salah tingkah. Berkali-kali ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sini, sayang." Aryan melambaikan tangan ke arah El agar ia mendekat.
El berjalan mendekati Aryan. Langkahnya begitu perlahan. Matanya tak lepas dari sosok paruh baya yang menatapnya dengan tatapan datar.
"Sudah bangun, hmm?" Aryan merangkul pundak El dan mendekap nya. Tak lupa sebuah kecupan manis mendarat mulus di puncak kepalanya.
El hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala.
"Kamu berbuat seperti kemarin aja Aryan masih bersikap manis padamu, El. Kalau Papi jadi Aryan, kamu sudah Papi tenggelamkan di Palung Marina sana," sindir Heryawan.
__ADS_1
"Maafin, El, Pi, please." El memohon dengan mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya.
Heryawan menghela nafas. "Kemarilah!"
El yang tadinya berada dalam dekapan Aryan pun perlahan memajukan langkahnya ke arah Heryawan, lalu bersimpuh sambil memegang lutut Heryawan. "Maafin, El, Pi."
"El, jangan di ulangi lagi, sayang." Heryawan mengusap puncak kepala El.
El gegas mengangguk.
"Lelaki yang kamu kenal di luar sana, belum tentu bisa menjadi yang terbaik untukmu, El. Papi sangat mengenalmu dan tahu bagaimana perangaimu. Makanya Papi mempercayakanmu pada Aryan," jelas Papi.
"Iya, Pi," jawab El.
"Belajarlah jadi istri yang baik untuk Aryan. Lihat! dia justru bangun lebih dulu daripada kamu. Seharusnya kamu yang bangun terlebih dulu untuk menyiapkan segala keperluan suamimu," omel Heryawan.
El hanya menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Iya, iya, Pi, aku belum terbiasa. Alam bawah sadarku masih mengatakan kalau Kak Aryan adalah kakakku, bukan suamiku, hehehe." tawa El sembari menampilkan deretan gigi rapinya.
"Oh, ya? Apa perlu Papi dan Aryan membawamu untuk hipnoterapi agar alam bawah sadarmu bisa sejalan dengan kenyataan?"
El hanya memberengut. "Enggak segitunya kali, Pi,"
Ucapan El di sambut gelak tawa dari Aryan dan Heryawan.
"Papi sarapan, ya. Biar El suapin." El meraih mangkok yang di pegang Heryawan.
"Kita ke taman belakang, yuk, Pi," ajak El.
"Boleh, tapi kamu dan Aryan harus sarapan dulu. Sana, ajak suamimu," titah Heryawan.
"Baiklah," jawab El.
"Kami sarapan dulu, ya, Pi," sahut Aryan.
"Pergilah!" jawab Heryawan.
Aryan dan El pun turun menuju lantai bawah ke tempat dimana makanan sudah terhidang sejak tadi.
"Wah, nasi goreng." Kata El sambil menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya.
"Tuan muda mau minum apa?" tanya Bu Ida yang datang dari arah dapur.
"Tidak usah, Bu, aku mau kopi buatan El aja," jawab Aryan.
Baru saja El hendak mengambil nasi, ia begitu terkejut mendengar ucapan Aryan. "Apa?" pekik El dengan kening yang berkerut.
"Iya, kopi buatan kamu." Aryan menunjuk ke arah El.
"Hmm, aku nggak bisa buat kopi, Kak. Yang bener aja," El mengelak.
__ADS_1
"Bukan nggak bisa, tapi belum. Belum bisa, kan masih bisa belajar, El. Ayo buatkan aku kopi. Kata orang apa pun buatan istri itu nikmatnya tiada tara," ucap Aryan.
El mencebik. "Itu bagi yang istrinya bisa masak, Kak."
"Ayolah, El, bukannya kamu mau belajar jadi istri yang baik? ingat pesan papi tadi, kan?" Aryan mengingatkan El akan pesan Heryawan beberapa menit lalu.
"Hh, iya, iya. Gini amat rupanya jadi istri," El menggerutu.
Aryan hanya tersenyum mendengar omelan El. Ya, memang sejak dulu El tidak pernah sekali pun untuk terjun ke dapur. Apa pun yang berhubungan dengan dapur ia sama sekali tidak tahu. Wajar saja, jika El harus berjuang habis-habisan hanya untuk membuat secangkir kopi.
'Ya ampun, bagaimana ini?" gumam El dalam hati
El celingukan mencari di mana tempat penyimpanan gelas dan sendok. Ia juga tidak tahu di mana tempat kopi di simpan.
"Non, ada yang perlu ibu bantu? tanya Bu Ida
"Bu, tolongin El, dong." El dengan wajah memelasnya
"Bu, awasi aja, El. Enggak perlu di bantu. Biar dia membuatnya sendiri."
Suara bariton Aryan terdengar menggema hingga ke dapur. Aryan sudah bisa menebaknya. Bu Ida pasti tidak akan tega melihat El terjun ke dapur.
"Ibu ...." rengek El.
"Udah, non, Ibu ajarin, ya, tapi nona sendiri yang membuat. Ibu arahin, deh," jawab Bu Ida.
"Ck," El mencebik kesal.
"Itu, non, gelas dan sendoknya di sebelah sana. Kopi dan gula ada di situ, ya, non," Bu Ida menunjuk ke sana ke mari.
El pun mengikuti Arahan Bu Ida.
"Kopinya dua sendok penuh, ya, non. Gulanya satu sendok aja. Itu takaran yang biasa Tuan Muda mau," jelas Bu Ida.
"Oh, gitu," jawab El.
"Kalau udah, seduh dengan air panas, ya, non, tapi nona hati-hati, ya,"
"Baiklah, Bu," jawab El.
Senyum El begitu mengembang saat ia mengaduk-aduk kopi hasil racikannya sendiri. "Ah, gini doang, mah, kecil." El berada dalam sombong mode on.
"Makasih, ya, Bu. Aku kasih ke kakak dulu, ya." El berjalan meninggalkan Bu Ida.
"Tara .... Kopi cinta buatan Ellycia Geoneva sudah siap." El meletakkan kopi tepat di hadapan Aryan yang sedang asyik memainkan gawainya.
"Kopi cinta? Kamu udah cinta sama aku?" tanya Aryan.
El yang di serang pertanyaan itu pun mendadak kikuk.
__ADS_1