Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Kabur Ke Taman


__ADS_3

Sore itu, El sudah berencana bertemu dengan Zack, lelaki yang beberapa bulan ini sedang dekat dengannya. Siang tadi, Zack telah mengirimkan pesan melalui aplikasi hijau bahwa ia menunggunya di sebuah taman dan di setujui oleh El.


Dengan mengenakan overall berwarna merah muda, El dengan lincah nya menuruni setiap tapak anak tangga.


"Eh, nona, cantik bener. Mau kemana, non?" tanya Bu Ida, yang kebetulan sedang berada di ruang utama rumah keluarga Heryawan.


"Aku mau keluar, Bu. Papi mana?" El celinguk kan mencari keberadaan papinya.


"Tuan besar sedang pergi check up, non, di anterin sama tuan muda tadi," jelas Bu Ida.


"Ah, kebetulan sekali. Jadi aku tidak perlu mendengar ocehan kedua lelaki itu," batin El


"Beneran udah cantik, kan, Bu?" El menunjukkan apa yang melekat pada tubuhnya sambil memutarkan tubuhnya.


"Non El, mah, pake daster doang juga cantik, non. Kan, emang udah cantik dari sononya, non," puji Bu Ida sambil mengacungkan ibu jarinya.


"Ya, sudah, Bu, Aku keluar dulu, deh. Bye Ibu!" El melenggang sambil melambaikan tangannya ke arah Bu Ida.


"Eh, tunggu, non. Nona mau pergi kemana?" tanya Bu Ida.


"Mau keluar, bu. Biasa, JJS an." El cengengesan.


"Hah? apa itu non?" Bu Ida sedikit terlihat bingung mendengar istilah yang di ucapkan El.


Bola mata El terlihat berputar. "Ah, Bu Ida kayaknya Tuanya nyogok, ya. JJS aja nggak ngerti. Jalan-jalan sore, bu.


Bu Ida hanya ber 'OH' ria saja. Mulutnya terlihat membentuk lingkaran di iringin kepala yang mengangguk. Sepertinya ia benar-benar baru tahu istilah itu.


"Udah, ah, bu, El pergi dulu, ya. Bye!" El melambaikan tangannya.


Dengan gesit nya El berjalan menuju halaman rumahnya. "Non,tunggu!"


Langkahnya terhenti ketika Pak Ali, security di kediaman keluarga Heryawan itu mencegahnya.


"Nona muda mau kemana? biar di antar supir," ucap Pak Ali.


"Nggak Usah, Pak, aku di jemput temen, kok," tolak El.


"Tapi ini perintah tuan muda, non,"


"Aku udah bilang sama Kak Aryan, kok, pak. Emangnya Kak Aryan belum bilang ke Pak Ali, ya?"


Pak Ali hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Ah, dasar Kak Aryan. Ngurusin kawinan mulu sampai-sampai lupa dengan pesanku." El mengomel tidak jelas sambil mengutak-atik layar ponselnya.


"Halo, kak, kenapa nggak di sampein ke Pak Ali, sih, yang aku bilang tadi." El berdialog dengan ponsel menempel di telinganya.


.....


"Oke, ya, kalo gitu aku keluar dulu, bye!" El terlihat memutuskan panggilannya.


"Tuh, kan, Pak, nggak masalah, kok," kata El.


"Baiklah kalau begitu, non, Hati-hati di jalan, ya, non," ucap Pak Ali.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terlihat mobil kijang innova berwarna hitam berhenti di luar gerbang sambil membunyikan klakson.


"Temen saya udah jemput, saya berangkat dulu, ya, Pak," pamit El.


Pak Ali terlihat tersenyum dan menunduk hormat kepada nyonya mudanya.


Setelah mobil berjalan sekitar satu kilometer, El pun meminta mobil berhenti.


"Pak, pak, berhenti di sini aja, saya pindah ke belakang." El pun beranjak ke kursi belakang.


"Oke, pak, jalan!" lanjut El.


"Ah, ternyata ngibulin Pak Ali itu mudah!" batin El.


El ternyata berbohong kepada Pak Ali. Mobil yang di tumpangi nya adalah mobil taksi online dan panggilan yang ia lakukan pun hanya aksi tipu-tipu belaka agar Pak Ali memberinya izin untuk keluar rumah tanpa di ikuti supir.


sesampainya di taman kota, El turun dari taksi online dan mencari keberadaan Zack. El terlihat beberapa kali mencoba melakukan panggilan ke nomor Zack. Namun, tidak ada jawaban.


Hap!


Tiba-tiba saja pandangan El menjadi gelap, matanya tertutup oleh telapak tangan seseorang. El mencoba meraba jemari yang menutup pandangannya. El merasakan ada cincin yang bertahtakan batu di tangan kiri orang tersebut.


"Zack!" Tanpa ragu El menyebut nama itu.


Dan benar saja, jemari itu pun merenggang. El pun segera berbalik dan melihat Zack dengan senyum manisnya.


"Gadis pintar!" Zack mengusap puncak kepala El.


"Ah, Zack, kamu mengejutkan ku." El menepuk dada bidang milik Zack.


El mengulum senyuman dan menganggukkan kepalanya.


"Maaf, ya, sweety ku." Zack mencubit gemas pipi putih mulus milik El.


"Apaan, sih, Zack." El kembali menepuk pelan lengan Zack.


Sikap Zack berhasil membuat El memalingkan wajahnya.El tersipu malu. Pipinya sudah memerah bak kepiting rebus.Namun, hatinya begitu menghangat dengan sentuhan Zack. Rasanya saat ini sayapnya telah terbuka lebar dan siap membawanya terbang ke langit hanya karena perlakuan sederhana Zack.


"Kita duduk di situ, yuk." Zack menunjuk bangku taman yang kosong tak jauh dari tempat keduanya berpijak.


"Kamu mau makan sesuatu?" tanya Zack.


"Aku mau telur gulung itu, Zack. Sama sekalian minum es dawet itu kayaknya enak," pinta El sembari menunjuk penjual telur gulung dan es dawet yang tempat berjualannya sejajar.


"Nona muda sepertimu doyan juga telur gulung?"


"Hahaha, tidak ada hubungannya dengan itu, Zack. " Tawa El terdengar nyaring.


"Ku kira, putri sultan kayak kamu akan berjaga-jaga dalam urusan makan," ucap Zack


"Ini taman, Zack. Yang ada di sini itu pasti jajanan pinggir jalan, nggak mungkin ada steak atau spagetti di sini," jelas El.


Zack tertawa mendengar penjelasan El yang memang ada benarnya. "Ya sudah, aku ke sana sebentar, ya. Kamu tunggu sini, jangan kemana-kemana, oke!"


El hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tanpa ia sadari, ekor matanya melirik mengikuti kemana arah Zack pergi. Kedua sudut bibirnya selalu terlihat melengkung kalau melihat pria dengan dengan penampilan denim style itu. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa. Ia merasa hanya dengan melihat Zack, hatinya begitu bahagia.

__ADS_1


"Taraaaaa!"


El terjengkit kaget saat Zack tiba-tiba datang mengejutkan nya sambil membawa dua cup es dawet dan beberapa tusuk telur gulung.


"Bengong, ya," ledek Zack.


"Hehehe, iya, nih," jawab El.


"Ini pesenan kamu." Zack menyodorkan makanan yang ia bawa dan di sambut riang oleh El.


"Wah!" mata El begitu berbinar dengan melihat penampakan telur gulung yang berlumuran saus berwarna merah menyala dan es dawet dengan gula merah cair yang mengendap di dasar gelas plastik.


El pun meraih es dawet itu dari genggaman Zack. Ia mengaduk nya dengan sedotan agar gula merah tercampur merata. Tanpa menunggu lama, El segera meminumnya.


"Aaaah ...." El menghela nafas. Ia seperti orang yang baru pulang dari padang pasir nan tandus. Saking enaknya, sekali sedot es dawet itu sudah tinggal setengahnya.


Zack mengernyit. "Kamu haus berat, ya?"


"Haus, sih, tapi nggak pake berat. cuma emang es nya aja yang kelewatan enaknya," jawab El.


"Masa, sih?" Zack ikut meminum Es dawet yang ada di tangannya.


"Hmmm, bener ini enak." jawab Zack sambil menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia setuju dengan apa yang di katakan El.


"Aku mau ini, dong, Zack." El mengambil satu tusuk telur gulung yang ada di tengah tengah keduanya.


"Aku mau yang, ini boleh?" El menunjuk punggung tangan El.


"Hah?" El bingung dengan apa yang di maksud Zack.


Zack meraih jemari El dan menggenggamnya. "Aku mau ini, boleh?"


El hanya terpaku dengan sikap Zack. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya terdiam merasakan hangat di hatinya di iringi jantung yang sedari tadi berdetak tak tentu alunannya.


"El ...."


"I - iya," El terbata.


"Aku mencintaimu, El," ucap Zack.


"Hah!" El terperangah. Ia tak bisa berkata-kata. Ia seperti sedang mencerna kembali apa yang baru saja ia dengar.


"Apa kamu mau jadi kekasihku, El?" Genggaman jemari Zack semakin mengerat. Di iringi tatapan mata yang penuh harap.


El hanya menjawabnya dengan senyuman. Tak lama kemudian, perlahan tapi pasti kepalanya mulai bergerak naik dan turun. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Mungkin karena ia terlalu bahagia, sampai bersuara pun tidak bisa ia lakukan.


"Thank you, El. I love you, my sweety." Zack mengecup punggung tangan yang sedari tadi ia genggam dan di balas anggukan oleh El.


Hari itu itu sepertinya menjadi hari yang membahagiakan bagi keduanya. Rasa yang ada di hati keduanya ternyata saling menyambut. Kedua insan yang sedang di lingkupi kebahagiaan itu tak menyadari ada sepasang mata yang menatap tajam kearah keduanya.


Hingga tiba-tiba ....


"Auw ... sakit!" El mengaduh. Ia merasakan pergelangan tangannya di genggam erat dan di tarik dari arah belakang.


"Ayo pulang sekarang!"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2