Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Kamu Dimana?


__ADS_3

...


Mentari perlahan mulai menampakkan dirinya, kehangatannya perlahan mulai menyentuh permukaan bumi, tetapi di tempat El saat ini berada masih begitu sejuk. Rimbunnya pepohonan mampu menghalau kehangatan sang fajar pagi itu. Tetesan embun juga masih betah bergelayut pada dedaunan.


El membuka matanya. Pagi ini badannya seperti remuk. Untuk pertama kali dalam hidupnya harus tidur beralaskan tikar. Belum lagi kaki dan tangannya terlihat banyak luka lebam, kian menambah level rasa sakitnya.


"Aduh." El merintih. Ia merasakan sakit setiap kali ia menggerakkan tubuhnya.


"Kamu udah bangun?" Bu Yati membuka kain penutup pintu.


"Udah, Bu ... Auw!" El memegang kakinya. Bu Yati mendekat dan melihat luka yang ada di kaki El.


"Sampe kayak gini, El." Bu Yati bahkan tampak mengernyit melihat luka lebam yang ada di kaki El.


El menatap nanar kakinya yang membiru. Ia hanya mengusap usapnya dengan perlahan tanpa bisa berbuat banyak.


"Udah tenang, nanti biar Bapak bantu obatin, ya." Bu Yati mengusap bahu El yang terlihat sendu. "Pak, Pak," teriak Bu Yati.


Pak Kamsuri yang mendengar panggilan dari istrinya pun gegas menghampiri. Mata El terbelalak melihat Pak Kamsuri datang dengan membawa sebilah golok.


El menelan saliva nya dengan berat. "Bu, kaki saya nggak bakal di potong, kan?"


Bu Yati dan Pak Kamsuri pun saling melempar pandangan. Sadar akan ketakutan yang di rasakan El, Pak Kamsuri buru-buru menyimpan goloknya.


"Maaf, Mbak El, itu golok untuk nyari kayu. Siapa yang mau motong kaki Mbak El," jawab Pak Kamsuri.


"Kata Bu Yati, Bapak yang bantu obatin kaki saya. Kok, malah bawa golok?" tanya El.


"Tadi Bapak lagi ngasah golok, Mbak El. Denger Bu Yati manggil, saya buru-buru datang nggak sempet naruh itu golok," jelas Pak Kamsuri.

__ADS_1


El menghela nafas lega sambil memegang dadanya. "Huh, kirain."


"Pak, coba tolong Bapak buat obat kayak waktu Ibu sakit dulu, kasian El," pinta Bu Kamsuri.


"Oh, iya, nanti Bapak buatin, Bu. Biar Bapak siapin dulu bahannya, ya." Pak Kamsuri pun pergi meninggalkan kedua wanita yang masih berada di kamar.


"Bu, Bapak dukun, ya?" tanya El selepas Pak Kamsuri menghilang di balik kain penutup pintu.


"Hah, dukun?" Bu Yati terperangah mendengar pertanyaan El.


"Tadi Ibu bilang Bapak yang bakal ngobatin saya." El menunjuk dirinya sendiri.


"Oh, nggak gitu. Si Bapak, mah, tukang cari kayu bakar, sama nyari-nyari hewan di hutan," jelas Bu Yati.


"Terus ngobatin nya gimana, Bu?" El masih penasaran.


"Nanti Bapak buatkan minyak untuk kamu. Minyak oles untuk lukamu," jawab Bu Yati.


****


Sudah tiga hari berlalu, tetapi belum ada juga tanda akan keberadaan El. Di tengah rasa lelahnya mencari El dan mengurus perusahaan, Aryan juga harus mengurus Heryawan yang terbaring tak berdaya di rumah sakit.


Kondisi Heryawan pun tidak menunjukkan adanya peningkatan. Matanya terpejam erat, seperti enggan terbuka. Berat badannya pun semakin menurun.


"Bagaimana? sudah ada perkembangan?" Aryan berbicara kepada orang yang ia hubungi.


....


"Tolong upayakan! Ini sudah berapa hari, aku mengkhawatirkan El."

__ADS_1


....


"Pakai segala cara. Lapor polisi atau bagaimana aku percayakan pada kalian. Ada meeting yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku juga harus ke rumah sakit terlebih dahulu untuk melihat kondisi Papi."


....


"Baiklah."


Aryan memejamkan mata sambil memijit hidungnya. Sungguh, ia lelah sekali. Ia sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari El, tetapi hasilnya nihil.


"El, kamu di mana, sayang? Aku khawatir denganmu" Aryan menatap sendu foto El yang tersimpan di ponselnya.


Lamunan Aryan pun buyar setelah mendengar suara ketukan pintu. "Masuk!" titah Aryan dari dalam ruangan.


Tak lama terlihat lah Septian berdiri di ambang pintu.


"Pak, maaf saya ingin memberi informasi," seru Septian.


"Apa itu?"


"Ini, Pak." Septian menyodorkan ponsel miliknya.


Mata Aryan membulat ketika melihat lelaki yang berada dalam video yang di tunjukkan oleh Septian.


"Zack?" Aryan menatap Septian. Meminta penegasan dari Septian bahwa apa yang ia lihat tidak salah. Septian hanya memberikan anggukkan nya.


"Dia masih beraktifitas seperti biasa?" Aryan mengernyit.


"Dua hari ini, orang suruhan saya terus mengikutinya, Pak, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Nona Muda," jelas Septian.

__ADS_1


Aryan mengusap wajahnya dengan kasar. "Terus ikuti dia. Jangan sampai lengah!"


"Baik, Pak," jawab Septian.


__ADS_2