Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Meloloskan Diri


__ADS_3

....


Aryan terus menyusuri jalan melalui jejak yang di tinggalkan oleh ponsel El.


"Pak, menurut jejak yang ada di sini kita harus ke arah sana, Pak, tapi ... sepertinya mobil kita nggak bisa masuk," jelas Septian.


"Kita jalan ke sana!" Aryan langsung membuka pintu mobil dan berjalan ke arah yang di tunjuk oleh Septian.


Aryan berjalan ke arah timur. Tempat itu begitu di penuhi pepohonan yang rimbun dengan ukuran pohon yang cukup besar. Dalam hati, Aryan terus berdoa agar Allah selalu melindungi istrinya. Ia takut, di tempat yang seperti tak berpenghuni ini bisa saja Zack berbuat macam-macam pada El.


'El, kamu di mana?' lirih batin Aryan.


"Pak, kita ikuti jejak ini saja. Sepertinya ini bekas pijakan." Septian menunjuk tanah yang berbentuk seperti bekas sol sepatu. Di tambah lagi rerumputan yang terkulai dan layu di sekitarnya seperti bekas pijakan.


Aryan mengangguk, membenarkan ucapan Septian. Beberapa ajudan yang di bawa Aryan akhirnya memutuskan berjalan terlebih dahulu.


"Pak, ada bangunan tua di dalam!" seru salah seorang dari mereka.


Akhirnya mereka sampai d sebuah bangunan tua. Terbuat dari beton dan ada juga di bagian yang lain menggunakan papan.


"Tidak ada orang, Pak." Begitu lah kata ajudan Aryan.


Aryan memperhatikan di sekitaran bangunan itu. Ia berjalan mengitari setiap sudut dan sisi bangunan. Ia berharap ada petunjuk tentang keberadaan El. Netral Aryan menyipit, saat dia menemukan benda yang benar-benar tak asing baginya.


"Ini milik, El. Ya, enggak salah lagi." Aryan mendapatkan sebuah hiasan rambut berbentuk kupu-kupu milik El.


"Kedatangan kita ternyata sudah di ketahui mereka, Pak. Makanya mereka memilih pergi dari sini." seru Septian.


Aryan hanya bisa mengeratkan giginya menahan kesal.


Drrrtt ... Drrrt ....


Aryan terkesiap ketika merasakan getaran pada saku celananya. Ia pun segera mengambil benda pipih berukuran 6 inch itu.


'Bu Ida?'


"Assalamualaikum, Bu,"


....


Entah apa yang di bicarakan oleh Bu Ida dari seberang sana. Aryan mendengarkan nya sambil memejamkan mata dengan erat, lalu menekan pangkal hidungnya.

__ADS_1


"Iya, Bu, sebentar lagi saya akan pulang," jawab Aryan.


****


El berada di dalam mobil bersama Zack dan dua pengawalnya. Entah kemana Zack membawanya pergi, El benar-benar tak mengenali daerah yang sedang di laluinya, yang ia lihat hanya pepohonan yang rimbun. Keadaan yang gelap semakin bulu kuduk merinding.


"Hei, jangan tegang gitu, dong. Relax, Beib. Kita senang-senang malam ini. " Zack mengusap pipi mulus dengan telunjuknya. Zack rupanya mengamati El yang sedari tadi terlihat gelisah.


'Relax jidat lu!'


El mendengus kesal. Bola matanya berputar. Sungguh, ia jengah sekali. Otaknya tak berhenti berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa lolos dari cengkraman Zack.


"Bos, kita ke markas?" tanya seorang anak buah Zack yang duduk di bagian depan.


"Iya.Buruan, nggak pake lama. Udah nggak sabar pengen nyicip." Zack berkata pada anak buahnya, tetapi sebelah matanya mengerling ke arah El.


El merinding mendengarnya. Pikirannya mendadak traveling kemana mana. Ia takut Zack akan merenggut paksa kesuciannya. Kesucian yang seharusnya ia serahkan jauh-jauh hari kepada Aryan. El pun semakin merasa bersalah.


'Enggak. Ini nggak boleh terjadi,' El membatin.


"Zack, apa tidak ada toilet terdekat?" tanya El.


El mengusap wajahnya kasar. Ternyata apa yang ia rencanakan sudah bisa di tebak oleh Zack. El membuang pandangannya ke arah jalan. Tanpa sengaja, pandangan nya tertuju pada pengunci pintu mobil.


'Apa aku lompat aja, ya,'


El melihat pintu mobil tidak di kunci, tetapi ia masih ragu untuk melompat dari dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.


'Kalo gue mati, gimana?'


El menggigit bibir bawahnya. Keinginannya untuk lolos dari Zack tak sejalan dengan keberaniannya.


'Ya Allah, aku mohon berpihak lah padaku hari ini,' El berdoa dalam hati.


El menatap Zack yang masih fokus pada ponselnya. Perlahan tapi pasti, jemari El mulai merayap, meraba Handle pintu bagian dalam mobil dan ....


Braakk!


El melompat dari dalam mobil yang sedang melaju. Tubuhnya membentur jalanan yang sedikit berbatu. Bukan hanya itu, tubuh El juga berguling mengikuti tanah yang sedikit miring, tetapi tidak terlalu dalam. Ia terhenti ketika tubuhnya membentur batang pohon.


Sejenak El terdiam. Ia merasakan tubuhnya seperti remuk. Susah payah ia berusaha untuk bangkit, tetapi ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian kakinya.

__ADS_1


"Auw," lirih El.


El berusaha berdiri. Ia berpegangan dari batang pohon satu ke batang pohon yang lain agar ia bisa berjalan. Ia takut Zack kembali menangkapnya, tetapi ia tak tahu ke mana harus pergi. Di sekelilingnya hanya gelap. Beruntung, cuaca malam itu cerah dengan sinar bulan purnama, El masih bisa melihat apa pun yang ada di sekitarnya walaupun samar.


Setelah lama tertatih tanpa arah, El menemukan sebuah sungai. Sungai itu tak terlalu besar, tetapi aliran cukup deras. Ia memutuskan untuk duduk di tepi sungai. El menangis sesenggukan, merasakan sakit, lelah, dan takut yang berbaur jadi satu.


"Kak Aryan," lirih nya dalam kesunyian malam itu.Bayangan suaminya melintas di pikirannya saat itu.


Ia benar-benar takut. Bagaimana jika ada hewan buas yang memangsanya? Bagaimana jika ada makhluk dari dunia lain tiba-tiba ada di depannya? Bagaimana ini, bagaimana itu, semuanya berebut menguasai pikirannya.


Setelah cukup lama El duduk di tepi sungai itu, El melihat sebuah cahaya dari seberang sungai yang menyorot ke arahnya. Cahaya itu seperti dari sebuah senter.


"Tolong." Tanpa berpikir lagi El langsung melambaikan tangannya.


Awalnya, Cahaya itu tidak bergerak, tetapi lama kelamaan cahaya itu bergerak melewati sungai, beberapa saat kemudian tampak lah seorang lelaki paruh baya mendekatinya.


"Pak, tolong saya," lirih El.


"Mbak nya orang, kan?" tanya bapak itu.


'Apa maksudnya? dia mengiraku hantu, gitu?'


"Ya iya lah, Pak," jawab El.


"Hmm, kalo mbak nya orang kenapa bisa ada di sini?" tanya nya lagi. Mungkin ia sedikit takut, takut tiba-tiba wanita yang di depannya berubah jadi sundel bolong.


El pun menceritakan apa yang terjadi dari awal hingga ia bisa terdampar di tempat itu.


"Oh, gitu," jawab si bapak selepas El bercerita.


"Kalo gitu ikut bapak aja, mbak," tawar si bapak.


El menelan salivanya dengan berat. Sekarang giliran ia yang sedikit takut. Takut jika si bapak berbuat jahat padanya.


"Tenang aja, mbak, di rumah ada istri bapak yang akan ngobatin luka nya mbak," jawabnya. Mungkin ia membaca raut keraguan di wajah El.


"Tapi, Pak, saya susah untuk jalan," El melihat ke arah kakinya.


"Nggak pa-pa, mbak. Ayo bapak bantu,"


El pun pasrah ketika si bapak memapah tubuhnya dan membawanya.

__ADS_1


__ADS_2