Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Ke Mall


__ADS_3

"Halo, Kak." El akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi Aryan.


....


"Aku boleh makan siang di luar sama temen kampus enggak?"


....


"Sebentar aja, setelah selesai aku pulang."


....


Entah apa yang di katakan oleh Aryan sampai-sampai El memutar bola matanya jengah.


"Aku pergi dengan Jenny dan Clara, Kak. Makan siang doang, kok,"


....


"Oke, deh, makasih, Kak," El menutup panggilannya sambil tersenyum bahagia.


****


El sudah menunggu di restoran yang berada dalam satu kawasan mall sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun, belum ada tanda-tanda dua sahabatnya akan menampakkan batang hidungnya. Entah sudah berapa kali El memandangi jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Rasanya ia sudah mulai bosan dengan keadaan.


tapi tiba-tiba ....


"HAI." Suara lengkingan khas wanita mengguncang gendang telinga El. Bukan hanya satu, suara lengkingan itu berasal dari dua wanita. Pantas saja jika El sampai harus menutup telinganya.


"Ya ampun." El memejamkan erat kedua matanya menahan kesal.


"Hehehe, lama, ya." Clara cengengesan.


"Sorry, Beib, Jalanan macet parah." Sambung Jenny sambil mencubit pipi El.


El memutar bola matanya. "Siri, bib, jilinin micit pirih." El mencibir. Bibirnya sampai harus miring ke sana ke sini.


"Bosen gue dengerin alesan lo pada. Emang, ya, kalo janjian sama lo berdua, tuh, nggak pernah bisa on time." El menopang dagu sambil mengaduk-aduk capucino float yang yang sudah hampir habis karena lama menunggu.


"Wah, ada yang baru, nih, Jen." Clara menaik turunkan sebelah alisnya.


"Wih, Tiffany & Co. Koleksi baru lo, ya?" Jenny memegang pergelangan tangan El. Menatap penuh kagum salah satu jam tangan mahal yang di kenakan El.

__ADS_1


"Hadiah," jawab El, singkat.


"Kok, lo pada bahas ini, sih? pesen makanan, dong. Gue udah laper. Udah gitu, gue juga nggak bisa lama lama," lanjutnya.


"Ya ampun, El. Baru juga kita nyampe, lo udah bilang nggak bisa lama-lama," jawab Jenny.


"Tau, nih, lo buru-buru mau ngapain, sih? Kayak punya kerjaan aja lo," sahut Clara.


Ketiganya larut dalam obrolan unfaedah khas wanita. Sesekali terdengar tawa dari meja yang diisi tiga orang wanita itu. Terkadang tawa ketiganya menjadi pusat perhatian pengunjung di restoran itu. Suara tawa mereka yang begitu nyaring di telinga itu seperti hampir memenuhi seisi ruangan restoran.


"Eh, ngomong-ngomong hadiah dari siapa, sih?" Seperti Back Of Topic, Jenny melirik ke arah jam tangan yang di kenakan El.


"Laki gue ... Eh!" El tersadar bahwa ia keceplosan.


"Hah? Laki?" Jenny mengedarkan pandangan ke arah Clara.


"Laki masa depan? Zack maksud lo?" sahut Clara.


El mengusap kasar wajahnya. "Duh, susah jelasinnya.


El benar-benar belum siap untuk memberitahu kedua sahabatnya itu. Jika kedua sahabatnya tahu bahwa Aryan adalah suaminya, akan sulit nantinya untuk menjelaskan keduanya tentang alasannya menikah dengan Aryan. Mungkin akan ada waktu yang tepat untuk keduanya tahu.


"Udah udah lanjut makan, gih, ngobrol mulu." El mengalihkan pembicaraan.


Di tengah tengah obrolan santai ketiganya tiba-tiba El terasa seperti di peluk dari belakang.


"Sayang," Seseorang mengecup pipi kanan El.


El yang terkejut langsung memutar tubuhnya. "Zack."


"Aku merindukanmu," rengek Zack, seperti anak yang tengah merindukan ibunya.


"Ah, so sweet," sahut Jenny dan Clara.


El tersenyum getir. Ia terkejut dan tak menyangka harus bertemu Zack di sini.


"Kamu di sini, Zack?" tanya El.


"Ya,aku mau beli sesuatu di sini. Nggak sengaja lihat kamu," jawab Zack.


"Oh," jawab El, singkat.

__ADS_1


El kembali meminum air mineral yang ada di depannya. Entahlah, mendadak ia merasa gugup dengan keadaan ini. Ia kembali teringat oleh pesan Aryan yang memintanya untuk menjauhi Zack.


"Boleh gue pinjem sahabat lo berdua?" Zack memegang bahu El yang dari tadi terdiam karena di dera rasa galau.


"Hmm, Boleh, kok, asal di jangan lupa di kembalikan," jawab Clara.


"Sayang, aku sudah mendapat izin sahabatmu, so aku mau kamu nemenin aku cari barang ke dalam." Zack sudah memegang pergelangan tangan El.


"Hmm, tapi Zack ...."


"Eits, aku tidak mau tahu, ayo!" Zack menaruh telunjuknya di bibir El membuat El tak bisa melanjutkan ucapannya, lalu Zack dengan segera menarik El.


"Happy Shoping, Beib" teriak Jenny.


Bukannya senang, El justru melotot ke arah Jenny dan hanya di sambut gelak tawa oleh Jenny dan Clara.


El dan Zack masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Bukannya semakin melepaskan genggamannya, tangan Zack justru merangkul erat pinggang El, memeluknya dengan begitu posesif. El yang mendapat perlakuan seperti itu semakin salah tingkah.


"Hmm, Zack ... bisa lepaskan tanganmu?" Dengan berat hati El harus mengatakannya.


"Kenapa sayang?"


"Aku tidak enak, Zack. Kamu tahu, kan posisiku?" jawab El.


"Tapi aku merindukanmu, sayang." Zack kembali merengek.


"Aku takut, Zack. Siapa tahu di mall ini ada teman Kak Aryan atau siapa." El terus mencoba memberi penjelasan.


"Aku tidak peduli!" Zack semakin mengeratkan rangkulan di pinggang El sambil mengecup singkat pipi mulus El.


Jika statusnya saat ini bukanlah istri dari Aryan, mungkin El menjadi wanita yang paling bahagia di dunia karena di perlakukan sedemikian rupa oleh Zack, lelaki yang di cintainya. Namun, kenyataan berkata lain. Zack memang lelaki yang ia cintai, tetapi Aryanlah sebagai pemilik sah atas dirinya.


"El ..."


Hingga tiba-tiba suara bariton terdengar dari arah belakang keduanya. Keduanya terkejut dan membalikkan badan.


Jantung El begitu bergemuruh, nafasnya kian tercekat, tubuhnya pun mendadak melemas setelah siapa pemilik suara itu. Apa yang ia takutnya kini benar-benar terjadi saat ini.


'Tamatlah riwayatmu, El' batinnya.


"Kakak ...."

__ADS_1


__ADS_2