Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Telepon Atau Enggak?


__ADS_3

....


"Kopi cinta? kamu udah cinta sama aku?" tanya Aryan.


El yang di serang pertanyaan itu pun mendadak kikuk dan membuang pandangannya.


"Hmm, di minum, deh, Kak. Keburu dingin, loh." El mencoba mengalihkan pembicaraannya.


Aryan hanya tersenyum melihat El yang begitu salah tingkah. Sesuatu yang tak pernah di lihatnya. Di matanya Aryan El adalah wanita yang pecicilan.


'Lucu juga dia kalau lagi salting gitu.Gemes'. Gumam Aryan.


Satu jam berlalu, Aryan dan El pun selesai dengan sarapannya.


"Sayang, hari ini aku mau pergi sebentar," ucap Aryan.


'Apa katanya? sayang? kenapa rasanya masih aneh.' El membatin.


Melihat tak ada respon dari wanita yang ada di depannya, Aryan pun kembali memanggil. "Sayang." Aryan sampai melambaikan tangan tepat di depan wajah El persis seperti orang yang menyerah saat uji nyali.


"Eh, Iya, Kak. Kenapa?" tanya El.


"Hh, kamu yang kenapa? Ada masalah? atau lagi nggak sehat?" Aryan menyentuh kening El dengan punggung tangannya.


"Jantung aku bermasalah sepertinya, Kak,"


"Hah! kok, bisa?" Sepasang netra milik Aryan membola.


"Iya, Dari tadi berdebar-debar terus. Kasihan jantung aku, Kak. Seperti harus bekerja ekstra. Detakkannya begitu keras."


Aryan tercenung sejenak. Setelah itu ia justru tergelak keras. "Hahaha."


El hanya mengerutkan dahi. "Apaan, sih."


"Tidak apa-apa, itu normal, kok." Aryan mengusap puncak kepala El.


"Oke, aku pergi sebentar saja. Ingat, jangan ke mana-mana. Jaga Papi, bawa Papi ke taman belakang biar Papi menghirup udara segar," lanjut Aryan.


"Oke."


"Setelah urusanku selesai aku akan segera pulang." Aryan mengecup puncak kepala El dan mengusapnya dengan lembut. Kemudian, ia menyodorkan tangannya. Berharap El meraihnya, lalu mengecupnya.


"Apa?" El justru bertanya ketika melihat tangan Aryan yang terulur.


Aryan mencebik. "Ck, dasar. Ya, salim lah."


"Oh, i-iya." El meraih tangan Aryan yang sudah terulur dari tadi dan mengecupnya.


Tidak ada lambaian tangan, tidak ada pesan cinta atau perhatian lebih sebelum pergi. El hanya mengikuti apa yang di ucapkan Aryan. Aryan pun hanya menggelengkan kepalanya melihat El yang melenggang pergi setelah bersalaman sambil mencium tangannya.

__ADS_1


****


Senyum El seketika mengembang ketika ia menemukan sosok yang di carinya. Setelah Aryan pergi, El kembali kembali ke kamar untuk mengajak Heryawan ke taman belakang rumah. Namun, sekembalinya ia dari mengantar kepergian Aryan, ia justru tak mendapati sang ayah. Ia pun ke sana kemari mencarinya. Ternyata Heryawan sudah berada di taman belakang.


Wajah Heryawan terlihat segar ketika ia sedang memberi makan ikan-ikan koi kesayangannya. Heryawan tersenyum ketika makin lama langkah kaki putrinya semakin mendekati dirinya.


"Ih, Papi di cariin. Nggak tahunya di sini." El menampakan raut wajah kesalnya, tetapi masih terlihat manis.


"Mana suamimu?" tanya Heryawan.


"Pergi," jawab El, singkat.


"Kamu enggak ikut?"


"Papi yang bener aja, aku bukan wanita yang kemana mana menempel dengan suami, Pi. Biar aja dia pergi. Nanti juga balik lagi," jawab El.


"Jangan begitu, El. Pergilah dengannya. Sesekali hadirlah di acara-acara resmi perusahaan, dampingi Aryan. Aryan memegang jabatan penting saat ini. Jangan sampai ada wanita lain yang mendampinginya, karena ia selalu terlihat sendiri," sindir Heryawan.


"El masih perlu beradaptasi, Pi. Enggak gampang menikah dengan orang yang sama sekali nggak kita cintai," jelas El.


"Maafkan Papi, El, Papi hanya ...."


"Papi nggak salah, kok. Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Hanya ... semua terlalu mendadak, Pi, tapi El janji, Pi. El akan belajar jadi istri yang baik untuk Kakak." Ucap El sembari menggenggam tangan Heryawan.


"Terimakasih, El. Papi tahu, kamu nggak akan kecewakan Papi." Heryawan membalasnya dengan sebuah dekapan.


Ting!


'Sayang, kamu kenapa nggak pernah jawab chat aku, sih?'


Sebuah pesan dari salah satu orang yang saat ini juga masih ada di ruang hati milik El. El hanya menatap nanar ponsel miliknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Siapa, El?" tanya Heryawan.


"Hmm, nggak ada, kok, Pi, ini dari teman kampus. Mereka nanyain kenapa nggak masuk-masuk," jawab El dengan tetap menampilkan senyuman manisnya.


Tidak lama kemudian, ponsel pintar milik El kembali berdering. Kali ini berbunyi beberapa kali, menandakan ada sebuah panggilan masuk. El kembali melirik ke arah gawainya. Ternyata panggilan dari Zack.


Ia menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa gugupnya. Ia begitu gugup ketika Zack menghubunginya saat ia berada bersama sangat ayah. Ia tidak mau apa yang terjadi pada Heryawan kemarin terulang lagi.


"Hmm, Pi, El Terima telepon dari temen dulu, ya, sebentar aja."


"Baiklah," jawab Heryawan.


El berlari. Seperti hal nya menjalankan protokol kesehatan, El pun mengatur jarak hingga beberapa meter. Berusaha agar sangat ayah tak mendengar pembicaraan keduanya.


"Halo."


....

__ADS_1


"Hmm, a-aku ada di rumah. Memang udah beberapa hari nggak masuk kuliah."


....


"Maaf, Zack, aku nggak bisa,"


....


"Sebaiknya, kita nggak ketemu lagi, Zack. Papi dan Kak Aryan melarangku,"


....


"Maaf, Zack, aku nggak bisa,"


....


El pun mengakhiri panggilan secara sepihak.


'Ternyata begini sakitnya menjauhi orang yang di cintai dengan terpaksa,' Gumam El.


Namun, El tidak mau larut dalam kesedihan. Ia gegas berlari. Kembali ke taman belakang rumahnya di mana Heryawan masih betah duduk di pinggir kolam ikan koi nya.


"Eh, udah selesai?" tanya Heryawan. Mendapati putri telah berada tak jauh dari dirinya.


"Udah, Pi," jawab El.


Ting!


Sebuah pesan kembali masuk. Kali ini membuat mata El berbinar.Sambil mengukir senyum, El pun terlihat membalas pesan tersebut.


"Pi, El boleh makan siang dengan teman kampus?" tanya El dengan begitu antusias.


Heryawan mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu tanya Papi."


El terdiam.


"Kamu izin, dong sama Aryan. Sekarang dia lebih berhak dengan hidupmu. Bukan Papi."


"Apa Kakak mengizinkan?" tanya El, ragu.


"Diberi izin atau tidak, turuti dia!" titah Heryawan.


'Telpon, enggak, telpon, enggak,' El membantin


El menatap nomor Aryan yang sudah tertera di layar gawainya. Hanya saja, El perlu mengumpulkan nyali nya untuk meminta izin dengan Aryan.


Akhirnya ....


"Halo, Kak,"

__ADS_1


TBC


__ADS_2